
Darren mulai mengkesplor seluruh rongga mulut Aya denga lidahnya. Bahkan ciumannya kali ini sangat berbeda dari biasanya. Apakah Darren benar-benar sedang cemburu karena ulah Julian. Apa itu artinya hati Darren sudah berpaut pada Aya.
Cukup lama ciuman kasar Darren itu membuat Aya kualahan. Bahkan Aya sampai menepuk-nepuk dada Darren pun pria itu tidak berekasi apa-apa. Hingga akhirnya Aya nekat menggigit bibir Darren, agar ciuman itu terlepas.
“Shhiitttt!!!” umpat Darren dengan nafas terengah-engah.
Sedangkan Aya samasekali tidak peduli dengan umapatan Darren. Dia segera keluar dari kungkungan tubuh Darren dan pergi meninggalkan pria itu.
“Mau kemana kamu, hah?” tanya Darren berhasil mencegah Aya pergi.
Aya sangat ketakutan. Darren menarik kedua tangannya dan meletakkannya di atas kepala, menempel di dinding.
“Darren! Apa yang kamu lakukan? Lepaskan!” teriak Aya saat Darren mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Aya.
“Kenapa hem? Kamu takut?” tanya Darren dengan senyum sinis menatap Aya.
“Berengsek!! Lepaskan aku!” Aya yang tidak tahan dengan sikap dan perlakuan Darren yang aneh, dia terus memberontak dan mengumpati pria yang berstatus suaminya itu.
Darren justru semakin tertawa saat mendengar umpatan Aya baru saja. namun tawanya sangat mengerikan dan baru kali ini Aya lihat secara langsung.
“Kamu bilang aku berengsek? Katakan sekali lagi!” teriak Darren penuh emosi.
“Iya. kamu berengsek!”
“Kamu ingat dengan status kita, hemm? Apa jika aku melakukan hal ini termasuk pria berengsek?” tanya Darren yang kini sedang menciumi pipi dan telinga Aya.
Aya benar-benar sangat takut jika Darren berbuat nekat dengan merenggut mahkotanya. Apalagi dengan cara kasar seperti ini.
“Lepaskan, Ren! Jangan seperti ini! kumohon!!”
__ADS_1
Namun sayangnya Darren tidak bereasksi sama sekali. Pria itu justru menatap tajam pada Aya yang akhir-akhir ini telah membuat emosinya naik turun.
“Aku tidak akan melepasmu, Aya! Biarpun kamu mengatakan aku berengsek. Tapi aku suami kamu kalau kamu lupa. Bahkan aku yang lebih berhak menikmati tubuh indahmu ini, daripada baj****an itu yang sama sekali tidak ada ikatan resmi denganmu.”
Aya benar-benar tidak tahu siapa orang yang disebut Darren baj***an. Namun, meskipun demikian, ia tidak akan rela jika Darren merenggut mahkotanya dengan cara seperti ini.
“Apa maksud kamu, Ren? Siapa baj***an yang kamu maksud? Tolong lepaskan!”
Darren tidak menggubris ucapan Aya. Pria itu kembali mencumbui seluruh wajah Aya hingga sampai bibir, ia mulai memagutnya dengan kasar. Aya sendiri terus berusaha memberontak, namun tenaganya kalah kuat dengan Darren.
“Dengan baj***an itu saja kamu bisa dengan mudah memberikan bibir ini.” Darren menjeda kalimatnya lalu menunjuk bibir Aya dengan kecupan singkat.
“Tapi kenapa denganku, kamu sampai memberontak seperti ini, hah? Apa kamu takut aku tidak bisa memuaskanmu? Oh, atau karena pernikahan kita hanya sementara, jadi kamu tidak rela memberikan hakmu padaku yang jelas-jelas suami kamu?”
Aya menggelengkan kepalanya. Dia semakin ketakutan dengan perubahan sikap Darren seperti sekarang ini. sebenarnya apa penyebabnya.
Kini Darren kembali menciumi Aya. Mulai dari telinga hingga turun ke leher jenjang Aya. Aya sendiri berusaha lepas dari Darren. Lalu ia menjerit saat merasakan lehernya digigit oleh Darren hingga meninggalkan tanda merah di sana.
Darren seketika tersadar akan perbuatannya saat mendengar isak tangis Aya. Dia segera melepas Aya begitu saja. namun tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibirnya. dan dia keluar kamar begitu saja, meninggalkan Aya yang masih ketakutan.
**
Keesokan harinya Papa Vano sedang bersiap untuk keberangkatannya ke luar negeri. Darren dan Aya yang akan mengantar Papa Vano ke bandara. Seperti biasa, sikap sepasang suami istri itu terlihat baik-baik saja jika di depan Papa Vano. Padahal kemarin baru saja terjadi hal yang tidak menyenangkan.
Setelah kejadian kemarin juga Darren memilih untuk tidak tidur sekamar dengan Aya. Beruntungnya sang Papa tidak mengetahuinya. Dan Aya sendiri juga tidak peduli akan hal itu. hatinya masih terlalu sakit akibat perbuatan Darren kemarin. Walau apa yang dikatakan oleh pria itu benar. Namun ada satu hal yang membuat Aya masih penasaran. Yaitu tentang sosok pria yang dikatai baj***an oleh Darren. Siapakah pria itu? kenapa Darren seolah mengetahui sesuatu yang tidak ia ketahui.
Saat ini Darren sudah duduk di ruang tengah menunggu Papanya yang masih berada di dalam kamar. Aya sendiri baru saja menuruni tangga dan ikut duduk bersama Darren. Mereka berdua saling diam. bahkan seperti tidak saling kenal.
Tak lama kemudian Papa Vano datang dengan menarik koper yang akan ia bawa. Darren pun beranjak dari duduknya dan segera membawa koper Papanya untuk dimasukkan ke dalam mobil.
__ADS_1
Kini mereka bertiga sedang dalam perjalanan ke bandara. Papa Vano duduk di depan di samping sopir, sedangkan Darren dan Aya di belakang. Selama dalam perjalanan Papa Vano lebih banyak bicara. Sehingga Darren dan Aya hanya menimpalinya saja tanpa. Setelah itu mereka diam lagi. beruntungnya Papa Vano tidak curiga dengan anak menantunya saat ini yang terlihat berbeda dari biasanya.
Beberapa menit kemudian mereka sudah tiba di bandara. Aya berjalan di samping Papa Vano. Sedangkan Darren di belakang sambil membawa koper Papanya.
“Papa pasti sangat merindukan kalian setelah ini.” ucap Papa Vano menatap Aya yang sedang duduk di kursi tunggu keberangkatan.
“Aya juga, Pa. semoga Papa senang tinggal di sana. Jangan lupa terus kasih kabar ke Aya ya, Pa?”
Darren lebih memilih diam dan sibuk dengan ponselnya. Dia membiarkan Aya bicara dengan Papanya, karena memang dia sedang malas untuk melihat wajah Aya.
Entahlah, setelah kejadian kemarin memang Darren merasa sedikit bersalah atas sikapnya pada Aya. Namun kemudian rasa bersalah itu hilang begitu saja saat mengingat penolakan Aya. Padahal dia sudah jelas-jelas berstastus sebagai suaminya. Aya justru lebih memilih pria lain yang jauh lebih baik dari dirinya.
Kini jam keberangkatan Papa Vano tiba. Darren mengantar Papanya sampai gate keberangkatan. Darren memeluk beberapa saat pada pria yang selama ini banyak berjasa dalam hidupnya. Bahkan juga semangatnya menjalani hari. Namun Darren harus rela membiarkan Papanya menikmati masa tuanya di luar negeri, walau memimpin perusahaan cabang. Setidaknya hal itu membuat sang Papa senang, Darren pun ikut senang.
Setelah keberangkatan Papa Vano, kini Darren dan Aya menuju parkiran. Namun Darren tidak ikut masuk ke dalam mobil yang ia tumpangi bersama Aya tadi. Darren tampak berbisik pada sopirnya. Setelah itu ia pergi mencari taksi, tanpa bicara sesuatu pada Aya.
***
Tak jauh dari tempat Darren dan Aya, tampak seorang pria yang sejak tadi terus memperhatikan Darren. Tatapan pria itu terkesan tatapan penuh dendam. Namun pria itu hanya memandangi Darren dari jauh saja.
“Belum saatnya kita bertemu.” Gumamnya lalu segera masuk ke dalam mobilnya.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading!!