
“ Pak Gio, aku pulang dulu... terus kabari aku jika ada kabar perkembangan apa pun mengenai Lia...”
“ Baik Nona....”
“ Lia, kau harus segera sembuh. Aku kesepian tidak ada teman main dan bicara di sana.”
Tersenyum pada satu sama lain, bagi Lia yang masih memerlukan perawatan intensif, sulit baginya untuk membalas senyuman Byana meski ingin sekali dia lakukan. Tak lepas dari setiap hari dari siang hingga sore hari, Byana habiskan waktu di rumah sakit hanya untuk menemani Lia.
Terlepas dari pembicaraannya terakhir kali dengan Aldrik, Byana menarik diri bagai simpul mati dalam sebuah ikatan karena Aldrik yang masih saja berusaha untuk terlibat bahkan sedikit membohongin Byana dalam hal ini.
“ Byana... apa hari ini kau akan kembali ke apartemen lagi?” tanya Hana yang mengikuti Byana berjalan dari belakang.
“ Hana, apa kau tidak ada kerjaan lain?! Bagaimana dengan pasienmu yang lain?, apa kau tidak ada waktu konseling dengan mereka?!” balas Byana sedikit kesal.
“ Aku sudah banyak uang jadi sengaja mengambil klien yang bisa secara privat kudatangi... dan di rumah sakit juga aku sengaja mengambil cuti. 2 tahun aku bekerja bagai kuda, aku juga butuh refreshing....”
“ Lalu, untuk apa kau mengikutiku terus?!”
“ Byana, kau ini galak sekali... seperti katamu tadi ke Lia, kau bilang tidak ada teman main, aku pun tidak ada teman main... jadi kita bersama saja beberapa kedepan...” balas Hana tersenyum polos diwajahnya sembari merangkul Byana.
Tahu akan permohonan atas permintaan Aldrik yang saat ini sedang pergi keluar negeri, Hana pun menyetujui menemani Byana karena tahu kondisi Byana saat ini sedang tidak baik baik saja atau bahkan bisa membahayakan dirinya.
Dengan terus menempel, sesekali Hana terlihat sibuk menggunakan handphonenya yang dapat dipastikan bahwa ia sedang melaporkan kepada Aldrik mengenai apa saja yang Byana lakukan atau terjadi kepadanya.
Byana yang sampai saat ini perang dingin dengan Aldrik, memutuskan untuk tidak menggunakan semua fasilitas yang diberikan padanya dengan memilih kembali pada kehidupannya yang dulu saat sebelum mengenal Aldrik dan sebagai seorang polisi biasa.
“ Kau juga... akan tidur disini?” tanya Byana saat membuka pintu apartemennya.
“ Tentu... kau tidak lihat aku sudah membawa tas ini?!”
“ Hana... pulanglah. Bahkan rumahmu jauh lebih nyaman dari pada kau be---”
“ Karena hanya ada satu kamar, kalau begitu aku tidur dikamar dan kau disofa ruangan tengah seperti biasa. Oke?.”
Tidak bisa melawan perintah dari seorang wanita yang sudah dianggapnya sebagai sosok seorang kakak, Byana pun hanya dapat menggelengkan kepala seraya menghembuskan nafas panjang melihat sifat gigih Hana yang berusaha memenuji janjinya pada Aldrik.
Memperlakukan Byana layaknya benar benar seorang adik, bagi Byana yang selalu hidup dan berjuang seorang diri, kehadiran Hana yang tanpa diduga benar benar mengisi hari harinya yang tak berwarna terlepas dari perhatian yang tante dan om Dhika berikan padanya.
“ Saat aku melanjutkan pendidikan Dokter spesialis kemarin, bagaimana kau bisa hidup?! Rak rak ini dipenuhi makanan siap saji! Apa kau mau cepat mati!” ucap Hana sedikit kesal saat mencoba menyiapkan makan malam untuk mereka.
“ Aku baru hari ini pulang kemari, jadi kulkas dan rak lemari tidak aku isi. Kalau pun ada, yaaa pasti makanan makanan seperti itu.” Balas Byana.
“ Aku keluar sebentar membeli bahan makanan, kau mau makan apa?.”
“ Semur ayammu enak, sepertinya makan malam dengan itu dan capcay oke. Gimana?” tanya Byana sembari bersiap siap pergi.
“ Tunggu kau mau kemana?, biar aku saja yang pergi.” Balas Hana spontan dan mendorong Byana.
Kembali hanya terdiam, Byana yang tentu tidak dapat menandingi perintah Hana akhirnya memilih untuk duduk disofa ruangan tengah untuk menonton TV, dan Hana pun segera pergi menuju swalayan terdekat untuk membeli bahan makanan.
( TING TONG TING TONG ) Bunyi bel pintu apartemen Byana.
Baru lima menit, sudah pulang?. Apa ada barang yang tertinggal?. Gumam Byana dalam hati sembari memeriksa layar keamanan.
Melihat dengan seksama, Byana tidak melihat siapa pun diluar pintu apartmentnya. Merasa hanya kejahilan orang tak dikenal, Byana pun tidak mengambil pusing dan kembali duduk untuk menonon tv kembali.
( TING TONG TING TONG ) ( TING TONG TING TONG ) Bunyi bel pintu apartemen yang kembali berbunyi.
Merasa ada yang tidak benar, Byana masuk kedalam kamarnya untuk membawa sebuah pemukul kasti ditangannya. Memberanikan diri untuk membuka pintu, Byana pun terkejut dengan kehadiran seseorang yang tidak dia sangka sebelumnya.
“ Alex?... apa yang...” ucap Byana gugup.
__ADS_1
“ Sandra masuk ke rumah sakit seperti biasa, kemudian aku melihatmu dan berniat mengajakmu berbicara tapi justru malah mengikutimu karena kau terlihat sangat terburu buru tadi.” Balas Alex dengan senyuman dan tatapan hangat.
“ Kau mau berbicara denganku?, baiklah kita pergi menuju cafe dilantai bawah saja....”
“ Bukankah tidak sopan tidak mengijinkanku masuk?. Bukankah kau sudah mengenalku.”
Byana terdiam dan dengan perlahan menaruh pemukul kasti itu dibelakang tong tempat payung disamping pintu masuknya. Mencoba menyadari akan maksud dari Alex, Byana pun menyiapkan dirinya akan kemungkinan yang mungkin terjadi.
Berdalih dengan mempersilahkan Alex untuk masuk, Byana yang menyadari bahwa kedatangan Alex kali ini karena merasa curiga akan sesuatu yang harus dia pastikan dengan kedua matanya sendiri.
“ Aku mengoleksi perlengkapan polisi seperti hiasan dinding itu.” Byana menunjuk dinding ruangan tv tepat sebelum Alex bertanya.
“ Seorang aktivis seni mengoleksi perlengkapan polisi?... unik sekali. Untuk apa kau mengoleksinya?” tanya Alex mengerutkan alisnya.
“ Aku... pernah mengalami suatu kejadian yang membuatku kagum pada seorang polisi. Lagi pula pekerjaan tidak ada hubungannya dengan hobby bukan?” balas Byana tersenyum tenang.
Alex menundukkan kepalanya seraya setuju dengan pendapat Byana. Tanpa sopan setiap sudut apartement Byana pun dilewati dan diamati oleh Alex dengan begitu sangat serius yang akhirnya membuat Byana merasa cukup.
“ Bukankah tidak sopan memperhatikan kediaman seseorang, seperti apa yang kau lakukan saat ini?” Byana menatap serius mulai merasa tidak nyaman.
“ Maafkan, dimana kesopananku ini...” Alex akhirnya terduduk di sofa ruangan tv.
“ Maafkan aku, aku hanya punya minuman juice jeruk ini.”
“ Terima kasih, maaf merepotkanmu... oya, apa kau juga akan menjenguk Sandra nanti?” tanya Alex mengalihkan perhatian sembari meminum juice itu.
“ Pasti. Tapi tidak hari ini.” Balas Byana yang masih menatap serius pada Alex.
Alex pun cukup menyadari bahwa Byana adalah wanita yang pandai dan tak bisa dibohongi. Dengan menaruh kembali gelasnya dan mengambil handphone miliknya dari balik jas, Alex memperlihatkan sebuah foto dimana rekam medis Lia yang sengaja disembunyikan malah bertimpal terbalik dengan Alex yang akhirnya mendapatkannya.
Byana mencoba bersikap biasa dan tenang agar tidak menimbukan kecurigaan Alex, menatap dengan biasa Byana duduk dengan menyilangkan kedua kakinya seraya angkuh dan merasa kesal dengan apa yang Alex lakukan saat ini.
“ Aku tidak menyangka kau akan menargetkanku juga seperti ini.” Ucap Byana.
“ Bukan hanya kau, tapi banyak sekali nomor handphone tidak dikenal masuk kedalam pesan media sosialku dengan mengirimkan sebuah foto seperti ini. Kau juga berpikir aku melakukan kekerasan pada assistenku itu?” Byana menyilangkan kedua tangan, mencoba menyudutkan Alex.
“ Byana, aku mendapatkan ini langsung dari meja resepsionis perawat dirumah sakit.”
“ Yaa, yaa, yaa. Hari ini kau bilang aku menembakkan peluru, kemarin ada yang bilang karena disiram cairan keras olehku, kemarinnya lagi ada yang bilang aku menusuk menggunakan pisau. Perlu kurincikan lagi apa saja yang dikatakan orang orang sepertimu?!”
Tatapan Alex tiba tiba membeku. Tidak menyangka akan tanggapan Byana yang begitu sangat berbeda dengan apa yang dia bayangkan sebelumnya hingga berani datang ke apartement milik Byana seperti ini.
Alex pun merasa gugup mengingat kembali peringatan keras sang kakak agar jangan mencari masalah dengan Byana karena dia adalah kekasih Aldrik Mahendra. Gawat, saat ini Byana adalah tunangannya!. Gumam Alex dalam hati.
“ Byana jangan salah paham. Justru... itu... aku... ingin memperlihatkan ini karena sepertinya ada yang berniat mengirimkan ini padamu.” Alex mencoba mencari alasan.
Byana terdiam dengan terus menatap pada Alex yang terlihat jelas mencari jalan keluar lain karena takut jika Byana sampai memberitahukan hal ini pada Aldrik, tunangannya.
“ Berniat, mengirimkan... padaku?. Aaahh.. jadi kau bermaksud membantuku untuk bersiap jika ada yang menyebarkan berita ini?” balas Byana dengan masih bernada menyudutkan.
“ Ya. Aku sudah mengenalmu, tentu tahu kau tidak akan mungkin melakukan hal seperti ini pada assisten pribadimu. Jadi karena itu aku----”
( BIP BIP BIP BIP BIP BIP ) Bunyi kode keamanan yang tertekan dan terbuka.
“ Byana... lihat aku belanja apa saja... kemari dan ban...tu. untuk apa kau kemari?! Apa kau tahu saat ini Byana seorang diri disini?!” ucap Hana dengan ketusnya.
“ Maafkan kelancanganku, mohon jangan salah paham. Aku hanya bermaksud untuk berbincang dengan Byana...” Alex langsung berdiri dengan begitu gugup.
“ Berita mengenai Byana masih belum hilang, apa kau bermaksud menambah berita lagi dengan datangnya seorang pria ke apartement milik Byana?! Terlebih Byana sekarang adalah tunangan Aldrik. Nona keluarga Mahendra!.”
“ Aku tahu, aku tahu... Byana, maafkan aku. Aku pergi dulu.”
__ADS_1
( BRRAAKKK ) Suara pintu yang tertutup dengan keras.
Kehilangan selera untuk memasak, Hana langsung terduduk diseberang Byana dengan menatap seolah mencoba mengintrogasinya. Merasa tersudutkan, Byana hanya dapat menundukkan kepalanya seraya tidak sanggup untuk melawan Hana.
Melihat Byana yang sudah seperti itu, kekesalan Hana seketika menghilang berganti menjadi rasa khawatir dan sedih hingga membuat Byana salah tingkah.
“ Aku tahu salah dengan membiarkan Alex masuk. Tapi jika dia tidak diperbolehkan masuk, kecurigaannya padaku tidak akan hilang... Hana, kumohon... percayalah padaku.” Ucap Byana dengan langsung berpindah tempat duduk disamping Hana.
“ Kecurigaan apa maksudmu?” tanya Hana.
“ Tatapannya saat menatapku tadi berbeda. Dengan senyuman menyeringai dapat terlihat jelas ada sesuatu yang dia inginkan. Aku mencoba untuk tidak terjebak perangkapnya.” Balas Byana.
“ Kemudian dia memperlihatkan sebuah foto rekam medis Lia yang sudah dirubah. Entah dari mana Alex bisa mendapatkan rekam medis Lia yang asli.” Lanjut Byana.
“ APA?! ALEX MENDAPAT FOTO REKAM MEDIS LIA YANG ASLI?!” Hana begitu terkejut.
“ Alex berkata bahwa dia mendapat foto itu langsung dari rumah sakit. Sandra dirawat disana lagi, karena itu keluarga mereka berada disana.”
“ Tapi... dari masa Alex....”
“ Ya, itulah... karena itu aku terpaksa bersandriwara lagi tadi. Sepertinya Alex percaya padaku.”
“ Kau, yakin?.”
“ Yakin. Karena saat terakhir berbicara, dia terlihat gugup dan sudah tidak berani menatapku seperti sebelumnya. Aku berpendapat, Daniel sepertinya memberikan peringatan pada Alex agar tidak menggangguku terutama Aldrik.”
Mendengar penjelasan Byana, Hana langsung memeluk Byana dengan erat dan kembali mengingatkan bahwa yang dilakukannya seorang diri seperti saat ini adalah sangat berbahaya dan meminta Byana untuk berhati hati dan Byana pun menyetujuinya.
********
-Di salah satu hotel di Jepang-
Menjelang malam saat Hana sudah berada didalam kamar dan Byana sedang asik menonton tv diruangan tengah, seperti biasa Hana pun memberikan laporan mengenai Byana pada Aldrik yang tentu sangat terkejut dengan apa yang terjadi pada Byana kali ini.
Mendapat kabar lainnya akan Alex yang mendapat sebuah foto akan rekam medis Lia yang asli, Aldrik langsung bergerak membereskan barang barangnya dengan Gestara yang juga bertindak cepat untuk memesan tiket penerbangan.
“ Pesawat jet pribadi sedang penuh jadwal. Ada pesawat biasa tapi penerbangan besok pukul 9 pagi.” Balas Gestara memberi kabar.
“ Pesan yang paling cepat jika ada.” Balas Aldrik gelisah.
Gestara pun langsung memesan tiket pesawat seperti apa yang diperintahkan oleh Aldrik. Berbanding dengan Aldrik yang langsung segera menghubungi Haris, kuasa hukumnya. Aldrik meminta perlindungan disekitar apartement milik Byana.
( TING TONG TING TONG ) Bunyi bel pintu apartemen Byana.
“ Haris?!” Byana begitu terkejut saat membuka pintu.
“ Nona Byana, apa anda dan Nona Hana baik baiks saja?” tanya Haris khawatir.
“ Baaa, baik tentu saja... memang ada apa?” tanya Byana kebingungan.
“ Penjaga sudah berada disekitar apartement. Nona Byana tidak perlu khawatir lagi. Sudah malam, saya permisi dahulu.” Haris menunduk sopan dengan langsung berlalu pergi.
Menyadari bahwa ini terjadi pasti karena laporan yang diberikan Hana pada Aldrik, Byana pun dengan kesal berjalan menuju kamarnya dimana Hana ternyata sudah mengambil inisiatif dengan mengunci pintu kamar terlebih dahulu, takut akan kemarahan Byana yang meledak.
“ KAU!! Masih tidak mau membuka pintu ini?!” ( BHAAKK BHAAKK BHAAKK) “ BUKA NENEK SIHIR!” teriak Byana dengan menghentak kesal pada pintu kamarnya.
“ Tidak mau... kau pasti akan memukul atau mencubitku!” balas Hana berteriak dari dalam kamar.
“ Masih berani melakukan pembelaan diri?! lihat saja kau saat keluar dari kamar ini, aku akan menghabisimu! Kau rubah tua!” Byana kembali berucap kesal.
“ Dasar musang licik! Jelas salah, masih keras kepala!” balas Hana kembali berteriak.
__ADS_1
Merasa kesal namun dapat membuat senyuman jahil diwajah masing masing, sifat keras kepala keduanya pun menjadi semakin erat, walau bukan terjalin karena ada hubungan darah.