Belajar Mencintaimu

Belajar Mencintaimu
Pengikatan 1


__ADS_3

Hening bahkan terlalu senyap. Tatapan semua mata yang semakin terlihat lurus memandang. Seorang pria tertunduk melipatkan salah satu kakinya dengan menjulurkan sebuah cincin ditangannya tanda akan keseriusan dirinya.


“ BYANA, KUMOHON. MAUKAH KAU BERTUNANGAN DENGANKU?.”


Kalimat yang begitu sangat dinantikan namun cukup membuat hati merasa bimbang dan penuh gelisah. Kesanggupan diri yang terbatas ternyata menyadari akan kemampuan untuk terus berada disisinya, menemani hingga hari tua.


Namun kembali menatap pada raut wajah penuh pengharapan serta keseriusan tanpa rasa ragu sedikit pun, memberi keberanian walau hanya untuk sesaat. Memejamkan kedua mata sesaat, memohon agar pilihan ini tepat bagi hati yang merintih.


“ Aku bersedia....”


Dua kata yang akhirnya terucap membuat senyuman tampan itu kembali terlihat dengan menghembuskan nafas lega dan dalam seolah keberanian dalam dirinya diberikan semua pada detik ini dihadapan semua orang mempertaruhkan harga dirinya.


Berdiri kembali dengan langsung memberikan sebuah cincin indah yang kini melingkar  dijari manis, Byana sempat tertegun sejenak menyadari bahwa ini semua bukanlah mimipi belaka. Tergenggam saling erat kedua tangan, Aldrik kembali berbicara dengan lantang.


“ Terima kasih untuk para tamu undangan yang hadir pada malam ini.” Aldrik menundukkan sedikit kepalanya kepada semua tamu undangan diikuti Byana disampingnya.


“ ALDRIK! Apa yang kau lakukan?!” Arie berbisik dengan begitu kesal pada anaknya.


 “ Aaahh... tak lupa saya ingin memberitahukan, bahwa keluarga Byana yang begitu sangat saya hormati mempunyai sebuah toko peralatan olahraga. Jika bersedia untuk mampir dan membeli disana, maka saya akan sangat berterima kasih.”


“ ALDRIK MAHENDRA!” Arie meninggikan suara, sudah lagi tidak dapat mengontrol emosinya.


“ Bapak,Ibu. Kemari dan perkenalkan diri pada semua tamu undangan...” Aldrik melempaskan genggaman tangannya dari Byana, berjalan menuju Om Dhika dan Tante Lesti dengan mengulurkan kedua tangannya seolah membantu mereka untuk berjalan.


Tatapan para tamu yang tidak menyangka kejadian seperti ini akan terjadi membuat Arie dan Mutia benar benar seperti mendapat tamparan keras oleh anaknya sendiri. Dengan tidak menatap pada mereka, perhatian Aldrik justru hanya pada Tante dan Om Dhika.


Byana yang kini berdiri penuh kebingungan tak luput dari tatapan kebencian yang diberikan Vlora padanya. Sedikit menundukkan kepalanya, secara tiba tiba Aldrik melingkarkan salah satu tangannya pada pinggang Byana seraya untuk berdiri tepat disampingnya.


“ Perkenalkan, keluarga Pranawa yang kini akan menjadi bagian dari keluarga Mahendra.” Aldrik kembali berkata dengan begitu berani dan lantang.


“ Aldrik... hentikan...” ucap Byana berbisik dengan menutup mulutnya.


“ Kenapa?, kau malu?. Byana, saat ini kau adalah tunanganku jadi biasakan dirimu.”


Tertunduk sembari memalingkan wajah, Tante Lesti dan Om Dhika yang mendengar perkataan Aldrik saat ini merasa malu bahkan tidak sanggup untuk berkata apa pun. Terlebih pada Byana kini yang terlihat semakin serba salah, semua hal melintas dalam pikirannya saat ini sangat tidak masuk akal.


Membawa Tante Lesti dan Om Dhika turun dari panggung singgasana, suara ramai disertai tepuk tangan pun memecah keheningan dari para tamu undangan. Cahaya lampu kamera yang menyilaukan pun mencoba mengabadikan moment bersejarah untuk sebagai berita utama.


Dilain sisi, Daniel, Sarah, Alex, serta Gerry yang ikut hadir dalam acara ini dibuat kesal oleh tingkah laku Aldrik yang begitu berani dan diluar pemahaman. Menyadari akan resiko yang akan dihadapinya, membuat Daniel merasa gugup untuk berhadapan dengan Aldrik yang semakin terampil dalam memainkan perannya.


“ Aku tidak menduga akhirnya akan seperti ini...” ucap Sarah sang istri sembari meminum segelas wine ditangannya.


“ Aku harus memikirkan rencana baru.” Daniel berkata gugup.


“ Tenang sayang... sekarang selagi semua disibukkan, kenapa kalian tidak memeriksa lukisan itu?” tanya Sarah sembari menatap pada Gerry.


“ Alex, keluarlah bersama Gerry. Aku tidak ingin kecemburuanmu membuat masalah disini.” Ucap Daniel dengan melirikkan matanya pada Alex.


Merasa yang dikatakan sang kakak benar, Alex pun mengikuti perintahnya dengan berjalan keluar dari hall aula utama untuk menuju lorong disamping dimana terdapat semua lukisan yang keluarga Mahendra beli terlepas dari ayah, anak, atau cucu yang membelinya.


Dengan memberikan sinyal pada anak buahnya yang juga sudah menunggu mereka, Gerry dengan sigap menutupi Alex yang kini sedang memeriksa lukisan itu.


“ Boss, apa kau menemukannya?” tanya Gerry sedikit berbisik.


“ Ada yang aneh dengan lukisan ini. Jika sesuai dengan yang dikatakan kakak, apa mungkin...” Alex terdiam sejenak untuk berpikir.


“ Lihat ukiran cat ini. Terlihat sudah mengelupas. Hanya ada 2 hal, terkelupas saat tergesek benda lain atau ada yang sengaja menggunakan alat untuk mengelupas cat ini.” Lanjut Alex mencoba menjelaskan kepada Gerry.

__ADS_1


Gerry dan Alex pun terdiam sejenak dengan mencoba untuk berpikir kemungkinan apakah yang terjadi saat ini mengingat lukisan yang sempat hilang juga kemungkinan adanya sabotase rahasia yang sudah dilakukan lebih dulu sebelum mereka.


Saling menatap, Alex dan Gerry pun kembali kedalam hall utama untuk memberitahukan kabar kepada Daniel yang akhirnya terlihat begitu marah dan kesalnya.


Bagi Daniel yang sudah menunggu lama akan datangnya kesempatan ini, dengan hilangnya secarik kertas yang sengaja disembunyikan didalam lukisan, Daniel mencoba menutupi amarahnya dengan minum didepan para tamu undangan.


“ Hentikan sayang, kau bisa mabuk...” ucap Sarah sang istri.


“ Kurang ajar sekali. Kemana secarik kertas itu pergi!” balas Daniel kesal dengan berdiri terhuyung akibat mulai merasa mabuk.


“ Aku percepat rencana kita. Tidak perlu menunggu ulang tahun perusahaan untuk berlayar. Lakukan secepat mungkin, lalu ubah tujuan menuju pulau perhentian langsung.” Lanjut Danie pada istrinya karena sudah kehabisan akal liciknya.


“ Kau ingin... membawa mereka kesana langsung?” tanya Sarah terkejut.


“ Ya. Dengan begitu kita bisa melihat, siapa sebenarnya mereka yang berani mengacaukan rencanaku seperti ini serta apa yang mereka inginkan. Aku akan membuat perhitungan dengan mereka.” Lanjut Daniel.


“ Tapi dengan tamu undangan sebanyak itu, bagaimana caranya kau dapat mengetahui bahwa itu adalah mereka?” tanya Sarah kembali dengan mengangkat kedua alisnya.


“ Mereka akan menampakkan diri, percayalah padaku. Berikan umpan pada mereka, seperti tikus kotor mereka akan keluar dari persembunyian mereka begitu saja.”


Ditengah rasa kesal mereka, Gestara yang secara sembunyi sembunyi memperhatikan mereka dari sebuah ruangan tepat dibelakang mereka, mendengar percakapan mereka dan kini terbukti sudah bahwa benar adanya pertambangan itulah yang Daniel inginkan.


Merasa perlu memberitahukan kabar ini pada Aldrik dan Byana, tanpa sadar Gestara yang membuat suara gaduh dengan tersandung pada sebuah meja yang tertata rapi dengan barisan kue manis diatasnya membuat Daniel dan anak buahnya menyadari kehadiran Gestara yang mencoba mencuri dengar percakapan mereka.


“ Kau... assisten pribadi, sekaligus General manajer PT. Linux, bukan begitu Pak Gestara?” tanya Sarah sang istri pada Gestara dengan begitu menyudutkannya.


“ Ya, maaf apa tadi aku membuat kalian terkejut?. Aku harus mengganti aliran kabel listrik yang berada dibelakang meja itu, tanpa sadar malah terhantuk mengenaiku.” Ucap Gestara mencoba untuk memalingkan kondisi dan keadaan.


“ Benarkah?, kami rasa tidak ada yang salah dengan pelistrikan sama sekali sejak tadi.” Balas Sarah yang mulai merasa curiga.


Menunduk seraya memberikan salam penuh sopan, Gestara pun kembali berjalan menuju Aldrik dengan tatapan mereka yang terlihat meragukannya. Tak urung akan Gerry yang terlihat begitu siaga, Gestara dengan segera berjalan menuju Aldrik.


Menunggu Aldrik selesai mengumumkan pertunangannya dan merasa sudah waktunya untuk berbicara, Gestara menarik Aldrik diikuti Byana dibelakangnya menuju celah yang tertutup dekorasi pada panggung bagian belakang.


“ Ada apa?” tanya Aldrik kebingungan.


“ Aku mencoba mencuri dengar pembicaraan Daniel dan sepertinya... mereka menaruh curiga padaku.” Gestara menadahkan kepalanya kebawah terlihat murung.


“ Apa?... bagaimana bisa?, apa yang kau lakukan?.”


“ Itu tidak penting, Aldrik sekarang yang penting adalah mereka mencoba menarik penyamaran kalian dengan mengadakan acara ulang tahun perusahaannya pada sebuah pelayaran.”


“ Pelayaran?” tanya Byana kebingungan pada Gestara.


“ Yaa... aku tidak tahu awal tujuan mereka diawal, tapi diakhir aku mendengar mereka akan berlayar menuju pulau perhentian langsung.”


Terdiam dan saling menatap mendengar penjelasan Gestara saat ini, baik Byana dan Aldrik saling menatap seolah mencoba untuk berpikir. Tak urung akan Byana yang juga masih mempertanyakan tentang apa maksud dari yang Aldrik lakukan saat ini, percakapan mereka selanjutnya akan sangat panjang dan menyita waktu.


Kembali bersikap biasa dihadapan para tamu undangan terlebih dengan keluarga Adhitama yang merasa sangat dipermalukan juga Vlora yang akhirnya kini menaruh dendam pada Byana, kehadiran Aldrik yang mencoba menjelaskan dan penuh permohonan maaf pun ditolak mentah oleh mereka.


“ Pergilah. Mulai hari ini, kami keluarga Adhitama tidak akan mendukung Mahendra kembali.” Ucap sang Ayah pada Aldrik yang menatap dengan berdiri tegap.


“ Aldrik, bagaimana mungkin kau bisa sekejam ini pada kami?, salah apa kami padanmu?” ucap sang Ibu pada Aldrik dengan begitu lirih.


“ Maaf Pak, Bu. Tapi bukankah sebelumnya saya memberitahu kalian agar jangan berharap lebih?!” balas Aldrik dengan santainya.


“ Tapi haruskah seperti ini!! jelas kau dan Vlora bisa menduduki puncak bisnis jika kalian bersama, tapi bagaimana bisa kau memilih wanita ini?!” ucap Pak Adhitama yang terbawa emosi.

__ADS_1


“ Saya juga pernah berkata, bahwa hubungan bisnis dan hubungan pribadi tidak bisa digabungkan. Untuk saya pribadi, memilih pendamping yang akan setia menemani tidak bisa hanya berdasar ikatan bisnis.”


Terdiam mendengar perkataan Aldrik yang dengan santai bagai tanpa beban berbicara mengeluarkan isi hati dan pendapatnya, merupakan suatu hinaan besar bagi keluarga Adhitama jika terus berada disini. Mereka pun akhirnya segera meninggalkan acara jamuan dengan Vlora yang mengikuti mereka dari belakang.


Menatap pada Byana dengan pandangan angkuhnya, cukup untuk Byana memalingkan wajahnya seolah tidak ingin mencari masalah dengan Vlora. Berjalan melewati Byana, Vlora pun bergegas menuju pintu keluar dimana supir dan kendaraannya sudah menunggu didepan lobby.


Selama perjalanan Vlora pun memutar pikirannya bagaimana cara membalas Byana yang sudah merebut Aldrik dari sisinya. Dengan pikiran liciknya, Vlora pun akhirnya memberanikan dirinya dengan api cemburu penuh kebencian.


“ Halo, apa kau punya waktu untuk bertemu denganku malam ini?” tanya Vlora melalui panggilan telephone kepada Alex.


“ Vlora?... HAH! Akhirnya kau memutuskan untuk menghubungiku...” balas Alex menekan tombol speaker agar percakapannya dapat didengar oleh Daniel dan Sarah.


“ Berhenti basa basi dan temui aku ditempat yang akan aku kirimkan padamu.”


“ Baiklah....”


Dengan Vlora yang seolah memberikan kabar bahagian bagi Daniel yang licik, terlihat Vlora yang begitu mudah dipermainkan dan dimanfaatkan akan menjadi rencana sempurna lainnya yang akhirnya dapat membuat Daniel tersenyum.


*******


-Kediaman Aldrik-


Byana kembali ke kediaman Aldrik dengan status yang berbeda sekarang. Merasa hampa dengan tidak adanya kehadiran pak Gio dan Lia, Byana tiba tiba merasa sedih akan kenangan yang tidak dapat menghilang begitu saja.


( TOKK TOOKK TOOKK ) “ Belum tidur?, pintumu pun masih terbuka seperti ini.” Ucap Aldrik saat memasuki kamar tidur Byana.


“ Aldrik, kenapa kau... lakukan ini?” tanya Byana tanpa basa basi selepas mereka membersihkan diri pada kamar masing masing.


“ Apa maksudmu?,” Aldrik pura pura kebingungan.


“ Hentikan. Aku sedang tidak ingin bercanda denganmu... jelas kau tahu, apa maksud perkataan dan pertanyaanku padamu!.”


“ Karena dengan ini aku lebih leluasa untuk membantumu meski kau tidak ingin.”


“ Hubungan bisnis dan hubungan pribadi tidak bisa digabungkan. Memilih pendamping yang akan setia menemani, tidak bisa hanya berdasar ikatan bisnis. Itu yang kau katakan pada mereka.”


“ Lalu?” tanya Aldrik dengan mengangkat kedua alisnya dan memasukkan tangan kedalam saku celananya, menatap Byana begitu serius.


“ Bukankah hubungan kita adalah ikatan bisnis?. Apa kau lupa bahwa kita seperti ini karena hubungan kontrak semata.” Byana begitu menekan nada bicaranya.


Menatap dan mendengar perkataan Byana yang sudah dapat ditebak olehnya bahwa Byana akan berkata seperti ini, Aldrik cukup menundukkan sedikit kepalanya dengan menghembuskan nafas panjang untuk menenangkan dirinya. Kembali menatap pada Byana, raut wajah Aldrik kembali menjadi begitu serius saat berkata pada Byana.


“ Jika begitu, maka kontrak sebagai kekasih kontrak kita ganti menjadi kontrak tunangan. Mudah bukan?,” Aldrik berbicara dengan begitu ringannya.


“ Apa?!” Byana sedikit merasa kesal.


“ Aku sudah selesai dengan kewajibanku menjadi kekasihmu, saat keempat karyawan itu selamat dan kau dapat semua informasi yang kau butuhkan. Sekarang biarkan aku menyelesaikan masalahku.” Lanjut Byana semakin serius.


“ Ya, kau benar. Itu juga yang aku coba lakukan.” Balas Aldrik kembali secara spontan.


“ APA?!”


“ Aku melakukan kewajibanku sebagai kekasih kontrak yang membantu menyelesaikan masalahmu. Pikirmu kontrak kita berakhir saat keempat karyawanku selamat?. Tidak Byana, kau salah besar jika berpikir seperti itu.”


“ Sekarang aku adalah tunanganmu meski hanya sebuah kontrak kembali. Aku akan melakukan apa pun untuk membantumu.”


Wajahnya begitu dekat hingga hembusan nafas terasa hangat mengenai wajah yang mempertanyakan untuk apa melakukan hal berbahaya atau mengancam nyawanya. Entah hanya mencoba sekedar membalas budi, yang kuinginkan hanya satu. Yaitu aku tidak ingin melihatmu terluka, karena aku tidak akan sanggup melihatnya.

__ADS_1


__ADS_2