
Selama meeting berlangsung, Tuan Very Atmaja yang lebih banyak menjelaskan beberapa keunggulan perusahannya. Sedangkan Lissa hanya mencatat hal-hal penting. Namun matanya sejak tadi jelalatan pada Darren yang tampak serius mendengarkan penjelasan Tuan Very. Julian yang juga berada di tempat itu cukup tahu dengan gerak-gerik Lissa. Dia juga tahu kalau Lissa adalah mantan sahabat Aya.
Cukup lama meeting itu berlangsung. Darren juga tertarik untuk bekerjasama dengan perusahaan Very. Setelah itu mereka sama-sama sepakat dan menandatangani surat perjanjian kerjasama.
“Terimakasih atas kerjasamanya, Tuan Darren. Untuk jadwal meeting ataupun hal-hal yang berhubungan dengan kerjasama ini sepenuhnya saya serahkan pada asisten saya, yaitu Nona Lissa. Karena untuk sementara waktu saya masih sibuk dengan perusahaan yang yang ada di luar negeri.” ujar Very terlihat begitu ramah.
“Sama-sama, Tuan.”
Akhirnya meeting itu selesai tepat saat jam makan siang tiba. Darren tetap berbasa-basi untuk mengajak makan siang bersama Very. Namun pria itu menolak secara halus dengan alasan masih sibuk dan ada urusan lain.
Kini mereka keluar dari ruangan meeting bersama. Lissa yang berjalan di belakang Very sejak tadi fokus pada Darren yang ada di hadapannya. sedangkan Julian yang melihat itu, dia segera ambil sikap.
Ting
Very dan Darren masuk ke dalam lift. Namun Julian menahan Lissa sejenak untuk memberi ultimatum pada wanita itu.
“Jangan sekali-kali anda membuat onar, kalau anda masih sayang dengan nyawa anda.” bisik Julian, setelah itu ia menyusul Darren masuk ke dalam lift.
Darren mengantar kliennya pulang hanya sampai lobby saja. dan bertepatan itu Aya baru saja datang dengan membawa paper bag berisi bekal makan siang untuk suaminya.
Pandangan Very tertuju pada Aya. Perempuan yang pernah ia jumpai saat di café dulu, yang tanpa sengaja saat itu mereka bertabrakan.
“Nona!” panggil Very.
Melihat seseorang sedang bicara padanya, Aya tampak bingung karena tidak pernah mengenal pria itu sebelumnya.
“Saya?” ucap Aya sambil menunjuk dirinya sendiri.
“Iya. kita pernah bertemu saat di café dulu dan tanpa sengaja kita tabrakan.” Ucap Very mencoba mengingatkan.
Aya hanya mengangguk samar setelah mengingatnya. Kemudian ia tersenyum pada pria itu. namun tiba-tiba Aya baru sadar kalau di belakang pria itu ada seseorang yang sangat dia kenal. Seseorang yang telah menusuknya dari belakang. Seketika itu wajah Aya berubah dingin.
“Perkenalkan, saya Very!” ucap Very dengan pedenya.
__ADS_1
“Ayara.” Aya menyambut uluran singkat pria itu tanpa mempedulikan raut wajah suaminya yang sedang berdiri tak jauh darinya. Namun setelah itu Aya segera melanjutkan langkahnya, karena sangat muak dengan Lissa.
“Permisi!” ucap Aya dan pergi begitu saja.
Very pun bergegas pergi meninggalkan kantor Darren. Karena dia juga tidak bisa berlama-lama lagi di sini. sedangkan Lissa yang sejak tadi melihat Aya, dia tampak tersenyum sinis pada mantan sahabatnya itu. apalagi kini Very sedang bekerjasama dengan Darren.
*
“Darren?” Aya terkejut saat melihat suaminya sedang berdiri di lobby kantor tak jauh dari tempatnya tadi bertemu dengan Very.
Darren hanya menatap Aya sekilas. Setelah itu berbalik badan kembali menuju ruangannya dengan menaiki lift. Aya pun segera ikut masuk bersama suaminya dan juga Julian.
Dalam lift itu hanya ada tiga orang saja. Aya bingung kenapa sikap Darren tiba-tiba kembali ke setelan awal. Namun sebisa mungkin Aya mencairkan suasana. Mungkin karena pekerjaan yang membuat Darren sedikit penat.
“Ren, hari ini aku membuat masakan special untuk kamu.” Ucap Aya tanpa mempedulikan Julian yang sedang berdiri di belakangnya.
Darren hanya diam saja. dia masih mode ngambek setelah melihat kliennya tadi mengajak kenalan sama istrinya. Bahkan Aya juga terlihat membalas uluran tangan Very. Jujur dia tidak suka.
Benar saja. Darren langsung menoleh ke arah Aya dan langsung meraih paper bag dalam yang sedang Aya bawa. Tanpa mengucapkan apa-apa, Darren segera keluar setelah lift terbuka.
“Anda pandai sekali, Nona!” puji Julian sambil tersenyum melihat bosnya yang sedang cemburu.
“Tapi aku beneran bawa bekal lebih kok, Jul. nanti aku ambilkan. Daripada nggak habis. Kan mubadzir.”
“Mau sampai kapan kamu di sana?” tanya Darren dengan suara tegasnya tertuju pada sang istri yang sedang berbincang dengan Julian.
Aya pun segera berjalan mendahului Julian untuk menyusul suaminya. sepertinya memang Darren sedang badmood. Dan Aya tidak ingin lagi melihat wajah datar suaminya seperti saat hubungannya masih kacau dulu.
Kini Aya sudah berada di ruang kerja suaminya. Darren meletakkan bekal yang dibawa Aya tdi di atas meja kerjanya. Aya pun segera menyiapkannya. Darren sendiri masih sibuk membaca email melalui macbooknya.
Aya sudah menyiapkan makan siamg untuk suaminya di atas meja tak jauh dari meja kerja Darren. Kemudian Darren menghampiri istrinya yang tengah duduk.
“Ren!!” pekik Aya saat tiba-tiba Darren menghimpit tubuhnya pada sofa.
__ADS_1
“Aku nggak suka kamu dekat dengan pria tadi. perlu kamu tahu, dia adalah klienku. Aku harap ke depannya, kamu tidak perlu meladeni dia jika bertemu di manapun.” Ucap Darren dengan suara tegasnya. Lalu tangannya membelai wajah Aya. Bahkan Darren kini mendekatkan wajahnya pada wajah Aya, hingga Aya bisa merasakan hembusan hangat nafas Darren.
“Maa..af. aku tidak akan lagi menanggapinya jika bertemu. Lebih baik kamu makan siang dulu.” Ucap Aya dengan gugup, lalu berusaha menghindar dari Darren.
“Mau ke mana, hem?” tanya Darren yang sudah berhasil menahan pergerakan Aya.
Aya tidak bisa berkutik lagi saat Darren tiba-tiba memeluknya dengan erat. Tak lama kemudian pria itu mendaratkan bibirnya pada bibir merah muda Aya yang sejak tadi sangat menggoda. Aya pun seperti tersengat listrik saat lidah Darren mulai mengeksplor semua rongga mulutnya. Aya pun reflek membalas ciuman itu.
Kedua insan itu sangat menikmati hidangan pembuka sebelum makan siang. Hidangan yang berupa ciuman panas dan sangat memabukkan. Bahkan kini tangan Darren sudah mulai menjelajah masuk ke balik blazer Aya. Hingga ia bisa merasakan halus kulit punggung istrinya.
Suara decapan bibir itu terdengar di seisi ruangan yang tampak senyap itu. tangan Darren yang berada di punggung Aya juga sudah berhasil melepas kait penyangga aset milik Aya.
Aya menepuk-nepuk dada Darren karena ia hampir tidak bisa bernafas. Terbukti dengan hembusan nafasnya yang tampak tersengal.
“Apa sudah selesai masa periode kamu?” tanya Darren sambil menahan hasrattnya.
“Sudah. Tapi tidak sekarang juga, kan?” jawab Aya mendadak cemas dan khawatir jika suaminya meminta sekarang. apalagi sedang berada di kantor.
“Tapi aku ingin sekarang juga. di sini ada kamar, kamu jangan khawatir.” Ucap Darren. Dan tanpa menunggu persetujuan Aya, Darren langsung menggendong Aya masuk ke dalam kamar.
Cklek
“Nona, apa anda jadi memberiiii….” Julian yang baru saja masuk ke ruangan Darren tidak jadi melanjutkan ucapannya kala melihat adegan live romantis di hadapannya.
.
.
.
*TBC
Happy Reading!!
__ADS_1