
David sangat mencintai Tamara dia tidak bisa hidup tanpa wanitanya itu apalagi Tamara sekarang sedang mengandung bayi mereka ditambah lagi sudah ada orang lain yang mengetahui bahwa Tamara sedang hamil. Wajah David memerah, kristal bening mulai nampak dimatanya.
"Katakan..." David berkata dengan suara yang gemetaran. Pria itu tersenyum tipis.
"Berikan perusahaan itu lalu pergilah kau kemanapun kau mau jangan pernah kembali kerumah" jawab pria itu penuh kemenangan. Hanya dengan begitu maka mereka akan sangat membencimu batin pria itu.
"Aku akan melakukannya dengan satu syarat" kata David.
"Katakanlah" pria itu masih berdiri sambil menatap lekat David.
"Setelah aku pergi dari rumah jangan sekali-kali kau mengganggu kehidupanku lagi, biarkan aku dan Tamara hidup dengan tenang" kata David masih dengan kemarahan yang ditahannya.
"Bukan perkara sulit. Baiklah aku setuju" sambung pria itu dengan gelas yang diangkatnya tanda setuju. Setelah mendapatkan persetujuan David pun melangkahkan kaki keluar dari apartemen tersebut, saat sampai didepan pintu dia kembali berbalik.
"Oh iya Rico Richard Bright, katakan pada informanmu itu berhenti memata-mataiku. Aku benar-benar muak dengan tingkah kekanak-kanakanmu"
"Tenanglah adikku sayang, dengan senang hati akan kuperintahkan dia untuk berhenti" tatapan Rico yang sayu dengan senyum jahatnya yang mengantarkan kepergian David dari apartemennya.
Malam pun tiba saat semua orang mulai terlelap merebahkan diri beristirahat dari kegiatan panjang selama sehari. David telah bersiap di kamarnya. Awalnya dia akan meninggalkan rumah dihadapan ayahnya namun saat dipikirnya bahwa jika ayahnya melihat kepergiannya maka tidak akan mudah baginya untuk pergi, apalagi harus berhadapan dengan air mata ibunya. David berencana akan kabur saja.
Terlintas dipikirannya bayang-bayang sang ibu yang akan melewati hari-hari sulit akibat kepergiannya dia pun memutuskan untuk meninggalkan sepucuk surat yang disisipkan di balik sarung bantal miliknya, bukan hanya surat namun juga beberapa kartu kredit yang diberikan ayahnya serta kunci mobilnya. David pergi dari rumahnya hanya membawa barang-barang yang dibelinya dari hasil kerja kerasnya saja. Beberapa lembar baju, satu kartu debit dengan isi yang tidak seberapa karena telah digunakannya selama ini untuk kebutuhan Tamara saat mengandung bayinya.
*Dear Mom,
*Saat ibu membaca surat ini mungkin aku tidak lagi berada dirumah.
Aku telah pergi jauh membawa kedua cintaku bersamaku. Ibu ingat saat
pertama kali bertemu Tamara kan? ibu bilang dia gadis yang baik dan dari
caranya menatapku ibu tahu bahwa cintanya tulus kepadaku. Sama seperti cara
ibu menatap ayah, tidak ada sedikit pun kebohongan tersirat disana.
Aku minta maaf pada ibu jika keputusanku ini ku ambil tanpa bertanya
__ADS_1
pendapatmu terlebih dahulu. Aku hanya terlalu takut menghadapi kesedihan
dan kekecewaanmu terhadapku. Aku sangat mencintai Tamara bu, aku tidak tahu
bagaimana aku bisa hidup tanpanya. Tapi bukan berarti aku mengabaikan ibu dan keluarga
kita. Aku sangat mencintai kalian. Tapi untuk kali ini biarkanlah aku bertanggung
jawab atas apa yang telah kulakukan.
Aku mohon setelah ini ibu tetaplah bahagia sama seperti biasanya ketika aku ada bersamamu.
Jangan mencariku bu, karena hanya dengan begitu aku dapat tetap hidup. Aku berjanji akan baik-baik saja.
Aku sangat mencintaimu.
Setelah menyimpan surat itu David segara bergegas dari dalam rumahnya menuju balkon kamarnya. Diperhatikan sekelilingnya, hanya ada beberapa pelayan yang lalu lalang dan petugas keamanan yang melakukan pengecekkan terakhir. Saat dilihatnya para petugas keamanan menuju pos dan pelayan hampir tak kelihatan lagi David segera mengambil tali yang telah disiapkannya, menurunkannya perlahan membawa tubuhnya turun sampai ke atas tanah. Tanpa sepengetahuannya ada sepasang mata memperhatikannya dari balkon yang berada di satu lantai diatas kamarnya.
David berjalan perlahan mengendap-ngendap seperti pencuri di rumah sendiri. Dia telah memperhitungkan waktu cctv yang aktif agar tidak ketahuan. Saat berhasil melewati beberapa cctv sampailah David di penghujung jalannya namun merupakan tempat yang paling sulit untuk dilewati yaitu pos keamanan di gerbang utama. Saat melihat beberapa petugas keamanan duduk bercengkrama di dalam pos David merasa inilah saat yang tepat. Namun tiba-tiba...
Beeeppp...
Ayah? batin David. Dia mengutuki kebodohannya yang tidak terlebih dahulu mengecek apakah ayahnya sudah pulang dari kantor. Lebih sialnya lagi sang ayah malah turun dari dalam mobil menyapa beberapa petugas keamanan. David benar-benar gugup sekarang. Dapat dibayangkannya bahwa dia akan diasingkan di tempat terpencil jika ketahuan kabur dari rumah.
Saat sibuk mengamati David mengangkat tangannya untuk melihat jam, namun saat mengangkat tangannya dia tidak sengaja menyenggol salah satu pot kecil di sebelah kirinya sehingga membuat pot itu terjatuh dan menimbulkan suara.
Sial! batinnya kesal.
Petugas keamanan tak terkecuali sang ayah yang turut mendengar langsung mengedarkan pandangannya dari arah suara. Tampak dari jauh sang ayah menyuruh beberapa petugas untuk mengecek di asal suara. Beberapa petugas keamanan pun melangkah perlahan ke arah suara.
David membeku seketika, dia benar-benar panik jika ketahuan. Saat petugas sudah mulai mendekat tiba-tiba dari arah rumah sebuah mobil dengan kecepatan tinggi mengarah ke arah gerbang. Mobil itu tiba-tiba mengerem mendadak tepat disamping mobil ketua sehingga meyebabkan posisi David sekarang yang tidak lagi kelihatan dari pos jaga. David mengetahui persis itu mobil siapa.
Beberapa petugas keamanan yang menghentikan langkahnya saat melihat tuan muda yang turun dari dalam mobil. Pria itu menyapa para petugas yang tadi akan mengecek ke arah David. Tiba-tiba ponsel David di saku jaketnya bergetar. Mengira dari Tamara David segera meraih ponselnya. Saat membuka layar ponselnya David melihat satu pesan masuk dari seseorang.
**Alex
__ADS_1
Masuklah kedalam mobil sekarang.
David yang terkejut menerima pesan itu segera memanfaatkan dengan baik waktu yang diberikan sang kakak. Perlahan dia melangkah ke arah mobil dan masuk bersembunyi di kursi penumpang. David percaya karena memang Alex bukanlah orang yang dapat diragukan.
"Kau mau kemana malam-malam begini?" tanya ketua pada putranya itu.
"Aku mau ke apartemen, ada beberapa file kantor yang kelupaan. File kemarin yang ayah suruh aku selesaikan" kata Alex.
"Baiklah segeralah pergi ambil ayah membutuhkannya untuk meeting dengan klien kita besok" setelah memerintahkan Alex , ketua kembali masuk kedalam mobil menuju rumah utama. Sekarang tinggallah Alex dengan beberapa petugas keamanan.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Alex.
"Kami tadi mendengar suara benda jatuh tuan muda, jadi kami mau mengeceknya dahulu" kata salah satu petugas sopan.
"Baiklah silahkan" Alex segera masuk kedalam mobilnya lalu melajukan mobilnya keluar dari gerbang. Saat cukup jauh David bangkit dan melihat kebelakang saat dirasanya sudah aman David segera pindah ke kursi di samping kemudi. Alex melihat adiknya itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Mau kemana kau? kenapa pakai acara kabur segala?" tanya Alex. David hanya terkekeh manja kepada sang kakak.
"Hehehe antar aku ke rumah Tamara saja kak" kata David.
"Lain kali kalau mau kabur beritahu dulu agar aku bisa membantumu, jadi kau tidak perlu repot-repot melakukan aksi kura-kura ninjamu itu" kata Alex sambil terus mengemudi.
"Kalau diberitahu berarti bukan kabur namanya" mereka berdua terkekeh lucu membayangkan kebodohan David. Alex mengendarai mobilnya ke rumah Tamara. Sesampainya disana David segera membuka bagasi memasukkan barang-barang Tamara. Alex menyuruh mereka menginap di apartemennya saja agar besok pagi-pagi sekali dia bisa mengantar adiknya itu ke bandara. Tamara sebelumnya hanya disuruh bersiap kerena akan pindah ke apartemen David. Tamara tidak mengetahui bahwa sebenarnya David akan membawanya pergi jauh dan memulai kehidupan baru mereka.
Malam itu mereka menginap di apartemen Alex. David memberitahu Tamara maksudnya dan berusaha keras untuk memberikan pengertian akhirnya Tamara pun setuju. Saat pagi tiba Alex segera melajukan mobilnya ke bandara. Alex memeluk David dan Tamara bergatian lalu mereka berpisah. Saat masuk ke dalam pesawat ponsel David bergetar, pesan masuk dari Alex. Setelah membukanya David tersenyum, lalu menggenggam erat tangan Tamara yang duduk disampingnya.
**Alex
Pergilah, hiduplah dengan bahagia. Aku bersyukur setidaknya kau tidak bodoh sepertiku.
Jaga keponakanku dengan baik. Aku akan sangat merindukanmu.
...
"Yah begitulah, setelah itu aku memulai semuanya dari nol. Aku menyewa kontrakan kecil untukku dan Tamara serta Elle yang saat itu masih dikandungannya. Setelah menikah aku berusaha mencari pekerjaan tapi dengan nama belakang yang sedikit ku ubah agar aku tidak mudah ditemukan. Kelahiran Elle membuatku semangat bekerja, hingga dalam waktu dua tahun aku bisa naik jabatan dengan gaji lumayan. Saat Elle lahir Tamara memaksaku untuk kembali menggunakkan nama belakang keluarga kita aku pun menyetujuinya. Akhirnya di tahun ketiga aku mampu juga beli rumah sehingga dapat memberikan mereka kehidupan yang sedikit layak dibanding dengan tinggal dikontrakan kecil. Setelah Elle berusia tujuh tahun kebahagian kami bertambah setelah kelahiran adiknya" itulah akhir dari cerita David.
__ADS_1
Semua orang dalam ruangan yang mendengar cerita David hanya dapat terdiam. Iron bangkit dari tempat duduknya lalu memeluk adiknya itu dengan erat. Iron tidak dapat membayangkan betapa banyaknya penderitaan yang David lalui selama ini. Steven dan Noah hanya terdiam dalam duduk mereka, mereka tidak menyangka bahwa perusahaan yang selama ini dibanggakan Rico adalah milik David dan otomatis juga merupakan warisan bagi Marcella dan adiknya. Pak Hans sesekali menyeka air matanya mendengar semua cerita David.
Saya harap setelah semua ini anda dapat benar-benar membahagiakan nona Marcella tuan muda batin Steven. Setelah Steven menyimak baik-baik semua cerita David dia mungkin akan menjadi musuh tuan mudanya itu jika membuat nona mudanya sampai menangis.