
Perjalanan bisnis Aya dan Darren ke luar kota berjalan dengan lancar. Aya banyak belajar bisnis dari Darren. Meskipun pria itu terkesan dingin, namun setidaknya dia masih bersikap layakya manusia yang mempunyai hati. Aya menganggap sikap dingin Darren mungkin bawaan dari lahir.
Meskipun status mereka calon suami istri, namun tetap saja keduanya bersikap layaknya orang lain, kecuali kalau sedang di hadapan kedua orang tua masing-masing. Bahkan setelah kejadian ciuman tak terduga waktu itu, diantara Darren maupun Aya sudah melupakan kejadian itu. bahkan menganggap kejadian itu tidak pernah ada.
Waktu bergulir begitu cepat. Tanpa terasa hari wisuda Aya sudah di depan mata. Kurang seminggu lagi ia akan resmi mendapatkan gelar sarjananya. Dan tak berselang lama, satu minggu dari hari wisudanya, Aya akan melangsungkan pernikahannya dengan Darren.
Harusnya hari wisuda itu adalah hari yang sangat membuat Aya bahagia. Perjuangannya dalam menempuh Pendidikan selama kurang lebih empat tahun itu telah usai dengan gelar sarjana yang ia terima. Namun sayangnya Aya tidak merasakan kebahagiaan itu lantaran di hari itu juga dia akan menikah dengan pria yang bukan kekasihnya.
Memang Aya dan Darren tidak setuju dnegan pernikahan itu. mereka juga sepakat untuk bercerai nantinya. Tapi tetap saja membuat hati Aya galau karena merasa menghianati cinta Gandhi.
Hubungan Aya dan Gandhi juga sudah membaik setelah kesalah pahaman waktu itu. bahkan Gandhi akan menyempatkan datang di acara wisuda Aya nanti. jelas Aya sangat bahagia, dan juga sedih.
Aya tetap teguh pada pendiriannya. Ia tidak akan memberitahu Gandhi tentang pernikahannya dengan Darren nanti, agar tidak membuat kekasihnya itu kecewa.
**
Hari itu telah tiba. Aya sudah berada di kampusnya untuk mengikuti rangkaian prosesi wisudanya. Begitu juga dengan Lissa, sahabat Aya.
“Wah, yang habis wisuda langsung married nih!” gurau Lissa yang saat ini sedang duduk di samping Aya.
“Apa sih Lis? Kamu juga tahu sendiri kan kalau aku tidak niat menjalani pernikahan ini. kita nantinya akan bercerai. Darren sendiri juga sepertinya belum bisa move on dari mendiang istrinya.” Tutur Aya berkeluh kesah.
Lissa hanya menepuk pelan pundak sahabatnya agar bersabar.
“Lalu bagaimana dengan Gandhi yang kata kamu nanti dia akan datang, Ay? Bukankah kedua orang tuamu juga ikut hadir?”
“Tenang saja kalau masalah itu. aku sudah meminta Gandhi agar tidak sampai bertemu dengan orang tuaku. Aku juga minta sama kamu untuk merahasiakan pernikahanku nanti dari Gandhi ya, Liss?” pinta Aya sungguh-sungguh.
__ADS_1
“Ok. Kamu tenang saja.” jawab Lissa dengan seulas senyum penuh arti.
Acara demi acara pun berlangsung dengan lancar. Aya adalah satu dari ratusan mahasiswa yang hari ini resmi mendapatkan gelar sarjana. Dia keluar dari gedung tempat acara wisuda itu diadakan dan langsung disambut oleh kedua orang tuanya dan juga adiknya yang sangat bangga dan juga bahagia.
“Selamat ya, Sayang!” Mama Devina memeluk erat Aya. Lalu bergantian dengan Papa Mirza yang tak kalah bahagianya dengan gelar yang sudah diraih oleh putrinya. Tak lupa Ansel, adik Aya juga ikut bahagia dengan kelulusan kakaknya di perguruan tinggi.
Devina mengatakakan kalau Darren dan Papanya juga ikut hadir. Hanya saja mereka datang terlambat. Aya tidak begitu mempedulikannya. Karena saat ini fokusnya sedang mencari seseorang yang sangat istimewa dalam hidupnya. Yaitu Gandhi.
Suasana masih sangat ramai dengan peserta wisuda lainnya yang sedang berbahagia dengan keluarga masing-masing. Lalu tatapan Aya tertuju pada seorang pria yang sejak tadi ia tunggu-tunggu sedang berdiri sedikit jauh darinya. Aya meminta ijin sebentar pada orang tuanya lalu menghampiri Gandhi yang sudah membawa boneka untuk Aya.
Mirza dan istrinya juga tampak berbincang dengan salah satu rekan bisnis Mirza yang kebetulan bertemu dan anaknya juga wisuda. Hanya saja beda jurusan dengan Aya.
Aya melangkahkan kakinya mendekati Gandhi dengan senyum mengembang. Pria itu merentangkan tangannya dengan memegang boneka yang akan diberikan untuk Aya.
“Sayang! Selamat ya!” ucap Gandhi setelah memeluk tubuh kekasihnya.
Tatapan Darren sangat datar tertuju pada Aya. Sedangkan Aya yang merasa tak enak, segera melepas pelukannya dari Gandhi.
“Kenapa, Sayang?” tanya Gandhi heran.
“Ehm, nggak apa-apa. Aku sangat senang kamu bisa hadir di sini. tapi maaf, aku tidak bisa mengajak kamu bergabung dengan keluargaku.”
Tak lama kemudian Darren berjalan melewati Aya dengan membawa buket bunga. Aya diam menatap langkah Darren yang melewatinya begitu saja. ternyata Darren menghampiri kedua orang tuanya.
“Sayang, kenapa kok diam?” tanya Gandhi merasa aneh dengan sikap kekasihnya.
“Nggak apa-apa. Kamu masih lama kan di sini. nanti kita bertemu lagi dan merayakan hari bahagiaku ini ya? Untuk sekarang, aku akan berkumpul dengan orang tuaku dulu. Maaf!”
__ADS_1
Gandhi mengangguk paham. Ternyata sikap aneh Aya karena tidak nyaman dan takut jika kedua orang tuanya melihat keberadaannya di sini. akhirnya ia membiarkan Aya kembali berkumpul dengan orang tuanya. Padahal Gandhi ingin sekali ikut bergabung dengan kedua orang tua Aya. Entah kenapa Aya juga sering melarangnya.
Pernah terbesit dalam benak Gandhi tentang alasan kedua orang tua Aya tidak merestui hubungannya. Walau dia sendiri belum pernah sekalipun bertemu langsung dengan orang tua Aya. Atau lebih baik Gandhi bertanya langsung pada Omnya. Siapa tahu ada hubungan masa lalu diantara orang tuanya dan orang tua Aya hingga hubungannya terhalang restu.
**
Kini Aya sudah kembali berkumpul dengan orang tuanya. Di sana juga ada Darren. Pria itu memberikan buket bunga pada Aya sambil mengucapkan selamat atas kelulusannya.
Aya menerima buket bunga pemberian Darren dengan takut, karena khawatir jika Gandhi masih berada di sini dan melihatnya.
“Dia sudah pergi. Jadi terima saja.” bisik Darren pelan seolah mengerti apa yang ada di pikiran Aya.
Aya pun segera menerima buket bunga itu agar tidak membuat kedua orang tuanya curiga. Mirza dan Devina pun sangat senang melihat kedekatan Darren dan Aya. Itu artinya sudah mulai tumbuh cinta diantara keduanya.
Setelah itu mereka segera meninggalkan tempat dan menuju restaurant di mana Papa Vano sudah menunggu di sana, karena pria itu tadi sedang sibuk di luar. Jadi memilih menunggu di restaurant sekaligus memberi pesta kejutan untuk calon menantunya.
Kini Aya dan keluarganya sudah keluar dari gedung tempat wisuda Aya. Tentunya bersama Darren juga. dan tanpa sepengetahuan Aya, ternyata Gandhi melihat Aya sedang masuk ke dalam mobil bersama seorang pria yang tidak ia pernah ia kenal sebelumnya.
“Mungkin saudara jauh Aya.” Gumam Gandhi membuang pikiran buruk tentang Aya.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading!!