Batal Cerai

Batal Cerai
Ch 12. Menyiapkan Rencana


__ADS_3

“Apa sih, Aya!!” Lissa segera mengambil syal dari dalam tasnya. Dia juga baru ingat kalau tanda merah dilehernya terlihat jelas. Tadi buru-buru keluar rumah, jadi tidak sempat memakai syalnya.


Aya hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap aneh Lissa yang baru kali ini ia ketahui. Apalagi dengan tanda merah di lehernya. Itu artinya Lissa sudah mempunyai kekasih dan hubungan mereka sudah sangat jauh.


“Gila kamu ya, Liss sampai sejauh itu kalau berhubungan sama cowok kamu.” Ucap Aya sambil mengemudikan mobilnya.


Lissa yang belum siap mendapati pertanyaan seperti dari Aya mendadak bingung. Apalagi kalau tahu yang sebenarnya.


“Hanya sebatas ini saja kok, Ay!” jawab Lissa tanpa beban.


“Memangnya siapa sih cowok kamu Liss? Kamu kok nggak pernah cerita sama aku.mau main rahasia-rahasiaan sekarang?” tuduh Aya sedikit kecewa.


“Bukan begitu, Aya. Nanti aku kenalkan kok sama kamu. Tapi nggak sekarang. kita juga baru saja jadian, dan kita sama. Sedang menjalani hubungan jarak jauh.” Tutur Lissa panjang lebar.


Aya hanya manggut-manggut. Setelah itu ada panggilan dari Gandhi. Otomatis ia menjeda obrolannya dengan Lissa dan menerima panggilan dari kekasihnya.


Sambil menyetir dan bicara dengan kekasihnya, Aya terlihat tampak asyik. Sedangkan Lissa yang duduk di sebelah Aya hanya tersenyum sinis melirik sahabatnya. karena ia sudah mendapatkan yang lebih dari Gandhi semalaman penuh. Jadi Lissa sama sekali tidak terpengaruh dengan kemesraan antara Gandhi dan Aya melalui sambungan telepon.


***


Sesuai dengan janji Gandhi pada Aya, kalau pria itu hanya tinggal selama empat hari saja. dan besok sudah harus kembali ke luar negeri.


Seperti biasa, Aya selalu tampak murung kalau akan ditinggal pergi oleh kekasihnya. Sebenarnya Gandhi juga merasakan hal yang sama. Tapi bagaimana lagi, keduanya juga masih harus lebih bersabar lagi untuk meraih sukses sebelum menuju pelaminan.


Gandhi juga meyakinkan hatinya kalau hubungan gelapnya dnegan Lissa hanya sebatas saling membutuhkan. Suatu saat kalau ia sudah menjadikan Aya miliknya, dia akan mengakhiri hubungannya dengan Lissa.


“Sayang, sekarang katakan. Kamu mau pergi kemana? Sebelum besok aku pulang.” tanya Gandhi dimana saat ini mereka baru saja selesai makan siang.


“Nggak mau kemana-mana. Aku ingin sam kamu seharian saja sampai besok.” Jawab Aya dengan manja.


Gandhi tampak gemas. Ingin sekali ia membawa Aya ke hotel tempat ia menginap, dan mengungkung perempuan itu seharian penuh. Namun sayangnya Aya tidak akan mau.


Akhirnya Aya minta jalan-jalan saja sama Gandhi. Dan Gandhi pun menurutinya. Namun saat keduanya hendak keluar dari restaurant, tiba-tiba saja Aya mendapt panggilan dari Papanya. Sekarang juga Aya diminta pergi ke kantor.

__ADS_1


“Nggak apa-apa. Kamu pergi saja. nanti malam kita kan bisa bertemu lagi, Sayang!”


Aya semakin cemberut. Tapi ia juga tidak bisa menolak perintah Papanya. Dan dengan berat hati akhirnya Aya pergi ke kantor meninggalkan Gandhi.


Aya mencium sekilas pipi kekasihnya sebelum pergi. Gandhi sendiri tersenyum senang dan membalas ciumannya di pipi Aya.


“Hati-hati!” ucap Gandhi dan dianggukki oleh Aya.


Setelah Aya pergi meninggalkan restaurant, Gandhi pun juga segera pergi. Lebih baik ia kembali ke hotel untuk istirahat. Namun tiba-tiba saja ada seseorang yang memeluknya dari belakang.


“Apa kamu butuh teman?” bisik Lissa tepat di telinga Gandhi.


Gandhi menoleh ke arah Lissa lalu melepas pelukan perempuan itu. jujur saja dia khawatir jika Aya mengetahuinya.


“Liss jangan seperti ini. bagaimana kalau Aya tahu?”


“Sorry! Ya sudah, ayuk! Kamu pasti butuh teman, kan?”


Gandhi sendiri tidak punya pilihan lain. Dia juga sangat menikmati permainannya dengan Lissa. Akhirnya mereka berdua menuju hotel untuk mengulangi perbuatan yang sudah-sudah.


Aya kini sudah tiba di kantor Papanya. Ternyata di ruang kerja Papanya ada Darren. Pria yang beberapa hari ini tidak ia temui setelah kejadian di tangga darurat tempo hari.


Aya berusaha tampak biasa saja, walau masih ada rasa sedikit kesal untuk pria berwajah kaku itu. begitu juga dengan Darren yang terlihat datar seperti biasanya. Bahkan seolah melupakan kejadian tempo hari.


“Ada apa Papa memanggil Aya ke sini?” tanya Aya setelah mengambil tempat duduk di samping Papa Mirza.


Papa Mirza masih membaca dokumen di tangannya, sedangkan Darren tampak memiankan gadgetnya mengabaikan Aya yang sedang duduk di hadapannya.


“Papa mau minta kamu mempelajari beberapa dokumen ini, Ay. Karena besok Papa akan minta kamu pergi ke kota X untuk meeting dengan klien sekaligus meninjau proyek kerjasama kita dengan perusahaan Darren.” Ucap Papa Mirza setelah meletakkan lembaran dokumen di atas meja.


Aya masih belum mengerti. Apakah besok ia yang akan pergi ke kota X bersama Papanya. Tapi kenapa Papanya meminta untuk mempelajari dokumen itu.


“Baik, Pa. jam berapa meetingnya?” tanya Aya, karena ia tahu jarak kota X dari tempat tinggalnya tidaklah dekat. Dan membutuhkan waktu setidaknya tiga sampai empat jam perjalanan.

__ADS_1


“Bagaimana Ren? Jam berapa?” tanya Papa Mirza pada Darren. Dan semakin membuat Aya bingung.


“Jam enam pagi, Om.” Jawab Darren.


“Maksud Papa, besok aku pergi sam,-“


“Iya. sama Darren. Kenetulan Papa besok juga ada meeting penting. Sekalian kamu bisa belajar bisnis dari Darren, calon suami kamu.”


Darren hanya tersenyum samar pada Mirza, tapi tidak pada Aya. Hal itu semakin membuat Aya sangat kesal. Apalagi besok ia harus berangkat pagi-pagi sekali. Padahal ia sudah berjanji akan mengantar Gandhi ke bandara.


“Sekarang kamu bisa ikut Darren ke kantornya. Kalian bahas berdua tentang persiapan meeting besok. Dan Papa menunggu hasilnya nanti malam, sebelum kalian besok berangkat.”


Aya benar-benar merasa sial hari ini. ingin marah tapi pada siapa. Tidak mungkin juga memarahi Papanya. Akhirnya dengan berat hati Aya ikut Darren pergi ke kantornya.


“Mobil kamu tinggal di kantor saja, Aya! Biar nanti diambil sopir.” Ucap Papa Mirza menghentikan langkah Aya dan Darren.


“Aya bawa mobil sendiri saja, Pa. nggak enak nanti merepotkan orang lain dan harus mengantar Aya pulang. lagian paling Cuma sebentar.” Tolak Aya.


“Menurutlah, Aya!”


Aya hanya menganggukkan kepalanya dan tidak berani lagi membantah Papanya saat melihat tatapan tajam Papanya. Sedangkan Darren juga tidak bicara apapun dan langsung keluar ruangan Mirza begitu saja dengan diikuti oleh Aya.


Setelah kepergian Aya dan Darren, Mirza menghembuskan nafasnya lega. Mungkin dengan cara seperti ini perlahan ia akan membuat Aya melupakan Gandhi. Mirza sudah tidak ingin lagi adu mulut dengan anaknya hanya karena Gandhi.


Ya, Mirza tahu kalau baru saja Aya bertemu dengan Gandhi. Dan besok Gandhi akan kembali keluar negeri pun Mirza juga tahu. Jadi, sebelum Aya mengantar Gandhi pergi ke bandara, ia lebih dulu menyiapkan rencana kepergian Aya dan Darren ke luar kota.


“Maafkan Papa, Aya! Semua ini demi kebaikanmu.”


.


.


.

__ADS_1


*TBC


Happy Reading!!


__ADS_2