Belajar Mencintaimu

Belajar Mencintaimu
KECURIGAAN


__ADS_3

Setelah perbincangan panjang di ruang keluarga, pak Hans pamit kepada ketiga majikannya untuk kembali mengawasi kerja para pelayan yang sedari tadi sibuk membereskan sisa-sisa pernikahan Noah. Noah sendiri telah beranjak duluan menuju kamarnya untuk membersihkan diri setelah hampir seharian memakai jas pernikahannya.


"Kak..."


"Hmmm..." Iron membalas panggilan pria didepannya dengan berdehem pelan.


"Apakah menurutmu dia orang yang sama?" pertanyaan David malah membuat Iron menunjukan mimik wajah yang kebingungan.


"Dia siapa?" tanya Iron.


"Ituuuu..."


"Itu apa?"


"Orang yang kuceritakan tadi malam"


"Aku rasa dia adalah orang yang sama dengan orang yang meracuni Kak Anton" tampak Iron berpikir sejenak.


"Maksudmu dia adalah orang yang sama dengan yang memata-mataimu?" tanya Iron.


"Hmmm" kata David santai sambil menatap dalam kedepan yang tampaknya sedang berpikir.


"Hmmmm... aku rasa mungkin dia adalah orang yang berbeda" jawab Iron enteng.

__ADS_1


"Mungkin saja Kak, aku yakin orang yang memata-mataiku itu adalah orang suruhan Rico pasti dia adalah orang yang sama mengingat betapa leluasanya dia berkeliaran di rumah ini" Iron kembali berpikir sejenak.


"Sepertinya bukan Vid, aku yakin yang meracuni Kak Anton adalah orang dari Black Snake yang sengaja diutus untuk tugas itu lagi pula Black Snake baru dibentuk Rico setelah kurang lebih 2 tahun kepergianmu" jelas Iron.


"Begitukah?" David masih teguh dengan pendapatnya entah mengapa dirinya begitu yakin akan hal itu.


"Tentu saja lagi pula yang tega melakukan hal sekeji itu hanyalah segerombolan orang bodoh yang dilatih itu" lanjut Iron meyakinkan David. David pun mengangguk sedikit membenarkan namun bukan berarti dia akan berhenti untuk mencari tahu karena hal itu juga akan berpengaruh bagi putri tersayangnya.


"Oh iya" David langsung mengarahkan tatapan ke arah suara sang kakak berharap ada petunjuk lain yang bisa diberikan Iron padanya.


"Tumben tadi kau menyebutkan namanya hanya nama saja biasanya kan dengan embel-embel KAKAK" Iron sedikit menekan kata kakak yang membuat David menggerutu kesal akibat digoda Iron. Mereka berdua pun kemudian tertawa terbahak-bahak.


...


"Hah! ti tidak apa-apa" jawab Marcella asal sambil memperbaiki posisi duduknya.


"Hei kau belum menjawab pertanyaanku tadi, apa ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Steven kembali masih enggan memalingkan tatapannya dari gadis yang duduk didepannya. Marcella kembali menatap jauh ke dalam hutan dari rumah kaca sebelum kemudian mengembuskan nafasnya kasar.


"Aku hanya sedikit teringat sesuatu"


"Kejadian di pesta tadi?" tebakan tepat.


"Hmmm..." Marcella menunduk memainkan jari-jarinya yang sibuk meremas satu sama lain. Steven yang memperhatikan majikannya itu seakan mendengarkan segala hal dari tindaknya.

__ADS_1


"Katakanlah..."


"Hmmm?"


"Katakan saja, lepaskan segala hal yang mengganggu pikiranmu" lanjut Steven sambil menatap lembut mata gadis itu. Marcella kembali menarik dalam-dalam nafasnya seakan yang didalamnya siap dimuntahkan semuanya.


"Apa salah kami?" seketika Marcella membalas tatapan Steven dengan tatapan yang lebih dalam.


"Apa salah kami sehingga paman dan kakak sepupu begitu membenci kami?" Marcella mulai berkaca-kaca suaranya gemetar menahan segala amarah bercampur kesedihan yang mendalam.


"Aku... aku selama ini menerima semua penghinaan dari mereka, hatiku sakit Steven hiks hiks... tapi aku selalu berusaha keras untuk menelan segalanya walaupun sangat pahit rasanya bagiku hiks hiks..." Steven berusaha keras untuk menahan dirinya saat mata gadis itu menjatuhkan kristal bening pertamanya.


"Tapi tadi itu sudah benar-benar keterlaluan kau tahu itu kan?! hiks hiks... kau juga ada disana saat... saat dengan mudahnya mereka menghina ayah dan ibuku hiks hiks... hatiku seakan ditikam oleh ratusan pisau hiks hiks..." jangan salahkan Steven kali ini, seberapa pun pria itu berusaha untuk diam namun pertahanannya jebol juga. Dengan gerakan cepat pria tegap itu bangkit dari duduknya memutar tempat duduk Marcella lalu berlutut dan memeluknya erat.


Tangis Marcella semakin menjadi dalam pelukan Steven bahkan gadis itu sekali-kali memukul dada bidang Steven dengan kedua tangannya namun dengan kepala yang ditenggelamkan dalam diceruk leher pria tersebut, bahkan kameja yang Steven gunakan sejenak menjadi basah.


Steven membiarkan Marcella menyalurkan segala amarah dan kesedihannya, dirinya pun turut merasakan kesedihan gadis itu hingga matanya memerah. Sungguh dia tidak tega melihat gadis itu terluka.


"Ssttt... dalam hidup ada kalanya kita dapat mengubah sesuatu, namun ada kalanya juga saat kita hanya bisa menerima. Aku percaya kau adalah orang yang kuat. Bertahanlah hingga tiba waktunya. Tuhan juga tidak tuli, ya kan?" suara lembut Steven dengan sabar menenangkan gadis itu sambil terus mengusap puncak kepala Marcella. Marcella yang mendengar perkataan Steven semakin menangis namun geraknya sedikit lebih tenang setelah sebelumnya menganggukkan kepala dalam pelukan Steven.


Aku akan menepati sumpah dan janjiku kepada tuan besar dan ayahmu.


Sementara dari luar rumah kaca tersebut sepasang mata menatap mereka berdua dengan tajam, rahangnya mengeras menahan amarah yang hampir tidak terbendung lagi.

__ADS_1


__ADS_2