Belajar Mencintaimu

Belajar Mencintaimu
Stabilitas Keyakinan 9


__ADS_3

“ Hana dimana dia?.”


“ Rumah sakit tempatku bekerja. Aku sedang mencari Byana di UGD. Disini sangat ramai jadi sedikit susah menemukannya.”


“ Aku menuju ke sana. Tolong terus kabari aku.”


“ Baik.”


Kecepatan diatas rata rata memecah malam tepat pada pukul sepuluh. Disaat orang orang mulai tertidur lelap dari kepenatan seharian penuh yang sudah mereka lalui, bagi beberapa orang yang kebetulan mendapat nasib sial, hari dan pukul ini justru menjadi penentu akan kabar yang akan membuat hati untuk menjerit tangis, atau hanya sekedar menundukkan kepala merasa lega.


Hanya alasan yang membuat semuanya masuk akal. Dan hanya alasan juga yang dapat membuat suasana menjadi lahar gunung api atau sekedar lahan bunga indah yang diterpa angin topan pada beberapa titik tempat. Kembali berlari secepat mungkin, mata pun memutar mencari sosok yang begitu dicintai tak berkabar.


“ ALDRIK. DISINI.” Teriak Hana sembari melambaikan tangannya.


“ ICU?. Hana... apa dia...” Aldrik menatap dengan mulai terlihat pucat pasi.


“ Tenang Aldrik, Byana ada di dalam. Kecelakaan ini terjadi karena ada truk yang mengalami rem blong. Mobil yang mengelami kecelakaan maut bukan Byana. Saat ini dia sedang melakukan pemeriksaan terakhir, jadi kita belum bisa menemuinya.”


“ Syukurlah... lalu bagaimana kejadian sebenarnya?” tanya Gestara dengan nada parau.


“ Aku juga tidak yakin, tapi sepertinya Byana sengaja menginjak rem mobil hingga mobil belakang menabraknya dan lepas kendali. Byana menabrak pembatas jalan, sedangkan mobil itu hancur menabrak truk yang juga sudah terjungkir.” Jelas Hana begitu serius.


“ Byana sengaja menginjak rem?. Hana, apa kau tau siapa saja yang berada didalam mobil itu?” tanya Aldrik dengan begitu serius.


“ Sejauh yang kudengar tiga orang laki laki, dan mereka tidak dapat diselamatkan karena meninggal dilokasi kejadian. Aaahh... Byana memberikan handphonenya padaku. Dia bilang berikan padamu dan putar rekaman suara.”


Aldrik mengambil handphone milik Byana dari tangan Hana dan sesuai perintahnya memutar rekaman suara itu. Mendapati percakapan yang dilakukan ketiga pria itu sebelum meninggalkan apartemen, Aldrik menyadari bahwa yang Byana lakukan untuk menyelamatkan keempat karyawannya yang saat ini masih berada dibawah tangan Gerry dan Alex.


Mengetahui mereka yang dengan mudah menghabisi nyawa seseorang, Byana pun merasa tidak nyaman terlebih selepas melihat rekaman video yang Aldrik berikan untuk diperlihatkan kepada atasan Byana sebelumnya.


“ Aldrik... bisakah kau, tidak terlalu me---”


“ Apa kalian memintaku untuk melupakan kejadian ini?.” Aldrik menatap kesal pada Gestara dan juga Hana.


“ Aldrik bukan begitu. Mungkin maksud Gestara adalah, jangan terlalu memarahi Byana dalam hal ini. Kondisinya juga sedang sakit sebelumnya, belum ditambah kejadian malam ini. Jadi, setidaknya mungkin kau bisa mempertim---”


 “ Justru itu!. Jelas dia tahu kondisinya sedang sakit dan aku sudah bilang untuk menyuruhnya beristirahat, besok akan aku antarkan kembali!. Di tambah kejadian malam ini, apa yang ada dipikiran kalian semua?!” Aldrik begitu kesal tanpa sadar meninggikan suaranya.


“ Maaf Aldrik, aku tidak bermaksud untuk memperumit masalah. Hanya saja dengan kejadian Byana malam ini, setidaknya kita tahu bahwa yang dicari Daniel dan disembunyikan Azka adalah berkas dokumen. Bukankah itu suatu bukti baru?,” ucap Gestara sembari menepuk pelan pundak Aldrik.


“ Aldrik, Byana sudah terlanjur seperti ini. Kumohon, jangan marah padanya.” Hana menadahkan kedua tangannya seraya memohon.


“ Aku tidak mengerti dengan apa yang kalian pikirkan.” Ucap Aldrik dengan berlalu pergi meninggalkan ruangan ICU.


Berjalan menuju parkiran mobil, Aldrik memeriksa dan berpikir berkas dokumen yang menjadi incaran Daniel di perusahaannya. Bukan hanya aplikasi reksa dana. Apa yang kulewatkan disini?, kenapa aku masih tidak mengerti apa yang Daniel inginkan?. Gumam Aldrik dalam hati.


Kembali fokus pada Handphonenya untuk memeriksa berkas dokumen apa yang terlewatkan olehnya, Aldrik terdiam saat melihat sepasang sepatu sneakers putih yang biasa dikenakan oleh seorang wanita yang dia cintai, berdiri tepat dihadapannya.


Tidak menatapnya dengan hanya mematikan layar handphonenya dan langsung masuk kedalam mobil untuk menyalakan mesin, Byana pun tertunduk penuh salah dengan berjalan masuk ke dalam mobil saat Gestara dan Hana membukakan dan membantunya masuk kedalam mobil.


“ Gestara, kirimkan email kontrak kerja sama yang tadi serta bersiaplah untuk lembur besok dikantor.” Ucap Aldrik saat menurunkan jendela kaca pintu mobil Byana.


“ Baiklah.” Balas Gestara bernada lemas.


“ Byana, ingat... sampai rumah harus beristirahat. Leher dan pundakmu terhantuk cukup keras, meski hanya luka memar jangan sepelekan cedera otot.” Ucap Hana sembari mencuri pandang pada Aldrik yang masih terlihat marah.


Dengan hanya menundukkan kepalanya, Byana tak bersuara sama sekali. Merasa aura kemarahan Aldrik begitu dapat menusuk dirinya, Byana pun kembali hanya terdiam sepanjang perjalanan pulang dengan terus menundukkan kepalanya.

__ADS_1


Sesampainya di kediaman, Aldrik pun sama sekali tidak berbicara dan hanya berlalu masuk kedalam meninggalkan Byana. Dia... tidak seperti biasanya. Apa kali ini Aldrik sangat amat marah padaku?. Gumam Byana dalam hati sembari menutup pintu mobil.


“ NONA! Kenapa Nona susah sekali untuk diberitahu?, apa Nona tahu bagaimana khawatirnya kami?!” ucap Lia begitu kesal saat menghampiri Byana.


“ Bagaimana luka Nona?, apa leher dan pundak Nona baik baik saja?” tanya Pak Gio begitu khawatir setelah mendapatkan kabar dari Gestara.


“ Lumayan mengalami cedera otot dan aku tidak diperbolehkan banyak bergerak dulu setidaknya tiga hari atau seminggu kedepan.” Balas Byana dengan meringis menahan sakit.


Tanpa berkata lagi Lia dan Pak Gio pun segera membantu Byana berjalan menuju kamar dan membantu Byana mempersiapkan keperluannya. Dengan Lia yang membantu Byana untuk berganti pakaian, ternyata Aldrik sudah menunggu Pak Gio di luar kamar tidur Byana.


“ Bagaimana kondisinya?” tanya Aldrik pada Pak Gio sembari meminum segelas anggur.


“ Tuan... apa Tuan minum lagi?,” Pak Gio mencoba mengambil botol anggur dari tangan Aldrik.


“ Hentikan, jangan coba mencegahku. Aku perlu sesuatu yang bisa membuatku lupa malam ini dan mengalihkan agar tidak berbuat hal yang tidak diinginkan.” Balas Aldrik sembari meminum minumannya lagi.


“ Jika Tuan begitu khawatir pada Nona Byana, kenapa Tuan tidak melihat sendiri saja secara langsung.” Ucap Pak Gio sembari menundukkan kepalanya.


“ Aku... takut lepas kendali. Pak Gio, sepertinya aku akan sibuk selama beberapa hari ke depan. Jadi, aku meminta tolong berikan kabar Byana padaku atau ada hal yang dia butuhkan.”


“ Baik Tuan....”


( BRRAAKKK ) Pintu kamar Aldrik yang tertutup.


Sempat mencuri dengar, Byana pun hanya dapat terdiam dan tertungkul semakin rendah. Tahu akan konsekuensi yang akan diterima olehnya, seharusnya Byana sudah siap menerima perlakuan Aldrik. Tapi, melihat Aldrik yang berprilaku tidak seperti biasanya, Byana semakin merasa tidak nyaman dan serba salah harus melaukan apa atau hanya membiarkan waktu yang menjawab.


Mematikan lampu kamar, Lia pun keluar membiarkan Byana untuk beristirahat. Menatap langit malam dari jendela kamarnya yang tinggi, Byana pun bergumam dalam hatinya mengatakan, wajar jika Aldrik begitu marah. Aku beruntung masih dapat kembali dalam keadaan selamat.


Bangun dan tertidur kembali, bangun dan tertidur kembali sudah hampir satu jam Byana melakukan itu namun masih saja kedua matanya tidak dapat terpejam. Aarrgh... kenapa dengan Aldrik yang berdiam diri dan mengacuhkanku seperti ini, membuat aku semakin tidak nyaman?. Kenapa aku lebih suka dia memarahi atau memberikan hukuman padaku.


******


“ Aldrik... dia sudah pergi bukan?.”


“ Ya Nona. Tuan dari pagi sekali sudah bersiap dan begitu selesai sarapan langsung pergi bekerja.” Balas Pak Gio dengan sedikit menundukkan kepalanya.


“ Dia... sangat marah padaku bukan?” tanya Byana pada Pak Gio begitu sedih.


“ Nona, jika anda bertanya padaku. Mungkin pertanyaan ini dapat saya balikkan dengan, bagaimana jika anda yang berada di posisi tuan Aldrik?.”


Byana pun terdiam mendengar perkataan Pak Gio yang juga terlihat kesal dengan sikap keras kepala Byana kali ini karena hal yang dilakukannya begitu berbahaya. Merasa semua menyudutkannya, Byana pun hanya dapat menyalahkan dirinya sendiri berdiam diri didalam kamarnya.


Disatu sisi Aldrik yang semalaman mabuk hingga sampai muntah di kamar mandi, datang ke perusahaan dengan raut wajah masam dan kondisi perut yang tidak nyaman. Gestara yang sudah sangat mengenal Aldrik pun memberikan obat pengar serta membawa sedikit soup untuknya.


“ Berapa banyak kau minum semalam?” tanya Gestara dengan begitu serius.


“ Jangan cerewet. Aku seperti ini untuk mengikuti saran dan perintah kalian!” balas Aldrik kesal sembari meminum obat pengar dan menghabiskan soup yang disediakan Gestara.


“ Kau... tidak berbicara dengan Byana sejak semalam?, sama sekali?” tanya Gestara terkejut.


“ Mana laporan yang kuminta kemarin?, apa sudah kau kirim lewat email?” tanya Aldrik mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


“ Sudah. Lalu sebenarnya apa tujuanmu memintaku lembur untuk beberapa hari kedepan?. Kau benar benar tidak akan pulang ke rumah dan melihat kondisi Byana?” tanya Gestara kembali.


“ Ada Pak Gio yang akan mengurusnya. Semalaman aku juga mencoba berpikir tentang berkas dokumen apa yang dicari Daniel dari perusahaan kita serta yang dibawa Azka secara diam diam dari perusahaan ini.”


“ Lalu?, apa kau menemukan titik temu?” tanya Gestara dengan mengangkat kedua alisnya.

__ADS_1


Aldrik tidak lagi menjelaskan dengan hanya memperlihatkan sebuah folder dokumen dari layar komputernya. Menatap serius Gestara yang melihat isi dari kumpulan folder itu pun langsung terkejut saat menyadari apa maksud dari yang Aldrik katakan.


Menyadari akan berkas akta pendirian perusahaan dan surat keterangan domisili perusahaan yang menghilang, Gestara tidak menyadari bahwa yang diincar Daniel bukan hanya dana para investor namun juga pengambilalihan anak cabang perusaan agar mudah baginya untuk mengendalikan perusahaan inti utama, yaitu tidak lain jabatan Aldrik sebagai CEO.


“ Aldrik... aku benar benar tidak menyangka hal ini. Sebenarnya untuk apa Daniel melakukan hal ini?, apa yang incar darimu?” tanya Gestara begitu tercengang.


“ PT. Linux bukan hanya perusahaan IT terbesar, tapi beberapa fasilitas publik atau juga aplikasi perhotelan lainnya pun hasil dari kerja sama PT. Linux dengan pemerintah atau pengusaha lainnya. Bisa kau bayangkan jika Daniel mendapatkan hal ini.” Balas Aldrik.


“ Kurang ajar! dia benar benar bisa bersandiwara! Ternyata ini yang ingin dia inginkan?! Lalu, apa kau sudah ada rencana lain?” tanya Gestara kembali dengan mode pertahanan diri seolah siap untuk bertempur.


“ Aku ingin membuat aplikasi buram. Dengan kata lain, semua data yang sebelumnya berada di reksa dana kita pindahkan dan membuat data palsu yang menyerupai itu. Dengan ini Daniel akan tertipu dan kita bisa fokus untuk menyelamatkan keempat karyawan itu.”


“ Polisi bisa saja bertindak langsung, Aldrik kenapa kau seolah menutupi masalah ini dan ingin membereskannya seorang diri dengan caramu?” tanya Gestara kebingungan.


“ Karena Byana. Dia masih belum menemukan fakta mengenai masalah kehilangan kedua orang tuanya. Jika aku langsung bertindak cepat, maka semua usaha Byana akan sia sia.”


“ Ternyata... ini alasanmu?. Waahh... sobat, kenapa aku merasa semakin kagum padamu?!”


“ Hentikan. Kau membuat perutku semakin merasa tidak nyaman!. Segera siapkan semua hal yang barusan kubilang. Namun ingat Gestara, jangan libatkan terlalu banyak orang. Panggil karyawan khusus internal yang sudah dibawah sumpah kontrak kerja.”


“ Baik, tentu saja. Sekarang pulihkan perut dan wajahmu dulu, jika perlu cuci mukalah lagi. Aku dan beberapa karyawan akan menunggumu diruang inti komputer.”


Tertutupnya pintu ruangan dengan Gestara yang bertindak cepat, Aldrik mencoba bersandar sejenak dengan menyandarkan lemas kepalanya yang masih sedikit pusing dan melonggarkan dasi yang dikenakannya. Menatap pada langit cerah, Aldrik pun memejamkan matanya beberapa saat.


*******


-Kediaman Daniel-


( BRRAAKK BRRAAAKK PRRAANNGGG) Lemparan dan bantingan keras gelas dan vas kelantai hingga hancur berkeping keping.


“ FU*K!. FU*K! You are full of **!*. Tidak bisakah kalian melakukan pekerjaan secara benar\, tenang\, dan rapi?. Aku hanya meminta mencari kembali dokumen yang disembunyikan itu\, lalu bawa kembali padaku. Tapi?\, POLISI DATANG KEMARI DAN MEMPERSULITKU DENGAN KEMATIAN KETIGA ANAK BUAHMU YANG TIDAK BERGUNA!.” Teriak Daniel pada Alex dan Gerry.


“ Sayang... tenanglah. Ingat tekanan darahmu...” ucap Sarah santai sembari duduk meminum segelas wine pada sofa ruangan tengah.


“ Maaf. Aku tidak tahu kalau mereka begitu tidak berguna.” Ucap Alex menundukkan kepalanya.


“ Boss... tapi berdasarkan informasi yang didapatkan, ada mobil Aldrik yang di---”


“ ALDRIK!. ALDRIK! ALDRIK LAGI!. Jelas ini semua karena ketidakmampuanmu dalam mengurus anak buahmu!. You fu*king moron!.” Daniel semakin marah mendengar Gerry berbicara.


Daniel berjalan memutari ruangan dengan tidak jelas. Mulut berbicara dengan nada yang tidak terdengar, penampilan formalnya pun hancur dengan kemarahan yang semakin memuncak saat menghancurkan barang barang dirumahnya.


Merasa sudah sangat terdesak dan ingin segera dapat memenuhi keinginannya, Daniel kembali berjalan menuju kearah Alex dan Gerry menatap sinis penuh aura membunuh. Tersadar akan Gerry yang berani menadahkan kepalanya sedikit keatah, Daniel pun menarik baju yang dikenakan Gerry saat ini dengan menodongkan sebuah senapan disamping kepalanya.


“ Don’t give me a **!*. You’re such an a$$hol3!. Bereskan masalah ini jangan sedikit pun terdengar di telingaku. Buat keempat karyawan itu berhasil meretas aplikasi reksa dana itu dan segera berikan kabar bagus untukku. Kau mengerti?” tanya Daniel sedikit berbisik pada Gerry.


“ Ba...baik Boss.” Balas Gerry penuh ketakutan.


“ Bagus. Dan kau adikku, aku memintamu untuk tidak mengganggu Byana lagi. Karena jika sampai aku mendengar kabar kau mencari masalah dengan Aldrik karena masalah ini, peluru ditanganku tidak akan segan berada didalam tubuhmu meski kau adik kandungku. Kau mengerti?.”


“ Ya... aku mengerti.” Jawab Alex yang juga terlihat ketakutan.”


“ Sayang, duduklah kemari... dan tenangkan dirimu... kemari sayang...” ucap Sarah dengan langsung memijit pelan pundak Daniel yang terduduk disebelahnya.


“ Lalu, apa yang kau rencanankan selain ini?. Sepertinya kau memiliki rencana cadangan.” Lanjut Sarah yang masih memijat pundak Daniel.


“ Tentu saja. PT. Linux harus berada dibawah tanganku tidak perduli apa atau bagaimana aku mendapatkannya. Namun, jangan terlalu mudah memandang Aldrik. Dia pria berbahaya jika kau merusak atau melakukan hal bodoh diwilayah kekuasaannya.” Ucap Daniel sembari memberikan tatapan sinis pada Alex yang masih saja mencoba mengejar Byana.

__ADS_1


Lain halnya jika kau berbuat salah, ambisi untuk mendapatkan sesuatu terkadang melupakan jati diri atau tidak lagi memandang baik atau buruk, bisa menjadi bumerang bagi diri sendiri. Menyadari perang akan dimulai, keseriusan pun sangat diperlukan sebagai langkah awal pembelaan diri.


__ADS_2