
“Byana? ... Kenapa mukamu merah dan sedang apa berdiri didepan pintu seperti ini?.”
Sebuah pertanyaan yang seharusnya begitu mudah untuk dijawab, namun entah mengapa bibir ini terasa terkunci meski hanya untuk mengatakan satu kata saja.
Pertanyaan Gestara dengan raut wajahnya yang menyudutkan mengisyaratkan seakan diri ini berbuat kesalahan besar. Namun merasa tidak menemukan jawaban, Gestara pun masuk kedalam ruangan dan sedikit menyalahartikan inti kejadian yang terjadi.
“Pantas saja Byana merasa malu ... aku tahu tubuhmu athletis, tapi Aldrik bisakah kau langsung mengancing kemejamu itu! Serta pakai dari yang benar!” Gestara menunjukkan jarinya kearah Aldrik dengan sedikit kesal.
“Paling tidak suruh Byana keluar saat kau berpakaian! Atau kunci pintumu itu!” lanjut Gestara kembali dengan masih merasa kesal.
“Ini ruangan kerjaku, bukankah aku yang berkuasa?.”
Hanya beberapa kata dari Aldrik dapat membuat Gestara terdiam dan langsung membalikkan tubuhnya untuk berjalan keluar menemui Byana yang masih berdiri diluar pintu ruangan dengan wajahnya yang memerah.
Apa yang terjadi padaku?! Aldrik menciumku bukan hanya kali ini saja, tapi kenapa aku merasa panas dan berdebar? Kendalikan dirimu Byana. Gumamnya dalam hati. Mencoba untuk tetap terlihat rasional, Byana mencoba berjalan menuju lorong perusahaan.
Suasana sepi benar-benar membuat tempat ini terasa berbeda. Byana yang baru kali ini benar-benar memperhatikannya pun akhirnya menyadari bahwa tanggung jawab yang dipikul oleh Aldrik begitu besar mengingat PT. Linux yang berkembang pesat dengan karyawan yang banyak.
Tanpa sadar Byana terhenti pada sebuah ruangan dimana tertulis ruangan Presdir begitu terlihat jelas, dan entah karena apa Byana bagai terhipnotis berjalan masuk kedalam dan melihat sekitarnya.
Ruangan luas dengan barang-barang berkualitas, semua tersusun rapi bagai tidak ada satu debu pun yang terlihat tersisip diantara buku-buku yang terpajang dalam sebuah rak yang tinggi dan lebar. Byana berjalan mendekat menuju rak itu dan melihat sebuah bingkai foto usang yang tertutup sebuah buku yang tebal.
“Ini ... papa dan mama ... ternyata mereka benar-benar bersahabat ...,” Byana tersenyum begitu sendu melihat kedua orang tuanya yang tersenyum difoto itu.
Sedang menikmati beberapa waktu melihat bingkai foto itu, Byana teralihkan pada sosok suara yang memanggil-manggil namanya sejak tadi terlihat begitu khawatir. Sosok seorang pria tampan dengan kemampuan luar biasa yang tidak dimengerti Byana bagaimana bisa pria itu menyukainya.
Byana memilih untuk tidak bersuara dan melihat Aldrik dari kejauhan berlarian kesana-kemari bersama dengan Gestara yang terlihat panik. Mereka pasti berpikir sesuatu sedang terjadi padaku. Gumam Byana dalam hati.
Aldrik dan Gestara berpencar dengan Aldrik yang menaiki lift menuju lantai bawah, sedangkan Gestara masih berkeliaran hingga akhirnya melihat pada Byana yang saat ini sedang menatapnya.
“Apa yang kau lakukan Byana?! Kau tidak lihat kami begitu panik mencarimu!” ucap Gestara begitu tersenggah bernafas saat membuka pintu.
“Apa ... Aldrik juga mencemaskanku?” tanya Byana dengan berpura-pura polos.
“Kau tidak lihat penampilannya barusan? Bahkan dasi dan jasnya pun belum sempat dia kenakan ... kau ini kenapa! Apa kau memendam kesal padanya?!” tanya Gestara.
“Tentu saja aku memendam kesal padanya ... apa tidak boleh?.”
Gestara langsung terdiam mendengar perkataan Byana yang terdengar masuk akal. Bahkan saat ini Gestara merasa bersalah dengan memberikan omelan pada Byana yang jelas-jelas masuk akal baginya jika ia ingin pulang atau pergi tanpa memberi kabar.
Tatapan Byana yang berkata bahwa saat ini ia sedang mencoba mempertimbangkan pun membuat Gestara menundukkan kepalanya, namun Byana hanya kembali tersenyum sembari berjalan menuju ruangan Aldrik dengan menepuk pelan pundak Gestara saat melewatinya.
Selepas Gestara menghubungi Aldrik dan kembali keruangannya, Aldrik terlihat kacau-balau dengan saat menatap Byana yang terlihat biasa saja mempersiapkan sarapan untuknya. Merasa meminta penjelasan, Byana menghampiri Aldrik untuk membantu memasangkan dasinya serta jas yang ia lupakan.
__ADS_1
“Bersikap biasa itu yang kubutuhkan darimu ... semua bukan salahmu, jadi berhenti menyudutkan diri yang akhirnya menjadi marah-marah padaku.”
Aldrik terdiam mendengar perkataan Byana kali ini. Bagi Gestara yang ikut mendengarkan pun merasa setuju dengan apa yang dikatakan Byana, karena terlepas dari hubungan darah, kejadian masa lalu hanya akan berpengaruh buruk jika menyimpan kenangan yang menyakitkan.
“Aku kemari selain ingin mengatakan ini serta sarapan pagi bersama denganmu, ada hal yang kau lupakan padaku. Jadi aku menagihnya ....”
“Apa yang kulupakan?” tanya Aldrik kebingungan.
“Gestara berkata kau ada rapat penting jam 11 siang nanti, sekarang baru jam 7 ... jadi kau ada waktu untuk mengajarkanku menari waltz, bukan?” tanya Byana berwajah jahil.
“Apa? Waltz?” Aldrik bertanya dengan semakin merasa bingung.
Byana menyerahkan lembaran yang terlihat seperti sususan acara yang akan diadakan saat ulang tahun perusahaan Daniel nanti yang akan pergi berlayar. Byana menunjukkan point dimana tari waltz akan diadakan pada malam kedua, dan pemenang akan diberikan hadiah.
Byana memperlihatkan kembali hadiah apa yang akan diberikan Daniel pada pemenang, yaitu menginap pada sebuah Cottage mewah dipinggir pantai dimana gedung atau tempat Daniel melakukan transaksi gelap berada disana.
“Kau ... ingin memenangkan ini? Serius?” tanya Aldrik kembali.
“Ya, dengan begitu kita kesana tanpa harus menyamar ... kita juga tidak perlu memikirkan akan menginap dimana karena cottage itu berada tidak jauh dari tempat Daniel.”
“Yang dikatakan Byana benar, aku barusan mencari lokasi cottage itu dan hanya berjarak kurang lebih 1 KM dari lokasi Daniel,” Gestara ikut menjelaskan.
Aldrik terdiam sejenak mencoba untuk mempertimbangkan tak kala Byana memperlakukan Aldrik seperti bayi dengan menyuapinya tanpa Aldrik sadari karena begitu serius berpikir keuntungan atau kerugian yang akan dialami mereka nantinya.
“Aku akan mengajarimu saat pulang bekerja nanti.” Ucap Aldrik sembari berjalan menuju meja kerja untuk bersiap-siap kerja.
“Tidak, tidak ... kau harus mengajarkanku sekarang juga! Lagipula kata Gestara kau baru ada meeting jam 11 siang nanti!” Byana bersikap manja dengan nada kesalnya.
Tatapan sinis Aldrik pada Gestara pun terpaksa mencair tak kala Byana mulai menyalakan sebuah alunan musik waltz yang indah. Gestara mencoba menahan suara tawa hatinya saat melihat Aldrik yang begitu menuruti keinginan Byana bagai seorang anak kecil.
Seorang CEO PT. Linux dan pewaris keluarga Mahendra, bertekuk lutut pada seorang wanita ... jika ada yang melihat ini selain aku, tidak dapat kubayangkan expresi wajah mereka. Gumam Gestara yang lagi-lagi menahan tawanya.
Aldrik yang tahu akan apa yang dipikirkan Gestara saat ini pun, hanya mampu diam membiarkannya, hanya agar Byana tidak merasa ingin menjauhinya. Melepaskan jas yang dikenakannya agar lebih leluasa untuk mengajarkan Byana, Aldrik dengan gagah menarik tubuh Byana dengan tangannya.
“Harus kau tahu, slow waltz dilakukan dengan jarak sedekat ini dan wajahmu pun tidak boleh terlalu jauh dariku, serta ... kau harus gunakan gaun dan sepatu high heels.”
Byana seketika tersenyum dan melepaskan tangan Aldrik yang melingkar. Dengan segera mengganti sepatu sportnya dengan sebuah high heels yang sudah dipersiapkan sebelumnya, Aldrik dan Gestara kini tertawa bersama tidak menyangka akan persiapan yang dilakukan Byana.
“Oke ... aku siap. Lalu?” tanya Byana dengan kembali menarik tangan Aldrik bagai mendekap erat padanya pada posisi awal Aldrik jelaskan.
“ Saat kaki kiriku maju, kau melangkah mundur dengan kaki kanan. Jaga agar tubuh bagian atas tetap tegak dan rileks, kemudian lepaskan jari kaki kiri untuk memudahkan membuat langkah besar.” Jelas Aldrik dengan mengajarkan gerakan pada Byana.
“Seperti ini?” tanya Byana.
__ADS_1
“Bagus, selanjutnya lebarkan bahumu dan gerakkan kaki kiri secara bersamaan ke kaki kanan. Ingat mereka harus sejajar, seperti ini.” Lanjut Aldrik kembali mencontohkan dengan gerakan bersama Byana.
Seoalh melupakan kejadian sebelumnya dibelakang, Byana dan Aldrik terlihat menikmati sejenak waktu mereka bersama-sama setelah perang dingin selama beberapa hari. Gestara yang melihat pun tersenyum jahil dengan mengirimkan rekaman video pada Hana.
Waktu tak terasa berlalu, Aldrik pun harus segera menghadiri rapat meeting dengan para dewan direksi. Tahu akan sang ayah yaitu Arie, presdir dari PT. Linux akan datang, Aldrik pun segera meminta Gestara untuk mengantarkan Byana pulang ke kediamannya.
“Tidak Aldrik, aku tidak akan pulang ...,” ucap Byana menatap serius pada Aldrik.
“Byana, percayakan padaku. Aku akan mengurus masalah ini, kau berhak mendapat bagian saham dari PT.Linux. Apa kau tidak percaya padaku?” tanya Aldrik dengan mengerutkan alisnya.
“Bukan Aldrik, bukan seperti itu ... aku kemari memiliki niat untuk bertemu dengan ayahmu jika ia mau meluangkan waktu untuk berbicara denganku. Aku kemari bukan untuk menuntut bagian saham milikku karena, aku menganggap itu tak ada sejak awal.”
“Byana ...,” Aldrik menatap dengan begitu sendu dan pilu.
“Aku tidak tahu dan tidak terbiasa dengan dunia pekerjaan ini, jadi aku percayakan padamu ... bisakah kau memberitahu ayahmu agar mau bertemu denganku begitu rapat selesai?.”
Tanpa berkata Aldrik memeluk Byana dengan erat seolah tidak ingin melepaskannya. Tersadar akan kebaikan dan ketulusan Byana, Aldrik menjadi tidak dapat berkata disaat permintaan Byana ini amat sangat mudah bahkan tidak Aldrik bayangkan Byana akan meminta hal seperti ini padanya.
Aldrik pun menyuruh Byana untuk menunggu diruangannya selama ia dan Gestara pergi menuju ruangan rapat. Byana menunggu dengan hati yang begitu gugup dan cemas mengingat setiap kejadian yang pernah ia alami bersama ayah Aldrik, Arie Mahendra.
Aldrik yang sengaja menyelesaikan rapat lebih cepat dari biasanya pun menunggu hingga para dewan direksi meninggalkan ruangan dan berjalan menuju sang ayah meski dengan berat hati.
“Byana ingin bertemu denganmu. Ia sekarang sedang menunggu diruanganku.” Ucap Aldrik dengan sengaja berdiri dibelakang Arie karena enggan menatapnya.
“Jika masih memiliki hati, temuilah dia.” Lanjut Aldrik kembali dengan meninggalkan ruangan rapat.
Arie pun terdiam mematung dengan masih terduduk dikursi tempatnya bersandar. Kedua tangannya seketika bergetar dengan mulutnya yang peluh tak dapat berkata. Pikirannya seketika dipenuhi dengan kenangan masa lalu yang begitu membebankannya sejak dulu.
Disatu sisi Aldrik yang kembali berjalan keruangannya dengan tidak bersama Arie, membuat Byana mengerutkan bibirnya terlihat begitu kecewa. Seketika Aldrik kembali memeluknya dan mencoba untuk menenangkannya meski ia tahu tidak akan berpengaruh begitu banyak.
“Aku akan membujuknya lain kali ...,” ucap Aldrik dengan membelai wajah Byana dengan lembut.
“Tak apa ... lagipula aku juga tidak berharap ba—”
“Apa ... kedatanganku mengganggu kalian?.”
Kedatangan Arie pun akhirnya membuat Byana dan Aldrik merasa terkejut. Tidak menyangka bahwa ia akan datang untuk menemui Byana, Arie berjalan dengan tidak lagi mengukuhkan kepalanya tinggi seperti biasa, namun terlihat sering menunduk karena tidak mampu menatap wajah Byana.
“Aku tinggalkan kalian berbicara.” Ucap Aldrik dengan mencoba melangkah pergi.
“Tidak ... duduklah, kita berbicara bersama.” Byana menarik tangan Aldrik, tersenyum padanya.
Aldrik pun menunduk seraya menyetujui permintaan Byana. Mengarahkan pada sofa lebar ditengah ruangan, Byana yang merasa gugup pun terlihat menggenggam erat tangan Aldrik yang tersenyum mencoba menenangkannya. Byana, apa yang ingin kau katakan padanya?.
__ADS_1