Batal Cerai

Batal Cerai
Ch 30. Kamu Gugat Aku


__ADS_3

Mendengar nama mantan istri Darren disebut, membuat hati Aya tiba-tiba nyeri. Bahkan sosok mendiang istri Darren yang tidak ia kenal itu ternyata berpengaruh besar terhadap kehidupan Darren selama ini. entah kenapa Aya berpikir kalau rasanya tidak mungkin untuk bisa membuat pria itu jatuh cinta padanya. Ternyata Darren memang belum bisa move on dari masa lalunya.


“Baiklah. Terima kasih atas informasinya.” Jawab Aya, lalu Julian pamit undur diri dari ruangan meeting.


Aya masih duduk seorang diri di ruangan itu. mengingat Darren lagi yang saat ini pasti sedang di rumah, beristirahat. Namun setelah itu Aya segera menepis perasaan aneh yang tiba-tiba muncul di hatinya. Lebih naik secepatnya ia harus mencari cara untuk segera bercerai dengan Darren.


Setelah itu Aya masuk ke ruang kerjanya. Lebih baik saat ini fokus dulu dengan pekerjaannya, daripada memikirkan hal-ahal yang tidak sampai ke otaknya.


*


Sore harinya Aya pulang kerja seperti biasa. Namun ia tidak langsung ke rumah, melainkan singgah dulu ke sebuah café. Aya hari ini benar-benar pusing dengan pekerjaan kantor. jadi, ia ingin menikmati coffe break sejenak.


Tidak ada teman, hanya seorang diri Aya menikmati kopi sambil melihat keramaian jalanan ibu kota di jam pulang kantor. Aya benar-benar menikmati waktunya, meskipun sendiri seperti ini. karena ia sudah tidak menemukan kenyamanan lagi saat bersama sahabatnya. entah karena jalan hidup mereka sudah berbeda atau memang ada factor lain yang membuat Aya malas bertukar kabar lagi dengan Lissa.


Saking asyiknya menikmati kesendiriannya, Aya baru sadar kalau waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. akhirnya ia memutuskan untuk pulang, dan beristirahat.


Brukkk


Sshhhh


Saat hendak keluar dari tiba-tiba ia bertabrakan dengan seorang pria yang hendak masuk ke dalam café. Namun naas bagi Aya tadi akan mengambil kunci mobil di tasnya, ia terjatuh hingga lututnya mencium lantai.


“Maafkan saya, Nona!” ujar pria itu sambil membantu Aya berdiri.


Aya buru-buru berdiri dan menolak bantuan pria itu. karena ini juga salahnya yang tidak melihat jalan.


“Nggak apa-apa, Pak. saya juga yang salah. Permisi!” pamit Aya kemudian.


Pria itu sempat terpesona dengan kecantikan Aya. Namun sayangnya saat hendak berkenalan dengan Aya, Aya sudah pergi begitu saja.


Aya melajukan mobilnya menuju rumah Darren. Di saat sedang lelah, dia berharap nanti di rumah tidak bertemu dengan pemilik rumah itu.


Beberapa saat kemudian Aya sudah sampai rumah. seperti biasa, rumah tampak sangat sepi. Pembantu juga sekarang tidak tinggal di sini. datang hanya pagi sampai sore saja. sedangkan sopir pribadi Darren tinggal di pavilion belakang.


Aya yang hendak masuk ke kamarnya yang ada di lantai dua, ia urungkan. Aya ke dapur dulu untuk mengambil minum, agar tidak bolak-balik naik turun mengambil air.

__ADS_1


Sesampainya di dapur, Aya melihat ada Darren di sana. Pria itu terlihat sedang membuat sesuatu. Bahkan dari jarak yang tidak terlalu jauh, Aya bisa melihat kalau wajah pria itu pucat. Niat hati ingin memberikan bantuan. Tapi Aya ingat dnegan ucapan Julian tadi. akhirnya Aya tidak jadi menawarkan bantuan pada Darren. Ia mengambil air dingin di dalam kulkas dan segera masuk ke kamarnya.


Pyarrr


Aya menghentikan langkahnya saat mendengar piring pecah dari dapur. Lalu menoleh. Terlihat Darren memunguti pecahan piring itu dengan tangan gemetar. Aya segera meletakkan botol minumannya dan berlari ke arah Darren, agar tidak sampai menyentuh pecahan piring yang berserakan di lantai.


“Duduklah! Biar aku bersihkan.” Ujar Aya lalu membantu Darren duduk di kursi tak jauh dari pria itu.


Aya melihat spegetti yang dibuat Darren berserakan di lantai beserta pecahan piring itu. seteleh membersihkannya, Aya membuatkan lagi spaghetti untuk Darren.


“Tidak usah!” cegah Darren saat Aya mulai menyalakan kompor.


Namun Aya mengabaikannya. Dia masih melanjutkan membuat spaghetti untuk Darren. Biarlah nanti rasa spaghetti itu tidak enak menurut Darren, meskipun bumbunya instan semua.  setidaknya ia ingin membalas budi atas sikap Darren yang dulu pernah merawatnya saat sakit.


Sedangkan Darren kembali diam saat perkataannya tidak dianggap oleh Aya. Kepalanya juga memang sangat pusing. padahal sudah minum obat.


Beberapa menit kemudian Aya telah selesai membuat spaghetti sekaligus menyajikannya di piring. Lalu memberikannya pada Darren yang masih duduk tak jauh darinya.


“Makanlah! Maaf kalau rasanya tidak enak, karena masih jauh lebih enak jika dibuat oleh orang tercintamu.” Ucap Aya dan membuat Darren tidak mengerti.


“Oh, iya. semoga lekas sembuh! maaf, bukan aku tidak ingat balas budi. Karena aku bukan orang di masa lalumu yang bisa merawatmu dengan baik.” Tambah Aya sebelum benar-benar pergi meninggalkan Darren.


***


Selama tiga hari berturut-turut, Darren sama sekali tidak bisa pergi ke kantor. hampir setiap malam ia bermimpi didatangi mendiang istrinya. Terlihat wajah sedih Jenifer saat menatap Darren sedang terbaring sakit. Sayangnya semua itu hanya mimpi. Darren tidak bisa berkomunikasi dengan sosok mirip mendiang istrinya itu untuk bertanya kenapa Jenifer menunjukkan wajah sedih.


Selama berturut-turut mimpi bertemu Jenifer, keadaan Darren bukannya lebih baik. Namun semakin memburuk. Dan lagi-lagi Aya lah yang selalu membuatkan sarapan setiap pagi, dengan sedikit paksaan. Padahal Aya sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak lagi peduli pada Darren. Namun sayangnya hati nuraninya lah yang tergerak sendiri.


“Nggak apa-apa lah. Anggap saja ini perhatianku yang terakhir kalinya sebelum aku dan dia berpisah.” Gumam Aya pagi itu setelah membuatkan bubur untuk Darren.


**


Waktu berlalu begitu cepat. Keadaan Darren sudah sehat seperti biasanya. Pria itu juga sudah kembali menjalankan rutinitasnya di kantor. namun satu hal yang membuat Darren heran. Semenjak sakit dan bermimpi bertemu mendiang istrinya, sampai sekarang ia sudah tidak lagi bermimpi tentang Jenifer. Entah karena apa, Darren juga tidak tahu.


Begitu juga dengan Aya. Perempuan itu setiapharinya disibukkan dengan pekerjaan kantor yang membuatnya pusing. namu Aya sangat semangat, karena hanya bekerja lah yang menjadi hiburannya.

__ADS_1


Saat ini Aya sedang berada di ruang kerja Papanya. Ada sesuatu hal yang ingin Aya bicarakan dengan sang Papa.


“Sampai kapan?” tanya Papa Mirza setelah Aya mengajukan cuti pada Papanya.


“Sampai aku bosan, Pa.” kelakarnya dengan tertawa renyah.


“Ayolah, Pa! aku ingin menikmati peranku sebagai istri yang baik untuk Darren.” Tambah Aya.


“Ya sudah, terserah kamu saja. Papa juga tidak terlalu memaksa kamu untuk terjut ke dunia bisnis. Keluarga memang yang paling utama.” Jawab Papa Mirza.


***


Saat ini Aya sedang duduk di ruang tengah bersama Darren. Memang sejak tadi Aya sengaja menunggu kepulangan Darren dari kantor. dan setibanya di rumah, Aya langsung meminta waktu sebentar untuk bicara penting dengan Darren.


“Apa ini?” tanya Darren saat melihat Aya memberikan amplop coklat tepat di hadapan Darren.


“Aku ingin pernikahan ini berakhir sekarang juga. kamu gugat aku.”


Deg


Darren menatap tak percaya pada Aya. Ternyata Aya benar-benar ingin mengakhiri pernikahannya. Dan lebih memilih bersama pria berengsek itu.


“Kamu bisa menggunakan foto-fotoku dengan kekasihku ini. sebagai bukti perselingkuhanku, agar proses perceraian kita berjalan lancar.” Tambah Aya sambil menunjuk amplop coklat itu.


“Terserah kamu saja!” Darren menatap dingin pada perempuan yang sudah dua bulan ia nikahi.


.


.


.


*TBC


Happy Reading!!

__ADS_1


__ADS_2