
"Astaga Noah!" dr. Marten kaget melihat keadaan Noah yang sudah tak sadarkan diri.
"dr. Marten mari dokter" pak Hans segera memberikan jalan kepada pria yang juga sahabat Noah.
"Astaga Steven kau... sebenarnya apa yang terjadi pak Hans?!" dr. Marten kembali terbelalak saat mendapati Steven yang juga penuh dengan luka lebam di wajahnya.
"Sebaiknya anda segera memeriksa keadaan tuan muda dokter"
"Baiklah, ingat kau berhutang penjelasan padaku pak Hans" perkataan Marten di jawab dengan anggukkan dari pak Hans. Pak Hans tahu Marten tidak akan berhenti bertanya sebelum mendapatkan apa yang diinginkannya yaitu penjelasan. Baru beberapa langkah Marten kembali terkejut saat mendapati seorang gadis masih dengan balutan gaun pengantin yang sudah bercampur noda darah sedang meringkuk pilu di sudut ruangan.
Sebenarnya apa yang sudah terjadi? batin Marten. Marten memang sengaja tidak diberitahu Noah mengenai pernikahannya. Noah tidak ingin sahabatnya yang ember itu mengetahui pernikahannya apalagi sang pengantin wanita tidak lain adalah adik sepupu dari pengantin pria. Bisa-bisa pria itu lebih heboh dari pada para media.
"Sebaiknya kalian yang lain keluarlah dulu, tinggalkan aku dengan kedua pasienku" Marcella yang sebelumnya enggan meninggalkan ruang kesehatan kemudian luluh saat pak Hans membujuknya dengan alasan agar tuan muda dapat segera ditangani. Saat semua orang keluar dari ruangan dr. Marten segera memberikan pertolongan kepada Noah setelahnya baru akan mengobati Steven.
Pak Hans dan Marcella masih berdiri di luar ruangan menunggu, sementara Lilis gadis itu kembali diperintahkan untuk kembali ke dapur setelah sebelumnya mengganti pakaian yang terkena noda darah Steven. Pak Hans tidak mau hal ini menjadi gosip terbaru di antara para pelayan sehingga Lilis pun disuruh bungkam begitupun dengan para pelayan. Pak Hans beruntung karena majikannya yang lain telah turun dari ruang keluarga dan menurut info para pelayan mereka sedang bercengkrama di taman belakang karena besok David dan Tamara akan kembali pulang.
"Nona ada baiknya anda membersihkan diri dahulu, gaun anda..." belum sempat dilanjutkan pak Hans gadis itu kembali menatapnya sambil berlinang air mata.
"Ma maafkan a aku pak Hans, ini semua salahku hiks hiks" Marcella berbicara sambil sesegukkan menangis.
"Sudah sudah, sebaiknya anda segera membersihkan diri lalu kembali lagi kemari. Apakah anda ingin orang tua anda ataupun tuan Iron merasa kuatir?" pertanyaan pak Hans sontak membuat Marcella segera menggelengkan kepalanya. Setelah dibujuk pak Hans Marcella segera berlalu ke kamarnya untuk membersihkan diri. Tak butuh waktu yang lama bagi gadis itu untuk menyelesaikan ritual mandinya. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian Marcella kembali ke ruang kesehatan bergabung dengan pak Hans yang juga sudah berganti seragam baru. Sementara itu diruang kesehatan setelah selesai menjahit tangan Noah, dr. Marten segera berpindah untuk mengobati luka di wajah Steven.
"Cik cik cik... sebenarnya apa yang terjadi hah? lihat aset berharga ini kemana perginya wajah tampan ini hah!" dr. Marten berdecik melihat wajah tampan Steven yang babak belur bahkan hidungnya membengkak.
"Apa tuan muda tidak apa-apa?"
__ADS_1
"Hhhhh sifat sok pedulimu itu... iya iya jangan menatapku seperti itu. Pria angkuh itu tidak apa-apa untung saja aku membawa stok darah saat pak Hans mengatakan dia terluka, sudah kuduga lukanya pasti besar makanya pak Hans terdengar panik jika tidak memangnya sejak kapan dia lemah dengan luka yang menurutnya kecil" jelas dr. Marten pada sahabatnya itu setelah mendapatkan tatapan tajam Steven.
"Kau yakin?"
"Ya ampun... memangnya yang dokter disini kau atau aku?"
"Iya iya" Steven menyerah juga akhirnya. Sesekali Steven meringis kesakitan saat dr. Marten mengobati lukanya.
"Oh iya gadis tadi siapa dia?" Marten pun akhirnya memberanikan diri bertanya.
"Gadis yang mana?" Steven agak bingung pasalnya ada dua orang gadis di ruangan tadi, pertama seorang gadis kecil yang mengenakan seragam pelayan dan yang lain adalah nona mudanya.
"Cik... itu yang tadi menggunakan gaun pengantin"
"Dia istri tuan muda"
"Biasa saja, mengapa ekspresimu berlebihan begitu?"
"Pria jahat ini kapan dia menikah?"
"Hei hati-hati dengan perkataanmu itu, walaupun kita bersahabat tapi tidak akan ku biarkan kau mengatai tuan muda dengan sembarangan" jelas Steven sambil menggertak dr. Marten.
"Hhhhh iya iya tuan pengawal yang setia" sela Marten.
"Guardian angel" jawab Steven.
__ADS_1
"Aaah coba lihat itu sifat sombongmu kumat lagi. Oh iya jadi dia gadis itu?"
"Hmmm?"
"Gadis yang kau ceritakan" lama Marten menunggu akhirnya loloslah anggukan dari Steven yang membuatnya membuang nafas kasar.
"Sepertinya dia sangat kuatir dengan Noah"
"Apa kau sudah selesai?"
"Cik kau menghindar lagi, ya sudah ini sudah selesai nanti akan kuberikan obat pereda nyeri dan juga anti infeksi". Setelah mengobati Noah dan Steven, dr. Marten segera membereskan peralatannya. Pak Hans dan Marcella menatap dr. Marten menuntut penjelasan saat pria itu keluar dari ruang kesehatan.
"Bagaimana keadaan mereka dok?" Marcella segera bertanya. Ada sedikit sunggingan senyum di wajah Marten saat Marcella bertanya tentang keadaan keduanya.
Setidaknya gadis ini kuatir dengan keduanya batin dr. Marten.
"Tuan muda tidak apa-apa sebentar lagi dia siuman. Dia hanya perlu istirahat dan jangan dulu menggunakan tangannya banyak bergerak setidaknya sampai jahitannya kering. Dan pak Hans kau boleh membantu tuan muda untuk mengganti pakaian dan segera memindahkannya di kamar. Dan nona ini obat tuan muda, pastikan diminum tiga kali sehari setelah makan. Kalau begitu aku pamit dulu"
"Terima kasih dokter" Marcella berterima kasih setelah menerima obat dari dr. Marten.
"Biar saya antar dokter"
"Tidak apa pak Hans sebaiknya anda segera membantu tuan muda, aku permisi"
"Baik terima kasih dokter" ada apa ini? tumben sekali dr. Marten tidak menuntut penjelasan yang dijanjikan tadi batin pak Hans sambil melihat punggung pria itu menjauh keluar dari rumah utama. Sementara di dalam ruangan tersebut Steven yang perlahan mulai bangkit dari tempat duduknya segera mendekati Noah.
__ADS_1
"Maafkan aku tuan muda..." kalimat pertama yang keluar dari mulut pria tersebut diiringi dengan rasa penyesalan yang amat dalam. Setelah menyampaikan permintaan maafnya Steven segera melangkah ke arah pintu untuk keluar namun belum juga diraihnya gagang pintu, pintu tersebut sudah terlebih dahulu dibuka dari luar.
"Kakak maafkan aku hiks hiks" Marcella yang kembali menangis segera menemui kakak sepupunya yang terbaring dengan perban di tangannya. Seketika setelah gadis melangkah masuk langkah kaki lainnya terhenti. Steven terpaku di tempatnya berdiri, bahkan gadis itu melewatinya begitu saja. Perhatian pria itu kembali sepenuhnya saat menatap pak Hans yang berdiri di depan pintu. Setelah berbincang beberapa hal dengan pak Hans, Steven kembali melangkahkan kakinya keluar kemudian melajukan mobilnya kembali ke apartemen miliknya.