
Darren sudah melewati masa kritisnya. Hal itu membuat semua keluarga sangat senang. selain itu juga Darren sudah sadar dan bisa diajak berkomunikasi. Hanya saja ada satu hal yang membuat Aya terpukul. Kondisi Darren saat ini tengah mengalami amnesia akibat cedera otak efek dari pukulan benda keras ke kepalanya.
Meskipun demikian Aya tetap sabar dan berusaha membantu suaminya agar segera sembuh dari amnesianya. Dokter juga mengatakan kalau hal itu terjadi tidak akan lama. Namun tetap saja, Darren butuh stimulus untuk merang sang otaknya.
Sudah tiga hari ini Darren dipindahkan ke ruang perawatan. Aya sendiri juga sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Jadi selama ini ia tinggal di hotel bersama kedua orang tuanya. Sedangkan Papa Vano harus pulang pergi untuk mengurus perusahaannya. Kebetulan jarak negara tempat tinggal Papa Vano dengan rumah sakit yang ditempati oleh Darren tidaklah jauh.
“Kamu makan dulu ya? Sejak tadi kamu belum makan.” Ujar Aya mengambil piring dan hendak menyuapi suaminya.
Memang secara keseluruhan kondisi fisik Darren sudah membaik. Bahkan infusnya sudah dilepas. Hanya saja dokter masih ingin memastikan kalau kondisi Darren sudah seratus persen membaik atau belum. Meski masalah ingatannya masih butuh waktu dan kesabaran untuk memulihkannya. Kemungkinan juga besok Darren sudah diperbolehkan pulang.
“Aku bisa makan sendiri. Aku bukan anak kecil lagi yang makan harus disuapi.” Tolak Darren saat Aya hendak menyuapinya.
Aya pun memberikan piring itu pada Darren. Meski hatinya sakit atas penolakan itu. tapi Aya berusaha tetap sabar, karena memang Darren tidak ingat apapun tentang dirinya. Bahkan masa lalunya saja pria itu tidak ingat sama sekali. Hal itu membuat Aya sedikit lega, karena suaminya tidak mengingat tentang masa lalunya dimana Darren pernah menikah dengan Jenifer.
Dokter memang mengatakan kalau cedera otak yang dialami oleh Darren sedikit aneh dibandingkan kasus lainnya yang pernah ada. Berutungnya amnesia itu tidak terjadi secara permanen. Dokter juga meminta Aya selaku istri Darren untuk memberikan stimulus melalui tempat-tempat atau kejadian yang belum lama ia alami bersama sang suami. karena itu cukup memberikan pengaruh besar terhadap ingatan Darren.
Aya hanya menghela nafas pelan. Lalu ia duduk di sofa tak jauh dari brankar Darren di mana pria itu akan makan.
“Kenapa kamu melihatku terus? Aku sangat risih. Meskipun kamu mengaku istriku, tapi aku tidak nyaman sama sekali jika kamu terus memperhatikanku seperti itu.”
“Maaf. Baiklah, aku tidak melihat kamu lagi. tapi kumohon jangan mengusirku!”
__ADS_1
Darren hanya menganggukkan kepalanya. Sedangkan Aya memilih sibuk dengan ponselnya. Sambil sesekali mengambil gambar suaminya tanpa sepengetahuan Darren.
Tiba-tiba saja perut Aya terasa mual-mual saat mencium aroma kuah dari makanan yang dimaka oleh Darren. Mungkin tadi Darren belum membuka plastick wrap’nya, jadi Aya terlihat biasa-biasa saja. dan sekarang, Aya sangat tidak tahan dengan bau itu. akhirnya mau tidak mau dia masuk ke kamar mandi kemudian meninggalkan Darren yang tengah makan dan tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada Aya.
Setelah memuntahkan isi perutnya, Aya keluar dari kamar mandi sambil menutup hidungnya, dan keluar begitu saja meninggalkan Darren yang masih makan.
Sungguh Aya baru kali ini mengalami mual-mual. Semenjak dia belum mengerti kehamilannya, dia baik-baik saja. bahkan napsu makannya meningkat. Tapi sekarang, berbanding terbalik. Napsu makannya menurun dan baru saja ia mengalami morning sickness.
Sedangkan Darren yang semula dideteksi mengalami sindrom couvade, sekarang pria itu terlihat baik-baik saja pasca sadar dari komanya. Apa penyebabnya dikarenakan dia sedang mengalami amnesia? Mengingat seorang suami yang mengalami sindrom tersebut biasanya menandakan bahwa ikatan batin dengan istrinya sangat kuat. Atau kurang lebih seperti, rasa cinta sang suami terhadap istrinya yang sangat besar. Jadi sekarang keadaannya seperti berbalik.
**
Aya kini sudah keluar dari ruang rawat suaminya. bertepatan itu Mama Devina dan Papa Mirza datang. mereka berdua juga baru saja menemui dokter yang menangani Darren.
“Perutku mual-mual, Ma. Sekarang sangat pusing.” jawab Aya dengan lemah.
Akhirnya Papa Mirza meminta istrinya untuk kembali ke hotel bersama Aya. Karena besok juga mereka akan pulang ke Indonesia. Keadaan Darren sudah membaik.
Mama Devina yang notabene dokter kandungan, dengan sigap wanita itu memberikan pertolongan pada anaknya yang sedang mengalami morning sickness. Apalagi ada calon cucunya di rahim Aya.
“Mama heran, Ay. Usia kandungan kamu sudah jalan sembilan minggu dan baru mengalami morning sickness?” tanya Mama Devina setelah mereka berdua sudah sampai hotel.
__ADS_1
“Aku juga ngga tahu, Ma. Ini juga pengalaman pertamaku. Atau aku seperti ini setelah tahu kalau aku sedang hamil?”
“Ya bukan seperti itu. memang kondisi wanita hamil tidak semua sama. Apa sebelumnya kamu tidak pernah mengalami gejala yang aneh? Atau suami kamu mungkin?”
Aya tampak berpikir. Dia mengatakan pada Mamanya kalau sebelumnya memang napsu makannya meningkat. Sedangkan Darren, Aya sama sekali tidak mengerti. Apakah ada tanda-tanda khusus yang dialami oleh pria saat istrinya hamil.
“Ada, Ay. Meskipun tidak banyak. Ada beberapa pria yang mengalami sindrom kehamilan simpatik. Kayak Papa kamu dulu. Mama yang hamil, Papa kamu yang mengalami ngidamnya. Apalagi sampai mual-mual juga.”
Deg
Aya tiba-tiba teringat dengan Darren beberapa waktu yang lalu saat hubungannya tidak baik-baik saja. dimana Darren waktu itu ia temui tampak lemas dan mual-mual. Apakah itu artinya Darren waktu itu terkena sindrom kehamilan simpatik?
“Bisa jadi. Itu tandanya suami kamu memiliki rasa cinta yang amat besar pada kamu, Aya. Dan rasa takut kehilangan juga. sabarlah, jika sekarang Darren sudah tidak mengalami sindrom itu, karena dampak amnesianya.” Ujar Mama Devina menenangkan Aya.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading!!