Belajar Mencintaimu

Belajar Mencintaimu
AWAL MULA


__ADS_3

Kriiing...Kriiing...Kriiing....


Dering handphone David memecah malam yang sunyi saat semua orang telah terlelap dengan mimpi indahnya, tangannya pun meraba-raba meja untuk meraih sumber suara tersebut.


"Hallo, iya Kak, kenapa menelfon tengah malam begini?" tanya David.


"Iya Vid, kakak hanya mau menyampaikan hasil rapat keluarga, memang selesainya jam 11 malam tadi, setelahnya kakak langsung menghubungimu" terdengar suara serak laki-laki yang menjelaskan panjang lebar maksud dari telefon tersebut.


"Apa? Lusa? Apa Kakak bercanda? Aku bahkan belum membicarakan hal tersebut dengan Tamara dan putriku Kak" kata David kaget dengan penjelasan kakaknya.


"Baiklah akan ku coba bicara besok, tapi apa Kakak dan yang lainnya sudah mempertimbangkan hal itu? Maksudku hal itu kan sudah lama sekali Kak, lagipula sekarang sudah bukan zaman dulu waktu kita masih kecil, sekarang anak-anak bebas dengan pilihannya".


"Kami sudah mempertimbangkannya Vid, ini tradisi keluarga yang harus dipertahankan turun-temurun, sudahlah intinya besok Marcella harus datang. Kamu siapkan saja kebutuhan dan pesanlah tiket pesawat besok. Jangan menunda-nunda lagi, toh ini juga kan pertama kalinya putrimu akan bertemu dengan keluarga ayahnya" penjelasan Iron langsung menutup pembicaraan tersebut. David benar-benar bingung apa yang harus dikatakannya pada Tamara besok.


...


"Selamat pagi Ayah" sapa Marcella pada sang ayah yang dari tadi hanya bengong sambil membaca koran.


"Selamat pagi sayang, duduklah" Tamara membalas salam putrinya kepada sang ayah. Tamara yang tadi pagi telah lebih dulu diberitahu David mencoba untuk mencairkan suasana agar ketika David memberi tahu Marcella, putrinya tersebut tidak akan salah paham dengan maksud ayahnya.


"Kemarilah nak" kata David, Marcella yang dari tadi bingung dengan sikap sang ayah pun langsung menurut.

__ADS_1


"Ada apa Ayah?" tanya gadis itu sambil duduk menghadap ayahnya.


"Besok adalah acara peringatan kematian kakekmu, ayah ingin kamu kesana mewakili keluarga kita berhubung ayah ada banyak pekerjaan penting yang tidak bisa ditinggal" Marcella yang mendengar hal itu pun menghembuskan napas lega karna awalnya dia mengira ada hal serius apa yang ayahnya ingin katakan.


"Baiklah, aku dan ibu akan kesana" jawab Marcella dengan entengnya.


"Ibu juga tidak bisa sayang, ibu harus menghadiri makan malam dengan istri Pak Admoko sahabat ayahmu" jawab Tamara.


"Oh oke baiklah aku akan kesana sendiri" pasti akan menyenangkan bisa pergi sendiri, lagipula ini kan pertama kalinya aku akan bertemu keluarga ayah, yaaah sekalian travelling toh, kan di kampung halaman ayah banyak tempat wisata yang menarik batinnya.


"Tapi... " mendengar kata tapi keluar dari mulut sang ayah langsung membuat senyumnya hilang, dia tahu betul sifat ayahnya yang selalu menggunakan kata tapi untuk mengutarakan maksud yang sebenarnya.


"Maksud Ayah?" tanya Marcella yang semakin bingung dengan perkataan sang ayah.


"Ayah tidak menyuruhmu bertanya atau berkomentar, berjanjilah"


"Baik Ayah, aku janji" Marcella tidak tahu lagi harus berkata apa, David adalah kelemahannya dia tidak akan menolak permintaan laki-laki itu ketika dia berbicara sambil menatap mata putrinya lekat dengan memohon, sang ibu yang tahu maksud sebenarnya dari kepergian Marcella hanya dapat menahan air matanya agar tidak jatuh didepan putrinya.


Malam hari sepulang kerja, Marcella langsung membereskan barang-barang yang akan dibawanya nanti. Marcella adalah anak yang mandiri dia sengaja mengambil kuliah D3 agar dapat segera bekerja, dia tidak pernah merepotkan kedua orang tuanya, dia hanya ingin kedua orang tuanya dapat hidup dengan tenang tanpa harus memikirkan masalah hidupnya. Dia pun berhasil membuktikan dengan semua prestasi yang dia peroleh hingga dapat bekerja di salah satu perusahaan yang terpandang yaitu Nusantara Group dengan jabatan manager design.


David memesankan tiket pesawat dengan keberangkatan subuh dan mengatakan bahwa putrinya akan dijemput oleh putri kakaknya yang bernama Sita dibandara nanti.

__ADS_1


Marcella tidak bisa tidur memikirkan perjalannya besok, yah selain karena perkataan sang ayah tadi pagi ini juga adalah pertemuan pertamanya dengan keluarga sang ayah. Menurut cerita ayahnya hal tersebut diakibatkan ayahnya yang melanjutkan pendidikan diluar kota. Akhirnya bertemu dengan Ibunya lalu menikah dan tidak pernah kembali ke kampung halamannya, karrna pernikahan tersebut ditentang oleh kakeknya. Hingga usia Marcella sekarang menginjak 20 tahun dan memiliki seorang adik laki-laki yang 7 tahun lebih mudah darinya, barulah Marcella akan bertemu dengan keluarga sang ayah. Akhirnya dia pun terlelap dengan segala kebingungannya.


...


"Selamat pagi Tuan" seorang pelayan dengan hormat menunduk pada tuan muda yang sedang berjalan menuju ruang kerjanya. Pria dengan wajah tampan dan berbadan atletis tersebut memiliki tatapan yang dingin dan tidak pernah mau untuk menjawab salam itu pun berlalu dalam hening.


"Apa kau sudah mendapatkan informasinya?" tanya Noah dengan nada sinis kepada seorang pria yang sedari tadi berdiri di sebelah mejanya.


"Iya Tuan Muda, acara peringatan kematian Ketua akan berlangsung besok, dan saya berharap anda juga mempersiapkan diri untuk..." perkataannya terputus karena tiba-tiba disambar oleh tuannya.


"Sial" kata Noah sambil meninju mejanya. Apa mereka akan melanjutkan tradisi bodoh ini? Menikahkanku dengan sepupuku sendiri? Cih bahkan diantara mereka tidak ada satu pun yang membuatku tertarik, wajah dan perilaku mereka selalu membuatku jijik bahkan hanya dengan memikirkannya.


"Saya harap anda dapat sabar dan mengendalikan diri Tuan, karena hal ini juga sebelumnya sudah diperingati oleh ayah anda sebelum beliau wafat, bahwa siapapun yang terpilih untuk memimpin perusahaan harus menikah dengan sepupu mereka dan hal tersebut diputuskan saat ada hari besar keluarga, ini sudah menjadi tradisi turun-temurun dalam keluarga" setelah mendengar perkataan Steven mata Noah pun mengarah ke wajah pria itu dengan tatapan yang sangat mengerikan. Maafkan aku Tuan tapi aku harus mengatakan ini semua karena sudah seharusnya anda mendengarkan perkataan ayah anda sebelum anda memimpin perusahaan ini batin Steven.


"Oh iya Tuan, saya rasa anda mengenal paman anda yang bernama David, beliau juga memiliki seorang putri yang berusia 20 tahun dan sudah pasti akan menjadi salah satu kandidat calon istri anda nantinya" Steven mencoba mengalihkan pembicaraan.


Paman David? Sepertinya ayah pernah menyebut namanya, hufff baiklah mainanku bertambah satu orang batin Noah dengan senyum liciknya.


"Pergilah kau tahu apa yang harus kau lakukan, segera beritahu aku informasi yang kau dapatkan tanpa terlewat satu pun, walaupun aku tidak bisa menghentikan tradisi bodoh ini setidaknya aku akan puas untuk menyiksa siapa pun diantara para sepupu bodohku yang akan terpilih menjadi istriku" perintah Noah.


Steven yang dari tadi mulai kuatir dengan tatapan mematikan Noah pun segera mengangguk dan segera berlalu seolah-olah dia dan Tuannya memiliki ikatan yang sangat kuat, bahkan hanya dengan mengatakan perintah secara singkat pria yang memiliki tinggi badan yang tidak kalah dengannya pun langsung tahu apa yang harus dilakukannya.

__ADS_1


__ADS_2