
"Hei kutu ka... Hei kenapa pria itu? Apa kau memberinya suntikan mati atau semacamnya?" teriak Noah saat memasuki ruang kesehatan dan melihat Steven yang tak sadarkan diri sedang diperiksa oleh sahabat mereka Marten.
"Hush bisakah kau tidak berteriak? Kau ini benar-benar berisik" cibir Marten dengan masih memeriksa Steven yang sedang terbaring.
"Hei aku berisik dirumahku sendiri!"
"Cik kau itu cerewet sekali" jawab Marten sambil menatap sinis ke arah Noah.
"Apa kau heh... Oh iya sebenarnya apa yang terjadi? Apa dia terkena kanker atau semacamnya?" tanya Noah yang menunjukkan kecemasannya yang berapi-api.
"Hei mulutmu itu sembarangan saja, apa tidak ada doa yang lebih baik? Tadi dia pingsan lalu diantar beberapa pelayan kemari, untung aku cepat datang jika tidak entah apa yang akan terjadi dengan pria patuhmu ini" jawab Marten.
"Rupanya dia demam karena luka-luka ini, cik padahal sudah kubilang berkali-kali padanya untuk berhenti bekerja dengan majikan arogannya, tapi pria ini benar-benar keras kepala"
"Tentu saja dia akan tetap memilihku, memangnya siapa kau yang berhak menyuruhnya berhenti?"
"Aku? Tentu saja aku adalah sahabat terbaiknya"
"Cih percaya diri sekali kau" Noah berdecih kesal.
"Sudahlah kebetulan kau disini jadi sekalian aku akan periksa lukamu. Duduklah" Noah yang disuruh Merten duduk pun menurut.
"Oh iya jadi bagaimana pengantin baru?" tanya Marten di sela pengobatannya.
"Pengantin baru apa? Memangnya siapa yang menikah?" Cih dasar pria ini. Masih saja mengelak batin Marten kesal.
"Mimingnyi siipi ying minikih? Ya kau lah!" cibir Martem kesal sambil memperagakan cara bicara Noah.
"Kau? Iissshhh dari mana kau tahu? Apa Steven yang memberitahumu? Akkhhh pria ini benar-benar!"
"Aku tahu sendiri. Lagi pula jika bukan aku yang mengobati kalian kemarin lalu siapa lagi?" lanjut Marten. Adu mulut antara Noah dan sahabatnya itu terus berlanjut hingga tanpa mereka sadari Steven yang telah sadar pun asik mendengarkan keduanya dengan mata yang pura-pura masih terpejam.
__ADS_1
"Oh iya istrimu itu dimana dia? Aku belum melihatnya dari tadi" tanya Marten.
"Kenapa kau tanya-tanya?" jawab Noah dengan nada dingin.
"Memangnya kenapa, apa bertanya saja tidak bisa?" lanjut Marten masih membersihkan luka Noah.
"Aku tidak suka ada yang mengusiknya" lanjut Noah.
"Mengusiknya atau mengusikmu? Jangan terlalu overprotektif padanya kalau kau tidak ingin menyesal dikemudian hari" kalimat terakhir Marten sukses membuat Noah diam. Sejujurnya hal itu juga lumayan mengganggu Noah akhir-akhir ini. Dia takut jika dia terjebak perasaan saat berada dalam permainannya sendiri.
"Kenapa kalian bertengkar?" tanya Marten. Jujur saja pertanyaan itu yang selalu ingin dia lontarkan sejak kemarin. Tapi rasanya sangat tidak pas jika bertanya pada pak Hans mengenai hal itu. Bukankah akan lebih menantang jika ditanyakan pada pelaku langsung?.
"Itu karn..."
"Kakak! Disini kau rupanya, aku mencarimu kamana-man..." Noah mengikuti arah pandangan adiknya, ketika gadis itu menatap seseorang yang telah duduk di ranjang pemeriksaan.
"Kau! Kakak kan seharusnya jangan dulu keluar kamar. Apa aku harus menambah lukamu agar kau sadar jika sedang sakit?" pandangan mereka kembali sepenuhnya pada gadis itu saat Marcella terang-terangan mengomel. Sudut bibir Noah sedikit tertarik saat melihat kekuatiran dari wajah Marcella.
"Kan dokter bisa langsung ke kamar, jadi kakak tidak perlu repot-repot kemari!" wajah Marten berubah seketika. Apakah gadis kecil ini sedang memarahinya sekarang?.
"Hei! Nona kau..."
"Jangan berteriak padanya!" deg. Seluruh orang bungkam dengan teriakan Noah pada Marten barusan, semuanya tak terkecuali Steven yang sedari tadi duduk dalam diam.
"Kau Steven segera ke ruang kerjaku sekarang!" setelah berteriak untuk kedua kalinya Noah kemudian bangkit dan menggenggam tangan Marcella lalu ditariknya.
"Hei mau kemana? Kau masih sakit, jangan keras kepala Steven" cegah Marten pada sahabatnya yang masih kelihatan pucat itu.
"Sudahlah, tidak apa-apa. Kau pulanglah" Marten hanya geleng-geleng kepala. Yang satu emosian, yang lainnya keras kepala.
"Rupanya kau akan sangat kesulitan mulai sekarang"
__ADS_1
"Diam kau" Steven pun berlalu setelah mendengar perkataan dari Marten.
"Cik, mereka berdua sama saja" Marten berdecik kesal setelah Steven menghilang dibalik pintu.
Tok tok tok...
"Masuk"
"Permisi tuan" Steven mendapati Noah duduk dibalik meja kerjanya.
"Duduklah" beberapa saat Noah dan Steven kembali diam, hingga akhirnya Noah membuka pembicaraan.
"Jelaskan" satu kata yang keluar namun lumayan menusuk dengan nada tajam.
"Sebelumnya saya minta maaf tuan kar..."
"Jangan bertele-tele, langsung saja. Kau tahu aku tidak suka membuang-buang waktu" Steven kemudian menjelaskan dari awal. Saat dirinya menemukan gadis itu di rumah kaca, lalu segala hal yang membuat Marcella kemudian menangis dan Steven yang coba untuk menenangkannya, tidak lebih. Noah menghembuskan nafas lega, setidaknya pengakuan Steven sama persis dengan pengakuan Marcella.
"Baiklah kau selamat kali ini, tapi ingat ini. Sekali lagi kau berbuat lancang pada adikku seperti kemarin maka aku tidak akan berfikir dua kali untuk menghabisimu. Oh iya, segera persiapkan posisi untuk Elle. Segera setelah aku sembuh aku mau dia ikut bekerja di kantor"
"Baik tuan, tapi posisi apa yang dapat saya siapkan untuk nona?" tanya Steven.
"Cleaning Service" jawab Noah datar, sementara Steven sukses membulatkan matanya. Tuan muda sedang bercanda kan?
"Aku serius, tempatkan dia di posisi itu"
"Baik tuan muda, apa ada lagi tuan?"
"Tidak ada, kau boleh pergi sekarang" Steven pun bangkit dari duduknya.
"Oh iya, ngomong-ngomong maaf soal wajahmu" Steven tersenyum lalu mengangguk dan pergi. Begitulah Noah, sebesar apapun masalahnya jika dia merasa bersalah dia akan tetap minta maaf, kecuali jika pertahanan harga dirinya sekokoh tembok cina maka bisa jadi permintaan maaf hanyalah sebuah mimpi. Steven juga teringat ketika dulu dia pernah bertanya akan dikemanakan Alycia setelah kejadian di acara peringatan kematian ketua. Saat itu Noah berkata agar mengirim gadis itu ke neraka. Tentu saja yang pria itu maksudkan bukanlah melenyapkan Alycia, melainkan mengantar wanita itu ke rumahnya, karena bagi Noah rumah Rico dan Alycia adalah neraka bagi setiap orang. Lagi pula Noah tentu saja tidak akan melenyapkan Alycia semudah itu, dia masih ingin bermain-main.
__ADS_1