
Setelah malam panas itu, Aya dan Darren pun segera tidur sambil berpelukan. Darren tidak ingin membuat istrinya kelelahan. Yang naanti akan berdampak pada janinnya. Lagi pula masih banyak watu untuk melakukannya lagi
Keesokan harinya, mereka berdua bangun sedikit terlambat. Namun bukannya buru-buru bangun, Aya justru masih ingin menikmati hangatnya pelukan ang suami. maklum saja, selama Darren mengalami amnesia, Aya berusaha mati-matian untuk menahan tidak memeluk Darren saat sedang tidur. Dia takut jika Darren justru merasa risih dengan perlakuannya yang sedikit agresif.
“Selamat pagi, Sayang!” Darren membalas pelukan istrinya dengan mata masih terpejam.
Darren merasa seperti mimpi. Tapi ini adalah kenyataan. Kenyataan di mana dirinya bisa kembali memeluk Aya. Wanita yang pernah ia sia-siakan dan pernah ia kecewakan.
“Mau sampai kapan kita seperti ini?” tanya Aya masih menikmati pelukan suaminya.
“Biarlah seperti ini. aku masih ingin menikmati pagi yang syahdu ini. atau kamu mau mengulangi yang semalam lagi, Sayang?” jawab Darren lalu mengangkat kepala Aya untuk menatap mata wanita itu.
“Ish.. nggak kasihan apa sama si debay ini? nanti saja kalau di rumah.”
“Ok. Maaf. Ya sudah kalau begitu, bagaimana kalau kita mandi bareng saja? aku janji deh nggak akan berbuat asusila lagi.” ucap Darren dengan tersenyum aneh.
Aya mengangguk saja. dia tidak mengerti dengan senyuman suaminya baru saja. tak lama kemudian Darren langsung menggendong tubuh Aya ke kamar mandi.
Setelah mengisi bathup dengan air hangat dan ditambah aromatherapy, sepasang suami istri itu masuk dan mulai saling memanjakan diri.
Ternyata makna senyuman yang tidak dimengerti oleh Aya tadi berujung seperti ini. Darren yang posisinya di belakang Aya menggosok punggung istrinya, ternyata justru membuat si junior itu meronta-ronta. Pria mana yang tahan untuk tidak menyentuh istrinya di saat di hadapannya disuguhi pemandangan yang indah itu.
Akhirnya Aya pun pasrah. dia tidak meenolak ataupun melarang suaminya untuk menjamah seluruh lekuk tubuhnya. Karena dia sendiri juga sangat menikmatinya.
Tidak begitu lama Darren melakukan pemanasan untuk merang sang istrinya di dalam bathup itu. setelah keduanya sama-sama sudah on fire, Darren mengangkat tubuh Aya menuju kamar. meskipun bisa saja mereka melakukannya di dalam kamar mandi, dan dengan berbagai style, Darren tetap pada pendiriannya. Yaitu memperlakukan istrinya dengan lembut. Terutama pada calon buah hatinya.
Dan di sini lah mereka sekarang. di atas tempat tidur yang masih berantakan dari sisa percintaan mereka semalam.
__ADS_1
Tubuh mereka berdua juga masih basah setelah berendam tadi. namun hal itu tidak menghalangi Darren untuk segera melanjutkan percintaannya.
Darren mencari posisi yang ternyaman buat istrinya. Meskipun perut Aya belum terlalu membuncit, dia tetap mengutamakan kenyamanan. Dan kini posisi Aya sedang terlentang di bawah kungkungan Darren. Pria itu mencium sebentar bibir istrinya dengan lembut. Setelah itu barulah Darren mengarahkan senjatanya yang sudah berdiri kokoh menuju lubang kenikmatan milik istriya.
Aya menahan nafas sejenak saat benda panjang berurat itu perlahan menembus intinya. Meskipun semalam sudah melaukannya, tetap saja Aya merasa kalau senjata suaminya itu seperti memenuhi lubangnya.
Setelah Darren menelusupkan senjatanya, pria itu mulai bergerak maju mundur dengan perlahan. Kedua kaki Aya pun membelit pinggang suaminya. mereka berdua bekerjasama untuk mencapai kenikmatan. Darren tak henti-hentinya memberikan kecupan lembut pada bibir Aya. Juga memainkan dua buah choco chip milik Aya dengan lidahnya. Dan hal itu membuat Aya semakin menggila. Hingga ia tidak tahan untuk segera mengeluarkan cairannya.
“Kita keluarkan sama-sama, Sayang!” ujar Darren dengan nafas memburu dan mempercepat ritme gerakannya.
Aya mengangguk samar, lalu tangannya ikut bekerja memberikan sentuhan pada area sensitif suaminya. tak lama kemudian lenguhan panjang keluar dari bibir mereka berdua, yang artinya mereka sudah mendapatkan pelepasannya.
Darren masih membiarkan senjatanya di dalam inti istrinya. Posisinya juga masih sama. Setelah itu Darren mengecup kening Aya yang berkeringat.
Cup
**
Aya dan Darren kembali mandi setelah percintaan itu. lebih tepatnya mandi singkat. Walau tetap dilakukan secara bersama. Karena Aya sudah protes perutnya kelaparan. Beruntungnya setelah mereka selesai mandi, pelayan hotel datang dengan membawakan pesanan makanan yang sudah dipesan Darren sebelumnya.
Aya tampak sangat rakus menghabiskan menu sarapannya yang sudah telat itu.
“Pelan-pelan, Sayang! Kalau masih kurang, nanti aku pesankan lagi.” ujar Darren sambil tersenyum gemas melihat istrinya yang makan sangat lahap.
“Maaf. Apa aku seperti orang rakus, ya?”
“Nggak. Aku nggak bilang seperti itu. dan aku memakluminya, karena di sini ada nyawa yang membutuhkan banyak nutrisi, Sayang. Kamu jangan jaim-jaim. Kalau mau apa, bilang saja.”
__ADS_1
Aya pun tersenyum senang. dia kembali menghabiskan makannya. Karena setelah ini mereka akan pulang.
Beberapa saat kemudian Aya dan Darren keluar dari kamar hotel. Mereka akan pulang untuk melanjutkan rutinitasnya lagi. namun sesampainya di lobby hotel, Aya dan Darren melihat seseorang sedang duduk di sana seperti sedang menunggunya.
“Hai Ren! Hai, Aya!” sapa Gandhi menyambut Darren dan Aya yang tengah berjalan menghampirinya.
Aya mengangguk samar. Dia takut jika melihat kedatangan Gandhi, Darren akan marah karena cemburu. Karena memang Aya belum tahu kalau saat itu suaminya bekerjasama dengan Gandhi untuk menolongnya.
“Oh iya, Aya. Selamat ulang tahun!” ucap Gandhi dengan tulus sambil menyodorkan sebuah kotak berwarna ungu dan berbalut pita warna pink.
Aya melirik suaminya untuk meminta persetujuan, apakah boleh menerima kado itu. dan ternyata Darren menganggukkan kepalanya.
“Jangan khawatir, ini bukan boma tau benda kenangan kita.” Goda Gandhi sambil tersenyum.
Akhirnya Aya menerima kado dari mantan kekasihnya itu.
“Terima kasih!”
.
.
.
*TBC
Happy Reading!!
__ADS_1