Batal Cerai

Batal Cerai
Ch 13. Kopi Hitam


__ADS_3

Kini Aya sudah duduk di samping Darren yang tengah fokus dengan kemudinya. Keduanya sama-sama diam. Darren sendiri menganggap tidak ada orang di sampingnya. Sedangkan Aya memilih menghubungi Gandhi saja daripada bosan dalam perjalanan yang cukup memakan waktu.


“Kenapa tidak diangkat sih?” kesl Aya saat menghubungi ponsel Gandhi berulang kali namun tidak ada jawaban.


Aya juga mengirim pesan, namun tidak juga mendapat balasan. Padahal selama ini Gandhi tidak pernah sampai mengabaikan panggilannya. Apalagi sekarang pria itu berada di sini. kecuali memang sedang sibuk, Gandhi pasti akan memberitahunya.


Kekesalan Aya semakin bertambah parah saat mobile Darren sudah memasuki basement perusahaan. Itu artinya Aya tidak bisa lagi menghubungi Gandhi karena akan disibukkan dengan pekerjaan.


Darren keluar dari mobil dengan diikuti oleh Aya. Mereka berdua berjalan menuju ruangan Darren. Sepanjang jalan menuju lantai tempat mereka akan berdiskusi, mereka juga berpapasan dengan beberapa karyawan. Aya mengangguk sopan dengan tersenyum ramah pada karyawan Darren. Meskipun Aya sendiri tidak mengenalnya. Berbeda dengan Darren yang terlihat sangat dingin.


“Siapa perempuan yang sedang bersama si bos?”


“Aku nggak tahu. Sudah cantik, ramah lagi.”


“Dengar-dengar sih itu calon istri Tuan Darren. Mereka sudah bertunangan tapi diam-diam.”


“Benarkah? Wah, beruntung sekali Tuan Darren. Semoga saja perempuan itu bisa mencairkan hati bos yang seperti es balok itu ya?”


Beberapa karyawan tampak asyik menggosipkan atasan mereka setelah mendapat sapaan dari Aya baru saja. hingga akhirnya mereka membubarkan diri saat tak sengaja obrolan mereka didengar langsung oleh Julian, asisten Darren.


“Kalian kalau masih mau bekerja di sini, bekerjalah yang baik!” seru Julian memperingatkan.


Mereka tampak ketakutan dan kembali ke tempat masing-masing. Walau sebenarnya Julian sendiri juga setuju dengan apa yang diucapkan oleh beberapa karyawan tadi.


Sementara itu Aya yang sudah masuk ke ruang kerja Darren, calon suaminya, tiba-tiba dibuat terpana dengan suasana ruangan itu. ruangan yang cukup luas dan tentunya sangat nyaman. Meskipun Aya sendiri juga pernah berada di ruang kerja Papanya, namun ruangan Darren sangat berbeda.


Aya duduk di sofa menunggu Darren yang masih sibuk di depan layar laptop di meja kerjanya. Aya sendiri memang sedang menunggu perintah dari Darren, mengingat dirinya tidak tahu apa-apa tentang persiapan meeting besok.


Aya pun mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Gandhi lagi. namun masih tidak ada jawaban. Padahal ponsel pria itu aktif. Lantas kemana kah Gandhi?


“Kemarilah!” seru Darren tiba-tiba.

__ADS_1


Aya pun menghampiri meja kerja Darren di mana pria itu berada. Aya berdiri di depan meja kerja Darren, namun Darren memintanya untuk mendekat.


“Kamu pelajari dokumen ini. apakah sudah sesuai dengan materi yang ada di folder ini. kalau masih ada yang kurang jelas kamu tanyakan langsung.” ucap Darren dnegan tatapan lurus ke layar laptop.


Aya hanya diam. namun pandangannya tidak tertuju pada layar laptop. Melainkan pada sebuah pigora kecil di atas meja kerja Darren. Pigora di mana di dalamnya ada sebuah foto seorang perempuan cantik dengan senyum menawan. Bahkan saking fokusnya dengan foto itu, Aya sampai tidak mendengarkan tentang apa yang dijelaskan oleh Darren baru saja.


“Apa kamu mengerti?” tanya Darren masih fokus dengan layar laptopnya.


Darren pun menoleh ke arah Aya dan mengikuti arah pandang Aya yang tertuju pada foto Jenifer. Setelah itu Darren segera berdiri dengan membawa laptopnya.


“Ehm, kamu bisa mengerjakannya di sofa.” Ujar Darren membimbing Aya agar berpindah tempat.


Tanpa menjawab, Aya pun ikut Darren menuju sofa. Entah kenapa perasaannya tidak nyaman setelah melihat foto tadi. aya sangat yakin kalau foto itu adalah mantan istri Darren. Hati Aya terusik namun ia tidak mengerti kenapa bisa seperti ini.


Aya juga tidak berniat ingin tahu tentang masa lalu calon suaminya itu. karena sepertinya memang Darren masih sangat mencintai mantan istrinya. Terbukti dengan masih memajang foto mendiang istrinya di meja kerjanya.


Kini Aya sudah duduk di sofa sesuai perintah Darren. Dia menerima laptop Darren, dan segera mengerjakan apa yang diperintah Darren baru saja. tanpa bertanya lagi.


Cukup lama Aya sibuk mempelajari dokumen itu. ternyata sangat rumit dan membuatnya pusing. mau bertanya pada Darren pun malas. Karena sejak tadi pria itu juga tengah sibuk. Beruntung sekali Julian masuk ke ruangan Darren.


“Selamat sore, Nona! Apa anda membutuhkan sesuatu?” sapa Julian dengan ramah.


“Ah iya. kebetulan sekali. Bisakah kamu membawakan aku kopi hitam. Kepalaku pusing sekali mempelajari dokumen yang sangat rumit ini.” keluah Aya sambil memijit keningnya.


Darren pun terkejut. Karena sejak tadi ia tidak memperhatikan Aya. Apalagi menawarkan bantuan atau sesuatu yang diinginkan oleh perempuan itu. walaupun di ruangan itu sudah tersedia lemari pendingin yang berisi berbagai minuman.


“Baik, Nona! Tunggu sebentar.” Jawab Julian lalu bergegas pergi setelah meletakkan dokumen penting di atas meja kerja Darren.


“Tunggu, Lian! Jangan membuat kopi. Tidak baik perempuan minum kopi. Banyak mengandung kafein yang tidak baik untuk kesehatan.”


Julian pun bingung, lalu menatap ke arah Aya yang sedang terkejut dengan ucapan Darren baru saja.

__ADS_1


“Yang minum aku, yang kesehatannya terganggu juga aku, dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan kamu. Cepat buatkan! Kepalaku sudah sangat pusing.” kekeh Aya mengabaikan nasehat Darren yang menurutnya tidak berguna.


Julian menganggukkan kepalanya lalu segera keluar dari ruangan bosnya. Darren sendiri hanya menghela nafasnya pelan. Setelah itu dia menghampiri Aya.


“Apa ada yang tidak kamu mengerti?” tanya Darren merasa bersalah.


“Nggak ada.” Jawab Aya datar.


Darren tetap mengambil tempat duduk di samping Aya. Mengecek pekerjaan perempuan itu meski Aya tidak mengatakan kesulitannya. Darren bisa tahu kalau Aya memang sedang pusing dengan isi dokumen itu. seketika dia merasa sangat bersalah. Apalagi Papa Aya tadi sudah memintanya untuk mengajari Aya.


Tak lama kemudian Julian datang dengan membawa kopi pesanan Aya. Aya pun segera meminumnya. Kepalanya yang sejak tadi terasa pening seketika taampak lega setelah meminum kopi hitam yang masih mengepulkan asap itu.


“Terima kasih, Julian!” ucapnya dengan tulus.


“Sama-sama, Nona. Kalau anda membutuhkan sesuatu lagi, jangan sungk,-“


“Julian! Kalau sudah tidak ada kepentingan lagi, silakan keluar!” ucap Darren tiba-tiba, karena tidak suka melihat interaksi asistenya dengan Aya.


“Baik, Tuan. Permisi!”


Setelah Julian keluar, kini Aya kembali melanjutkan pekerjaannya. Dia masih terlihat datar di depan Darren. Bahkan Darren yang sedikit lebih mencair hatinya karena merasa bersalah atas sikapnya pada Aya.


.


.


.


*TBC


Happy Reading!!

__ADS_1


__ADS_2