
Pagi itu tidak kalah dari kesibukan penghuni rumah lainnya Noah pun masih sibuk dengan selimut dan juga bantalnya. Steven yang telah selesai dengan segala amanatnya kepada para penjaga rumah utama segera pergi mengecek tuan mudanya siapa tahu saja ada hal yang bias dibantunya dan ternyata benar, mata Steven terbelalak kaget saat mendapati Noah yang masih setia dengan petualangannya di pulau kapuk.
"Tuan muda... tuan muda... bangun tuan anda sudah terlambat" panggilan Steven hanya dijawab oleh tubuh yang meliuk liuk malas didalam selimut sesekali disertai erangan kecil.
"Tuan muda... bangun tuan" Steven terus menggoyang-goyangkan tubuh Noah yang masih setia didalam selimut.
"Hmmm" Noah masih belum mau bangun rupanya dia lupa hari ini hari apa.
Apa dia tadi malam lambat tidur? kenapa belum bangun juga mana sudah pukul delapan pagi apa dia lupa hari ini hari pernikahannya batin Steven.
"Tuan muda banguuuuun! hari ini anda akan menikaaaahhh!" Steven berteriak sekuat tenaga yang membuat Noah segera melompat dari atas tempat tidurnya.
Steven tersenyum karena rupanya caranya berhasil membuat Noah bangun, namun setelah diperhatikan beberapa saat senyumnya berubah jadi mimik bingung entah bagaimana.
"Menikah! menikah! menikah...!" Noah berteriak seperti orang kesetanan dengan mata yang masih tertutup dan berjalan mondar-mandir kearah ruangan sampai tiba-tiba...
Buukkkk...
Tubuhnya menabrak tembok kamarnya yang sejejeran dengan ranjangnya sendiri, dia tersungkur beberapa saat dilantai lalu segera terbangun dengan mata seperti sudah terisi daya 100 watt lalu segera berlari menuju kamar mandi. Steven yang melihat tingkah aneh tuannya masih berdiri mematung dengan rahang yang terbuka lebar sambil menatap lalu tubuh itu hingga menghilang dibalik pintu kamar mandi. Belum juga beberapa saat Noah kembali muncul dari balik pintu kamar mandi kali ini sambil berlari gaduh dengan handuk yang melingkar sembarang dipinggang dan tubuh yang masih setengah basah bahkan lantai yang dilewatinya juga sudah ikutan basah.
Iiiih tuan muda mandi tidak ya batin Steven yang keheranan karena mungkin belum ada 5 menit Noah masuk kamar mandi sudah kembali lagi.
Steven yang melihat semua itu semakin bingung melihat tingkah aneh tuannya bahkan Steven yang berdiri mematung pun hampir terpental akibat senggolan bahu Noah yang langsung berlari ke arah sofa meraih handuk kecil miliknya lalu segera mengeringkan rambutnya sembarang dan lagi-lagi belum juga beberapa saat Noah kembali mondar-mandir tidak jelas kali ini benar-benar tanpa tujuan.
“Baju… baju… Steven bajuuu!" wah kali ini Noah benar-benar sudah seperti orang yang kehilangan akal sehatnya dia bahkan berteriak sampai membuat Steven ikut gabut mencari baju yang tadinya mungkin akan sangat mudah didapatinya lalu tiba-tiba entah kemana dari pandangannya.
__ADS_1
Steven berlarian panik ke seluruh ruangan sampai kemudian dia menemukan yang dicarinya dan langsung menghambur ke arah barang tersebut.
"Ini tuan muda ini..." kata Steven sambil masih mengatur nafasnya yang tidak beraturan. Noah langsung mengambil baju tersebut dan langsung menyuruh Steven untuk membantu memakaikannya.
"Sekarang sudah pukul berapa?!" tanya Noah dengan nada tinggi sambil terus menggerak-gerakkan kakinya untuk mengusir kepanikan.
"E e eehh... pukul delapan lebih tiga puluh tuan" jawab Steven terbata-bata sambil menghempas kasar lengan kemejanya hanya untuk menemukan jam tangannya sendiri padahal diruangan tersebut nyata-nyata sebuah jam berukuran besar tergantung cantik di dinding yang tidak lagi kelihatan bagi keduanya.
"Apa?! kenapa tidak membangunkanku dari tadi? memangnya kamu dari tadi buat apa saja hah?!" nada tinggi Noah kali ini mulai mengalahkan whistle dari diva terkenal Celine Dion.
Kali ini Steven hanya diam seribu bahasa. Pikirnya tidak akan ada gunanya juga untuk menjelaskan panjang lebar jika amarah tuannya sedang meledak-ledak seperti sekarang ini.
Hehhh tadi kan saya sudah membangunkan tuan muda tapi tuan muda saja yang susah dibangunkan batin Steven menjerit menangkis segala tuduhan Noah di dalam hatinya.
Iya iya sabar tuan... aduuuh memangnya begini ya rasanya jika menjadi mempelai pria apa-apa jadi kacau batin Steven sambil terus membantu Noah.
Setelah selesai dengan urusan pakaian Noah langsung menyambar jam tangannya dan berlari ke luar ruangan.
Steven menghempaskan nafasnya pertanda lega namun tiba-tiba matanya menyapu sepasang benda mengkilat yang bertengger manis di atas sofa ruangan tersebut. Steven gelagapan bukan main.
"Eeeeh tuan muda tunggu!" teriak Steven namun belum beberapa saat ingin menyusul Noah pria itu sendiri kembali berlari menaiki tangga ke arah kamarnya dengan rambut yang kembali berantakan akibat berlari kesana-kemari.
"Steveeeen sepatuuuuu!" teriakan kali ini bisa-bisa membuat gendang telinga Steven meledak.
Diruangan lainnya saat waktu menunjukkan pukul sembilan lebih dua menit Sita telah selesai dengan dandanan serta rambut Marcella.
__ADS_1
"Violla!" teriak Sita dengan nada membanggakan diri karena dirinya sudah selesai dengan ukiran terakhirnya di wajah Marcella.
Marcella hanya menatap Sita penuh curiga pasalnya dari awal dia didandani dia sama sekali tidak diperbolehkan untuk melihat ke arah kaca, bahkan Sita mendandaninya saja membelakangi meja rias jadi otomatis Marcella membelakangi kaca besar di meja rias tersebut.
"Aduh sepupuku sayang jangan kuatir, sesuai permintaan mu aku telah mengubah upik abu ini menjadi seorang cinderella" kata Sita yang rupanya paham dengan isi kepala Marcella.
"Iiss awas saja yaaa" jawab Marcella dengan nada mengancam dibalas dengan kekehan kecil Sita. Saat Sita akan memutar kursi Marcella untuk menghadap ke arah cermin namun baru akan diputarnya tiba-tiba ada ketukan dari arah pintu dan tiba-tiba
Ceklek...
"Ooh" Tamara spontan menutup mulutnya dengan kedua tangannya berusaha menahan tangis melihat putri kecilnya. Tamara bahkan seperti melihat pantulan wajahnya sendiri ya kecuali mata serta tatapan milik David yang dimiliki putrinya tersebut.
Berbeda dengan Tamara Sita bahkan membuka rahangnya lebar saat melihat Tamara dan Marcella yang sudah seperti saudara kembar saja. Tamara segera mengusap matanya dan perlahan mendekat ke arah putrinya.
"Eeeh bibi jangan memeluknya! kumohon jangan merusak karya keponakanmu ini bi" pinta Sita seraya memohon saat Tamara akan menghamburkan pelukannya ke arah putrinya. Tamara dan Marcella pun hanya tertawa lucu melihat tingkah Sita.
"Aahh baiklah baiklah, oh iya bisakah kau membantu bibi memasangkan ini dirambut sepupumu?" tanya Tamara sambil menyodorkan sebuah kotak perhiasan berwarna hitam yang berisikan perhiasan berbentuk beberapa bunga lily yang mekar dengan permata kecil yang mengelilinginya serta bagian tengah dari masing-masing bunga yang mekar itu terdapat mutiara indah yang bertengger dengan manis serta di bagian bawahnya ada dua ruas sisir sebagai media lekatnya di rambut. Sederhana namun sama sekali tidak mengurangi indahnya perhiasan itu.
"Waaaah indahnya bibi beli dimana?" tanya Sita dengan mata yang terbelalak kagum. Sita memang memiliki ketertarikan sendiri dengan perhiasan jadi sangat mudah baginya untuk mengenali permata dan mutiara asli pastinya dengan harga yang fantastis. Marcella pun tak kalah kaget dengan Sita karena selama ini sang ibu adalah orang yang sangat sederhana dari segi penampilan dan sangat jarang dilihatnya sang ibu menggunakan bahkan membeli perhiasan mahal seperti itu. Tamara pun menatap lekat mata anaknya sambil menggenggam erat kedua tangan Marcella.
"Itu hadiah dari ayahmu untuk ibu saat kami menikah. Bukan bentuk atau keindahannya namun ketulusan cinta di mata ayahmu saat memberikannya kepada ibu yang membuat barang ini menjadi harta terbesar ibu setelah kalian. Dari dulu memang ibu menyimpannya dengan baik dengan maksud untuk diberikan kepadamu saat kau menikah. Lalu setelahnya kau akan memberikannya kepada putrimu nanti ketika dia menikah jadi setelah ini kau harus menjaganya dengan sangat baik" perkataan Tamara membuat Sita dan Marcella terharu bahkan dari cara bicara Tamara Sita tahu bahwa bibinya itu sangat mencintai pamannya.
Setelah Sita sadar Marcella yang juga sedih akan menjatuhkan air matanya, gadis itu segera menyimpan kotak perhiasan itu di meja rias dan mengalihkan perhatian dengan mengambil baju pengantin Marcella yang diantarkan oleh pelayan saat Marcella di rias.
"It's time for the dress!" teriak Sita dengan senyuman 100 wattnya sambil memegang dress pengantin Marcella, tingkah Sita itu diiringi dengan seyuman dan juga tepukan tangan dari Tamara yang tidak sabar melihat putrinya memakai dress pernikahannya.
__ADS_1