Belajar Mencintaimu

Belajar Mencintaimu
Pengikatan 8


__ADS_3

Hari begitu terlihat indah namun dengan naungan cahaya matahari yang mulai meredup pertanda surya akan terganti dewi malam yang indah berbalut cahaya bintang. Menunggu kedatangannya pulang kerumah, namun sampai dini hari pun dirinya masih tak kunjung terlihat.


Berbagai pertanyaan muncul dalam benak Byana saat ini tentang apa yang terjadi, kenapa Aldrik seperti ini lagi, atau penyalahan dirinya yang melakukan kesalahan besar kembali. Namun itu seolah tidak menjadi alasan bagi Byana untuk menanyakan kabarnya walau hanya sebentar.


“Gestara, apa aku masih belum bisa berbicara dengannya?” tanya Byana.


“Byana maafkan aku, Aldrik hanya berkata akan bertemu denganmu saat dipelabuhan nanti sebelum berangkat ... kau siapkan saja semua keperluanmu dan jangan sampai ada yang tertinggal. Ini pesan dari Aldrik,” Gestara berbicara dengan nada aneh.


“Gestara ... kemana dia? Kenapa tidak dia yang mengatakannya sendiri padaku?!” Byana mulai merasa kesal.


“Aldrik sedang ... ia, rapat penting .... ” Jawab Gestara gugup.


“Ini sudah jam 9 malam! Rapat penting apa yang me—“


“Maaf Byana, ada hal yang harus kulakukan.” Gestara langsung memutus panggilannya.


Panggilan yang terpaksa terputuskan oleh Gestara membuatnya merasa tidak nyaman. Diruangan kerja Aldrik yang sunyi, kini hanya tertinggal mereka berdua yang terlihat sengaja bersembunyi atau melarikan diri dari Byana.


Gestara yang tidak pandai berbohong pun terpaksa menuruti perantah Aldrik yang masih merasa bingung dengan apa yang harus dikatakan pada Byana disaat akibat kedua orang tuanyalah mendiang orang tua Byana harus mendapat masalah dan merenggut nyawa mereka.


“Mau sampai kapan kau disini? sudah 2 malam kau seperti ini. Bukankah Lusa pelayaran itu dimulai?” tanya Gestara pada Aldrik.


“Anggap saja aku pengecut kali ini .... ” Aldrik menyandar lemas pada kursi kerjanya.


“Hanya botol minuman ini yang menemanimu saat malam, kau bisa tumbang jika begini! Haruskah aku meminta Hana membantumu?” Gestara mencoba memberikan solusi.


“Tidak, kau pulanglah dan jangan lupa bawakan baju untukku besok.” Aldrik membalikkan kursinya, langsung membelakangi Gestara dengan meminum segelas wine.


“Apa kau ... akan melepaskan Byana?” tanya Gestara dengan nada gentar.


“Jangan membuatku semakin merasa kesal, aku hanya tidak tahu harus bagaimana bersikap dihadapannya!” Aldrik kesal tanpa alasan.


“Kau tidak akan tahu jika tidak menghadapinya secara langsung, ingat janjimu ... kau akan membantu Byana untuk menangani kasusnya!” Gestara berbalik kesal memberi sanggahan.


“Aku hanya ... takut ia akan benar-benar meninggalkanku kali ini. Sudah malam, pulanglah .... ”


Melihat pada Aldrik yang enggan melakukan percakapan panjang lagi dengannya, Gestara pun berjalan keluar dari ruangannya dengan tidak lagi membahas apa pun. Seketika terdiam, Gestara mencoba memikirkan suatu cara untuk membantunya.


Sebagai sahabat dan juga pihak selalu merasa berhutang budi atas jasanya, membuat Gestara tak kuasa dengan hanya berpangku tangan melihat Aldrik seperti itu. Tahu akan perasaan yang sudah lama tak diperlihatkan Aldrik, Gestara pun semakin yakin untuk melangkah.


***


-Kediaman Aldrik-


“Gestara? ... ada apa? mana Aldrik?” tanya Byana terkejut saat mendengar akan Gestara yang tiba-tiba datang ke kediaman.


“Byana, aku ingin berbicara denganmu ... apa kau ada waktu?.”


Tentu bagi Byana saat ini penjelasan memang sangat diperlukan, terlebih dengan Aldrik yang kembali bersikap seperti ini menimbulkan banyak pertanyaan yang tak terjawab. Byana mengarahkan Gestara menuju ruangan kerja dan baca dimana mereka dapat bercakap dengan baik.


“Ada apa? katakan padaku .... ” Byana menatap serius dengan terduduk diseberang Gestara.


“Dengarkan aku dan jangan sedikit pun memotong pembicaraanku, kau mengerti?” tanya Gestara pada Byana yang mengangguk seraya mengerti.


Gestara mengeluarkan beberapa kertas dari dalam tasnya yang memperlihatkan kontrak jual beli saham saat ayah Aldrik ditipu oleh Daniel. Sejelas mungkin Gestara menjelaskan pada Byana agar tidak membuatnya salah paham.

__ADS_1


Byana mendengar dengan begitu serius dan mencoba untuk tetap berpikir secara rasional tanpa terbawa suasana, namun sebagai seorang wanita, Byana jujur tidak dapat menyembunyikan perasaannya yang meluap ketika teka-teki terbesar dalam hidupnya terungkap begitu saja.


Gestara mencoba semakin menjelaskan sebisanya walau saat ini Byana tengah menitikkan air matanya. Sudah tidak ia perdulikan lagi waktu yang diperlukan Byana untuk menenangkan dirinya karena akan sangat menunda dan takut kesalahpahaman akan muncul.


“Byana, kau sudah mendengarnya ... kini keputusan apa yang akan kau ambil?” tanya Gestara.


“ ... aku ... tidak tahu. Haruskah aku mengatakannya sekarang?” balas Byana kembali bertanya.


“Aldrik sudah sangat menyiksa dirinya selama kurang lebih 3 hari ini ... aku takut dia akan tumbang jika terus dibiarkan seperti itu.” Gestara bangun dari tempat duduknya, bereaksi penuh cemas.


“Apa saat ini dia masih berada dikantor?” tanya Byana.


“Ya. Ruangannya dipenuhi bau alkohol ketika aku masuk di pagi hari ... Byana, baru kali ini aku melihat Aldrik begitu depresi.” Gestara mengarahkan tanggannya seolah memohon.


“Baiklah, bisa berikan aku waktu untuk berpikir?.”


Gestara pun terdiam sudah tidak mampu lagi untuk berkata atau melakukan hal lainnya untuk Aldrik. Bukan bermaksud untuk mencampuri urusan mereka, Gestara yang sudah menganggap Aldrik dan Byana sebagai keluarga, merasa tidak terima melihat kondisi mereka seperti ini.


Disisi lain saat Gestara pulang, derai tangis Byana tak tertahankan lagi begitu dalam lukanya yang kini entah bagaimana caranya untuk bisa menerima kenyataan yang ada didepannya. Byana menangis dan terus menangis hingga cukup sudah air matanya seketika mengering.


Menatap pada jam yang berdetak, waktu tak terasa menunjukkan pukul enam pagi, tersadar akan perkataan Gestara, Byana mencoba untuk memastikan kondisi Aldrik apakah benar seperti yang dikatakan Gestara atau hanya bualan semata agar menaruh iba.


“Tara, bisakah jemput aku sebelum pergi ke kantor?” tanya Byana melalui panggilan telephone.


Tak menunggu waktu lama bagi Gestara untuk menjemput Byana karena saat ini ia pun sudah sampai dikediaman Aldrik untuk mengambil pakaian setelan jas yang akan dikenakan Aldrik. Namun ternyata jauh dari bayangan, Byana sudah mempersiapkan dengan berdiri didepan pintu.


“Kau ... menyiapkan semua ini?” tanya Gestara terkejut.


“Aku memang tidak pandai memadukan jas dan dasinya, tapi semoga saja cocok untuk Aldrik kenakan ... makanan ini pun, aku sempat belajar dari pak Gio saat memasak. ” Balas Byana tersenyum.


“Aku ... masih mempertimbangkannya. Hanya saja, dia sudah begitu banyak berkorban untukku, jadi .... ” Byana menundukkan kepala tidak ingin melanjutkan pembicaraannya.


Gestara tidak ingin mengambil pusing dengan segera membuka pintu mobil untuk Byana menuju ke perusahaan. Sepanjang perjalanan Byana mendengar kisah Aldrik semasa muda saat duduk dibangku perkuliahan bersama Gestara diluar negeri, tak urung kisah lucu pun diceritakan oleh Gestara untuk meredakan ketegangan.


Hanya memerlukan waktu setengah jam untuk sampai diperusahaan karena pada jam ini, orang-orang masih sibuk mempersiapkan dirinya. Kantor pun masih terlihat sepi dengan Gestara dan Byana yang masuk melalui lift khusus CEO dan Presdir yang jarang digunakan.


Seketika bayangan diri Aldrik membayangi pikiran Byana yang mencoba untuk merasakan bahwa saat ini, Aldrik begitu menyalahkan dirinya sendiri seolah jika bisa memutar waktu, Aldrik tidak akan pernah melibatkan bahkan membiarkan Byana mengalami hal-hal buruk untuk kesekian kalinya.


Byana melangkah menuju ruangan Aldrik dengan begitu gugup, masih gelap terlihat dan hening karena tidak ada satu pun keryawan selain petugas kebersihan yang sedang bekerja.


“Masuk dan lihatlah sendiri ... aku menunggu diruanganku. Jika butuh sesuatu, panggil saja.” Ucap Gestara sembari membuka pintu ruangan kerja Aldrik.


“Tara ... terima kasih.” Balas Byana tersenyum berjalan masuk kedalam ruangan.


Langkah kaki Byana kian terhenti disaat bau menyengat bagai menusuk indra penciumannya. Bukan hanya satu botol, tapi Byana melihat lima botol alkohol berserakan dilantai dan tak lupa kaleng beer yang berada diatas meja pun begitu berantakan.


Akhirnya menatap pada sosok tampan yang sedang tertidur pulas, pria itu tidak tersadar akan penampilannya saat ini yang terlihat seperti tidak waras hingga membuat Byana kesal dan langsung menghentak semua barang bawaannya termasuk setelan jas untuk Aldrik.


“BANGUN! Tidak pulang tiga hari, tapi kau malah seperti ini dikantor?! BANGUN ALDRIK!” Byana memukul tangan Aldrik beberapa kali dengan kesal.


“A—apa yang ... BYANA? ... Apa aku sedang bermimpi?!” Aldrik terkejut dengan memukul sedikit kepalanya mencoba untuk menyadarkan diri.


“APA KAU BERNIAT MASUK RUMAH SAKIT?! Pria menyebalkan! KAU MENYEBALKAN ALDRIK!” Byana memukul Aldrik kembali melampiaskan kekesalannya.


Aldrik terduduk membiarkan Byana memukul dirinya dengan hanya menatap sendu pada Byana. Meski masih berada dibawah pengaruh alkohol, Aldrik mencoba menyadarkan dirinya dengan mendengar semua keluhan marah yang dilontarkan Byana.

__ADS_1


Melihat Aldrik yang hanya terdiam pasrah bersandar pada sofa kursinya, Byana pun akhirnya selesai melampiaskan kekesalannya dengan berhenti memukul Aldrik dan mencoba menjaga jarak. Namun seketika Aldrik menarik tangan Byana dan mendekatkan wajahnya begitu dengan untuk berkata, “Pukullah aku jangan berhenti, aku akan menerima .... ”


Seketika Byana terdiam dan menatap Aldrik menundukkan kepalanya mencoba bersandar pada bahu Byana. Nafasnya terasa berat seolah sesuatu menahannya, tak kuasa melihat kondisi Aldrik yang begitu tertekan, Byana pun akhirnya memeluk erat.


“Jangan pernah mengucapkan kata maaf padaku! Kau dengar itu Aldrik?!” Byana berucap kesal sembari memeluk Aldrik dengan erat.


“Byana ... maaf .... ” ucap Aldrik lirih dengan nada yang parau.


Tidak membalas perkataan Aldrik, Byana yang saat ini memeluk Aldrik pun membelai lembut bagian belakang rambutnya dengan penuh kasih sayang. Seketika Aldrik pun menikmati waktu, merasa nyaman tidak sedikit pun tekanan terasa menekan jiwa dan raganya.


Terdiam beberapa saat, Aldrik menarik dirinya perlahan dan Byana pun melepaskan pelukannya. Tangan Aldrik kini beralih menjadi menggenggam Byana, dengan tatapan polos memohon Byana untuk mendengarkan perkataannya.


“Aku mengerti jika kau masih mempertimbangkan masalah ini ... aku mengerti. Tapi Byana, aku mohon berikan kesempatan setidaknya untukku sekali lagi saja, bisakah?.”


Byana hanya terdiam menatap pada kedua bola mata indah diwajah seorang pria yang tampan dan tangguh. Kepribadian dan segala hal yang dimiliki pria ini membuat pernyataan sangat tidak masuk diakal bahwa yang sedang memohon dihadapan Byana saat ini adalah pria itu.


Hubungan kontrak yang sejak awal mereka jalani, membuat hati terpaut tanpa mereka sadari. Kenangan akan masa lalu pun ternyata menghubungkan mereka, bagai jodoh yang sudah dipersiapkan tuhan dan hanya tinggal sang pelakonlah yang mengambil peran.


“Kesempatan yang kau maksud itu, seperti apa?” tanya Byana.


“Apa pun ... dalam hal apa pun tidak ada syarat atau keadaan tertentu.” Balas Aldrik dengan semakin menggenggam erat tangan Byana.


“Kau ... bisa memiliki wanita lain yang lebih dari padaku. Kenapa kau malah mempertahankanku?.”


Aldrik seketika merasa lemas dengan kedua tangannya yang tidak mampu lagi untuk menggenggam erat tangan Byana. Pertanyaan inilah yang tidak ingin didengar oleh Aldrik, bagai ketuk palu pengadilan dengan keputusan yang mutlak harus dilakukan.


Aldrik memerantakkan rambutnya mencoba untuk menahan perasaan hatinya akan harga diri seorang pria, namun Byana sedikit kurang mengerti akan maksud Aldrik saat ini yang hanya butuh penjelasan lengkap baginya untuk bertahan.


“Apa itu setelan kemeja, jas, dan dasi untukku?” tanya Aldrik tiba-tiba berdiri melepas dasi dan jasnya.


“Ya, aku pun membawa sarapan untukmu .... ” Byana langsung berdiri berjalan menghampiri barang bawaannya.


“Tidak perlu, aku bisa sendiri.” Ucap Aldrik ketus dengan mengambil sedikit kasar setelan itu dari tangan Byana.


Wajah mengerut penuh pertanyaan pun kini terlihat dari Byana yang menatap pada Aldrik yang berjalan menuju toilet diruangan kerjanya untuk membersihkan diri. Beberapa menit sempat berlalu hingga akhirnya kekesalan Byana muncul dan berjalan menuju toilet.


(BRRAAKK) “KENAPA KAU MARAH?! SEHARUSNYA AKU YANG MARAH DISINI!” Byana begitu kesal hingga menghentak pintu kamar mandi.


“Byana ... aku ... sedang mandi .... ” Aldrik begitu terkejut namun juga bersyukur karena saat ini bagian tubuhnya bawahnya sudah tertutup sebuah handuk putih.


“Kenapa kau marah padaku? Hanya gara-gara aku bertanya seperti itu padamu?!” Byana berjalan maju tidak memperdulikan perkataan Aldrik.


“Byana, ini dikantor ... kita bicarakan saat sampai dirumah nanti. Jika kau tidak keluar sekarang, aku akan menyerangmu. ” Aldrik memberikan peringatan dengan berdiri tegap menghadap Byana.


“Kenapa kau mengalihkan pembicaraan? Apa aku terlihat bodoh, jadi kau bisa me—ALDRIK! – UMMHH! – APA YANG .... ” Byana tidak bisa melanjutkan pembicaraannya karena Aldrik mencium secara paksa.


Tersudut pada sebuah dinding dengan kedua tangan menadah keatas, tangan Aldrik yang berukuran dua kali lipat dari Byana bagai mengikatnya sempurna. Kecupan pada bibir, pipi, dan tengkuk Byana pun seolah membuatnya kehilangan tenaga untuk melawan Aldrik hingga akhirnya perlawanan yang terlihat percuma pun terdiam membiarkan Aldrik mengambil alih.


“Sudah kukatakan ... aku akan menyerangmu! Kenapa kau tidak memukulku?” tanya Aldrik dengan terus menyerang pada titik senstive seorang wanita.


Byana terdiam tak membalas dengan hanya memalingkan wajahnya penuh rona merah diwajahnya. Deru nafas yang sudah tidak dapat dikendalikan, Aldrik menjadi benar-benar terbawa emosi kali ini.


“MARAH ATAU PUKUL AKU BYANA! KENAPA KAU HANYA DIAM SAJA!.”


Tangan yang mengikat itu pun terlepas dengan menatap pada tetesan air yang masih menitik dari balik rambut hitamnya menuju mata atau pipinya. Nafasnya pun sama membara terlihat jelas sedang mencoba menahan diri. Jika sudah seperti ini, apa aku benar-benar tidak bisa lari darinya?.

__ADS_1


__ADS_2