Batal Cerai

Batal Cerai
Ch 78. Menolak


__ADS_3

Beberapa hari ini Aya merasa lelah hatinya. Tapi dia selalu menunjukkan senyumnya di hadapan Darren. Karena ia sudah bertekat untuk terus membuat suaminya sembuh dari amnesianya.


Sore ini Aya pulang dari kantor dengan tubuh yang begitu lelah. Bertuntungnya janin dalam kandungannya tidak rewel, meskipun kadang ia kelelahan.


Aya melihat Darren sedang duduk bersantai di ruang tengah sambil menonton acara tv. Sebelumnya memang Aya tidak minta dijemput oleh suaminya seperti biasa. Karena memang akhir-akhir ini Darren tampak sibuk dengan Julian. Walau pria itu belum sepenuhnya kembali bekerja karena gangguan ingatannya.


“Selamat sore, Ren!” sapa Aya dan ikut bergabung bersama Darren.


Aya duduk dengan bergelayut manja pada lengan Darren. Lalu tangannya meraih tangan Darren dan meletakkannya di atas perut meminta Darren mengusapnya.


“Dia rindu sekali dengan Papanya.” Ucap Aya menatap Darren berharap pria itu peka.


“Apa kamu aku ingin mengusapnya?” tanya Darren dan diangguki oleh Aya.


Aya sangat senang saat tangan Darren mulai mengusap perutnya. Ada rasa yang begitu tenang dalam hati Aya setelah lelah menghadapi rutinitas pekerjaan kantor. setelah usapan lembut tangan Darren dirasa cukup, Aya menghentikan usapan itu.


Dua pasang netra itu saling menatapdalam dengan jarak yang begitu dekat. Jujur saja, sebagai wanita normal apalagi sedang hamil, karena efek hormonnya juga, Aya sangat merindukan sentuhan suaminya. hanya saja Aya takut untuk meminta langsung pada suaminya. takut mendapat penolakan.


Namun kali ini Aya mencoba untuk mengawalinya. Siapa tahu dengan begitu, Darren ingat dengan kemesraan yang pernah mereka ukir waktu itu. perlahan Aya mendekatkan bibirnya dengan bibir Darren. Bahkan Darren terlihat tidak menolaknya. Setelah itu Aya memberanikan diri untuk menempelkan bibirnya pada bibir Darren.


“Lebih baik kamu mandi dulu!” ujar Darren setelah memberi jarak dengan Aya. Da itu artinya Darren menolak ciuman Aya secara tidak langsung.


Kecewa. Jelas itu yang Aya rasakan. Namun dia bisa apa. Darren tidak mungkin menciumnya, apalagi dia merasa tidak pernah mengenalnya. Dan Darren pasti akan melakukan itu dengan orang yang dia cintai.


“Baiklah. Aku mandi dulu. pasti kamu terganggu ya dengan bau badanku yang aseem ini?” kelakar Aya dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya. namun cepat-cepat ia beranjak meninggalkan Darren sebelum pria itu melihat air matanya yang hampir tumpah.


**

__ADS_1


Setelah gagalnya ciuman sore itu, Aya terkesan memberi jarak pada suaminya. bukan dia membenci pria itu, hanya saja Aya ingin menjaga hatinya dari rasa sakit atas penolakan Darren yang kemungkinan akan terjadi lagi.


Namun selama itu Aya masih bersikap manis pada suaminya, karena rasa cinta telah mengalahkan segalanya.


Hari ini weekend. Aya sengaja ingin bermalas-malasan di kamarnya. Sedangkan Darren sudah tidak terlihat lagi di sisinya. Mungkin pria itu sedang sibuk olahraga atau melakukan kegiatan lainnya.


Ting


Ada notif pesan masuk dari ponsel Aya. Mau tak mau akhirnya Aya bangun untuk mengambil ponselnya yang ada di atas nakas.


“Maaf, pagi-pagi sekali aku sudah pergi ke luar kota bersama Julian. Kata Julian ada proyek penting dan membutuhkan kehadiranku.”


Aya lagi-lagi meneteskan air matanya. padahal dulu, jika Darren mau pergi ke luar kota, pria itu selalu pamit padanya. Meskipun mendadak, Darren pasti membangunkannya.


“Iya. hati-hati!” balas Aya dengan singkat.


Akhirnya Aya tidak jadi bermalas-malasan di kamar. moodnya sudah terlanjur buruk setelah mendapat pesan dari suaminya yang cukup membuat hatinya nyeri.


“Kamu harus kuat ya, Sayang! Kita harus bekerjasama untuk membuat Papa kamu ingat dengan kita.” Gumam Aya sambil mengusap perutnya, mengajak bicara calon buah hatinya.


Hingga sore hari Aya masih di rumah. mungkin ia sedikit lebih tenang menikmati waktu kesendiriannya. Karena memang akhir-akhir ini hatinya sering mellow. Apalagi jika melihat raut datar suaminya. entah sampai kapan amnesia Darren akan sembuh. karena menurut Aya usahanya selama ini untuk membantu Darren mengingat masa lalunya sia-sia.


“Apakah kamu memang tidak berniat ingin sembuh, Ren? Dan itu artinya kamu juga tidak berusaha untuk mempertahankan cinta kita.” Gumamnya dengan perasaan yang tidak bisa lagi digambarkan.


Saat Aya sedang bersantai di ruang tengah, tiba-tiba saja ia kedatangan Mama dan Papanya. Aya buru-buru menghapus air matanya agar tidak membuat kedua orang tuanya curiga.


“Mama, Papa? Kenapa tidak bilang kalaumau datang?” Aya langsung memeluk Mama dan Papanya bergantian.

__ADS_1


“Iya, maafkan Mama. karena memang ini sangat mendadak. Apa kamu sedang tidak sibuk, Ay? Lalu di mana suami kamu?” tanya Mama Devina.


“Darren ke luar kota sama Julian, Ma. Katanya ada proyek penting yang membutuhkan kehadirannya. Lalu Mama dan Papa mau ngajak Aya ke mana?”


“Yah, sayang sekali. Apa kamu nggak masalah jika ikut Mama dan Papa pergi ke pesta rekan bisnis Papa kamu?”


“Iya, Ay. Papa lupa memberitahu kamu kalau ada undangan pesta dari salah satu rekan bisnis kita.”


Aya tampak berpikir sejenak. Daripada di rumah sendirian merenungi nasib rumah tangganya dengan Darren, akhirnya Aya setuju dengan ajakan Mama dan Papanya. Namun Aya juga tetap memberitahu suaminya kalau malam ini ia akan pergi bersama orang tuanya.


*


Aya kini sudah berpenampilan cantik dengan dress longgarnya. Mama Devina pun menggandeng Aya untuk segera pergi ke hotel tempat acara itu digelar. Sedangkan Papa Mirza menunggu di mobil.


Setibanya di hotel, Aya dan kedua orang tuanya langsung menuju ballroom. Acara itu memang tidak terlalu mewah. Kata Papa Mirza hanya mengundang beberapa rekan bisnisnya saja yang berasal dari dalam negeri. dan Aya pun percaya.


Setibanya di depan pintu ballroom, tiba-tiba saja lampunya padam. Aya sedikit terkejut, namun berusaha tetap tenang. Tak lama kemudian lampu itu nyala kembali, namun hanya lampu yang menyorot ke arah dirinya saja. hingga membuat Aya heran.


Alunan alat musik piano dengan lagu ulang tahun menggema seisi ballroom. Aya benar-benar lupa kalau hari ini adalah hari ulang tahunnya. Setelah itu ada seorang pria yang tiba-tiba muncul di hadapannya dengan wajah terhalangi buket bunga yang sangat besar. Kemudian seluruh lampu menyala dengan terang, bertepatan lagu dengan berhentinya musik itu.


“Selamat ulang tahun, istriku!” ucap Darren sambil memberikan buket bunga itu pada Aya dengan senyuman manisnya.


.


.


.

__ADS_1


*TBC


Happy Reading!!


__ADS_2