Batal Cerai

Batal Cerai
Ch 74. Ujian Terberat


__ADS_3

Julian juga ikut panik saat melihat Aya pingsan. Darren langsung menggendong istrinya dan membawanya masuk ke kamar tamu, karena yang paling dekat dibandingkan harus menaiki tangga dulu untuk menuju kamarnya.


“Tolong panggilkan dokter untuk memeriksa Aya.” Ucap Darren pada Julian.


“Ibu mertua anda dokter kandungan. Apa sebaiknya saya menghubungi Nyonya Devina saja, Tuan?” tanya Julian memberi solusi.


Darren sama sekali tidak tahu kalau mertuanya adalah seorang dokter kandungan. Sewaktu di luar negeri memang ia tidak terlalu banyak tahu tentang keadaan Aya.


“Baiklah.” Jawab Darren akhirnya.


Setelah Julian keluar dari kamar tamu, kini hanya tinggal Darren yang sedang menunggui Aya. Pria itu menatap wajah pucat istrinya. Badan Aya juga hangat. Apakah memang seperti ini keadaan wanita yang sedang hamil. Jujur saja Darren tidak tahu sama sekali. Kenangan tentang masa lalunya saat masih bersama Jenifer, sama sekali tidak membekas di ingatan Darren. Apakah karena memang janin yang ada di dalam rahim Jenifer bukan miliknya, sehingga tidak ada ikatan batin dengannya.


Perlahan Darren mengusap lembut perut Aya yang masih rata. Tangannya tiba-tiba bergetar seperti mendapat sengatan listrik. Dia juga ingat beberapa waktu yang lalu saat Aya meminta perutnya diusap dan mual-mualnya perlahan hilang.


“Nak, jangan buat Mama kamu menderita ya?” ucap Darren tanpa sengaja sambil menitikan air matanya.


Tangan Darren masih mengusap perut Aya. Tiba-tiba saja kilasan bayangan masa lalu muncul lagi. Darren mencoba keras untuk mengingatnya walau kepalanya terus berdenyut. Dia benar-benar ingin sembuh dari amnesianya, agar tidak membuat Aya kecewa dengan sikapnya yang sama sekali tidak mengenali siapapun.


Arghhhh….


Darren meringis memegangi kepalanya. Namun tangan satunya masih menyentuh perut Aya. Mereka berdua sama-sama sedang kesakitan. Hanya saja Aya masih dalam keadaan pingsan.


Cklek


Julian membuka pintu kamar tamu, karena Mama Devina baru saja datang bersama Papa Mirza.


“Tuan, anda kenapa?” Julian tampak terkejut saat melihat Darren meringis sambil memegangi kepalanya.


“Mas, bantu Julian membawa Darren ke rumah sakit. Biar Aya menjadi urusanku.” Ucap Mama Devina yang juga ikut panik.


Papa Mirza pun bergerak cepat membawa Darren ke rumah sakit. Padahal baru saja pria itu pulang dari rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan.


**

__ADS_1


Sore harinya, keadaan Aya sudah lebih membaik. Walau sebenarnya ia sudah sadar sejak tadi, namun Mama Devina memberikan obat, hingga Aya langsung tidur.


“Mama? kenapa Mama ada di sini? mana Darren, Ma?” tanya Aya setelah bangun dari tidurnya.


“Bagaimana keadaan kamu, Sayang? Kamu tadi pingsan, dan Mama langsung ke sini. tekanan darah kamu sangat rendah. Kamu harus banyak istirahat.” Jawab Mama Devina mengabaikan pertanyaan Aya tentang Darren.


“Terima kasih, Ma. Lalu kemana Darren? Kenapa aku tidak melihatnya?”


“Suami kamu baik-baik saja. lebih baik jangan banyak memikirkan hal-hal lain, Aya. Fokuslah dengan kandungan kamu.”


Jawaban Mama Devina ternyata justru membuat Aya berpikiran buruk. Apalagi raut wajah Mamanya terlihat jelas sedang menyembunyikan sesuatu.


“Katakan, Ma! Kemana Darren? Apa yag terjadi dengannya?”


Aya bergegas bangun dan mencari keberadaan suaminya. entah kenapa pikirannya menjadi tidak tenang saat baru saja bangun, tidak melihat keberadaan pria itu. namun langkahnya terhenti saat Mama Devina berhasil mencekal tangannya.


“Suami kamu sedang dirawat di rumah sakit. Kamu tenanglah, dan doakan dia segera sembuh.” akhirnya Mama Devina memberitahu.


Sungguh ujian terberat dalam hidup Aya di saat tengah mengandung, keadaan suaminya sedang tidak baik-baik saja. Aya sangat takut jika selamanya Darren tidak bisa mengingat dirinya sama sekali. Terlebih cintanya pada pria itu begitu besar. Kini Aya merasa sangat menyesal. Akibat perbuatannya juga lah yang menyebabkan Darren seperti ini. kalau saja saat itu dia tidak kabur dari rumah, pasti kejadiannya tidak akan seperti ini.


Aya menangis terisak di atas tempat tidurnya. Mama Devina terus menenangkannya dan memberikan semangat pada Aya agar tidak berpikiran yang macam-macam.


“Ingat, Aya. Ada buah hati kamu di sini. jangan bersedih terus! Nanti akan memberikan efek pada perkembangan janin kamu.”


“Tapi, bagaimana jika terjadi hal buruk pada Darren, Ma? Bagaimana kalau selamanya dia tidak bisa mengingatku?”


“Tidak akan, Aya! Tuhan tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan makhluknya. Yang terpenting kamu harus banyak berdoa.”


Aya hanya mengangguk dalam pelukan Mamanya.


***


Sementara itu Darren yang baru saja terbangun dari tidurnya setelah beberapa saat yang lalu sempat pingsan saat dibawa ke rumah sakit. Darren melihat sekeliling. Tak lama kemudian Julian masuk ke ruang rawatnya.

__ADS_1


“Anda sudah sadar, Tuan?” tanya Julian tampak lega melihat Darren membuka matanya.


Darren hanya mengangguk samar. Bagi Julian wajar saja, karena bosnya belum mengenali dirinya.


“Aku mau pulang sekarang!” Seru Darren dan segera beranjak dari tidurnya, lalu melepas selang infus di pergelangan tangannya.


“Jangan, Tuan! Anda masih membutuhkan perawatan.” Cegah Julian dengan panik.


“Kamu siapa? Aku tidak perlu dirawat di sini. aku sudah baik-baik saja.”


Julian yang maish panik pun segera menekan tombol nurse call. Dia tidak ingin terjadi hal buruk pada Darren. Dan setibanya perawat ke kamar Darren, Julian pun mengatakan kalau Darren ingin pulang sekarang juga.


Setelah melalui proses panjang, dan pemeriksaan ulang, akhirnya Darren diperbolehkan pulang. dokter juga menyarankan kalau terjadi sesuatu dengan Darren, harap segera dilarikan ke rumah sakit.


**


Julian sudah sampai kediaman Darren. Pria itu membukakan pintu mobil untuk bosnya dan mempersilakan masuk. Kebetulan di rumah itu Mama Devina masih di sana menemani Aya.


Cklek


Darren masuk ke kamarnya dan melihat Aya sedang tidur dengan wajah yang masih tampak sedikit pucat. Dia segera menaiki ranjang dan ikut berbaring di samping Aya.


“Sayang, apa kamu baik-baik saja?” tanya Darren setelah mengingat kejadian di mana tadi siang Aya pingsan.


.


.


.


*TBC


Happy Reading!!

__ADS_1


__ADS_2