
Mencoba menepati janji terkadang terasa begitu sulit disaat hati berkata lain. Beda halnya dengan logika yang selalu berkata fakta kebenaran, kembali merasa jengkel pada diri sendiri yang tak mampu untuk menahan diri, bagai orang bodoh dikumpulan orang yang sedang berdebat.
“ Byana, kau sedang apa?! ayo jangan sampai Vlora melihatmu!.”
Kembali sebuah nama terdengar serasa menampar wajah dengan keras. Tentu saja peringatan Hana begitu sangat beralasan. Bukankah dirimu sendiri juga yang menyanggupi bahkan yang memberikan persyaratan ini?, lalu bagaimana bisa tiba tiba merasa ragu. Bergumam dalam hati
Ingin berlari kearahnya hanya untuk menarik tangan yang melingkar hangat disalah satu lengannya, sungguh sangat kekanakan sekali mengingat hubungan ini pun masih belum jelas akan titik temu yang masih diambang kebingungan hanya berlandas kepercayaan semata.
“ Byana, setelah kalian sampai di kamar masing masing untuk menaruh barang, segera temui aku di restaurant hotel untuk makan siang bersama. Ada yang ingin kujelaskan.”
Teringat akan Gestara yang juga berhutang penjelasan pada kami berdua, tersedianya sebuah mobil pribadi kembali yang menjemput dibandara membuat Hana dan Byana merasa kagum atas kekuasaan keluarga Mahendra meski berada di negara lain.
Mencoba untuk mengalihkan pikiran dengan menyibukkan diri atau sekedar menikmati pemandangan yang berbeda, tidak ada salahnya merasa kagum dengan pelayanan dan juga fasilitas yang diberikan meski tidak tahu ada apa sebenarnya dibalik ini semua.
“ Byana, apa menurutmu mereka berdua aneh?” tanya Hana saat memasuki lift hotel menuju ruangan kamar.
“ Bukan hanya aneh. Meski hanya sebentar melihat Aldrik di pesawat, tapi dia terlihat seperti begitu mengkhawatirkan sesuatu.” Balas Byana dengan serius.
“ Ya, aku juga melihatnya. Meski... secara tidak sengaja, melihat... dia menciummu dengan lembut...” ucap Hana jahil sembari memajukan bibirnya ke depan.
“ Berhenti bercanda... kita masih tidak tahu tujuan kita dibawa kesini itu untuk apa!” Byana mencubit tangan Hana seraya menegurnya yang masih tertawa lepas.
Tidak dipikirkan oleh mereka berdua akan berada diruangan dan lantai yang berbeda. Menatap satu sama lain, Byana dan Hana pun mencoba memastikan dulu ruangan apa yang diberikan pada mereka hingga memaksa mereka berada dalam dua kamar yang berbeda.
“ HAAHH! Aldrik, kau serius?. Menyuruhku sendirian di president suit yang besar ini?! kau pasti bercanda!” ucap Byana sedikit kesal karena merasa tidak nyaman.
Tidak perlu lagi mengelilingi ruangan kamar mewah yang sudah bisa terbayangkan oleh Byana, kembali berbalik berjalan menuju pintu lift, Byana pun segera menuju restaurant seperti yang diperintahkan Gestara sebelumnya.
Kembali mendapatkan perlakuan istimewa dengan layanan ruangan VIP, terlihat Gestara dan Hana yang begitu menikmati waktu dengan mulai menyantap sushi dan beberapa hidangan lainnya seperti tidak terjadi masalah apa pun.
“ Apa kalian sedang berkencan?. Haruskah aku makan dibeda ruangan?” tanya Byana dengan wajah dan nada bicara yang datar.
“ Aaahh Byana... sorry sorry, aku baru tahu Hana mencampur sushi ini dan saat kau memakannya, rasa sushi ini terasa beda...” ucap Gestara seolah merasa kagum.
“ Hati hati, kakak tua ini suka memberikan wasabi begitu banyak pada sushi.” Balas Byana jahil sembari duduk diseberang mereka berdua.
Melihat Byana juga mulai menyantap makanan, Gestara pun mulai menjelaskan apa maksud dari mereka membawa Byana dan Hana ke Jepang. Tak urung akan Byana yang pandai memainkan alat musik, ternyata Aldrik merencanakan sesuatu yang membuat Byana begitu terkejut.
Gestara mengendurkan dasi yang kenakannya saat ini melihat expresi wajah Byana yang begitu mengerut. Terlihat penolakan keras padanya dengan tidak adanya persiapan sedikit pun terlebih mereka yang hanya memberikan satu hari kurang dari semalam.
“ Kalian pikir bisa bermain piano aku langsung bisa menguasai semua jenis alat musik?. KENAPA BAIK KAU DAN ALDRIK MENYEBALKAN SEKALI!” ( BRRAAAKKK) Byana yang kesal meninggikan suaranya dengan menghentak meja makan.
Sadar akan reaksi Byana yang akan seperti ini, dengan Aldrik yang sengaja memesan ruangan VIP yang terpisah membuat Gestara dan Hana merasa tenang karena tidak ada tatapan orang orang yang menatap atau bibir yang bergumam seolah menyudutkan.
“ Byana... saat ini kita sedang berada di negeri orang... bisa kau sedikit me---”
“ TIDAK BISA!. Acara pertemuan seni apa yang kau maksud ini!. Jelas aku hanya secara kontrak berperan sebagai aktivis seni, sekarang dengan pertemuan bisnis dengan mudahnya memintaku memainkan alat musik tradisional jepang?, kau gila?!”
“ Byana... pelankan suaramu...” ucap Hana mulai merasa malu dan risih.
“ AKU TIDAK PERDULI!. Bawa Aldrik kemari jika perlu, aku akan menentangnya!. Kalian pikir mudah mempelajari suatu alat musik, terlebih dengan waktu yang singkat!” ucap Byana begitu kesal.
__ADS_1
Gestara hanya bisa meneguk berat minuman teh dingin dengan tangannya yang sedikit bergetar. Teringat akan Byana yang pandai memainkan senjata, Gestara pun bergumam dalam hatinya. Aldrik, kau sialan! Kenapa harus aku yang menjelaskan ini pada Byana dan bukan kau sendiri!.
Melihat Gestara yang terlihat bingung dengan apa yang harus dia lakukan melihat reaksi Byana seperti gunung api yang siap meledak, Hana memberikan selembar pamphlet berisi acara amal penggalangan dana dari pertunjukan seni di sebuah gedung kesenian.
“ Gestara... mungkin kau bisa menjelaskan lebih baik lagi ke Byana mengenai hal ini.” Ucap Hana sembari memberikan isyarat matanya pada kertas pamphlet itu.
“ Byana, sebenarnya rekan bisnis kali ini begitu penting dan ternyata istri dari pak Fumihiro dan Hideki menyukai seni. Mereka pun memintamu untuk bermain alat musik begitu mendengar kau yang akan datang ke Jepang hari ini.” Jelas Gestara dengan begitu gugup.
“ Lalu kenapa bukan Vlora saja melakukannya?! Bukankah saat ini mereka sedang bersama?” tanya Byana dengan nada merendah.
“ Aldrik sebenarnya mengatur rencana agar Vlora tidak bertemu dengan pak Fumihiro dan Hideki. Karena itu Aldrik meminta Vlora untuk menemani para istri direktur lainnya untuk pergi ke suatu tempat.” Balas Gestara mencoba menjelaskan.
“ Sepertinya Aldrik begitu memikirkan hal ini karena Vlora berencana mengambil alih keuntungan besar saham mereka bukan?” tanya Byana kembali.
“ Ya. Bahkan kemarin sebelum keberangkatan Aldrik sengaja bertemu dengan kuasa hukumnya untuk membuat suatu perjanjian baru yang saat ini juga sedang dibahas oleh perusahaan mereka. Saat ini pun kami sedang menunggu kabar.”
“ Byana, kau dengar?... mereka sedang memperjuangkan sesuatu karena tidak ingin rumah milik paman dan bibimu hancur lalu didirikan Mall. Apa kau tidak bisa membantu mereka?.”
Menatap pada Gestara ditambah dengan Hana yang ikut terbawa suasana, membuat kemarahan Byana akhirnya mereda. Tak kuasa dengan tekadnya yang juga sudah berjanji untuk bekerja sama dengan Aldrik, akhirnya membuat Byana tidak memiliki pilihan lain selain menyetujuinya.
Gestara merasa begitu lega dengan menghembuskan nafas panjangnya, tak urung akan Hana yang ikut tersenyum melihat kebaikan hati Byana yang meski saat ini sedang tertekan namun masih dapat berpikir secara rasional dan berbaik sangka.
“ Ada beberapa alat musik tradisional jepang... sejauh yang mungkin bisa kupelajari dalam jangka waktu yang mepet, apa kau bisa membawakan alat musik Shamisen?” tanya Byana saat sudah berada didalam ruangan kamarnya.
“ Biwa. Koto. Taiko. Lalu, Shamisen... semua sudah disediakan dibalik kamar ini, tinggal kau pilih...” ucap Gestara senyum menyeringai sembari membuka sebuah pintu ruangan.
“ HAAHH!... HA HA HA... kalian... lucu sekali.” Byana mengerutkan wajahnya merasa tidak percaya dengan apa yang dia lihat dan harus dia kerjakan.
“ Pergi saja dari sini dan berkencanlah sebelum Taiko itu aku pukulkan pada kepala kalian.” Byana masih merasa kesal, berbicara dengan wajah datar dan dingin.
Tidak ingin mencari masalah yang dapat membuat mood perasaan Byana semakin kesal, baik Hana dan Gestara pun segera meninggalkan kamar Byana dan langsung pergi sesuai dengan perintahnya. Berada sendirian dikamar yang luas, kekesalan hati Byana seperti tidak akan mereda begitu saja.
Tersisa waktu kurang dari sepuluh jam untuk tampil, membuat Byana semakin merasa tertekan karena masih belum begitu dapat menguasai alat musik yang coba dia pelajari. Waktu tengah malam pun berganti menjadi dini hari dimana Byana sudah tidak sanggup lagi untuk tidak memaksakan matanya untuk tetap terbuka dan berlatih kembali.
“ Byana, maafkan aku. Selamat tidur....”
Kecupan lembut dikening setelah merasa bagai terbang berjalan sendiri menuju kamar dan tiba tiba tertidur diatas tempat tidur. Entah mimpi atau tidak, Byana merasa belaian lembut dikepalanya semakin merajut mimpi indah dengan wangi aroma parfum dan kehangatan yang sangat dia kenali berada disisinya untuk menemani selama beberapa saat.
“ Byana... kau berencana tidur sampai jam berapa?! BANGUN BYANA! HEY... BANGUN!” teriakan Hana menggoyangkan tubuh Byana yang masih tertidur pulas.
“ Aaappaa... Hana, biarkan aku tidur sebentar lagi saja...” Byana menarik selimut untuk menutupi wajahnya.
“ Acara seni amal akan dimulai jam 2 siang nanti. Sekarang sudah jam 9. Apa kau tidak siap siap dulu?” balas Hana kembali yang kini terduduk disamping tempat tidur Byana.
“ Jam 9... baru juga, jam 9.~ ~ ~ APA?! KENAPA BARU MEMBANGUNKANKU!! AARRGGHH KAKAK TUA, BISAKAH SEKALI SAJA BERPIHAK PADAKU?!” teriak Byana dengan langsung masuk kedalam kamar mandi.
“ Dimana... salahku?. Bukankah aku sudah membangunkanmu sekarang?...” Hana tercengang mendengar omelan Byana yang kembali marah marah padanya.
Dengan kecepatan kilat Byana membersihkan dirinya dan keluar untuk mempersiapkan pakaian yang akan dia kenakan nanti. Namun kembali terkejut dengan kehadiran dua wanita berpakaian asing dengan tampilan tak biasa, dengan hanya tertutup sebuah handuk putih Byana pun merasa risih dan malu kepada mereka.
“ Gomen'nasai, korehanandesuka?” tanya Byana mencoba meminta penjelasan pada beberapa wanita yang berpakaian kimono lengkap.
__ADS_1
Kenapa mereka tidak menjawab pertanyaanku dan malah sibuk sendiri?. Apa bahasa jepangku yang salah?. Atau mereka lebih mengerti bahasa inggris?. Gumam Byana dalam hati merasa kebingungan dengan tingkah wanita berkimono itu.
“ I'm sorry mam... but, what are you doing now?” tanya Byana kembali mencoba meminta penjelasan dengan masih merasa risih karena masih hanya menggunakan selembar handuk.
“ Nona Byana, tuan Aldrik sudah menyiapkan ini dan kami akan membantu anda untuk mengenakan serta merias anda.” Ucap salah satu wanita berkimono itu dengan nada bicara yang masih mencirikan khas berbicara orang jepang.
“ Kau bisa bahasa indonesia?... waahh... keren. Tapi tunggu, apa itu aku yang kenakan?. APA AKU HARUS MEMAKAI KIMONO DAN SENDAL KAYU ITU?” tanya Byana yang tanpa sadar meninggikan suaranya.
“ Ya Nona... berdasarkan perintah tuan Aldrik, anda pasti akan sangat kesulitan menggunakannya seorang diri, jadi biarkan kami membantu...” balas wanita berkimono kembali dengan tersenyum.
Merasa tidak memiliki kewenangan lagi, Byana pun akhirnya merasa pasrah dengan apa yang mereka kenakan pada tubuhnya saat ini. Balutan kain lembut berwarna biru langit yang hangat, terpadu sempurna dengan warna awan putih dengan kelopak bunga sakura sebagai penghias.
Sembari membiarkan mereka mengikatkan obi pada kimononya, Byana pun mencoba mencari berapa harga kimono karena terlihat begitu mewah dengan hiasan di rambutnya yang indah. Kalau di kurs rupiah, jadi harganya...
“ ALDRIK KAU GILA! AKU BISA MEMBELI SEBUAH MOBIL DENGAN HARGA KIMONO INI!” tanpa sadar Byana berteriak karena merasa terkejut.
Menatap pada kedua wanita itu, Byana pun merasa malu melihat mereka sedikit tertawa dengan melupakan bahwa mereka sebenarnya mengerti bahasa indonesia. Tertunduk malu, Byana pun manaruh handphonenya diatas meja dan membiarkan jemari tangan mereka merias dengan anggun.
Detik berlalu menjadi jam, Hana masuk kedalam kamar Byana yang juga dengan penampilan yang berbeda. Kimono berwarna pink muda dengan bunga berwarna orange muda sebagai pemanis. Rambut yang sama sama tersanggul, Hana terlihat begitu berbeda.
“ Byana... sungguh, kau terlihat cantik sekali... luar biasa, apa Aldrik yang memesankanmu kimono ini?” tanya Hanya dengan raut wajah terkagum.
“ Aku pikir melihat kimono yang ku pakai saat ini saja membuatku takut untuk berjalan, ternyata... kau benar benar harus hati hati saat berjalan... Byana, jangan sampai kimono itu kotor.” Lanjut Hana kembali dengan menggelengkan kepalanya.
“ Bagaimana jika kita bertukar kimono?” tanya Byana konyol dengan wajah polos.
“ Yaa, tentu saja bisa. Yang akan aku lakukan bukan datang ke acara itu, tapi akan langsung aku jual kimono itu. Kau puas dengan jawabanku?. Dasar bodoh....”
Tertawa bersama, baik Hana dan Byana pun sudah selesai berhias. Gestara pun mengetuk pintu dan melihat mereka berdua begitu terkagum terlebih pada Hana. Membiarkan Gestara menikmati waktu sesaat bersama Hana, dengan sisa waktu yang tersisa Byana kembali mencoba berlatih kemampuannya.
Waktu pertunjukan pun datang, dengan Aldrik yang sudah menunggu di lokasi gedung kesenian terlihat keramaian dengan kalangan atas dimana para pejabat atau selebritis berpengaruh jepang pun hadir. Tersadar pada tatapan matanya yang tidak berkedip, Aldrik dengan cepat menghampiri Byana dan langsung memberikan ciuman selamat datang pada keningnya dengan lembut.
“ Kau... terlihat begitu cantik. Ternyata aku tidak salah memilih warna dan model ini untukmu.” Ucap Aldrik dengan melingkarkan tangannya pada pinggang Byana.
“ Aldrik San, is she your wife?” tanya seorang wanita berpakaian kimono yang juga terlihat begitu elegan dan cantik ciri khas wanita jepang.
“ Byana, this is Mr. Fumihiro's wife named Kaori. And this is Mr Hideki's wife named Azumi.” Ucap Aldrik mencoba memperkenalkan para istri rekan bisnisnya yang penting.
“ Nice too meet you... I’m Byana...” balas Byana sopan dengan bersalaman dengan Kaori dan Azumi.
“ Byana, saat pentas seni nanti Kaori akan memainkan alat musik Koto, dan yang akan menemanimu bermain Shamisen adalah Azumi. Baik baiklah dengannya...” bisik Aldrik dengan nada jahil.
“ Baiklah... Tapi bersiaplah, dengan obi yang mengikat erat ini hingga sulit untukku bernafas dan berjalan, akan aku pindahkan pada lehermu nanti!” Bisik Byana dengan menarik jas Aldrik agar mendekat padanya.
Aldrik seketika tertawa lepas dan terlupa akan kedua rekan kerja dan istrinya yang menatap penuh kebingungan. Dengan Byana yang mencubit pinggang Byana, Aldrik hanya dapat menahan dengan tersenyum tampan dengan berdiri tegap berjalan masuk menuju gedung kesenian.
“ Byana kau pasti bisa. Aku akan menunggumu dikursi tepat didepan, disamping Hideki.” Ucap Aldrik dengan mengecup kening Byana saat membantunya naik keatas panggung.
“ Baiklah... doakan aku agar tidak melakukan kesalahan...” balas Byana merasa begitu gugup.
“ Tidak akan. Byana... kau wanita mengagumkan. Ingat itu.”
__ADS_1
Senyuman dengan langkah yang mulai menjauh pun kini hanya dapat terasa sebagai penyemangat. Tak urung akan dirinya yang kini menatap penuh bangga, harusnya diri ini pun mempertunjukkan kemampuan yang tidak mempermalukan dirinya sebagai Nona muda keluarga Mahendra.