
Tak terasa hari sudah sore, matahari hampir tenggelam dibalik bukit memberikan warna keemasan yang indah diatas hamparan rumput liar. Marcella kembali berjalan-jalan tapi kali ini melangkahkan kakinya agak jauh dari halaman belakang menuju bukit berjalan perlahan. Setelah dirasa cukup tinggi Marcella pun berbalik melihat kebelakang.
Marcella takjub dengan pemandangan area rumah kakeknya yang terlihat dengan jelas dari tempatnya berdiri bahkan jalan menuju gerbang utama pun terlihat dari atas padahal dia belum mencapai puncak bukit.
"Wow... apa aku naik terlalu tinggi?" kata Marcella takjub dengan pemandangan didepannya tanpa berkedip.
"Lumayan... untuk gadis kecil sepertimu bisa sampai disini" Marcella yang tersentak kaget dengan suara seorang pria yang menurutnya familiar kemudian memegang dadanya dan menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya dengan kasar.
"Apa yang kakak lakukan disini? ooo kakak mengikutiku eeeeh" tanya Marcella ditambah tuduhan kepada Noah yang ternyata sudah berdiri tepat disamping gadis itu.
"Heh percaya diri sekali. Sebelum menemukan tempat ini aku duluan yang berada disini" kata Noah sambil mengarahkan telunjuknya ke kening Marcella mendorongnya kebelakang lalu duduk diatas rerumputan liar yang lembut. Marcela yang mendapat perlakuan dari sepupunya tersebut hanya mengusap keningnya dan memasang tatapan sinis ke arah Noah. Noah yang melihat cara Marcella menatapnya hanya terkekeh lucu dengan wajah yang menurutnya semakin menggemaskan ketika sedang marah tersebut.
"Eeeh mau kemana?" tanya Noah ketika gadis tersebut melangkahkan kakinya untuk turun. Marcella yang tidak menggubris sepupunya tersebut malah tetap berjalan. Saat langkah kedua Noah menarik tangan Marcella aksi Noah yang mencoba mencegah gadis itu untuk pulang pun berbuah manis. Marcella yang ditarik secara tiba-tiba tidak dapat menahan keseimbangan tubuhnya hingga tubuh ramping itu jatuh dan mendarat dengan mulus diatas sang kakak. Seketika tatapan mereka bertemu.
Deg... Deg...
Suara jantung memburu keduanya. Angin sore yang bertiup saat itu membuat rambut Marcela yang terurai melambai menutupi wajah cantik itu. Noah yang menatap lekat wajah cantik itu pun mengarahkan tangan kanannya menyibakkan rambut yang menutupi wajah Marcella, lalu menaruhnya lembut dibelakang telinga gadis itu dan mengakhiri tangannya memegang lembut pipi Marcella sementara tangan yang lainnya mengunci pinggang ramping Marcella.
Marcella yang mulai terlena dengan ketampanan pria didepannya bahkan bisa mendengar suara detak jantungnya sendiri. Baru kali ini dia melihat wajah sepupunya tersebut dari jarak yang sangat dekat. Alis yang hitam tebal, bola mata hitam pekat, bulu-bulu halus yang tumbuh dari pipi pria itu turun mengelilingi bibir yang saat ini tersenyum kearahnya bahkan mempertontonkan lesung pipitnya yang merupakan bonus kelahiran dari yang kuasa menurut Marcella.
Noah yang tersenyum manis kearah gadis itu kemudian perlahan mengarahkan wajahnya maju kearah gadis itu perlahan-lahan semakin dekat hingga membuat Marcella mulai tidak bisa mengontrol nafasnya yang kian memburu.
Plakk...
"Aaaww...!" teriak Noah sambil memegang pipinya yang memerah dan terasa sangat nyeri. Marcella yang semula berada diatasnya pun dilemparnya hingga terduduk jatuh diatas rumput. Berbeda dengan Noah, Marcella yang jatuh terduduk malah gelagapan panik karena baru sadar bahwa dia telah melayangkan tangannya yang hina ke wajah pria itu.
"Kau... apa yang kau lakukan hah!" lanjut Noah menatap kesal kearah Marcella tetap dengan nada tinggi.
"Eeeh anuuu... itu ada nyamuk di wajah kakak sepertinya nyamuk demam berdarah" jawab Marcella sambil menunjuk pipi Noah yang memerah akibat ulahnya.
__ADS_1
"Dasar kau! dasar wanita menyebalkan!" teriak Noah dengan wajah kesalnya.
Aduh mati aku, aku kan hanya refleks saja habis mau bagaimana lagi aku juga kan hanya berusaha menyelamatkan ciuman pertamaku batin Marcella yang tidak rela jika ciuman pertamanya direbut kakak sepupunya tersebut. Yah walaupun tadi jantungnya sempat mau melompat keluar tapi dia tetap tidak rela bibirnya yang tak berdosa harus berakhir dibibir berdosa kakaknya, begitu kira-kira.
"Heheheh... ayolah kak, masa hanya gara-gara nyamuk saja kakak semarah itu padaku seharusnya kakak berterima kasih karena tangan perkasa adikmu ini barusan menyelamatkanmu dari penyakit demam berdarah" kata Marcella dengan gagah.
"Aah bilang saja kau mau menghindar dariku iya kan?" tanya Noah kembali dengan nada menggoda Marcella.
Dasar pria mesum, mengaku juga dia akhirnya awas saja kau batin Marcella berteriak. Tiba-tiba
Buuukkk...
"Aaawww hei wanita kurang ajar kau berani-beraninya kau menjitakku" teriak Noah meringis kesakitan memegang kepalanya yang baru saja dijitak Marcella.
"Tadi kau menamparku sekarang menjitakku apa kau mau mati hah!" lanjut Noah kesal. Bukannya takut dengan ancaman Noah wanita yang duduk disebelahnya itu malah menjawab
"Ya, aku tadi menamparmu karena aku menghindar dari ciumanmu yang mesum itu dan aku menjitakmu karena kau baru saja mengaku bahwa tadi kau hampir menciumku kan kan?" teriak Marcella berapi-api sambil sesekali kembali menggertak dengan gumpalan tangannya. Noah yang melihat reaksi adiknya tersebut pun tertawa terbahak-bahak bahkan suaranya mungkin bisa terdengar sampai gerbang utama.
"Ahahahah... ahaha... aduh perutku aduhahahahahh" Noah masih saja tertawa lepas.
"Aduuuh... ahahah... sudah hahahah sudah hentikan sakit tau!" Noah bangun kembali duduk menatap Marcella yang memajukan bibirnya dengan alis yang hampir menyatu kesal.
"Menggemaskannya... jangan marah-marah seperti itu" kata Noah sambil mencubit hidung Marcella gemas.
"Habisnya kakak menggodaku terus" kata Marcella kesal.
"Baiklah aku minta maaf jangan marah lagi" kata Noah lembut minta ampun. Marcella pun hanya mengangguk. Mereka berdua kembali melihat ke arah rumah utama terdiam beberapa saat.
"Oh iya, bagaimana latihanmu dengan Steven tadi?" Noah memulai pembicaraan dengan tatapan yang masih mengarah kerumah utama.
__ADS_1
"Berhasil yah walaupun awalnya sulit menjaga keseimbangan tapi akhirnya bisa juga untungnya Steven orangnya sabar dia benar-benar membantuku sampai bisa" Seketika Noah melirik ke arah Marcella namun kembali membuang wajahnya dengan tangannya yang ditaruh bertumpu diatas kedua lututnya terkepal erat menahan marah.
"Oh iya dari mana kakak tahu aku latihan dengan Steven?" tanya Marcella polos.
"Pak Hans" jawab Noah datar.
Seharusnya kalian bersyukur dan berterima kasih kepada pak Hans, jika bukan kerena laki-laki tua itu mungkin aku sudah menghabisinya batin Noah. Marcella yang mendengar jawaban Noah hanya bisa menganggukkan kepalanya. Mereka kembali diam sesaat, saat ini tatapan Marcella terarah ke pelayan-pelayan yang dari tadi mondar mandir sibuk kemudian dia pun tersadar akan suatu hal.
"Oh iya kak, untuk acara pernikahan kita apa kakak menggunakan jasa Wedding Organizer? karena sedari tadi kulihat hanya para pelayan yang mondar mandir dengan instruksi pak Hans bukannya jika menggunakan jasa WO mereka yang akan membantu mengatur segalanya?" tanya Marcella. Sejujurnya gadis tersebut tidak tega melihat para pelayan yang hampir tidak pernah beristirahat dari tadi pagi.
"Wedding Organizer?" tanya Noah heran.
"Iyaaa Wedding Organizer yang biasa membantu mempersiapkan pesta pernikahan itu kak" jawab Marcella menjelaskan.
"Iya aku tahu tapi untuk apa? lagi pula kalau aku memakai jasa mereka lalu apa gunanya para pelayan" kata Noah. Marcella yang sedikit keberatan dengan penekanan kata 'gunanya para pelayan' pun menatap Noah dengan tajam.
"Para pelayan kan bertugas untuk tugas rumahan kak lagi pula mereka akan kelelahan dengan tugas yang berlipat ganda seperti ini. Apa kakak mau para pelayan nantinya sakit kan kasihan mereka tidak dapat menafkahi keluarga yang bergantung hidup kepada mereka" protes Marcella.
"Biarkan saja itulah gunanya kuberi mereka gaji yang besar untuk bekerja dirumah ini, dan asal kau tahu ya gaji sebulan mereka sama dengan gaji 3 bulanmu di Nusamas Group itu" ledek Noah.
"Nosantara Group!" teriak Marcella kesal.
"Iya iyaa itu maksudku, jadi anggap saja pak Hans adalah orang dari pihak Wedding Organizernya. Lagi pula untuk segala urusan hasil kerja pak Hans dan para pelayan lebih memuaskan dari pada orang luar" jelas Noah. Marcella yang sudah kehabisan kata-kata pun hanya bisa diam.
"Oh iya, kakak tahu dari mana perusahaan tempatku bekerja?" tanya Marcella yang baru saja tersadar dari mana Noah bisa mengetahui tempat kerja bahkan gajinya.
"Ada deh..." jawab Noah kembali meledek.
"Iiiihhh dasar menyebalkan!" teriak Marcella kesal Noah kembali tertawa.
__ADS_1
Begitulah mereka berdua menghabiskan waktu sambil menunggu matahari terbenam dengan sinar yang menyinari kedua kakak beradik sepupu itu. Sesekali suara tawa dan rengekan kesal menghiasi langit keemasan dengan burung-burung yang beterbangan mencari tempat untuk beristirahat.