
"Ekhem..." Lilis sedikit gelagapan saat melihat ternyata yang baru direncanakan akan ditonjok sudah nongol duluan. Berbeda dengan reaksi Lilis, justru Marcella memutar bola matanya malas saat melihat Noah yang masih mengenakan baju semalam.
"Kakak kenapa kemari?" tanya Marcella dengan nada kesal. Noah yang berjalan masuk ke rumah kaca, melewati Lilis yang menunduk lalu segera mengalungkan sebelah tangannya di leher Marcella, dengan kepala yang bersandar di bahu adiknya itu.
"Kakak ish, mandi dulu sana, bau tau" Marcella terus meronta, berusaha melepaskan tangan dan kepala Noah jauh-jauh dari tubuhnya. Lilis yang memberanikan diri mendongkak, kemudian tersenyum melihat kedua majikannya. Menurutnya, Tuan Muda dan Nyonya adalah pasangan yang sangat serasi. Serasi apanya, gadis itu hanya tidak tahu saja jika Tuan Muda dan Nyonya itu sudah seperti Mr. Crab dan Plankton yang tidak pernah akur.
"Kau meronta lagi aku cium ya!" Marcella langsung diam, gadis itu memicingkan matanya sinis ke arah Noah, seolah ada laser merah yang keluar dari dalam matanya. Noah yang merasa siaga satu amukan si singa betina, hanya terkekeh lucu sambil menoel-noel pipi imut Marcella. Ya ampun, Tuan dan Nyonya romantis sekali. Mata Lilis berbinar, berharap suatu saat nanti bisa bertemu dengan seorang pria, membangun keluarga, lalu bisa saling mencintai seperti dua insan di depannya ini. Sekali lagi, seandainya gadis itu tahu betapa tidak akurnya rumah tangga itu.
"Kakak iiiih!, kau tidak keluar sekarang ak-"
"Iya iya, dasar kau wanita jahat" Noah segera berlari ke arah pintu keluar, namun saat melewati Lilis, Noah berhenti tepat didepan gadis itu. Lilis sejujurnya merasa sangat gugup, pasalnya Tuan Muda berdiri begitu dekat dengannya.
"Kau, jaga baik-baik istriku ya, jangan membuatnya jengkel, kalau dia jengkel dia bisa menerkam mu iiaaarrggghh!" Lilis ketakutan setengah mati saat Noah menakutinya dengan gerakan singa menerkam.
"Kakaaaaakk!!!" Marcella berteriak sambil mengejar Noah yang kembali berlari terbirit-birit. Gadis itu berhenti di depan pintu rumah kaca, lalu kembali menutup pintu. Marcella yang masih melihat ketakutan di wajah Lilis kemudian menghampiri gadis itu.
"Lilis, kau tidak apa-apa kan?"
"Ah i itu, ti tidak apa-apa Nyo-eh Elle" Marcella kembali tersenyum lega saat mendengar jawaban Lilis.
"Baiklah, pokoknya lain kali jika dia datang membuat keributan disini, jangan ambil pusing ya. Anggap saja hanya bakteri yang lewat dibawa angin" Lilis sedikit melongo, bagaimana bisa dia menganggap Tuan Muda seperti bakteri?, ah tidak tidak, sedangkan membayangkannya saja tidak berani.
__ADS_1
Pagi itu Marcella dibantu Lilis menyiapkan sarapan untuk Noah. Mereka tidak lagi harus mengantar makanan itu ke rumah utama, karena mulai saat itu Noah akan makan langsung di rumah kaca. Tentu saja Noah memutuskan itu karena tidak mau Marcella kelelahan harus bolak balik untuk mengantar makanan. Meskipun di rumah itu banyak pelayan, namun Noah tahu betul sikap keras kepala Marcella yang tidak mau merepotkan orang lain.
Setelah selesai memasak, Marcella dibantu Lilis menyiapkan makanan di meja tempat mereka biasanya makan. Setelah selesai menata makanan, Noah diikuti Steven dibelakangnya sudah lengkap dengan setelan jas masing-masing. Lilis yang melihat dua orang pria itu bahkan hampir tidak berkedip. Steven tersenyum sambil mengangguk menyapa Marcella, yang kemudian di balas gadis itu dengan senyum manisnya. Berbeda dengan Steven yang sudah rapi, Noah malah masih menaruh dasi sembarangan di bahunya.
Pria itu berharap Marcella peka kemudian memasangkan dasi, seperti hal umum yang dilakukan seorang istri, namun sampai selesai mereka sarapan gadis itu rupanya belum menyadari hal itu sama sekali. Noah kembali memasang wajah kesal, sebenarnya berapa tingkat kepekaan gadis itu?.
"Ekhem, Steven kau duluan saja ke mobil, aku akan menyusul"
"Baik Tuan Muda" Steven yang mendapat perintah dari Tuan Muda segera berlalu meninggalkan rumah kaca. Noah sedikit lega, namun pria itu rupanya harus menyuruh gadis kecil lain di ruangan ini untuk keluar.
"Kau!, pekerjaanmu juga sudah selesai kan?, kau juga boleh keluar" Lilis menatap Marcella untuk meminta persetujuan. Marcella yang juga bingung dengan Noah kemudian tersenyum lalu mengangguk kepada Lilis, Lilis yang melihat senyum Marcella seperti memberitahunya "Tidak apa-apa, kau keluarlah. Biar aku yang mengurus ongo-ongol busuk ini" begitu kira-kira.
Setelah semua orang sudah pergi. Noah bangkit dari kursinya lalu berdiri mendekati Marcella. Pria itu terus maju, bahkan hampir tidak ada jarak yang berarti di antara mereka. Marcella yang merasakan siaga satu langsung memasang kuda-kuda sambil menggenggam erat sendok sayur sebagai senjatanya. Noah yang melihat perilaku menggemaskan adiknya itu kemudian tertawa terbahak-bahak.
"Cik kau itu tidak ada manis-manisnya" Noah berdecik saat melihat tatapan deklarasi perang dari Marcella.
"Oh iya, apa aku sudah kelihatan rapi? Atauuu adakah yang kurang?" Noah sengaja menekan nada bicaranya berharap gadis itu peka. Marcella yang tidak memperhatikan kemudian menjawab asal.
"Sudah kok!" aiishh gadis ini benar-benar.
"Coba kau perhatikan lagi, ada yang kurang?" kali ini Noah berbicara sambil menaik turunkan pundaknya dimana dasi itu bertengger manis. Namun lagi-lagi bukan jawaban yang diharapkan keluar.
__ADS_1
"Tidak ada K-"
"Cik kau itu, ini pasangkan aku dasi!" Noah yang sudah kesal kemudian memberikan sendiri dasi itu.
"Ooooh dasi toh..." Marcella yang baru sadar dengan perilaku konyol kakaknya, hanya terkekeh lucu lalu segera meraih dasi itu untuk membantu memasangkannya. Saat gadis itu sibuk memasangkan dasi, Noah kembali bertingkah dengan memeluk erat pinggang Marcella, hingga tubuh keduanya menempel dengan wajah yang sangat dekat. Marcella bahkan dapat merasakan hembusan hangat nafas Noah di wajahnya.
"Kakak berani macam-macam aku tendang itu yang dibawah yaaa" Marcella bicara dengan nada rendah penuh ancaman.
"Kalau ditendang hilang dong modal Kakak" Noah membalas sambil tersenyum jahil dengan alis naik turun.
"Iiiihhh apaan sih... Nah sudah selesai" Noah bukannya melepaskan tangannya, pria itu bahkan tak bergeming dari tempatnya. Apa lagi sih ini maunya.
"Kakak kan mau berangkat kerja, cium dulu dong pipinya" what the...
"Kakak aku beneran tendang itu yang dibawah yaaa!" kali ini Marcella berteriak sambil memukul-mukul dada kakaknya.
"Tendang saja, kan kita juga sudah menikah, jadi jangan harap Kakak mau menceraikan kamu. Lagi pula mana ada perempuan lain yang mau sama Kakak kalau senjatanya sudah tidak ada" hah! Tidak cerai?! Wah gawaaattt. Tiba-tiba...
Cup
Satu kecupan mendarat manis di pipi Noah. Kali ini pria itu mematung dengan wajah memerah. Saat kesadaran pria itu kembali, Noah pun tersenyum lebar lalu membalas mencium pipi adiknya.
__ADS_1
Cup
"Terima kasih sayang, aku berangkat dulu ya!" Noah berjalan cepat keluar dari rumah kaca sambil tersenyum lebar. Sejujurnya pria itu ingin segera mengindar dari amukan Marcella karena tiba-tiba mencium pipi gadis itu. Marcella yang melihat kakaknya hanya menganga heran. Dia itu kenapa sih?