
Pagi ini adalah pagi yang rumit menurut Marcella. Gadis yang dari tadi memalingkan wajahnya ke arah kanan menatap kosong ke arah hutan dari rumah kaca tersebut sesekali menghembuskan kasar nafasnya. Matanya masih sembab karena menangis, sebenarnya Marcella bukan tipe orang yang pendendam justru dia adalah orang yang sangat cepat memaafkan perbuatan orang lain. Tapi kali ini berbeda dengan apa yang dirasakannya terhadap Noah. Entah mengapa gadis itu merasa sangat sakit hati dengan perlakuan Noah yang menurutnya sangat kasar. Namun ketika laki-laki itu mengakui penyesalannya ada satu bagian dalam hati Marcella yang membuatnya tidak tahan untuk memeluk dan langsung memaafkan perlakuan Noah yang sangat kasar itu.
"Elle" panggil Noah yang duduk berhadapan dengan Marcella di meja makan kakek dan nenek mereka sambil memegang tangan adiknya yang dari tadi menatap kosong ke arah hutan.
"Ada apa? apa kau masih marah?" tanya Noah sambil menatap lekat sepasang mata indah didepannya. Marcella yang langsung tersadar dengan genggaman hangat itu pun membalas tatapan Noah sambil tersenyum.
"Tidak apa-apa kak" jawab Marcella halus sambil kembali tersenyum hangat.
Seandainya kau bukan sepupuku. Mungkin aku akan sangat bersyukur bisa mencintaimu gumam Noah. Tangannya semakin erat menggenggam tangan Marcella.
Deg... deg... jantung Marcella semakin tidak karuan akibat genggaman tangan pria tampan yang sedari tadi menatap matanya tanpa berpaling.
"Oh iya kak, jalan setapak itu mengarah kemana?" tanya Marcella yang tiba-tiba langsung melepaskan genggaman tangan Noah dan menunjuk jalan setapak yang menuju ke dalam hutan. Jalan tersebut dilihat dari sisi sebelah kanan rumah kaca yang juga berada di sisi sebelah kanan tempat Marcella duduk dan sisi sebelah kiri tempat noah duduk karena mereka duduk berhadapan.
Sial! apakah dia mencoba menghindar? gumam Noah sambil menarik tangannya dan meraih sendok untuk menikmati sarapan sop daging yang dimasak oleh Marcella.
"Itu jalan setapak menuju danau" jawab Noah sambil memasukkan suapan pertamanya.
Wah apakah ada danau di dalam hutan juga? wah kakek benar-benar hebat memilih tempat seperti ini batin Marcella.
Setelah makanan yang dimasak Marcella masuk kemulutnya cukup lama Noah baru menelan makanan tersebut.
"Apakah kau yang memasak sop daging ini?" tanya Noah setelah menelan suapan pertamanya.
"Tentu sajabapakah rasanya buruk? hehehe maaf kak soalnya aku mengikuti selera ayahku" jawab Marcella sambil tertawa kecil.
"Apakah ibumu yang mengajarimu memasaknya?" lanjut Noah sambil kembali memasukan suapan kedua dimulutnya.
"Iya, ibu mengajariku memasak semua makanan kesukaan ayah termasuk sop danging ini" jawab Marcella.
Tunggu apa dia tersenyum? apa sekarang dia akan menghina ibuku? tunggu menurutku sop danging kesukaan ayah itu rasanya enak. Ah tentu saja presdir Bright Group ini pasti memiliki selera yang tinggi dalam makanan batin Marcella sambil menatap penuh penasaran saat melihat senyum di wajah tampan itu. Noah sedari tadi sibuk menikmati sop daging tersebut. Akhirnya suapan terakhir pun mendarat di mulut Noah.
"Ah..." Noah bersandar di kursi sambil memejamkan matanya. Dia benar-benar puas dengan sarapan pagi ini. Entah kapan terakhir kali ia makan sop daging.
"Habis?!" teriak Marcella saat melihat mangkok sop tersebut kosong.
"Aku kira kakak akan menghina masakanku" lanjut Marcella. Noah pun tertawa kecil. Noah bangkit dari tempat duduknya menuju meja dapur lalu menyendokkan Marcella sop daging di bekas mangkoknya.
"Ini makanlah jika tidak tubuhmu yang kurus itu akan seperti gagang sapu" kata Noah dengan tatapan menyindir.
"Tapi ini kan mangkok bekasmu kak" jawab Marcella dengan wajah cemberut.
"Hei memangnya kenapa? kita kan saudara lagi pula aku tidak memiliki penyakit yang bisa kutularkan lewat mangkok itu. Makanlah setelah itu bersiap-siap" lanjut Noah. Marcella yang tidak mau menambah masalah pun akhirnya menurut.
Awas saja jika kau memang memiliki penyakit menular gumam Marcella.
__ADS_1
"Memangya bersiap mau kemana kak?" tanya Marcella sambil menikmati sarapanya.
"Sudahlah jangan banyak tanya, atau penyakitku benar-benar akan menular karna kau sudah makan dari bekas mangkokku" jawab Noah dengan tatapan jahilnya.
"Kakak!" teriak Marcella sambil memajukan bibir bawahnya. Noah yang melihat tingkah menggemaskan adiknya tersebut hanya bisa tertawa terbahak-bahak.
"Sudah sudah cepat habiskan setelah itu segera bersiap" lanjut Noah sambil mengacak-acak rambut Marcella.
...
"Hallo Steven kau dimana? apa kau sudah menemuinya?" tanya Noah.
"Iya tuan, nyonya Ellise menunggu jam 10.00 pagi ini" jawab Steven.
"Baiklah kutunggu kau 1 jam lagi" lanjut Noah.
"Baik tuan" jawab Steven, Noah pun mematikan sabungan teleponnya.
Setelah selesai bersiap-siap Marcella turun kebawah mendapati Noah yang sedari tadi menunggunya.
"Apa kau menghabiskan waktu yang lama bersiap-siap hanya untuk penampilan seperti ini?" tanya Noah sedikit menaikkan nada bicaranya saat melihat gadis yang turun dihadapannya tersebut hanya berpenampilan biasa dan santai bahkan memakai sepatu kets dan rambut yang diikat tinggi. Steven yang berdiri dibelakang tuannya hanya bisa tersenyum melihat penampilan Marcella.
Sederhana gumam Steven.
"Kan kita hanya mau keluar sebentar jadi apakah aku harus memakai baju pesta?" teriak Marcella yang tidak mau kalah. Noah yang geram pun sudah tidak lagi mempedulikan gadis disebelahnya karena dia berpikir akan sangat banyak waktu yang terbuang jika Marcella kembali naik untuk mengganti bajunya. Noah memberikan isyarat kepada Steven agar mereka segera berangkat. Steven segera keluar dari ruang utama disusul Noah yang menarik tangan Marcella. Gadis itu pun menurut karena dia tidak mau memulai masalah baru lagi setelah kejadian pagi tadi.
"Waaaaaah..." kata Marcella kagum. Noah terperanjak kaget saat Marcella ternyata sudah berada tepat disampingnya.
"Heh kau mau membuatku serangan jantung apa! lagi pula kenapa kau langsung turun? seharusnya tunggu Steven membukakanmu pintu baru turun!" teriak Noah yang kaget dengan ulah Marcella.
"Ah... memangnya aku seorang putri apa sampai hanya harus turun dari mobil pun dibukakan pintu. Menambah-nambah kerja saja!" gerutu Marcella seraya mendaratkan sikunya di perut Noah lalu tanpa dipersilahkan pun langsung memasuki boutique tua berwarna merah tersebut. Noah yang ditinggal memegang perutnya kesal sambil memeberikan gerakan gertakan memukul di belakang adiknya tersebut.
Awas saja kau, berani-beraninya menyikut perutku yang indah ini! gumam Noah kesal. Steven yang menahan tawanya dari tadi kembali memasang wajah datar saat Noah melihat kearahnya. Noah melangkah masuk disusul Steven yang berjalan dibelakangnya.
"Selamat datang tuan muda, nyonya Ellise sudah menunggu diruangannya. Mari saya antar" sapa seorang pelayan seraya menunduk hormat kepada Noah lalu mengantar pria yang berwajah dingin dan sama sekali tidak menjawab salamnya tersebut menemui pemilik boutique.
"Selamat datang nak" sapa wanita paruh baya dengan raut wajah hangatnya tersenyum lalu mempersilahkan Noah dan Steven duduk namun Steven menolak lalu mengambil posisi berdiri di sudut ruangan tersebut.
"Apakah sudah waktunya?" tanya wanita paruh baya itu sambil menatap Noah.
"Iya" jawab Noah kembali dengan raut wajah dinginnya.
"Baiklah tunggu sebentar" kata wanita itu sambil beranjak lalu membuka lemari tua yang terbuat dari kayu hitam dan mengambil benda dari dalam lemari lalu kembali membawanya dihadapan Noah.
"Mana dia? apakah kau datang sendiri dan tidak membawanya?" lanjut wanita paruh baya itu sambil meletakan benda yang dibawanya di atas meja dihadapan Noah.
__ADS_1
"Dia..." Noah pun baru sadar jika gadis yang datang dengannya tadi tidak lagi nampak batang hidungnya. Seketika raut wajah Noah pun berubah menjadi sulit ditebak dan langsung menatap Steven dengan tatapan mematikannya. Steven yang mengerti dengan apa yang harus dilakukannya pun mengangguk lalu beranjak keluar ruangan.
Steven mencari Marcella di setiap sudut boutique pun belum kunjung menemukan gadis itu. Lalu Steven mendengar suara tawa dari lantai dua boutique tersebut. Tanpa aba-aba Steven langsung berlari menaiki tangga menuju lantai dua. Batapa kagetnya pria tersebut melihat calon nyonya rumah yang bercanda dan tertawa dengan beberapa pelayan melihat beberapa setelan baju zaman dulu yang dipampang di lantai dua.
"Hahahah aduh aduh perutku, wah tempat ini sangat hebat bahkan baju seperti ini pun masih dipajang disi" kata Marcella sambil tertawa terbahak-bahak memegangi perutnya yang sakit karena tertawa. Steven yang melihat pemandangan tersebut pun seketika terdiam.
Ahhh sadarlah Steven gumamnya.
Steven berjalan mendekat lalu segera meminta Marcella mengikutinya. Gadis itu menurut lalu ikut bersamanya. Sementara diruangan yang lain Noah menyentak-nyentakan kaki kirinya. Kepanikan dan amarah jelas diwajahnya keringatnya bercucuran membasahi wajah tampannya. Setelah kesabarannya habis karena Steven belum juga muncul membawa calon istrinya dia berencana untuk keluar dan mencari sendiri.
Dasar tidak berguna gumam Noah sambil bangkit dan hendak keluar ruangan. Dia benar-benar marah sekarang. Belum sempat Noah melangkah pintu terbuka dan wajah cantik yang dicemaskannya pun segera muncul dari balik pintu. Ellise yang melihat wajah cantik itu segera berjalan kearahnya tersenyum dan memeluknya dengan erat kemudian membelai rambut Marcella. Marcella yang kebingungan segera duduk saat tangan keriput itu menariknya dan mempersilahkannya duduk.
"Maafkan aku tuan muda anda menunggu lama" kata Steven berbicara kecil kepada pria yang semakin susah ditebak raut wajahnya tersebut.
Jika aku tidak meminta maaf sekarang dia mungkin akan menghabisiku disini batin Steven.
"Jika tadi aku sampai keluar pintu itu untuk mencarinya jangan harap kau dapat menghirup nafasmu lagi. Dasar bodoh!" ucap Noah dengan nada datar dan tatapan mematikannya.
"Maafkan saya tuan muda" Steven pun menundukan kepalanya.
"Cih!" Noah langsung berbalik lalu duduk disebelah Marcella. Marcella yang merasakan aura mematikan dari pria disampingnya menyibukkan diri dengan meladeni setiap ucapan dan perlakuan wanita didepannya.
Ah sial! apa aku membuatnya marah lagi? kenapa hawanya begitu dingin rasanya aku ingin segera menghilang dari sini. Ayaaah tolong aku... gumam Marcella.
"Kemarilah nak" ajak Ellise sambil menggandeng Marcella ke ruang ganti dengan benda yang dikeluarkannya dari dalam lemari tua ditangan kirinya. Marcella pun menurut karena pikirnya dari pada dia berada disebelah pria itu sekarang lebih baik dia menyibukkan diri. Sesampainya diruang ganti Marcella terbelalak melihat gaun pengantin berwarna putih bersih didepannya.
Jadi isi kotak tadi sebuah gaun? wah benar-benar indah gumam Marcella kaget melihat gaun indah yang dikeluarkan dari dalam kotak tersebut.
"Cobalah ini sayang jika sudah selesai kau bisa memanggilku. Aku berdiri tepat didepan pintu" kata Ellise sambil berjalan dan kembali menutup pintu. Marcella segera berganti pakaian dan mencoba gaun tersebut. Setelah selesai dia memanggil Ellise dan wanita paruh baya tersebut langsung kaget melihat gaun pengantin tersebut ternyata sesuai ukuran Marcella bahkan sangat indah dikenakannya. Ellise pun meneteskan air mata.
"Ada apa nyonya?" tanya Marcella seraya mengusap bahu wanita tersebut dengan lembut. Ellise segera menyeka air matanya.
"Tidak apa-apa sayang kau terlihat sangat cantik dengan gaun ini” kata Ellise sambil mengusap air matanya.
"Oh iya kemarikan tangan kirimu" lanjut Ellise sambil kembali mengambil kotak kecil dari dalam kotak tua tempat gaun pengantin tadi lalu membukanya dan memasangkannya di jari manis Marcella.
"Ooh..." Ellise kembali menangis lalu memeluk Marcella dengan erat. Marcella yang ikut sedih melihat wanita tua itu menangis pun membalas pelukannya.
Setelah sekian lama Noah menunggu diluar akhirnya Marcella keluar diantar oleh Ellise. Marcella berjalan dengan sangat hati-hati. Dia tidak ingin jika dia sampai terjatuh dan membuat gaun pengantin yang itu akhirnya sobek atau kotor. Noah yang melihat Marcella keluar dan berjalan mendekat kearannya langsung terdiam seketika. Noah menatap wanita didepannya tersebut bahkan tanpa berkedip. Seketika amarah yang dari tadi ditahan dan disimpannya sirna dengan senyuman dari gadis cantik yang berbalutkan gaun putih itu.
Noah benar-benar terpesona dengan penampilan Marcella yang mengenakan gaun pengantin berwarna putih bersih berlengan panjang tersebut dengan bagian dada sampai pinggang dibuat ketat menunjukan dengan jelas setiap lekuk tubuh indah gadis tersebut . Sedangkan bagian bawah sengaja dibuat lebar dan panjang kebelakang. Bagian belakang gaun itu sampai pinggang dibuat transparan menunjukan kulit mulus Marcella. Tidak ada berlian mahal yang melekat sebagai hiasan di gaun tersebut tapi benar-benar terlihat indah ditubuh ramping Marcella. Tak hanya itu sebuah cincin berlian melekat indah di jari manisnya.
Noah yang dari tadi terdiam menatap Marcella bangkit dari duduknya dan berjalan kearah gadis itu. Tanpa aba-aba Noah langsung menarik pinggang Marcella lalu memeluknya dengan erat. Entah mengapa kali ini pelukan Noah bisa terasa benar-benar tulus untuk gadis itu. Marcella membalas pelukan kakaknya tersebut.
Kenapa kali ini aku merasa sangat nyaman berada dipelukkanmu kak. Aku selalu berdoa kepada Tuhan untuk menjauhkanku dari rasa yang mungkin akan membuatku tidak mau pergi darimu atau bahkan takut kehilanganmu batin Marcella yang membalas pelukan erat tersebut sambil memejamkan matanya.
__ADS_1
Ba bagaimana bisa gaun pengantin nenek bisa muat bahkan sangat indah ditubuhmu?dan bagaimana mungkin cincin nenek bisa melekat dengan sempurna di jari manismu? batin Noah sambil semakin mempererat pelukannya sambil mencium lembut kepala Marcella yang bersandar di dadanya.
Ellise yang melihat kedua cucu sahabatnya tersebut menitikkan air mata terharu. Bahkan Steven yang berdiri disudut ruangan mengembangkan senyumannya.