
"Hoaaaaamm" Marcella menguap sambil perlahan membuka matanya.
Deg...
Kedua mata indahnya malah harus melihat wajah menyebalkan di pagi hari.
"Hei tukang tidur kau sudah bangun rupanya" sapa Noah sambil menyibakkan rambut basahnya ke wajah gadis itu. Noah yang baru saja selesai mandi dan berganti pakaian mendapati Marcella yang perlahan menggeliat di atas sofa.
"Ish, merusak mood saja" gumam Marcella. Noah yang sibuk mengeringkan rambut dengan handuk kecil di sebelah tangannya langsung menatap penuh curiga ke arah gadis itu.
"Kau mengatakan sesuatu?"
"Tidak ada, memangnya kakak mendengar aku mengatakan apa?" iya aku bilang kau itu merusak mood ku batin Marcella.
"Kau bilang kau mau membantu mengeringkan rambutku... hahahaha" tawa Noah diiringi handuk kecil yang sudah setengah basah mendarat cantik di wajah bantal Marcella. Marcella yang awalnya ingin protes pun dibuat bungkam saat Noah memasang ekspresi sedih sambil mengangkat tangannya yang diperban.
Baru saja ingin bangkit dari sofa Noah langsung duduk menghimpit Marcella. Jarak mereka yang sangat dekat membuat Marcella sedikit gugup pasalnya dadanya bahkan hampir... ralat, bahkan sudah menyentuh badan tegap yang membelakanginya dengan wajah biasa saja tanpa dosa. Ingin sekali gadis itu menampar pria tampan itu sambil mengucapkan sumpah serapah yang membuat pendengarnya ingin mengakhiri hidup saat itu juga.
Oh God! batin Noah berteriak saat merasakan sesuatu yang empuk mendarat dengan sempurna di belakangnya. Untung saja Marcella yang saat itu dibelakangnya tidak melihat betapa merahnya wajah tampan itu sekarang.
"Aaakkhh berikan handuk itu padaku sekarang! jika kau tidak ikhlas membantu sekalian saja tidak usah!" teriak Noah tiba-tiba sambil merampas handuk kecil yang baru saja akan Marcella gunakan untuk mengusap rambut basahnya.
"Wh whoa... apa-apaan ini?" Marcella yang mendengar pintu kamar mandi dibanting keras membuatnya semakin kaget, marah sekaligus heran dengan perilaku aneh pria itu. Sementara di kamar mandi Noah yang baru saja selesai mandi kembali membuka bajunya kasar melemparkannya di lantai kamar mandi lalu segera menuju shower. Air dingin yang membasahi tubuhnya sejenak dapat menetralkan kembali hawa panas di tubuhnya.
"Akh sial sial sial!" sambil mengusap wajahnya kasar dengan sebelah tangannya.
"Elle sial, bahkan belum lama serumah dia sudah membuatku hilang kendali empat kali. Oh God mudah-mudahan aku dapat menahannya. Ingit dia adikmu adikmuuuu" gerutu Noah yang sekarang sudah menampar-nampar wajahnya.
Tok tok tok
__ADS_1
"Kakak!, kakaak! apa kau masih lama?" Aakkh sial! batin Noah berteriak saat Marcella mengetuk pintu kamar mandi.
"Kenapa?!"
"Kakak masih lama?!"
"Hmmm!" Huh menyebalkan. Kalau begini mau tidak mau aku harus kembali ke kamarku batin Marcella sambil menghentakkan kakinya kesal. Jika saja gadis itu tidak melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 10.00 pagi tentu saja gadis itu akan menunggu saja, namun menyadari dirinya yang sudah seperti seekor sapi yang bangun kesiangan mau tidak mau gadis itu harus segera membersihkan dirinya mengingat ayah dan ibunya yang akan kembali hari ini. Marcella membuka pintu kamar Noah perlahan namun hanya kepalanya saja yang keluar. Kepala gadis itu menyapu pandang sekeliling. Saat dirasanya kondisi aman terkendali dengan kecepatan tingkat tinggi gadis itu berlari menuju kamarnya masih dengan mata yang terus mengawasi.
Buukkhh...
"Aduh... maaf" setelah minta maaf Marcella kembali berlari menuju kamarya tanpa memperhatikan sekitar. Pria tinggi berbadan tegap itu hanya menghembuskan nafas kasar lalu dengan langkah yang masih gontai menuju kamar Noah. Sementara di kamar, Noah yang sudah keluar dari kamar mandi dengan masih berbalutkan handuk dipinggang menghembuskan nafas lega saat tidak mendapati gadis itu di kamarnya.
Tok tok tok...
"Siapa?"
"Masuklah" setelah mendapatkan perintah Steven pun melangkah masuk ke kamar Noah.
"Tuan muda memanggil saya?"
"Hmmm... benar-benar sakit rupanya" jawab Noah saat melihat wajah pucat Steven oh iya dan jangan lupa dengan luka lebam yang masih tercetak jelas akibat pukulannya.
"Pergilah ke ruang kesehatan, aku akan menelfon Marten. Setelahnya baru kita bicara"
"Baik tuan"
"Ups... apa aku terlalu kejam memukulnya kemarin? tapi aku kira hasilnya tidak akan separah itu" kata Noah setelah Steven keluar dan menutup kembali pintu kamar tuan mudanya. Ada sedikit penyesalan saat melihat wajah tampan Steven yang babak belur akibat ulahnya.
"Hah sudahlah lagi pula siapa suruh dia berani menyentuh istriku bahkan memeluknya tanpa seijinku ahhh ralat, tidak akan pernah kuijinkan walaupun dia memintanya setelah puasa 40 hari 40 malam" istri? apa tadi aku menyebutnya istri? batin Noah sejenak tersadar.
__ADS_1
"Aaaakkkhhh!" Noah berteriak sambil mengacak rambutnya frustasi.
Di lantai satu rumah utama banyak diisi oleh para pelayan yang sibuk membersihkan setiap sisi ruangan besar itu. Beberapa pelayan menyibukkan diri dengan membersihkan sambil sesekali bergosip mengingat atasan mereka tidak mengawasi, berhubung pria paruh baya tersebut sedang menemani tuan dan nyonya mereka pergi berziarah.
"Hei Lilis, kemarin kau dari mana?" tanya salah seorang pelayan teman Lilis yang diketahui bernama Fita.
"Eee e i itu kemarin ak aku... ah iya aku membantu pak Hans membereskan rumah kaca" jawab Lilis gugup. Sejujurnya dia sendiri tidak mengira bahwa yang lain akan curiga dengan gerak-geriknya kemarin.
"Jangan berbohong kemarin aku melihatmu keluar dari ruang kesehatan bahkan bajumu saja ada bercak darahnya" jelas Fita sambil sedikit berbisik pada temannya itu agar tidak ketahuan.
"E eeee eh i itu an anu anu..." aduh bagaimana ini? aku kan sudah berjanji pada pak Hans untuk tidak buka mulut batin Lilis.
"Sudahlah kalau kau tidak mau bercerita tidak apa-apa, aku juga mengerti posisimu. Aku hanya mau mengingatkan satu hal, jangan terlalu ikut campur dengan urusan para majikan jika kau tidak mau hidupmu dalam bahaya. Ya sudah, sekarang kau pergilah ke kamar nona muda ambil keranjang pakaian kotor" lanjut Fita.
"Baiklah. Oh iya, dan terima kasih atas nasehatnya Fit, aku akan lebih berhati-hati lagi mulai sekarang" kalimat Lilis kemudian di jawab dengan anggukkan serta senyuman dari Fita. Sepanjang menaiki tangga menuju kamar Marcella, gadis kecil itu terus memikirkan perkataan temannya. Hingga sampai di lantai yang dituju gadis itu terus bergelut dengan pikirannya hingga...
Buuukkkhhh...
"Eh ma maaf maafkan saya, saya sungguh tidak sengaja" Lilis terus menundukan kepalanya meminta maaf saat dengan tidak sengaja menabrak seseorang. Ketika tidak mendengar jawaban sama sekali Lilis pun perlahan mendongkakan kepalanya.
"Tu tuan..." Lilis terbelalak kaget saat melihat pria dengan kaos hitam yang sudah basah akibat keringat dingin dan wajah yang sangat pucat. Pria tersebut menatap Lilis sejenak hingga tidak lagi dapat menahan bobot tubuhnya yang serasa melayang akibat demam yang semakin tinggi.
"Tuan!" Lilis berteriak kaget saat Steven jatuh kepelukannya. Lilis memeluk tubuh lemah Steven sambil terus berusaha menahan keseimbangan tubuhnya yang ditimpa tubuh bidang Steven. Gadis itu dapat merasakan betapa panasnya tubuh pria itu dalam pelukannya.
------------------------------------------------------------------------
******Hai hai semua ๐๐๐ aku kembali lagi ya... Maaf karena baru update sekarang novelnya๐๐๐ Oh iya kali ini kisah Noah dan Marcella akan semakin seru dengan kehadiran Lilis ya... so, tunggu update selanjutnya ๐๐๐
Maafkan banyak ranjau typo bergentayangan sana sini ๐ป๐ป๐ป****
__ADS_1