Batal Cerai

Batal Cerai
Ch 71. Mengarang Cerita


__ADS_3

Keesokan harinya, Aya, Darren, dan kedua orang tuanya sudah siap terbang untuk pulang ke Indonesia. Papa Vano tidak bisa ikut mengantar anaknya pulang karena pria itu sedang kurang sehat. Namun Papa Vano menitipkan Darren pada besannya, juga Aya. Papa Vano sangat yakin kalau Darren akan segera pulih dari amnesianya.


“Papa akan pulang secepatnya jika keadaan Papa sudah membaik. Jaga diri kamu baik-baik, Ren! Ingatlah kalau Aya adalah istri kamu sekaligus wanita yang sangat mencintaimu.” Ucap Papa Vano sambil memeluk Darren.


Darren membalas pelukan Papanya meskipun ia masih belum bisa mengingat apapun. Dia juga mengangguk, mengiyakan apa yang baru saja Papanya katakan.


**


Kini keempat orang itu sudah berada dalam pesawat. Aya duduk persis di sebelah suaminya. mereka berdua tampak saling diam. jika Darren masih asing dengan keberadaan Aya, hingga membuat ia memilih untuk diam. sedangkan Aya sendiri memilih diam karena badannya benar-benar kurang fit.


Tadi pagi, sebelum berangkat ke bandara, Aya kembali mengalami morning sickness. Papa Mirza yang mengetahuinya juga ikut kasihan. Ingin membatalkan penerbangan, tapi Aya yang tidak mau.


“Apa kepala kamu masih pusing, Ay?” tanya Mama Devina yang duduk tak jauh dari Aya.


“Sedikit, Ma. Ini sudah lebih baik setelah minum obat tadi.” jawab Aya tapi dengan mata terpejam.


Darren yang sedari tadi melihat Aya tampak lemas juga merasa kasihan. Apalagi setelah tahu kalau Aya sedang hamil. Walau katanya anak yang dalam kandungan Aya adalah darah dagingnya, Darren sama sekali tidak merasa dia pernah melakukannya hingga membuat Aya hamil. Menganggap Aya sebagai istrinya saja dia masih belum bisa.


Selama perjalanan, Darren sama sekali tidak bisa tidur. Berbeda dengan Aya. Meskipun dia juga tidak bisa tidur dengan nyenyak karena rasa pusing dan mual yang menderanya, Aya memilih untuk menutup matanya saja.


Hummpp…


Aya tiba-tiba menutup mulutnya saat perutnya kembali bergejolak hendak mengeluarkan isinya. Dengan cepat Aya pergi ke toilet. Darren pun sangat kasihan melihatnya. Lalu dia mengikuti Aya pergi ke toilet.


Darren menunggu Aya di luar toilet. Tak lama kemudian Aya keluar dengan wajah yang sedikit pucat.


“Apa kamu baik-baik saja?”

__ADS_1


Aya sangat terkejut saat melihat keberadaan suaminya. dia hanya mengangguk lemah. Aya benar-benar tidak bertenaga walau hanya mengeluarkan suaranya saja.


Tanpa Aya duga, tiba-tiba saja Darren mendekatinya. Tangannya terulur menyentuk perut rata Aya. Entah mendapat bisikan dari mana hingga Darren bisa melakukan hal itu. apa karenanaluri seorang Ayah pada calon bauh hatinya. Namun yang pasti Aya sama sekali tidak menolaknya. Aya merasakan efek yang luar biasa saat tangan Darren mengusap pelan perutnya.


“Terima kasih. Aku sekarang sudah jauh lebih baik.” Ucap Aya dengan mata berkaca-kaca.


“Apa hanya dengan seperti ini kamu sudah membaik? Aneh sekali.” Tanya Darren diiringi cibiran kecil.


Aya menahan senyumnya. Dia sama sekali tidak marah dengan cibiran Darren yang seolah menganggap dirinya hanya mengarang cerita.


“Bolehkah aku meminta kamu untuk mengusap perutku ini kalau aku sedang mual-mual?” pinta Aya dengan tatapan memohon.


“Kenapa harus aku? Mama atau Papa kamu kan bisa.” Lagi-lagi Darren merasa aneh dengan permintaaan Aya.


“Karena kamu adalah ayah dari bayi yang sedang ada di perutku ini. meskipun kamu tidak percaya, tapi aku akan berusaha meyakinkan kamu kalau di sini ada anak kamu. Jadi, kumohon! Usaplah perutku ini kalau aku sedang mual-mual.”


*


Setelah beberapa jam melewati perjalanan udara, kini mereka sudah tiba di Indonesia. Kedua orang Aya langsung pulang ke rumah. sedangkan Aya memutuskan untuk pulang ke rumah Darren.


Dalam perjalanan, Darren merasa ada sesuatu yang melintas dalam otaknya. Dia seperti merasa pernah melewati jalanan ini. tapi dia tidak bisa memaksa otaknya untuk terus mengingatnya. Karena memang jalan itu adalah jalan terakhir yang Darren lewati saat hendak menuju bandara menyelamatkan Aya dari penculikan beberapa waktu yang lalu.


Setibanya di rumah, kedatangan Darren dan Aya disambut oleh art serta sopir pribadi Darren. Mereka tampak bingung saat melihat majikannya yang tampak berbeda.


“Kenapa mereka memandangiku seperti itu?” tanya Darren pada Aya.


Kini art Darren dan juga sopir pribadinya pun mengerti kalau ada sesuatu yang tidak beres yang terjadi pada majikannya setelah beberapa waktu pergi. Aya pun memberikan kode anggukan kepala pada mereka berdua. Nanti dia akan menceritakan semuanya.

__ADS_1


“Karena mereka hormat denganmu. Ya sudah, ayo kita masuk ke kamar. kamu perlu istirahat!” Ajak Aya kemudian.


“Apa kamu bilang? Kita masuk ke kamar? kita berdua akan tidur dalam satu kamar?” tanya Darren dengan raut muka terkejut.


Sedangkan art dan sopir pribadi Darren yang masih berada di sana tampak menahan tawanya. Aya pun bingung mau menjelaskan seperti apa. Tapi dia segera menarik tangan Darren untuk naik ke lantai dua.


Sesampainya di sana, Aya sangat terkejut dengan perubahan kamarnya. Kamar yang pernah ia tempati bersama Darren kini tampilannya sudah berubah. Bahkan di sana sudah terpasang foto pernikahannya. Entah siapa yang melakukan itu semua. Tapi Aya sangat senang.


Sebelumnya memang Darren sudah meminta seseorang untuk merubah tatanan kamarnya. Terlebih saat Aya mengetahui dirinya masih menyimpan barang-barang milik mendiang istrinya.


Sedangkan Darren langsung berjalan mendekati dinding di mana ada foto dirinya dan Aya berbalut gaun pengantin.


“Kamu percaya kan, kalau kita ini suami istri?” tanya Aya sambil memeluk pinggang Darren.


.


.


.


*TBC


Happy Reading!!


******


Guys maaf bgt ya untuk hari ini dan seminggu ke depan, othor ga bisa up rutin novel "Batal Cerai"🙏🙏 othor sibuk sekali dg pekerjaan di RL. Maaf kalau bisa up cm 1 bab atau bahkan libur🙏🙏 mohon pengertiannya. Terima kasih. Love u all😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2