Batal Cerai

Batal Cerai
Ch 19. Bekerjasama


__ADS_3

Setelah resmi menyandang suami istri, Aya pun diboyong pulang ke rumah Darren. Atau lebih tepatnya di rumah mertuanya. padahal kalau Aya boleh memilih, ia ingin tinggal di apartemen Darren yang pernah ia datangi dulu. Tapi semua itu tidak akan pernah terwujud. sepertinya kedua orang tua mereka sudah bisa menafsirkan kalau mereka tinggal di apartemen pasti mereka akan tidur di kamar yang terpisah. Jadilah sekarang mereka tinggal di kediaman Papa Vano.


Pagi itu, Darren langsung mengajak Aya pulang ke rumahnya setelah melewati malam pengantin yang tidak ada cerita ranjang bergoyangnya.


Sesampainya di rumah Darren, pria itu membimbing istrinya masuk ke dalam kamar yang akan mereka tempati. Bahkan Darren tidak menyangka kalau sofa yang ada di dalam kamarnya mendadak hilang.


“Kita tidur di kamar yang sama?” tanya Aya.


“Iya. kalau kamu tidak mau atau keberatan, kamu bisa tidur di kamar tamu. Tentunya harus terima resikonya.” Jawab Darren dingin.


“Apa tidak ada sofa di sini? lalu aku tidur di mana? Tidak mungkin kan kita tidur di ranjang yang sam,-“


“Sofa di kamar ini sepertinya sengaja diambil. Kamu cukup tahu bukan apa tujuannya. Jadi, lebih baik kita bekerja sama mulai dari sekarang karena kita sama-sama tidak menghendaki pernikahan ini.” sahut Darren dengan suara yang masih sama. Dingin.


Aya tidak menjawab. Dia menghembuskan pelan nafasnya lalu berjalan menuju sebuah lemari untuk meletakkan baju-bajunya.


“Tunggu!” cegah Darren saat Aya hendak membuka salah satu lemari yang berjejer di sana.


Aya hanya menoleh tanpa berminat untuk mengeluarkan suaranya.


“Lemari kamu ada di sebalah sana! Yang ini sudah penuh dengan baju-bajuku.” Ucap Darren sambil menunjuk ke sebuah lemari yang tempatnya terpisah dengan lemari Darren.


Aya mendengus kesal, setelah itu bergerak menuju lemari yang ditunjuk oleh Darren baru saja. sepertinya memang Darren lebih dari dirinya yang tidak menginginkan pernikahan ini. lemari saja tidak mau berdekatan.


Darren duduk di tepi ranjang sambil mengamati Aya yang memasukkan baju-bajunya ke dalam lemari. Setelah itu ia mengajak Aya bicara serius mengenai dimana mereka berdua nantinya tidur.


“Tidak ada pilihan lagi selain kita tidur di ranjang yang sama. Kamu tenang saja, aku tidak akan melakukan apapun. Atau bahkan akan terjadi sesuatu. Kalau kamu keberatan, kamu bisa tidur di lantai.” Ucap Darren.

__ADS_1


Aya sebenarnya tidak terima. Namun setelah itu ia setuju, karena ia merupakan tipe orang kalau tidur tidak pernah merusuh. Sebenarnya Darren juga begitu.


“Baiklah. Aku juga akan jamin kalau kita tidak akan lama tidur dalam ranjang yang sama. Karena setelah ini kita akan berpisah. Untuk alasan yang tepat mengenai perceraian kita, biar aku yang cari jalan keluarnya.” Sahut Aya dengan entengnya. Padahal sampai saat ini ia tak juga mendapat kabar tentang kekasihnya itu.


Darren mengepalkan kuat tangannya saat mendengar kata perceraian. Entah kenapa dia sangat tidak suka mendengar kata itu. setelah itu Darren segera beranjak dari duduknya dan keluar dari kamar tanpa mengucapkan apapun.


“Dasar pria aneh dan menyebalkan!!” umpat Aya setelah Darren keluar dari kamar.


***


Sementara itu di luar negeri, atau lebih tepatnya di sebuah rumah besar peninggalan orang tuanya, tampak Gandhi sedang sibuk di ruang kerjanya. Pria sedang mengerjakan tugas kuliahnya juga pekerjaan kantornya yang sangat banyak.


Hilangnya kabar tentang dirinya dari Aya beberapa waktu ini selain karena unsur kesengajaan, juga karena Gandhi sangat sibuk.


Ya, setelah kejadian malam itu, di mana ia gagal menjadikan Aya miliknya, kemudian ia diusir dari hotel tempat dia menginap sekaligus tuduhan paspor palsu hingga menyebabkan ia harus kembali ke negara asalnya, membuat Gandhi tidak bisa berkutik sama sekali. Apalagi untuk menghubungi Aya pun ia tidak bisa. Dugaan Gandhi kalau penyebab semua itu adalah orang tua Aya yang memang tidak setuju dengan hubungannya ini.


Namun Gandhi merasa tidak puas dengan jawaban Omnya itu. diam-diam dia mencari informasi sendiri tentang masa lalu kedua orang tuanya, apakah memiliki masalah dengan orang tua Aya. Dan hari ini juga Gandhi mendapat kabar dari orang suruhannya.


Gandhi membaca email itu dengan seksama. Di sana dijelaskan kalau Papanya pernah menaruh dendam pada Mirza lantaran kematian Deo, adik angkat Papa Gandhi. Deo yang dulunya sahabat dekat Mirza harus mati di tangan sahabatnya sendiri, lantaran Deo seorang penghianat dan menyebabkan Mirza sampai masuk penjara. Oleh karena itu setelah keluar dari penjaran, Mirza bergabung dengan salah satu anggota mafia untuk membalas perbuatan Deo dengan cara membunuhnya.


Dari situlah Papa Gandhi tidak terima. Hingga ia menyusun rencana balas dendam dengan membuat rekayasa kecelakaan. Namun sayangnya justru kecelakaan itu merenggut nyawanya sendiri, bahkan istrinya juga.


Tangan Gandhi bergetar membaca email itu. sungguh dia tidak menyangka kalau perbuatan Papanya sekeji itu. padahal jelas-jelas adik angkat Papanya itu bersalah. Tapi kenapa Papanya seolah tidak terima. Apalagi Mamanya yang tidak tahu apa-apa harus ikut menjadi korban dalam kecelakaan itu.


Kini Gandhi pun mengerti kenapa kedua orang tua Aya menentang kuat hubungannya. Sebagai orang tua jelas khawatir jika terjadi sesuatu dengan anaknya. apalagi dia yang berasal dari keluarga pembunuh. Mirza juga pasti berpikir jika dirinya sudah mengetahui semuanya, ia pun akan balas dendam lagi atas kematian orang tuanya yang disebabkan oleh Papa Aya.


Namun semua itu salah. Gandhi bukanlah tipe orang pendendam. Dia masih bisa menilai siapa yang benar dan siapa yang salah. Jadi salah besar jika Mirza menuduhnya akan balas dendam pada Aya.

__ADS_1


“Ini tidak bisa dibiarkan. Kalau penyebabnya hanya masalah ini, aku akan bertemu langsung dengan orang tua Aya, agar aku bisa menjadikan Aya istriku.” gumam Gandhi.


Setelah itu Gandhi menghubungi Om Very yang saat ini sedang berada di Indonesia. Pria itu memang sedang ada pekerjaan penting di sana, menggantikan dirinya yang akhir-akhir ini sibuk dengan kuliahnya.


Sudah panggilan kelima, namun Om Very tak juga menerimanya. Namun setelah itu panggilannya tersambung.


Gandhi sedikit menjauhkan ponselnya saat mendengar suara desa han seorang wanita yang begitu jelas. Sudah bisa dipastikan kalau Omnya sekarang sedang melewati malam panjang dengan wanita bayaran.


“Ada apa, Gan?” tanya Om Very dengan suara lirih menahan desa hannya.


Gandhi pun mengatakan kalau ia ingin segera terbang ke Indonesia untuk bertemu dengan Aya dan juga orang tuanya. Namun sayangnya Om Very menolak. Dia meminta Gandhi menyelesaikan dulu kuliahnyanyang tinggal beberapa bulan lagi. karena pria itu juga sedang sibuk dengan beberapa proyek yang ia tangani. Akhirnya Gandhi harus bersabar dulu.


***


Sementara itu malam ini Lissa sedang berpacu dalam kenikmatan bersama sugar daddy yang menjadi teman kencannya akhir-akhir ini. Lissa sangat menikmati permainannya. Terlebih pria itu selalu memberikan banyak uang padanya.


“Apa Om Very sudah puas?” tanyanya dengan tangan kembali aktif memberikan sentuhan pada pria berusia empat puluh tahun itu.


.


.


.


*TBC


Happy Reading!!

__ADS_1


__ADS_2