
“Sayang, ada apa?” tanya Gandhi saat Aya melepas pelukannya.
“Nggak apa-apa.” Jawab Aya lalu kembali duduk di kursinya.
Mereka berdua kembali bercengkrama. Entah sampai jam berapa Aya juga tidak ingin pulang dan masih ingin menikmati kebersamaannya dengan Gandhi. Tak lama kemudian seorang pelayan restaurant datang dengan membawakan minuman khusus bagi pengunjung yang mengadakan acara special di restaurant ini.
“Sayang minumlah!” ucap Gandhi lalu mengajak Aya bersulang.
Aya pun meminum minuman itu. begitu juga dengan Gandhi. Setelah itu Aya merasakan kantuk mulai menyerangnya. Beberapa kali ia menguap. Akhirnya ia memutuskan untuk pulang, daripada nanti dicurigai oleh Mamanya karena pulang larut malam dan sedang bersama Gandhi.
Gandhi pun ikut beranjak mengantar Aya keluar dari restaurant menuju basement. Aya masih terus menguap dan ingin sekali ia tidur saat ini juga. mungkin karena efek kecapekan sedari pagi banya sekali kegiatannya.
“Sayang, kamu nggak apa-apa?” tanya Gandhi menahan tubuh Aya yang hampir ambruk karena tidak kuat menahan kantuk.
Gandhi menepuk pelan pipi Aya dan perempuan itu tidak bereaksi sama sekali. Akhirnya Gandhi membawa Aya menuju kamar hotelnya.
Semua rencana ini memang sudah Gandhi susun dengan rapi. Setelah berhasil melamar Aya, Gandhi akan menjadikan Aya miliknya seutuhnya. Tak peduli dengan statusnya yang masih belum sah. Apalagi kedua orang tua Aya yang terlihat menentang hubungannya, jadi dengan cara inilah menurut Gandhi sangat bagus.
Gandhi memapah tubuh Aya memasuki kamarnya. Dia tidak peduli dengan tatapan orang yang berpapasan dengannya. karena Gandhi tidak menunjukkan kecurigaan apapaun pada orang-orang.
Senyum smirk terbit dari bibir Gandhi setelah melihat pintu kamar hotelnya tinggal beberapa langkah lagi. setelah ini ia akan bersenang-senang dengan Aya, kekasihnya. Tak peduli keadaan Aya dalam pengaruh obat tidur, dia harus menjalankan rencananya dengan sempurna.
“Maafkan aku yang terpaksa melakukan ini, Sayang. Mungkin dengan membuat kamu hamil, kedua orang tua kamu pasti akan menikahkan kita.” Batin Gandhi saat hendak masuk ke kamarnya.
Cklek
Gandhi sudah berhasil menempelkan kartu akses ke kamarnya. Setelah itu dengan pelan ia membawa Aya masuk. Namun, sejak tadi tanpa Gandhi sadari ternyata ada seseorang yang mengikuti Gandhi.
Bugh
__ADS_1
Orang itu memukul tengkuk Gandhi sangat keras hingga membuat Gandhi pingsan seketika. Tak lama kemudian Aya terjatuh, namun dengan cepat ditangkap oleh pria itu.
“Dasar baj***an!!” umpatnya lalu mendorong tubuh Gandhi masuk ke dalam dan membawa perempuan itu keluar.
Setelah itu pria yang meneyelamatkan Aya segera membawa masuk ke dalam kamar hotel yang sudah ia sewa. Kemudian membaringkan Aya di atas tempat tidur.
“Kenapa susah sekali dihubungi?” gerutu Julian saat panggilannya tak kunjung mendapat jawaban dari bosnya, yaitu Darren.
Ya, orang yang mengikuti Aya dan Gandhi tadi adalah Julian. Kebetulan hari ini Julian ada tugas menyambut kedatangan klien Darren yang datang dari luar negeri. dia pun ikut menyewa salah satu kamar hotel di sini, walau ia gunakan untuk istirahat sejenak tadi sore.
Dan malam ini Julian juga menemani Darren meeting dengan klien yang diadakan di restaurant hotel ini. setelah meeting selesai, Darren segera pulang. sedangkan Julian pulang paling akhir karena mau mengambil beberapa barangnya yang tertinggal di kamar hotel.
Saat Julian hendak menuju basement, tiba-tiba ia melihat calon istri bosnya sedang bersama seorang pria yang tidak ia kenal. Apalagi keadaan Aya dalam keadaan lemas tak berdaya. Hingga akhirnya Julian mengurungkan niatnya untuk pulang dan memilih mengikuti Aya bersama Gandhi.
Setelah panggilan keempat, akhirnya Darren mengangkatnya. Julian bisa bernafas lega lalu mengatakan semuanya pada bosnya itu mengenai Aya yang saat ini sedang tertidur dalam kamar hotelnya.
Darren mengetatkan rahangnya mendengar kabar tentang Aya. Ingin sekali ia tidak peduli, namun hatinya menyuruh untuk datang menemui Aya. Akhirnya Darren memutar balik mobilnya kembali menuju hotel.
Kini Darren sudah tiba di kamar hotel Julian. Dia menatap Aya yang sedang tidur dengan lelap. Darren yakin kalau Aya sedang dalam pengaruh obat tidur. Dan pelakunya jelas Gandhi, kekasih Aya. Karena tadi saat selesai meeting, tanpa sengaja Darren melihat Aya yang juga sedang makan malam di restaurant itu. bahkan Darren melihat Aya dan kekasihnya saling berpelukan.
Tak lama kemudian ponsel Aya berdering. Bukan pertama kalinya. Melainkan sejak tadi. hanya saja Julian tidak berani menerima panggilan itu. ternyata itu adalah panggilan dari Mama Devina.
“Ya halo, Tante!” Darren terpaksa menerima panggilan itu. dia yakin kalau Mama Devina sangat mengkhawatirkan Aya karena belum pulang sampai larut begini.
Darren terpaksa berbohong kalau saat ini Aya sedang berada di rumahnya dan menginap. Dengan berbagai alasan yang cukup meyakinkan, akhirnya Mama Devina bisa bernafas lega.
“Lalu bagaimana, Tuan? Apa saya yang menjaga Nona Aya malam ini?” tanya Julian dan berhasil membuat Darren melototkan matanya.
“Kamu pulanglah! Biar Aya di sini sama aku.” jawab Darren.
__ADS_1
Julian hanya menggaruk tengkuknya. Dia tidak bisa berbuat apa-apa. Apalagi bosnya sebentar lagi akan menikah. jadi biarkan saja mereka berdua menghabiskan malam panjang. Tapi tunggu dulu, Julian sangat penasaran dengan pria yang hampir membawa Aya masuk ke dalam kamar hotel itu.
“Ehm, Tuan! Apa perlu saya beri hukuman pada pria yang telah memberi Nona Aya obat tidur tadi?” tanya Julian.
“Buat dia keluar dari hotel malam ini juga.” jawab Darren lalu mendekati Aya yang sedang tidur pulas.
Julian mengangguk. Setelah itu ia keluar dari kamarnya dan meninggalkan Darren dan Aya di sana.
Setelah kepergian Julian, Darren duduk di samping Aya. Dia melihat jari manis Aya tampak ada cincin berlian. Cincin yang jelas bukan pemberiannya saat tunangan dulu. Darren tersenyum kecut mengetahui kenyataan kalau Aya memang tidak menginginkan hubungan serius dengannya. terbukti dari cincin yang sedang dipakai Aya saat ini. sudah bisa dipastikan kalau kekasih Aya baru saja melamar Aya.
Malam ini akhirnya Darren memutuskan untuk tidur di kamar hotel menemai Aya. Namun Darren tidur di sofa.
Keesokan harinya Darren terjaga lebih dulu. Ia buru-buru mencuci muka dan bergegas keluar dari kamar hotel sebelum Aya mengetahui keberadaannya. Darren juga sudah memastikan kalau keadaan Aya akan aman. Apalagi semalam sudah mendapat kabar dari Julian kalau Gandhi sudah berhasil dikeluarkan dari hotel ini. bahkan malam itu juga Gandhi pulang ke luar negeri.
**
Aya menggeliatkan tubuhnya saat merasakan tubuhnya sangat lemas. Bahkan ia masih ingin tidur, namun terpaksa harus bangun.
“Aku sedang di mana ini?” gumamnya sambil menelisik sekitar ruangan.
Aya sangat terkejut saat baru menyadari kalau dirinya sedang berada di kamar hotel. Setelah itu ia melihat seluruh tubuhnya yang masih berpakaian lengkap.
“Gandhi!” Aya segera menghubungi Gandhi untuk meminta penjelasan. Namun sayangnya ponsel pria itu sedang tidak aktif.
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading!!