Belajar Mencintaimu

Belajar Mencintaimu
Komitmen 5


__ADS_3

Hening sepi saat hembusan angin mengayunkan dahan kayu bunga sakura. Indah, begitu sangat indah berpadu dengan warna dan motif kimono yang saat ini sedang dikenakannya. Betapa cantik paras dan senyuman anggun penuh kesopanan yang dapat membuat semua mata tak henti untuk tertuju padanya tanpa ia sadari.


Awal bulan April yang menyejukkan dimana pada hari ini musim semi datang dengan membawa kerinduan. Ditemani wangi bunga yang sedang bermekaran untuk kembali menatap padanya, entah mengapa saat ini Byana terlihat begitu mempesona.


“ Kau sengaja memilih model kimono itu bukan?.”


“ Pentas seni diadakan diluar gedung, jadi aku hanya berpendapat saja saat membelinya.”


“ Berlagak keren! AL, kau semakin menyebalkan!”


“ Hentikan kalian berdua ini. Tidak lihat apa Byana begitu terlihat gugup?! Tidak berperasaan sekali... kalau aku jadi Byana, mungkin sudah keringat dingin ingin melarikan diri.”


“ Hana, maaf apa kau sudah menyiapkan apa yang aku minta semalam?.”


“ Sudah. Tapi Aldrik, apa kau yakin ini saat yang tepat?.”


“ Aku, tidak ingin mengulur waktu lagi.”


( GONG DUNG DUNG GONG DUNG) Bunyi tabuhan Drum kulit tanda pertunjukan seni akan dimulai.


Baiklah Byana, kau pasti bisa. Azumi sengaja memberikan kertas bantuan berisi kunci nada, kau hanya tinggal mengikuti dan fokus!. Jangan gugup dan jangan melakukan kesalahan apa pun. Gumam Byana berdoa didalam hati sembari memejamkan kedua matanya sejenak.


Tiga senar yang mulai dipetik oleh jemari lentik dan putih mengayun menggunakan pick yang disebut bachi. Shamisen yang merupakan salah satu jenis alat musik tradisional Jepang kini mengalun indah saat mengiringi pementasan kabuki atau sebutan lain dari drama topeng.


Begitu fokus dan hanya menatap pada sebuah kertas, Azumi yang merasa kagum pun akhirnya tersenyum manis terduduk tepat disamping Byana yang saat ini juga sedang memainkan alat musik yang sama. Seolah saling melengkapi nada, keduanya pun terlihat semakin menghayati.


“ Tidak kusangka, Byana memiliki bakat terpendam... siapa yang akan menyangka kalau dia mempelajari alat musik itu hanya dalam 1 hari kurang.” Ucap Hana terkagum.


“ Aku sempat mendengar dari bu Lesti, dulu Byana memang bercita cita ingin menjadi seorang musisi. Karena itu sejak kecil dia les piano dan gitar.” Aldrik menambahkan dengan tersenyum bangga menatap pada Byana.


“ Andai saja kedua orang tuanya masih hidup, dan...” Hana tiba tiba terdiam tak dapat melanjutkan pembicaraan.


“ Egoisku terkadang ingin memintanya untuk keluar dari kepolisian dan fokus mengejar impian cita citanya. Jika memang ingin menyelidiki kasus kehilangan kedua orang tuanya, serahkan saja itu padaku.” Ucap Aldrik kembali mencoba menjelaskan.


Baik Hana dan Gestara pun hanya terdiam mendengar perkataan Aldrik. Merasa keduanya saling terikat satu sama lain, mereka pun hanya bisa memandang satu sama lain dengan pandangan sedih dan juga bingung harus berkata apa padanya yang juga begitu sangat mengkhawatirkan keadaan.


Disisi lain, Vlora yang saat ini sengaja Aldrik alihkan perhatiannya untuk menemani para istri dewan direksi lain dari PT. Kanamizu pun menikmati waktu dengan sangat nyaman penuh fasilitas yang mewah. Tak urung akan Aldrik yang mengetahui gaya hidup Vlora yang tinggi, ia pun sengaja menyiapkan hal ini agar tidak menimbulkan kecurigaannya.


( KRIINGG KRIINGG KRINGG) Bunyi handphone Vlora yang berdering.


“ Halo Om... apa kabar?” tanya Vlora bernada bahagia.


“ Vlora, kudengar kau berhasil membawa anak keras kepala itu pergi berlibur ke luar negeri.” Balas Arie terdengar begitu antusias.


“ Ya Om... sekarang kami sedang berada di Jepang, dan sesuai dengan perkataanku sepulang nanti akan ada pertambahan aset saham untuk Om.” Vlora tersenyum senyum sendiri.


“ Bagus sekali. Kau memang pantas sebagai Nona muda keluarga Mahendra.”


“ Om terlalu memujiku...” balas Vlora kembali tersipu malu.


“ Sedang dimana kau sekarang?, apa sedang berbelanja?” tanya Arie kembali.


“ Ya Om, aku sedang menemani istri dari pak Takara dan pak Keiji....”


“ Pak Takara... dan Keiji?” tanya Arie dengan nada kebingungan.


“ Ya Om, memang ada apa?.”

__ADS_1


“ Mereka memang pemegang saham PT. Kanamizu, tapi bukan pemegang saham terbesar. Setahu Om, pak Fumihiro dan Hideki. Tapi tidak apa, selama mereka senang, pasti usulan kerja sama yang baru kau buat akan disetujui oleh mereka.” Balas Arie menenangkan.


Vlora tiba tiba terdiam tak berkata. Dengan tertutupnya panggilan telephone dari ayah Aldrik, kecurigaan mulai timbul dalam diri Vlora saat ini yang langsung memeriksa handphonenya untuk memastikan bahwa yang sedang pergi bersamanya adalah istri dari kedua orang penting PT. Kanamizu.


Namun keberuntungan mendatangi Aldrik dan Byana saat ini dikala istri dari Takara dan Keiji mengajak Vlora untuk pergi ke pusat kecantikan untuk melakukan perawatan tubuh dan wajah. Tentu saja bagi Vlora yang begitu memperhatikan penampilannya, suatu hal yang tidak mungkin untuk dia tolak pada kesempatan kali ini.


*********


-Sore hari di gedung kesenian tangah taman kota-


Byana dan Azumi yang sudah tampil duluan pun kini menyaksikan penampilan panggung Kaori istri dari direktur utama PT. Kanamizu. Menyaksikan gemulai anggun tubuhnya saat menarikan suatu tarian khas jepang dengan masih menggunakan kimono, rasa gugup bagai melompat dari atas tebing dalam diri Byana pun menghilang, tak kala Azumi yang juga semakin dekat dengan Byana.


“ Nona Byana, Azumi chan menanyakan apa makanan kesukaan anda.” Ucap salah satu wanita berkimono yang ternyata seorang translater, dimana Aldrik sengaja menyewa jasanya selama acara berlangsung untuk Byana.


“ Hmm... aku sangat suka steak dengan smash potato. Tapiaku memiliki alergi berat terhadap kacang kacangan...” balas Byana sembari tersenyum manis.


Wanita itu pun kembali menerjemahkan kepada Azumi mengenai tanggapan yang diberikan Byana. Dari expresi Azumi yang terlihat terkejut, dapat Byana pahami akan reaksinya saat mendengar Byana yang memiliki alergi berat terhadap kacang kacangan.


Menyampaikan kembali pada Byana atas kekecewaan Azumi yang sebelumnya berniat mengajaknya untuk mencoba kue khas sembari menikmati acara minum teh selepas acara berlangsung, kata Namagashi pun membuat Byana penasaran untuk mencobanya.


“ Nona Byana, Azumi chan kembali bertanya jika kue namagashi terbuat dari bahan lain, apa kau bersedia untuk ikut acara jamuan minum teh nanti malam?” tanya wanita berkimono kembali.


Byana sempat terdiam untuk berpikir. Menatap pada Aldrik yang sedang berbicara dengan Pak Furoshima dan Hideki begitu serius namun santai, serta merasa acara ini penting Byana yang menerima undangan pun akhirnya dapat membuat Azumi dan Kaori tersenyum lega.


“ Byana, jangan mencari masalah...” bisik Hana kesal dengan mencubit tangan Byana.


“ Tenang aku membawa obat anti alergi, dan Azumi bilang ada kue namagashi yang tidak terbuat dari kacang... lagipula tidak sopan menolak undangan mereka.” Balas Byana dengan kembali berbisik dan tersenyum dihadapan mereka.


Adat kebiasaan yang berbeda dengan kultur budaya yang juga berbeda, Byana membiasakan dirinya dengan mencoba mencermati dengan sangat hati hati apa saja yang harus dia lakukan saat ini. Berjalan bersama Kaori dan Azumi ditemani dengan Hana, Byana pun terlihat senang untuk menghabiskan hari ini.


“ Byana, bangunan ini unik sekali... kudengar hanya orang orang khusus yang diberikan ijin untuk memakai ruangan ini...” ucap kagum Hana saat duduk bersimpuh melipat kakinya diatas lantai tradisional dengan pintu geser kertas putih berbahan kayu tak begitu tebal.


“ Ya, aku pun baru seperti ini... seperti berada di lokasi syuting film...” balas Byana tersenyum dengan sedikit menundukkan kepala kearah Hana berbisik.


“ Upacara minum teh itu kira kira berapa lama ya?” tanya Hana dengan kembali berbisik.


Belum Byana sempat membalas, Kaori dan Azumi masuk kembali kedalam ruangan dengan beberapa wanita berkimono lainnya yang berjalan dibelakang mereka sembari membawa beberapa peralatan. Merasa heran akan adanya sebuah tembikar unik dengan kuas bulat, Hana yang begitu polos pun ingin mencoba mengambil moment penting dari balik handphonenya.


Dengan meminta ijin pada Kaori dan Azumi yang memaklumi prilaku Hana, mereka pun hanya tersenyum seraya meminta salah satu wanita yang sedang berdiri untuk mengabadikan dan mengambil foto atau video selama proses upacara minum teh.


“ Kono ocha wa hontōni yoi kaori ga shimasu...” Ucap Byana tersenyum setelah bertanya sebelumnya pengucapan bahasa jepang untuk memuji wangi teh yang tersaji.


“ Nona Byana, Kaori chan berkata... upacara minum teh di Jepang memiliki makna kehidupan yang sangat dalam dan sebuah ajaran tata krama yang baik.” Ucap wanita berkimono mencoba menjelaskan saat Kaori berbicara.


“ Bagus sekali. Namun ternyata, rasa teh ini... cukup pahit ya...” ucap Byana mengerutkan alisnya namun tetap tersenyum agar tak menyinggung perasaan saat wanita berkimono mengartikan perkataan Byana pada Kaori.


“ Kaori chan berkata, memang pahit. Tapi disamping itu banyak sekali manfaat saat upacara ini dalam bidang kesehatan.” Jelas wanita berkimono itu kembali dengan penuh sopan.


“ Byana chan, namagashi o tabete mimashou...” ucap Kaori bernada lembut dan tersenyum saat mempersilahkan mencoba kue namagashi yang baru tersaji.


“ Domo arigatogozaimasu…” balas Byana kembali tersenyum mengucapkan terima kasih sembari mencoba namagashi bersama dengan Hana yang terlihat begitu menyukai kue itu.


Perbincangan antara mereka pun berlanjut dengan Hana yang riang dan Byana yang bisa membawa diri begitu bijak dalam menanggapi semua hal baru. Tak urung akan Azumi yang tiba tiba meminta Byana untuk memainkan Shamisen kembali sebelum pulang, Byana pun menyetujui hingga waktu tak terasa berlalu.


“ Aldrik san, sampai bertemu kembali dan terima kasih.” Ucap Fumihiro berjabat tangan, mencoba berbahasa indonesia dengan masih kental bernada bicara khas jepang.


“ Aldrik san, kami setuju dengan proposal perjanjianmu yang baru. Semoga kita dapat bekerja sama lebih baik lagi.” Ucap Hideki yang juga tidak mau kalah dari Fumihiro.

__ADS_1


“ Tentu saja. Terima kasih untuk acara jamuan hari ini.” Balas Aldrik ramah tersenyum hangat, dengan membalas jabat tangan keduanya bersama Gestara disampingnya.


“ Tidak, tidak... kamilah yang merasa kagum pada istrimu. Salam untuk Byana chan.” Ucap Fumihiro kembali tersenyum masih dengan logat bicara khas jepangnya.


“ Sebenarnya... Byana belum menjadi is---”


“ Tentu, tentu. Terima kasih banyak... sampai bertemu kembali, akan kami sampaikan salam hormat kalian kepada Byana nanti...” balas Gestara memotong Aldrik berbicara dengan mempersilahkan Fumihiro dan Hideki masuk kedalam mobil mereka.


Melihat mobil mereka melaju, Aldrik menatap sinis pada Gestara yang berpura pura polos memalingkan wajahnya merasa tak terjadi apa pun. Gestara mencoba mengalihkan mata sinis Aldrik dengan memperlihatkan sesuatu yang Aldrik khawatirkan akan sulit untuk didapatkan.


 Tentunya dengan kontrak perjanjian yang baru saja ditanda tangani kembali, Aldrik pun merasa puas dengan keberhasilan rencananya. Tak urung akan tiba tiba teringat untuk menjemput Byana dan Hana untuk kembali ke hotel, mereka pun segera berlari menuju tempat yang sebelumnya Byana kirimkan untuk upacara minum teh.


“ Kemana mereka?” tanya Aldrik kebingungan.


“ Aku menghubungi Hana pun tidak dijawab... apa mereka pergi berbelanja?,” Gestara menutup panggilannya dan mengarahkan pandangannya kembali untuk mengitari sekitarnya.


“ Dengan memakai kimono dan sendal kayu?. Terlebih sekarang hampir jam sebelas malam. Kenapa aku merasa ada yang tidak benar.” Aldrik berjalan cepat dengan wajah muram.


“ Hentikan... hari ini kita mendapatkan kabar bagus, jangan kau rusak. Tenanglah, mereka pasti sedang jalan jalan sekitar sini...” balas Gestara mencoba menenangkan.


“ ALDRIK! GESTARA!.” Teriak Hana dari kejauhan.


Berlari cepat menghampiri, raut wajah Aldrik langsung seketika berubah saat melihat Hana tidak bersama dengan Byana. Menatap pada Hana yang terlihat lelah berlari, rasa curiga dan khawatir pun semakin merasuki Aldrik saat ini.


“ Byana... dia, sudah kembali ke hotel duluan.” Balas Hana dengan nafas tersenggah dan berat.


“ Kau dari mana?, apa kau lari malam?” tanya Gestara dengan menyapu keringat dikening Hana.


“ Tidak, tidak... hanya saja... tiba tiba Byana ingin pulang sedangkan aku masih ingin berada disini bersama dengan kalian. Jadi kau mengantar dia duluan menggunakan taxi. Kalian pikir mudah menggunakan sendal kayu ini?!” Hana terlihat mengalihkan perhatian.


Aldrik yang tidak dapat dibohongi pun langsung meninggalkan Hana dan Gestara begitu saja dan langsung melaju menggunakan kendaraannya menuju hotel. Gestara yang kini menatap Hana meminta penjelasan pun akhirnya memutuskan mengikuti Aldrik terlebih dahulu untuk melihat kondisi Byana kembali.


Sesampainya di hotel pintu kamar Byana terkunci dengan Aldrik yang mencoba untuk mengetuknya beberapa kali. Gestara yang baru datang pun menatap pada Hana yang akhirnya terlihat bersalah karena telah berbohong hingga membuat Gestara sedikit kesal.


( BHHAAKK BHAAKK BHHAKK ) “ BYANA BUKA PINTU INI ATAU KUDOBRAK!.” Teriak Aldrik saat menghentak pintu kamar dengan kuat.


“ Aldrik tenang... mungkin Byana sedang mandi dan menggunakan headset mendengarkan musik. Kau tahu seharian ini dia pasti sangat lelah, mungkin dia sedang berendam air hangat.” Ucap Gestara mencoba untuk menenangkan Aldrik.


Belum sampai merasa tenang, handphone Aldrik tiba tiba berbunyi dengan Vlora yang ternyata mencoba memanggil panggilan. Merasa serba salah, Aldrik terlihat semakin kesal saat ini karena tidak dapat melihat kondisi Byana secara langsung dengan kedua matanya.


“ Pergilah... jangan kacaukan rencana kita hanya karena hal ini. Byana sudah berkorban banyak hari ini, jangan sampai terbuang percuma...” balas Gestara kembali pada Aldrik.


“ Kabari aku segera jika kau su---”


“ Aku tahu, aku tahu... pergilah sebelum Vlora merasa curiga.” Balas Gestara kembali dengan mendorong Aldrik pelan berjalan menuju pintu keluar.


Tertutupnya pintu ruangan dengan Aldrik yang sudah berlalu, Hana langsung berlari membukakan pintu kamar Byana dengan begitu tergesah. Menatap pada Byana yang kini terduduk lemas diatas lantai dengan nafas berat, Gestara yang melihat pun menjadi begitu terkejut.


“ Apa yang terjadi padanya?” tanya Gestara pada Hana.


“ Tolong gendong Byana masuk kedalam kamar mandi, akan aku rendam Byana dengan air hangat. Aku kan melarutkan beberapa cairan obat untuk ruam merah ditubuhnya.” Ucap Hana dengan melepas obi Byana dan berlari cepat menuju kamar mandi.


“ Tunggu... Byana... apa kau makan makanan mengandung kacang?. HANA ADA APA DENGANMU! KITA HARUS MEMBAWA BYANA KE RUMAH SAKIT!” teriak kesal Gestara.


“ Ges...tara... tolong aku... lakukan... sesuai perintah... Hana...” ucap Byana begitu lirih dan terkulai lemas dengan nafas beratnya.


Kekesalan yang tak berujung namun merasa tidak memiliki pilihan lain. Byana, apa yang ada dipikiranmu sebenarnya!.

__ADS_1


__ADS_2