Belajar Mencintaimu

Belajar Mencintaimu
Rekonsiliasi 10


__ADS_3

“ Jadi, kau belum menjelaskan padanya?.”


“ Ya.”


“ Jelas Byana tidak ingin mendengarmu... Aldrik maafkan aku tapi, sudah berapa kali kau dan keluargamu memberi kabar atau kejadian buruk untuk Byana?. Bukan hanya dirinya, tapi kalian juga menyakiti harga diri keluarga satu satunya yang sangat dia cintai.”


“ Hana....”


“ Tidak Tara, jangan salahkan Hana. Dia benar dalam hal ini.”


“ Lalu, apa yang akan kau lakukan?.”


“ Bisakah kalian berdua membantuku lagi kali ini?. Kumohon, pastikan Byana hadir dalam acara itu.”


Saling menatap baik Hana dan Gestara terlihat kebingungan bagaimana cara meyakinkan Byana untuk datang dalam suatu acara dimana tersebar kabar bahwa pria yang dicintai akan bertunangan dengan wanita lain.


Tersingkir pada Aldrik yang terlihat begitu serba salah, hari ceria yang sengaja mereka rencanakan kini berubah menjadi satu hari suram lainnya bagi Byana yang mengurung diri dikamarnya. Permintaan maaf yang Aldrik berikan pun hanya membuat Tante dan Om Dhika tersenyum lirih sembari menepuk pundak Aldrik seolah mencoba memberikan semangat untuknya.


********


- Pagi Hari di kediaman utama keluarga Mahendra-


“ Semua sudah siap?. Pastikan tidak ada kesalahan sedikit pun, hari ini harus berjalan lancar. Kau mengerti?!” ucap Arie pada seseorang dari balik panggilan telephone.


“ Sayang, tenanglah... hari ini sama seperti tahun tahun sebelumnya, hanya acara jamuan ulang tahun perusahaan...” Mutia membelai lembut punggung suaminya.


“ Tidak, kali ini berbeda. Aku harus memastikan pertunangan Aldrik dan Vlora terjadi. Jangan sampai mereka gagal mengumumkan pertunangan mereka.” Arie membalikkan tubuhnya seraya menatap begitu serius pada Mutia.


“ Tenanglah... rambutmu bisa bisa cepat berubah warna jika khawatir berlebihan seperti ini. Bukankah Aldrik juga sudah setuju untuk menjemput Vlora secara pribadi untuk datang bersama ke perusahaan?. Apa lagi yang kau khawatirkan....”


“ Entahlah... aku merasa ada yang aneh dengan anak itu ketika kita menyuruhnya untuk menjemput Vlora dan mengumumkan pertunangan. Apa menurutmu wanita itu akan datang?” tanya Arie begitu khawatir dengan memutari lantai ruangan tengah.


“ Biarkan saja wanita itu datang... biar dia lihat dan sadar diri! berani sekali masuk kedalam keluarga Mahendra begitu saja!” balas Mutia sedikit bernada kesal.


Terdiam mendengar perkataan istrinya yang juga terdengar masuk akal, kekhawatiran Arie pun sedikit menghilang dengan mengibaratkan sekali mendayung, dua tiga pulau terlewati.


Namun, mengingat sifat Aldrik yang begitu bertolak belakang dan dengan dirinya yang langsung menyutujui permintaannya, sungguh membuat curiga dalam diri Arie selaku ayah kandungnya.


Disaat semua sedang bersiap siap menyiapkan gaun atau pakaian yang akan dikenakan pada acara jamuan hari ini, tidak berlaku bagi Byana yang masih mengurung diri dikamarnya bahkan tidak untuk sarapan pagi bersama.


Merasa hanya akan semakin membuat perasaan Byana tidak nyaman atas kehadirannya, akhirnya Aldrik memutuskan untuk pergi dan bersiap siap dikediamannya. Mendengar mobil Aldrik yang sudah berlalu pergi bersama Gestara, Byana pun membuka pintu kamarnya.


“ Akhirnya kau buka juga.” Ucap Hana yang sudah sejak tadi berdiri dengan bersandar pada dinding samping pintu kamar Byana.


“ Kau mengagetkanku... kenapa masih disini?, kau tidak bekerja kerumah sakit?” tanya Byana.


“ Kau... apa baru saja melaporkan kejadian terakhir kali pada atasanmu itu?” tanya Hana tiba tiba merasa penasaran.


“ Yaa. AKBP Sony memberi keleluasaan untukku melaporkan melalui panggilan video dan merasa tidak aman jika aku melapor langsung karena, dia sedang mencurigai seseorang...” balas Byana begitu serius.


“ Maksudmu?.”


“ Atasanku merasa... ada orang di dalam kepolisian yang bekerja untuk Daniel. Karena, setiap informasi yang didapatkannya tiba tiba menghilang bagai ditelan bumi. Serta ia pun merasa kalau hilangnya kedua orang tua, karena ulah orang itu.”


“ Kau serius?. Tunggu, jika begitu... bukan sembarang orang dengan jabatan rendah yang bisa melakukan hal ini bukan?!”

__ADS_1


Byana menganggukkan kepalanya seraya ikut serius berpikir bersama Hana karena apa yang dikatakannya adalah benar. Mencoba menerka dengan waktu kerjanya yang baru saja seumur jagung, Byana sedikit pun tidak tahu atau menaruh curiga pada siapa pun di kepolisian.


Terhubung pada panggilan telephone, AKBP Sony mengirimkan kabar lainnya akan informasi mengejutkan dimana orang yang dicurigainya ternyata memiliki kekayaan diatas rekannya yang lain dan masih tidak melaporkan dari mana asal uang itu berasal.


Menunggu kabar selanjutnya, Byana pun menutup panggilan itu dengan menatap pada Hana yang kini memeluknya dengan erat seraya memberikan semangat untuknya.


“ Aku tahu kenapa kau masih disini. Kau mau membujukku untuk datang ke acara jamuan ulang tahun perusahaan bukan?” tanya Byana saat Hana memeluknya.


Dengan langsung melepaskan pelukannya, Hana pun tertunduk malu dengan kenyataan yang memang benar adanya. Dengan kedua tangan yang melekat penuh permohonan, Hana kini menatap sedih pada Byana untuk menarik simpatinya.


“ Percuma memohon... kau tega sekali.” Byana memalingkan pandangannya seraya berjalan menuruni anak tangga menuju ruang makan.


“ Byana, tunggu dengar dulu... Aldrik memiliki niat lain yang belum sempat dia sampaikan padamu... karena itu, kau harus datang. Oke Byana?, pleaseee....”


“ Niat lain apa itu?, aku akan coba pertimbangkan jika kau memberitahuku.”


Hana terdiam seolah mulutnya terkunci. Berjanji tidak akan memberitahu karena khawatir akan keraguan didalam hati Byana, Hana yang mengerti akan maksud Aldrik pun hanya tertunduk dengan membiarkan Byana berlalu pergi.


Menuju siang Hana yang masih gelisah pun memutari ruangan tengah tanpa henti hingga membuat Om Dhika dan Tante Lesti ikut kebingungan bagaimana cara membantunya karena tahu akan sifat keras kepala Byana. Namun tiba tiba saja bell pintu rumah berbunyi dengan beberapa perias yang masuk secara paksa.


“ Tunggu, ada apa ini?! kalian disuruh oleh Aldrik bukan?! Maaf, aku tidak akan datang keacara itu jadi silahkan untuk per... HEY! APA APAAN INI?! LEPASKAN AKU! HEY!.”


Terpesan untuk memaksa Byana dalam keadaan apa pun agar datang ke acara jamuan nanti malam, para perias yang juga sudah menyiapkan gaun untuk Byana kenakan pun ternyata memiliki gaun serta setelan jas lainnya untuk Tante Lesti dan Om Dhika kenakan. Bersama Hana mereka pun juga ikut bersiap untuk hadir diacara jamuan ulang tahun perusahaan.


Detik yang berlalu tak terasa merias sebaik mungkin memerlukan waktu yang tidak sedikit. Kembali mengenakan sebuah gaun panjang menjuntai indah berwarna merah muda yang manis, hiasan mahkota kecil dikepala Byana terlihat indah dengan rambut ikalnya yang menjuntai.


“ Kenapa... Tante dan Om mengenakan jas dan gaun?. Apa kalian juga meriasnya?” tanya Byana pada salah satu perias yang berdiri dibelakangnya.


“ Ya Nona. Pesan Tuan Aldrik, kami harus merias anda sekeluarga sebaik mungkin sebelum mengantarkan anda menuju perusahaan.” Balas perias itu dengan menunduk sopan.


Hana hanya memalingkan kepalanya seraya membetulkan gaunnya mencoba untuk berpura pura tidak mendengar dan mengalihkan percakapan pada Byana. Dengan bunyi klakson mobil yang sudah terparkir, Hana pun menarik Om dan Tante Lesti untuk masuk kedalam mobil dimana Byana pasti akan mengikuti mereka dari belakang.


Sepanjang perjalanan Hana berkomunikasi dengan Gestara yang sudah berada di perusahaan untuk menunggu mereka. Rasa gelisah dan cemas semakin merasuk dalam diri Byana, mengingat kejadian terakhir kali yang mempermalukan mereka.


Aku... tidak akan bisa menerima jika Om dan Tante mendapat perlakuan tidak pantas lagi. Entah itu Aldrik sendiri, kali ini aku terpaksa bertindak tegas. Gumam Byana dalam hatinya.


Namun perlakuan yang sempat dibayangkan oleh Byana berbanding terbalik dengan sambutan begitu hormat dari para pegawai dengan Gestara yang menunduk penuh hormat saat menyambut kedatangan mereka.


“ Pak... Bu... silahkan ikuti saya menunggu diruangan VIP.” Ucap Gestara penuh sopan.


“ Gestara... apa ini tidak... berlebihan?. Ada apa dengan semua orang yang tertunduk pada kami...” ucap Tante Lesti merasa tidak nyaman.


“ Bagaimana bisa calon mertua Aldrik diperlakukan layaknya tamu biasa?. Bahkan ini permintaan Aldrik secara langsung, Bu.”


“ APA?... Calon... mertua?. Gestara, apa yang barusan kau ka---”


“ AYO MASUK TAN, OM... aku dengar ada makanan lezat yang sudah dihidangkan didalam, kita isi perut dulu...” Hana menarik kembali tangan Tante dan Om Dhika untuk masuk kedalam.


Tahu akan Hana yang mencoba mengalihkan pembicaraan kembali, Byana kini sudah diambang rasa kesal yang memuncak. Tidak tahu dan tidak mengerti dengan apa yang akan terjadi malam ini, Byana terpaksa mengikuti langkah Gestara yang membawa kedalam sebuah ruangan.


Terbukanya pintu dengan sendirinya dengan kembali terlihat beberapa pegawai yang menyambut dengan menunduk hormat, Byana menghembuskan nafas panjang seolah merasa risih dengan perlakuan yang sudah jelas memiliki maksud tersembunyi. Namun berbeda dengan Tante dan Om Dhika yang baru mengalami hal ini, mereka terlihat sangat terkejut mendapat perlakuan ini.


“ Byana, Nak... apa kau, selalu mendapat layanan seperti ini kemana pun kau pergi saat bersama Aldrik?” tanya Tante Lesti dengan berbisik.


“ Tidak selalu, Tan... hanya pada saat acara khusus saja...” balas Byana kembali berbisik.

__ADS_1


“ Makanan ini, terlihat... mahal. Byana, apa kita benar benar bisa menyantapnya?” tanya Om Dhika yang terlihat kebingungan memilih garpu, sendok, bahkan pisau khusus daging yang berjejer sempurna diatas meja.


“ Untuk makan daging gunakan garpu yang ini dengan pisau ditangan kiri. Lalu sendok ini digunakan untuk menyantap soup.” Bisik Byana pada Om Dhika sembari mengarahkan tangannya pada sendok dan garpu didepannya untuk memberitahu.


Dengan berdiri dan tertunduknya penuh sopan para pegawai disekitar meja makan yang siap siaga jika Byana dan keluarga memerlukan sesuatu, rasa canggung dan tidak leluasa pun tampak jelas pada Om Dhika dan Tante Lesti yang tidak terbiasa dengan itu.


Namun Byana mencoba untuk bersikap biasa layaknya dirumah dengan membantu Tante Lesti dan Om Dhika untuk menyantap makanan dan minuman dengan etika saat menyantap makanan layaknya seorang bangsawan.


“ Apa sudah kenyang?, bagaimana makanannya?, lezat?” tanya Gestara saat berjalan masuk.


“ Sangat enak sekali... kami baru pertama kali mencoba makanan ini. Terima kasih Nak...” ucap Tante Lesti dengan tersenyum manis.


“ Syukurlah jika makanan ini anda dan Bapak sukai... Hmm, acara akan dimulai jadi sepertinya saya harus membawa Byana dan Hana untuk menuju hall aula utama. Apa Ibu dan Bapak berkenan menunggu disini sebentar?” tanya Gestara dengan sopan.


“ Tentu saja... silahkan.” Balas Om Dhika tersenyum sembari melayangkan salah satu tangannya.


“ Byana pergi sebentar... Om, Tante tunggu Byana disini dan jangan pergi kemana pun.” Byana terlihat begitu khawatir.


“ Kami mengerti... pergilah Nak...” Tante Lesti mencoba menenangkan Byana dengan tersenyum padanya.


Dengan Hana yang menggandeng tangan Gestara saat berjalan menuju hall aula utama, Byana yang berjalan dibelakang mereka pun akhirnya mendapat perhatian dari para tamu undangan yang datang. Bukan hanya tatapan mereka, namun terlihat bibir mereka pun berbicara.


Terdengar akan ungkapan dirinya yang dibuang karena saat ini Aldrik datang bersama Vlora, atau Byana yang tidak tahu diri, atau juga berani sekali masih datang setelah berita yang tersebar seolah tidak mempunyai rasa malu.


Byana tertunduk malu memaksakan dirinya untuk berjalan seorang diri dengan tuduhan akan hinaan bahkan tatapan mereka yang mengerikan. Langkah Byana pun seketika terhenti ketika dalam jangkauan matanya, terlihat Aldrik berjalan kearahnya dengan Vlora yang menggandeng tangannya.


Mereka terlihat serasi sekali... untuk apa sebenarnya aku datang kemari?. Gumam hati Byana lirih sembari memalingkan pandangannya.


Aldrik tertunduk sembari terus berjalan bahkan melewati Byana begitu saja tanpa menyapanya. Cukup menjadi tamparan keras bagi Byana saat ini karena tatapan dan bibir mencibir itu semakin menusuk melukainya.


“ Terima kasih untuk para tamu undangan terhormat karena sudah bersedia hadir pada malam ini. Tak lebih selain menunduk hormat, kami keluarga Mahendra berikan sebagai ucapan tanda terima kasih dari lubuk hati kami pada anda semua.”


Sambutan yang diberikan oleh Presdir PT. Linux dimana Arie berbicara mewakili keluarga Mahendra dengan Vlora dan keluarganya yang ikut tertunduk dibelakang mereka.


“ Pada malam ini tepat dua puluh tahun sudah PT. Linux berdiri dan tetap bertahan. Maka dengan ini kami akan mengumumkan pengumuman penting lainnya dimana anak kami, Aldrik Mahendra akan mengumumkan pertunangannya.”


Tepuk tangan yang meriah dengan sorakan ramai yang bahagia. Terlihat Vlora berdiri dengan begitu bahagia dan bangga dengan masih melingkarkan tangannya pada Aldrik. Tersadar akan posisinya yang tidak diharapkan, untuk apa terus berdiri disini bagai orang bodoh meski berhias dan mengenakan gaun secantik ini.


“ Baik. Saya Aldrik Mahendra selaku CEO PT. Linux, akan memberikan kabar bahagia pada malam hari ini dimana... Vlora... bisakah kau maju kedepan?,” Aldrik mengarahkan microphone dan berdiri menyamping saat Vlora berdiri tepat disamping untuk menatapnya.


“ Vlora... terima kasih sudah menemaniku berjuang sampai detik ini. Ijinkan aku untuk membalasmu dan keluarga Adhitama dengan memberikan keuntungan saham sebesar 15% dari keuntungan yang baru saja PT. Linux serta hasil dari jerih payahku sendiri.”


“ Apa?... Aldrik... apa maksud dari perkataanmu ini?” tanya Vlora begitu terkejut.


“ Kabar bahagia lainnya yaitu, aku ingin mengumumkan pertunanganku dengan seorang wanita yang sangat aku cintai yang saat ini terlihat begitu sangat mempesona.” Aldrik memalingkan pandangannya kearah para tamu undangan.


Memutar tubuhnya untuk berjalan berbalik menuruni panggung singgasana mewahnya. Kaki itu melangkah dengan begitu keyakinan menuju tepat kearah wanita yang ia cintai. Tidak memperdulikan dengan tatapan dan ucapan semua orang, pria ini pun membuang harga dirinya dengan menunduk penuh wibawa dengan memperlihatkan sebuah kotak cincin ditangannya.


“ Byana Pranawa. Aku memilihmu dan akan terus memilihmu tanpa jeda, tanpa ragu, meski kau merasa bimbang. Karenamu aku belajar mencintai bukanlah mencari kesempurnaan tapi menciptakan kesempurnaan. Karena itu, maukah bertunangan denganku?.”


“ Aaaldrik... aappaa yang....”


“ BYANA, KUMOHON. MAUKAH KAU BERTUNANGAN DENGANKU?.”


Tatapan mata itu tidak berubah. Semakin menatap semakin jelas terlihat bahwa niat hatinya begitu serius. Mulut terkatup tak dapat berkata dengan tanpa sadar air mata menitik tak tertahan. Apakah ini mimpi atau kenyataan yang sedang kuhadapi?.

__ADS_1


__ADS_2