
Di kamar lain Marcella yang sudah bangun dari pukul lima pagi mulai sibuk di kamar mandi walaupun semalam kehadiran Noah sudah lumayan memberikan perasaan tenang namun tentu saja belum cukup untuk gadis itu mengatasi segala kegugupannya.
Jika pasangan lain yang menikah mungkin mempelai wanita akan sangat gugup menyambut malam pertama.
Malam pertama apanya, mendekat saja jangan harap batin Marcella yang masih sibuk menyikat gigi didepan sebuah kaca besar di kamar mandi. Bagi gadis itu dari pada sibuk memikirkan malam pertama akan lebih baik baginya untuk selalu fokus dan menjaga keseimbangan tubuh saat memakai sepatu keramat itu agar tidak terjatuh. Marcella sadar dia dan Noah hanya terpaksa menikah lagi pula satu hal yang patut diingat bahwa mereka berdua adalah sepupu.
Aaakhhh apa juga pikirnya, mereka kan akan tetap beda kamar tidur setelah menikah memangnya Noah mau bermalam pertama dengannya kan belum tentu mau atau mungkin lebih tepatnya tidak akan pernah mau, tapi tetap saja Marcella harus was-was karena pikirnya walaupun wanita memiliki gairah untuk berhubungan lebih besar dari pria namun wanita masih bisa mengontrolnya berbeda dengan pria yang senggol sedikit langsung bacok.
Marcella bergidik geli dengan pikirannya sendiri. Setelah selesai dengan ritual menyikat giginya Marcella kemudian menatap kasihan kedua kakinya. Marcella setengah berjongkok mengusap-usap kakinya.
"Kakiku yang cantik bertahanlah untuk hari ini yaaa... hari ini saja kumohon bekerja sama lah" sambil terus memohon Marcella mengusap-usap kedua kakinya namun tiba-tiba...
"Aaaaaakkkhhh!!!" Marcella berteriak bukan main menatap bulu-bulu kakinya yang panjang bahkan sudah hampir sama seperti bulu kaki mang Opet si tukang cilok yang sering mangkal didepan rumahnya.
"Aduh bagaimana ini? kenapa baru nongol sekarang sih ini bulu-bulu dari kemarin-kemarin kemana saja!" rutuk Marcella kepada bulu-bulu kakinya bahkan ada beberapa yang tumbuh mengeriting membuat bulu romanya merinding membayangkan bulu kaki mang Opet. Dengan kegabutan Marcella segera berlari kedalam kamar dengan hanya menggunakan handuk yang dililitkan sembarang menutupi tubuhnya meraih kopernya lalu mengambil benda kecil dari dalam tas mandi kecil didalam koper tersebut. Setelah mendapatkan apa yang dicarinya Marcella langsung berlari kembali kedalam kamar mandi dan langsung loncat naik ke atas meja besar di depan kaca tempatnya menyikat gigi tadi lalu segera membasahi benda kecil tersebut dan didaratkan keatas kakinya untuk memusnahkan semua bulu-bulu fana itu.
__ADS_1
Sita yang sudah tiba dirumah utama segera memberikan mobilnya kepada sopir rumah utama untuk diparkirkan. Dilihatnya para pelayan serta pak Hans yang mondar-mandir kesana kemari membawa bunga dan beberapa minuman mengarah ke halaman belakang.
Aduh mati aku gerutu Sita dalam hati setelah melihat beberapa petugas keamanan yang setia mengekori seorang pria tampan yang sudah lengkap dengan setelan jas berwarna navy.
Eeeeh ralat bukan tampan lebih tepatnya menyeramkan menurutnya.
Dari dulu sampai sekarang tidak ada sama sekali pesona pria itu yang dapat dikategorikan tampan bagi Sita. Justru tatapan datarnya kadang-kadang mengalahkan tatapan singa jantan milik Noah. Jika mereka berjalan beriringan kadang Sita seperti melihat singa jantan dan hyena garang yang setia dibelakangnya.
Tapi bukannya di film The Lion King singa dan hyena bermusuhan ya... aaakkhhh sudahlah lebih baik aku segera masuk dari pada harus berhadapan dengan asisten Steven batin Sita bergidik ngeri sambil cepat-cepat melangkah masuk ke dalam rumah utama. Sesampainya didalam rumah utama Sita langsung meminta salah seorang pelayan untuk mengantarnya di kamar Marcella.
"Ckckckck anak itu jorok sekali" Sita berdecik melihat hasil kegabutan Marcella.
"Elle Elle!" Sita tetap memanggil.
"Yaaaa... disini dikamar mandi!" teriak Marcella yang disambut langkah kaki Sita menuju kamar mandi yang terbuka lebar. Sita tenganga melihat pemandangan didepannya yang benar-benar kacau.
__ADS_1
Rambut sudah seperti rambut singa mana handuk yang hampir terlepas membuat Sita benar-benar tidak habis pikir dengan mempelai wanita yang satu ini. Belum juga beberapa langkah mendekati Marcella bulu roma Sita merinding bukan main, aura kewanitaannya memberontak.
"Iiiiiih Marcella itu bulu kaki apa bulu ****? mana kriting-kriting begitu lagi iiih pernah perawatan tidak sih!" teriak Sita yang melihat Marcella dengan kecepatan tangannya memusnahkan bulu-bulu kakinya.
"Bulu **** apanya memangnya aku penghuni laut apa? lagi pula bulu **** kan tajam kalau ini halus hanya saja.... yah begitu lah" jelas Marcella sambil terus melakukan aksinya.
"Iiiiih tetap saja geli tau" Marcella baru sadar sepenuhnya dengan kehadiran Sita saat memandang ke arah gadis itu yang sudah lengkap dengan segala riasan hebohnya.
"Ooh iya kenapa kau datang sepagi ini? apa acaranya dipercepat? kenapa aku tidak diberi tahu ya" tanya Marcella keheranan sambil turun dari atas meja setelah selesai dengan ritual bersih-bersih bulu kakinya.
"Aduh sepupuku sayang ini acara dirumah utama kan" jawaban Sita menggantung bagi Marcella.
"Iya tentu saja, lalu...." Marcella mengharapkan jawaban lebih.
"Sedari kecil sampai sekarang aku belum pernah melihat ada orang luar yang membantu perayaan di rumah utama, jadi tentu saja aku datang untuk membantumu berdandan. Dilihat dari dandananmu saat peringatan kematian kakek aku bisa langsung mengambil kesimpulan jika sepupuku ini kurang pandai dalam hal dandan mendandan" jawab Sita sambil memperagakan beberapa pose cantiknya. Marcella yang melihat perilaku Sita hanya bisa terkekeh lucu dengan tingkah sepupunya yang satu ini.
__ADS_1
"Aaaah iya iya baiklah kau pakarnya. Kalau begitu wahai pakar kecantikan ubahlah upik abu ini menjadi seorang cinderella untuk sementara waktu" pinta Marcella sambil membungkuk diiringi teriakan senang dari Sita karena awalnya dia berpikir bahwa Marcella mungkin menolak mengingat bibinya atau Tamara ada bersamanya yang mungkin akan membantu putrinya berdandan. Setelah drama persetujuan itu Sita akhirnya menarik tangan Marcella untuk duduk didepan meja rias yang disiapkan didalam kamar itu lalu Sita segera mengeluarkan semua alat tempur miliknya yang dibawa dari rumahnya. Lalu dia mulai bermain di wajah sepupunya itu.