
Hingga pukul tujuh malam pekerjaan Aya dan Darren baru selesai. keduanya sejak tadi tampak diskusi mengenai materi meeting buat besok. Bahkan Aya sampai melupakan Gandhi yang entah kemana dan sedang apa. Karena semenjak Aya menghubungi pria itu, sampai sekarang Gandhi tidak juga membalas pesannya ataupun menghubunginya kembali.
Aya merasa badannya lengket karena memang tidak sempat mandi. beruntung semua pekerjaannya sudah selesai, jadi ia bisa segera pulang. Darren pun tengah bersiap, membereskan beberapa dokumennya agar besok tidak terburu-buru saat berangkat.
Kedua orang itu sudah beranjak dari tempat duduk masing-masing. Lalu keluar dari ruang kerja Darren.
Aya mengecek ponselnya. Sama sekali tidak ada balasan dari Gandhi. Padahal malam ini dia sudah berjanji akan pergi bersama. Helaan nafas berat Aya terdengar jelas di telinga Darren saat mereka sedang berada di dalam lift. Darren bisa melihat wajah kesal dan lelah Aya. Namun ia juga tidak berhak untuk bertanya ataupun ikut campur.
Kini mereka sudah tiba di basement. Aya sudah tidak bersemangat lagi untuk bertemu dengan Gandhi. Dia ngambek dengan kekasihnya itu. akhirnya memilih menon aktifkan ponselnya.
Dalam perjalanan pulang Aya memilih diam dengan membuang pandangannya ke luar jendela. Namun tiba-tiba terdengar suara perutnya yang protes minta diisi. Dia sangat malu, namun tetap berusaha cuek dan menganggap Darren tidak mendengarnya. Sedangkan Darren sendiri hanya mengulum senyum. Lalu ia pun menghentikan mobilnya di sebuah restaurant.
Aya hanya melirik sekilas saat pria itu sudah memarkirkan mobilnya. Tak lama kemudian keduanya keluar dan segera masuk ke dalam restaurant.
“Mau makan apa?” tanya Darren saat seorang pelayan datang mencatat pesanannya.
“Terserah kamu saja. aku pemakan segala.” Jawab Aya datar.
Mendengar jawaban Aya, entah kenapa Darren dibuat tersenyum. Lalu ia pun memesan menu makanan pada pelayan restaurant.
Tidak lama mereka berdua menunggu pesanan makanan datang. setelaah itu keduanya menikmati makan malam itu dalam diam. Aya sendiri juga sedang kelaparan, jadi dia makannya agak lahap dan lebih dulu habis daripada Darren. Setelah itu mereka pulang, dengan Darren mengantar Aya.
“Apa tidak mempir dulu, Ren?” tanya Papa Mirza menyambut kedatangan Aya.
“Langsung saja, Om. Besok pagi-pagi sekali juga harus berangkat. Untuk dokumennya sudah saya kasihkan Aya. Om bisa cek nanti.”
Setelah itu Darren segera pamit pulang. sedangkan Aya sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah dengan alasan gerah dan ingin segera mandi.
**
Sementara itu sepasang insan yang sedang berada di kamar hotel tampak tertidur pulas setelah satu jam yang lalu mereka melewati kegiatan panas yang tiada akhir. Lissa tampak terlelap dalam dekapan Gandhi. Namun Gandhi terjaga lebih dulu saat menyadari waktu sudah malam.
__ADS_1
Gandhi terkesiap saat melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam. pria itu mengusap kasar wajahnya lalu segera masuk ke kamar mandi untuk mencuci mukanya. Setelah itu Gandhi meraih ponselnya. Banyak sekali panggilan dan pesan masuk dari Aya. Seketika itu Gandhi merasa sangat bersalah.
Gandhi tidak membaca pesan Aya, namun segera menghubunginya. Sayanganya ponsel Aya tidak aktif, dan membuat Gandhi semakin frustasi.
“Maaf, besok aku ada pekerjaan ke luar kota pagi-pagi sekali. Aku tidak bisa mengantar kamu ke bandara. Hati-hati di jalan!”
Gandhi membaca pesan yang paling akhir dikirim oleh Aya. Entah kenapa dia kecewa membaca pesan itu. padahal ini juga salahnya sendiri karena sebelumnya sudah memiliki janji dengan Aya untuk jalan-jalan malam ini, namun justru waktu itu ia gunakan untuk memadu kasih dengan Lissa.
Jelas Gandhi tahu kalau Aya sedang marah padanya. Namun dia juga tidak bisa berbuat banyak. Mau bertemu dan datang ke rumahnya sekarang juga tidak mungkin. Apalagi besok. Ia juga akan berangkat jam enam.
Arghhh!!!!
Lissa terbangun saat mendnegar suara teriakan Gandhi. Dengan tubuh yang masih polos dan hanya terbalut selimut tebal, Lissa menghampiri Gandhi yang sedang berdiri di samping jendela kamar.
“Kenapa sih?” tanyanya dengan nada manja. Selimut yang ia kenakan sengaja diturunkan hingga asetnya langsung menyentuh punggung Gandhi.
Gandhi sedikit menjauh, membari jarak agar tidak berbuat khilaf lagi pada Lissa.
Lissa yang memang tinggal seorang diri di rumahnya sangatlah bebas. Kedua orang tuanya tinggal di beda kota. Jadi tidak masalah jika Lissa pulang malam, atau bahkan tidak pulang.
“Apa aku nggak boleh nginap di sini lagi? kitaa bisa melakukannya lagi sebelum besok kamu pulang.” jawab Lissa dengan nada manja.
Namun sayangnya Gandhi tidak terpengaruh dengan rayuan Lissa. Semua ini karena hatinya sedang kacau. Kacau karena kekasihnya sedang mode ngambek akibat ulahnya.
“Aku sangat lelah, Liss. Jadi lebih baik kamu pulang saja.” ucap Gandhi selembut mungkin agar tidak menyakiti perasaan Lissa. Setelah itu ia mengambil beberapa lembar uang dari dompetnya dan diberikan pada Lissa.
“Ini bisa kamu gunakan untuk naik taksi. Terima kasih sudah memuaskanku hari ini.”
Lissa yang awalnya memasang wajah kecut karena diusir secara halus oleh Gandhi, akhirnya berbinar setelah menerima uang dari Gandhi. Dia segera masuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya sebelum pergi dari kamar hotel Gandhi.
***
__ADS_1
Keesokan harinya Aya sudah bersiap untuk pergi ke luar kota bersama Darren. Karena dia berangkatnya pagi-pagi sekali, alhasil Aya harus melewatkan sarapannya. Karena ia tidak terbiasa sarapan di jam yang sangat pagi.
Darren baru saja tiba di rumah Aya. Pria itu tidak berpakaian formal. Hanya kemeja warna putih dan dibalut dengan rompi berbahan rajut. Tanpa sadar penampilan Darren itu membuat Aya sedikit terpesona. Namun ia segera membuang jauh perasaan itu.
Aya berpamitan pada Mama dan Papanya sebelum berangkat. Begitu juga dengan Darren.
Dalam perjalanan, Aya baru sempat mengaktifkan ponselnya. Dan di saat itu pula langsung ada pesan masuk dari Gandhi. Hanya ucapan minta maaf saja yang ditulis Gandhi, tanpa mengatakan alasan apa yang membuatnya mengabaikan panggilan dan pesan Aya. Aya juga tidak berniat membalas. Dia memasukkan ponselnya ke dalam tas.
Perjalanan beberapa jam yang mereka lalui masih lama. Aya meminta Darren singgaj dulu sebentar di warung makan, karena memang ia belum sempat sarapan.
“Kamu nggak makan?” Tanya Aya saat sedang memilih menu makanan.
“Nggak. Aku sudah makan tadi.” jawab Darren dan kembali sibuk dengan gadgetnya.
Aya akhirnya makan sendiri dengan Darren yang sibuk dengan ponselnya. Tak lama kemudian Aya sudah menyelesaikan makannya, dan mereka berdua kembali melanjutkan perjalanannya.
“Tunggu dulu!” cegah Darren saat Aya hendak berdiri.
Darren mengambil tisu lalu mengelap bibir Aya yang meninggalkan bekas makanan. Padahal tadi Aya sudah membersihkannya.
Kedua pasang mata itu saling pandang dalam beberapa detik. Aya yang salah tingkah segera memegang tangan Darren dan menjauhkannya.
“Terima kasih!” ucap Aya dengan wajah bersemu merah.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading!!