
Sinar rembulan menerpa wajah cantik Marcella yang sudah terlelap di atas pangkuan ibunya di sofa panjang yang sengaja diangkat oleh para pelayan atas permintaan nona muda mereka agar dapat bermanja dan bersantai dengan ibunya.
Pemandangan itu pun tidak lepas dari dua pasang mata yang melihat menengok dari balkon kamar sebelah. Steven yang baru saja ke balkon untuk mengantarkan beberapa berkas yang akan ditandatangani Noah juga mengarahkan pandangan ke arah Noah memandang.
Noah benar-benar menikmati pemandangan itu sekarang. Noah merasakan kehangatan menerpa tubuhnya saat melihat momen ibu dan anak itu. Ada sedikit rasa cemburu yang diselipkan Noah dibalik pandangannya. Jika saja ibunya masih hidup dia juga tidak akan memperdulikan berapa umurnya sekarang dia akan bermanja-manja ria pada sang ibu persis seperti Marcella sekarang.
Steven kemudian menatap dalam tuan mudanya tersebut dia tahu persis bagaimana perasaan Noah sekarang. Pandangan Steven kembali ke arah ibu dan anak tersebut, namun kali ini dia hanya fokus pada sang anak yang ada di pangkuan sang ibu. Steven benar-benar merasa iba dengan keadaan kedua majikan mudanya, yang satu harus mengorbankan masa mudanya yang berharga dan masih sangat panjang untuk mengurusi perusahaan keluarga tanpa ayah atau ibu lagi disampingnya, dan yang lain selama ini harus hidup susah untuk bertahan hidup bahkan turut mengorbankan masa mudanya untuk membantu mempertahankan perusahaan keluarga. Yah, tapi menurut Steven dari kesemuanya itu Marcella tetap beruntung karena masih memiliki ayah dan ibu.
Di depan rumah David dan pak Hans berjalan mengantar Iron menuju mobilnya yang sebelumnya telah dikeluarkan sopir rumah utama dari garasi karena sang majikan akan segera pulang ke kediamannya.
Setelah berpamitan dengan Iron pak Hans undur diri untuk segera beristirahat mengingat hari sudah jauh malam sementara besok merupakan hari super sibuk karena pernikahan akan dilangsungkan. Setelah pak Hans tidak lagi kelihatan Iron segera menghambur adiknya dengan pelukan erat sehingga membuat David kesulitan untuk bernafas.
"Uhuk uhuk kak lepaskaan a aku kekurangan oksigen" kata David terbata-bata. Iron langsung melepaskan pelukannya lalu menggertak David kesal dengan tinjunya. David yang melihat itu hanya terkekeh lucu.
"Aku jadi merasa bersalah karena tidak ada untukmu selama ini, bahkan aku saja mendapatkan nomor ponselmu dari asistennya Noah" kata Iron dengan nada yang sangat bersalah.
"Lagi pula ini juga salahmu! kenapa kabur tidak bilang-bilang" tunjuk Iron kesal.
__ADS_1
"Kan sudah kubilang tadi, jika kabur bilang-bilang maka bukan kabur namanya"
"Oh iya ya..." Iron menggaruk kepalanya lalu mereka berdua tertawa.
"Oh iya tadi kenapa tidak memelukku saja didepan pak Hans?" goda David, Iron yang mendengarnya langsung melototkan kedua matanya. David tahu betul sifat Iron yang gengsian.
"Kak aku ingin memberitahumu sesuatu. Ada satu hal yang lupa kusampaikan didalam. Apakah setelah kepergianku dari rumah ada diantara para pelayan yang dekat dengan Rico? atau ada yang langsung resign setelah kepergianku?" tanya David.
"Mana aku tahu? memangnya aku mesin waktu apa itu kan sudah sekitar 20 tahun yang lalu, mana aku ingat. Lagi pula sebelum kepergianmu kau tahu sendiri aku lebih banyak menghabiskan waktu di apartemenku. Oh iya kenapa memangnya?" tanya Iron dengan tatapan ingin tahunya.
"Sebenarnya aku yakin jika dulu ada diantara para pelayan yang mungkin menjadi mata-mata Rico. Aku ingat betul saat aku selesai dimarahi ayah habis-habisan ada sepasang mata yang memperhatikan kejadian itu. Bukan itu saja ketika aku menghabiskan waktuku menelfon Tamara di balkon kamarku aku selalu saja melihat punggung pria yang sama selalu lewat di halaman, sepertinya nguping" jelas David. Iron pun ikut berfikir.
Setelah Iron berpamitan pulang dan mobilnya telah hilang dari pandangan David, David segera kembali ke kamarnya. Di dalam kamar David tidak menemukan Tamara David langsung tersenyum pikirnya Tamara sekarang pasti berada di kamar Marcella. David segera melangkahkan kakinya keluar dari kamar tempatnya menginap menuju ruangan dengan warna pintu yang masih sama seperti terakhir kali dilihatnya, bahkan permukaan kayu pintu yang masih selembut dulu ketika terakhir kali disentuhnya. David pun melangkah masuk ke kamar yang ditempati Marcella. Pandangannya terhenti ke arah pintu kaca balkon yang terbuka.
"Sayang..." panggil David. Tamara yang menyadari kedatangan suaminya langsung mengarahkan jari telunjuk di depan bibirnya pertanda jangan berisik karena sang putri sedang terlelap. David yang melihat wajah nyenyak putrinya hanya mengangguk lalu menggendong anaknya membaringkannya di tempat tidur dan mereka bergantian mencium kening putrinya lalu kembali ke kamar untuk beristirahat.
Setelah kepergian Steven dari ruang kerjanya Noah kembali melangkahkan kakinya ke arah balkon untuk kembali menikmati pemandangan yang mampu menyejukkan hatinya, namun saat sampai di balkon yang dicari sudah tidak nampak lagi bahkan sekarang puntu kaca telah tertutup rapat.
__ADS_1
Noah menghembuskan nafasnya kasar. Coba saja jika tadi Steven tidak lama-lama diruang kerjanya dia pasti masih bisa menikmati pemandangan ibu dan anak itu. Saat akan kembali ke arah kamarnya langkah kaki Noah terhenti entah apa yang terlintas dipikirannya. Noah segera berbalik dan lagi-lagi melakukan aksi kura-kura ninja versinya hingga mendarat sempurna di balkon kamar Marcella. Noah segera meraih pintu kaca dan membukanya.
Noah berjalan perlahan ke arah ranjang Marcella berusaha agar gadis cantik itu tidak terbangun. Setelah dirasanya cukup dekat Noah menghentikan langkahnya. Sekarang posisinya sedang berjongkok dengan tumpuan sebelah kakinya di pinggir ranjang Marcella. Noah menatap wajah cantik itu dalam-dalam.
"Maafkan aku" Noah berbisik di depan Marcella sebelah tangannya mengusap perlahan kepala gadis itu.
"Maaf karena harus melibatkanmu, maaf karena terkadang aku memperlakukanmu dengan kasar, maaf karena merenggut masa depanmu dan menambah penderitaan serta kesedihanmu, maaf untuk segalanya" bisik Noah lirih di depan Marcella. Ada kristal bening di mata pria itu, namun dia berusaha menahannya.
"Aku berjanji akan membahagiakanmu meski sulit tapi aku akan selalu berusaha" setelah menyampaikan kalimat terakhirnya Noah mengecup kening gadis itu sangat lembut. Setelah puas menatap wajah itu Noah kembali ke kamarnya untuk beristirahat.
Apakah kali ini dia keluar lewat pintu kamar? tentu saja tidak. Noah kembali melakukan aksi kura-kura ninja versinya untuk kembali ke kamarnya.
Setelah mendengar suara pintu kaca yang telah tertutup sempurna sepasang mata indah Marcella terbuka. Ya, semua yang dilakukan dan dikatakan Noah didengarnya dengan jelas.
Perkataan Noah membuat senyumnya merekah. Mengingat bagaimana Noah berjanji akan membahagiakannya seketika dia merasa bahwa semuanya akan baik-baik saja. Marcella kembali menutup matanya untuk kembali terlelap setelah tadi dia terbangun dan tiba-tiba merasa sangat gugup untuk besok. Tadi dia bahkan bermimpi akan terjatuh saat berjalan menuju altar, untung saja rangkulan tangan seseorang menyelamatkannya, tangan yang membawa kehangatan tersendiri baginya.
Semua orang beristirahat dengan nyenyak malam itu mengingat besok adalah hari besar bagi seluruh keluarga.
__ADS_1
Seluruh keluarga terkecuali Rico dan putrinya tentu saja.