
“ Gestara, bagaimana kondisi Byana?.”
“ Entah perasaanku saja, atau dia memang terlihat pucat hari ini. Bahkan bekas tamparan saja masih sedikit terlihat. Hana, apa menurutmu dia memaksakan diri?.”
“ Apa Aldrik bersamanya?.”
“ Selalu. Hari ini pun kudengar Byana ke Polres diantarkan oleh Aldrik. Sekarang mereka sedang berada di ruangan inti komputer perusahaan, sepertinya ada sesuatu yang sedang mereka cari.”
Percakapan dari dua orang yang begitu khawatir. Terlupa akan dirinya yang hampir tidak sadarkan diri, sebenarnya apa yang ada di dalam pikirannya saat ini. Pada orang normal, mereka pasti membutuhkan waktu untuk istirahat atau setidaknya mengeluarkan isi hatinya. Namun, mengapa Byana memilih untuk menyimpannya dalam hati seorang diri?.
Bagi Aldrik yang selalu menatap tak luput sedikit pun keluar dari jangkauan matanya, merasa serba salah pada Byana yang keras kepala. Bertanya padanya tentang ada apa atau maukah berbicara tentang masalah semalam, pasti Byana menolaknya atau mengalihkan pembicaraan.
“ Apa kata Hana?” tanya Aldrik sembari berbisik saat Gestara kembali ke dalam ruangan.
“ Selama Byana tidak kembali demam dan sesak nafas, sepertinya masih baik baik saja.”
“ Sejak pagi dia sudah seperti ini. Tiap aku mencoba bertanya, dia selalu mengalihkan pembicaraan.” Balas Aldrik dengan sedikit menundukkan kepalanya merasa pusing.
“ Atau kau biarkan saja Byana datang berkonsultasi lagi dengan Hana. Aku pikir dia pasti akan terbuka padanya. Bagaimana?.”
Saran yang diberikan Gestara memang sangat masuk akal. Tapi Byana selalu menjadi memaksakan dirinya dimana sesi terapi yang seharusnya dilakukan pada pertemuan selanjutnya, selalu saja dia minta percepat dan hanya akan semakin membuatnya lelah.
Merasa serba salah pun akhirnya tidak menemukan jalan keluar. Bagi Aldrik selama Byana merasa baik baik saja, dia akan berusaha sebisa mungkin mendukungnya dari belakang tanpa harus bertanya lebih banyak hal lagi padanya.
“ Aldrik, Gestara?... apa yang sedang kalian lakukan disana?” tanya Byana dengan masih begitu serius memainkan beberapa komputer perusahaan.
“ Seharusnya kami yang bertanya, sebenarnya apa yan kau cari sejak tadi?!” ucap Gestara yang terduduk disamping Byana memperhatikan layar komputer.
“ Tunggu, apa ini lokasi suatu tempat?,” lanjut Gestara bertanya sembari menatap pada Aldrik.
Aldrik langsung tergerak dan mengambil alih posisi tempat duduk Gestara untuk melihat apa sebenarnya yang Byana kerjakan dan Byana cari. Tersadar akan titik sebuah tempat, ternyata file folder yang berjudul Pemberhentian adalah nama suatu pulau disalah satu negara.
Dengan keahlian Aldrik dalam memainkan komputer dan kepintarannya dalam menggunakan aplikasi, sangat mudah baginya menemukan titik kordinat lokasi dimana saja yang sekiranya bisa menjadi tempat yang mencurigakan untuk Daniel dan anak buahnya melancarkan rencananya selama ini.
“ INI. Aku ingat pernah melihat ini, tapi aku tidak begitu yakin dimana... tapi aku sangat yakin pernah melihat tempat ini pada suatu foto yang...” Byana kembali terdiam dengan mencoba mengingat.
“ Foto apa?, dimana Byana?” tanya Aldrik dengan lembut menatap Byana.
“ Sepertinya aku harus ke apartemen. Disana ada album foto yang kusimpan berisi kenanganku bersama papa dan mama. Aku yakin tempat ini ada berada disalah satu foto yang berada di album foto itu.” Balas Byana menatap Aldrik serius.
Aldrik menatap pada jam tangannya terlihat jelas dia sedang mempertimbangkan sesuatu. Teringat akan dirinya yang berkata akan menemui salah satu rekan bisnis penting pada malam ini, dengan jarak waktu yang hanya tersisa dua jam, akan sangat tidak mungkin baginya.
Byana menggenggam tangan Aldrik seraya tersenyum padanya, juga menatap pada Gestara yang terlihat kebingungan, Byana pun memilih alternatife jalan keluar terbaik yang dapat menguntungkan bagi masing masing.
“ Aku berniat menaiki kendaraan online. Tapi, akan sangat tidak fleksibel jika tiba tiba aku harus pergi atau hal lainnya. Jadi bagaimana jika pinjamkan kunci mobilmu padaku?” tanya Byana dengan tersenyum lembut pada Aldrik.
“ Tidak. Jelas jelas kau masih terlihat pucat dan pusing, tapi masih mau menyetir sendiri?! Gestara gantikan aku menemui pak Fumihiro dan Hideki malam ini.”
“ Tidak... aku tahu mereka klien penting untukmu. Gestara pun tidak dapat berbuat banyak jika dia datang kesana seorang diri... serta bukankah tidak sopan?” tanya Byana yang sudah mulai terbiasa mengerti pekerjaan Aldrik.
“ Naik kendaraan online saja. Aku akan memesankannya untukmu.” Balas Aldrik dengan langsung mengambil handphonenya dari dalam saku celananya.
“ Pinjamkan saja mobilmu padaku... oke?. Pleaseee...” Byana menatap dengan tatapan bagai bayi, memohon dengan sangat serius.
“ Kau tahu seberapa bahaya jika kau menyetir sendiri bukan?! Kalau begitu besok lagi saja aku antarkan, sekarang Gestara akan mengantarkanmu pulang dulu.”
“ Tapi Aldrik... ini sudah ada didepan mata dan tinggal per---”
“ Aku bilang tidak dan kau pulang, Byana. Jangan membuatku mengulang perkataan.”
__ADS_1
Aldrik langsung berjalan meninggalkan Byana dari ruangan dan meninggalkannya bersama Gestara yang sudah siap untuk mengantarkannya. Melihat dirinya yang mencoba berganti pakaian formal untuk pertemuan nanti malam, Byana pun akhirnya mengikuti perkataan Aldrik.
Sepanjang perjalanan, Gestara tahu bahwa Byana masih merasa kesal. Mengirimkan pesan pada Hana untuk datang ke kediaman Aldrik sekaligus memeriksa kondisinya, Gestara pun tidak menyampaikan niat hatinya pada Byana yang terlihat semakin pucat.
“ Oke Byana, beristirahatlah dan jaga kondisi tubuhmu yang kurus itu. Apa Aldrik tidak memberimu makan daging?” tanya Gestara bernada jahil dengan raut wajah menyebalkan.
“ Yaa... dia selalu menghabiskan daging bagianku.” Balas Byana mencoba membalas candaan itu.
“ AHAHAAHA... seharusnya kau pukul atau mencubitnya. Kau lunak sekali padanya.”
“ Aku biarkan dia biar diakhir dapat dengan mudah meminta ganti rugi. Tenang saja, asuransi hidupku akan sangat mahal saat datang tagihan padanya nanti.” Balas Byana dengan melipatkan kedua tangannya.
Saling tertawa satu sama lain, Gestara pun akhirnya berpamitan mengingat jarak dan waktu menuju hotel pertemuan yang tidak dekat. Dengan melambaikan tangannya, Byana pun masuk ditemani Lia yang sudah siap melayani dan menemani Byana.
Selesai membersihkan diri dan berganti pakaian kembali, Byana langsung terduduk pada meja baca dan menyalakan laptopnya. Mancoba mencari sebuah foto yang mungkin berada dalam album folder didalam laptopnya, ternyata tidak membuahkan hasil sama sekali.
Sepertinya aku memang harus ke apartemen... sekarang baru jam tujuh, Aldrik pasti akan sampai tengah malam disana. Jika aku pulang sebelum jam sepuluh malam, sepertinya masih keburu. Gumam Byana dalam hati masih dengan sifat keras kepalanya.
Dengan perlahan keluar dari kamarnya selepas berganti pakaian kembali, Byana mengambil salah satu kunci mobil yang menggantung untuk berlalu pergi. Pak Gio dan Lia yang terlambat menyadari kepergian Byana, langsung merasa panik mengingat perintah Aldrik yang ditujukan pada mereka.
“ Bagaimana Paman?” tanya Lia pada Pak Gio begitu panik.
“ Sepertinya mereka sudah memulai pertemuan. Baik tuan Aldrik dan Gestara tidak mengangkat panggilan.” Ucap Pak Gio dengan mematikan panggilannya.
“ Lalu bagaimana?... tubuh nona masih terasa hangat karena demamnya belum hilang.” Ucap Lia yang teringat akan kondisi tubuh Byana selepas membantunya membersihkan diri.
“ Kenapa nona Byana bersikeras pergi malam ini?. Mau kemana?.”
Pertanyaan yang Pak Gio berikan sama sekali tidak ada jawaban pada Lia yang juga terlihat panik. Tak urung pada mereka yang serba salah, tak lama sebuah mobil datang dan terparkir di halaman teras depan rumah dengan Hana yang datang.
Pak Gio dan Lia dengan sigap menghampiri dan memberikan kabar pada Hana mengenai Byana yang pergi secara diam diam pada Hana. Raut wajah Hana seketika berubah dan menjadi kesal mengingat sifat keras kepala yang dimiliki Byana.
“ Terus hubungi Aldrik atau Gestara, aku akan mencoba mencari Byana ke tempat lain.” Ucap Hana tergesah masuk ke dalam mobil dan berlalu pergi kembali.
Disisi lain Byana yang sudah sampai di apartemennya, terkejut mendapati kondisi apartemennya yang masih terlihat bersih bahkan semua yang berada disini pun begitu tertata rapi. Terima kasih Aldrik, sudah menyuruh orang membersihkan apartemen ini. Gumam Byana dalam hati.
“ Dimana album foto itu?! Seharusnya disini, tapi... aaahhh, ini dia!.”
Byana membuka album foto itu dan benar sesuai ingatannya, terdapat sebuah foto yang memperlihatkan ayah dan ibunya yang berada di suatu tempat. Sebuah villa kayu yang mewah, dimana sangat ramai orang dibelakangnya dengan senyuman yang merekah bahagia.
( BRRUUKKK DHUUKKK) Suara keras benda yang terjatuh dari ruangan sebelah.
Merasa terkejut dan penasaran, Byana berjalan menuju jendela kamarnya dan terkejut mendapati ruangan apartemen milik Azka, salah satu karyawan Aldrik yang diculik menyala. Terlihat beberapa bayangan orang yang berlalu lalang seolah sedang mencari sesuatu dan begitu sibuk.
Tahu akan ada hal yang mencurigakan, Byana pun sengaja mematikan lampu apartemennya dan mencoba mencuri pandang dari balik jendela kamarnya. Satu, dua, tiga, ada tiga pria kembali yang datang. Sebenarnya apa yang mereka cari dan juga Aldrik cari waktu itu?. Gumam Byana dalam hatinya merasa curiga.
“ SIAL! Kemana barang itu!” ucap kesal salah satu pria itu saat melewati apartemen Byana.
“ Kecilkan suaramu, bodoh! Bilang saja tidak ketemu dan laporkan pada Gerry. Biar dia dan Alex menyiksa kembali mereka!” ucap pria lainnya.
“ Aku yakin, kali ini mereka pasti mau mengatakan dimana berkas itu disembunyikan.”
Byana berhasil mencuri dengar dan mulai bergumam dalam hatinya. Berkas?, sepertinya Aldrik sebelumnya tidak pernah mengungkit soal berkas. Apa ka Azka ada menyembunyikan hal lain dari Aldrik yang tidak dia ketahui?.
Dengan sifat keras kepala Byana, meski saat ini masih merasa tidak enak badan, dengan polos Byana mengikuti mobil mereka dari belakang. Tersadar akan niat hari mereka yang ingin melaporkan kepada Gerry dan menyiksa kembali keempat karyawan Aldrik, Byana mulai memikirkan sebuah cara meski memang berbahaya dan akan sangat membuat Aldrik marah padanya.
Disatu sisi, Hana yang sudah mulai lelah mencari Byana yang tidak ditemukan dikediaman Om Dhika dan akhirnya menyusul ke apartemennya yang ternyata juga tidak sedikit pun melihat keberadaan Byana, membuat Hana bingung dan mulai cemas.
Panggilan ketiga yang dilakukannya pada Aldrik masih belum mendapat balasan. Akhirnya Hana mencoba menghubungi Gestara yang akhirnya dapat menjawab panggilan Hana dengan sangat terkejut menerima kabar darinya.
__ADS_1
“ Tunggu, kau bilang apa?” tanya Gestara sedikit berbisik dari ruangan sebelah.
“ Sudah dua jam aku mencari Byana. Tidak di rumah paman dan bibinya, juga tidak ada di apartemen miliknya. Apa kau tahu mungkin kemana Byana suka datang akhir akhir ini?” tanya Hana dengan nafas yang terdengar tersenggah berat akibat berlari.
“ Byana, juga tidak ada di apartemennya?... sial, Aldrik pasti akan sangat marah sekali jika mendengar ini. Kami baru selesai membahas kontrak kerja sama dan baru mau memulai jamuan makan malam.” Balas Gestara mulai merasa panik.
“ It’s okey... katakan saja kemana kira kira Byana biasanya pergi biar aku menjemputnya.”
Pertanyaan Hana pada Gestara tentu tidak mendapatkan jawaban yang diinginkannya. Gestara yang terlihat kebingungan pun hanya dapat memikirkan cara lain yang tentunya tidak membuat kemarahan dalam diri Aldrik keluar bagai singa yang mengamuk.
Teringat akan aplikasi yang sebelumnya terhubung pada handphone Aldrik dan Byana, Gestara meminta Hana untuk menahan panggilan telephonenya dan kembali menuju Aldrik untuk meminjam handphonenya dengan alasan pekerjaan.
“ Kenapa tidak memakai handphone milikmu sendiri?” tanya Aldrik curiga pada Gestara dengan berbisik pelan.
“ Ayolah... semua berkas folder di handphonemu lebih lengkap dan rapi dibanding handphoneku. Aku yakin kau juga sudah memeriksa dan memilah berkas dokumen itu bukan?,” jawab Gestara berbisik mengalihkan topik pembicaraan.
“ Jangan digunakan yang tidak tidak.” Aldrik menatap dengan sinis.
“ Jika aku berniat membuka situs xxx, untuk apa juga aku meminjam handphonemu?! Kau pikir handphoneku seburuk itu.” Gestara memberikan raut wajah serius agar Aldrik tidak curiga.
Melihat Gestara yang begitu meyakinkan, Aldrik tersenyum sembari memberikan handphonenya pada Gestara dan kembali Gestara berpamitan sebentar menuju ruangan sebelah dimana Hana masih menunggunya melalui panggilan video.
Gestara membuka aplikasi tersebut mencoba untuk mencari lokasi Byana saat ini. Terkejut dengan apa yang ditemukannya, Byana mengarah menuju akses jalan tol kota yang akan menuju batas keluar kota.
“ Tunggu, mau kemana Byana malam malam begini lewat jalan tol?” tanya Hana kebingungan.
“ Aplikasi ini tidak mungkin salah. Hana, apa kau bisa mengejar Byana?... sepertinya jika kau melewati jalan memutar di pertigaan, kau juga akan langsung menju akses jalan tol.” Balas Gestara yang juga menyalakan handphonenya mengakses sinyal GPS rute jalan.
“ Baiklah, kirimkan padaku sekarang titik lokasinya.” Balas Hana dengan langsung masuk kedalam mobilnya dan berlalu pergi.
Dengan kerja sama antara Hana dan Gestara, mereka akhirnya dapat menyusul mobil Byana yang terlihat tidak begitu jauh didepannya. Kecepatan mobil Byana benar benar cepat hingga Hana sedikit kesulitan mengimbangi Byana terlebih jika harus menyusulnya.
Tidak mengetahui akan niat Byana yang sedang membuntuti anak buah Daniel dari belakang, Byana melaju semakin kencang dan semakin kencang lagi hingga dapat menyusul mobil anak buah Daniel dan Byana berada tepat didepan mereka.
“ Baiklah Byana... Aldrik, maafkan aku.”
( CKKIITTT BRUUUKKK BRUUKKK BRRUUAAKKK) Suara hantaman keras mobil yang bertabrakan.
“ B Y A N A A A A !!!!”
( BEEP ) Panggilan telephone Hana yang tiba tiba terputus.
“ Aaappa... apa yang terjadi barusan?.”
Tangan Gestara bergetar hebat. Terlihat jelas pada aplikasi dari layar handphone Aldrik, mobil Byana yang terdiam dengan tanda merah menandakan adanya kecelakaan. Seketika membeku, Gestara benar benar tidak tahu harus berkata apa pada Aldrik.
“ Hey, kenapa lama sekali?! mana Handphoneku?” tanya Aldrik saat menghampiri Gestara.
“ Aldrik.” Ucap Gestara dengan raut wajahnya yang panik.
“ Kenapa?, kau masih takut kita kehilangan kontrak kerja sama ini dan aku memotong bonusmu?” tanya Aldrik dengan nada bercanda.
“ Bu...bukan itu. i...ini... lihatlah.”
Menatap pada layar handphone dengan peringatan merah yang menyala. Mencoba tersadar akan orang terkasih yang berada didalamnya. Raut wajahnya benar benar langsung berubah dan berbicara dengan nada parau.
“ Bukankah aku memintamu mengantarkan Byana pulang?. Lalu kenapa, tiba tiba mobil Byana mengalami kecelakaan seperi ini?. Tara, jelaskan padaku.”
“ Aldrik... aku... itu sudah me---”
__ADS_1
“ JELASKAN GESTARA!.”
Tidak mampu lagi untuk berkata padanya, terlihat jelas kekhawatiran dengan tangannya yang bergetar. Aldrik kali ini benar benar akan kehilangan akal sehatnya.