
" Nona Byana... akhirnya... apa kabar Nona... kenapa lama sekali baru pulang?,” ucap Lia sembari meliuk manja dan bernada sedih.
“ Nona, syukurlah kabar Nona baik baik saja...” ucap Pak Gio penuh sopan.
“ Terima kasih... maaf aku membuat kalian semua khawatir...” balas Byana tersenyum manis.
Lia yang sudah tidak merasa sungkan akan permintaan Byana yang memintanya untuk memperlakukannya sebagai kakak dan berhenti memanggilnya nona, ternyata masih sulit untuk tidak berhenti memanggilnya dengan panggilan itu namun perlakuan layaknya seorang adik pun Lia lakukan layaknya kepada kakak perempuan.
Tak urung akan Aldrik yang juga membiarkannya asalkan Byana merasa nyaman, sungguh seperti tamparan keras bagi Pak Gio yang begitu menghormati keluarga Mahendra terlebih Aldrik sebagai Tuan rumah dan atasannya secara langsung.
“ Pak Gio, bisa bawakan minuman ke ruanganku.” Ucap Aldrik pelan sembari berjalan di belakang Byana dan Lia.
“ Tuan... sudah lama berhenti minum. Apa ada hal yang mengganggu pikiran hingga membuat Tuan kembali minum minum?” tanya Pak Gio sedikit menundukkan kepala berjalan mengikuti Aldrik.
“ Ya... saat ini pikiranku benar benar terganggu.” Balas Aldrik sembari menatap pada Byana yang berjalan di depannya.
Masih mengacuhkan Aldrik dengan berbicara dan berjalan bersama Lia dihadapannya. Aldrik hanya dapat menerima kenyataan bahwa kesalahpahaman ini membuat Byana begitu tersakiti. Bukan hanya karena dirinya, namun kali ini melibatkan harga diri keluarganya yang begitu ia cintai, namun masih memaksakan diri tersenyum.
Jangankan dia, jika itu aku akan membuat perhitungan besar pada mereka yang menjelekkan atau melukai harga diri orang yang kusayangi. Untuk Byana, bagaimana bisa dia memendam semua perasaan ini seorang diri dan kembali padaku begitu saja seolah tidak ada yang terjadi.
Bergumam dalam hatinya, Aldrik pun berbelok menuju kamar dan langsung menutup pintu kamarnya. Byana yang tiba tiba terhenti mendengar pintu kamar Aldrik yang menutup keras, hanya dapat tertegun diam melihat Pak Gio yang kembali masuk membawa sebotol minuman keras.
“ Apa... dia biasa seperti ini jika banyak pikiran?. Kenapa aku baru melihat Aldrik yang seperti ini?” tanya Byana pada Lia.
“ Tuan Aldrik sebenarnya sudah berhenti minum sejak lama. Sepertinya kali ini ada yang mengganggu pikirannya hingga kembali minum minum seperti ini....”
Menatap pada Lia yang memandang kamar Aldrik penuh iba dan terlintas kembali kesedihan diraut wajahnya, Byana pun menyadari tidak ada kebohongan atau hal yang sengaja ditutupi olehnya. Dengan Lia yang mengundurkan diri untuk membiarkan Byana beristirahat, pintu kamarnya pun sengaja Byana buka untuk melihat kejadian selanjutnya yang akan terjadi.
“ Pak Gio, maaf... apa Aldrik dia....” ucap Byana saat menghentikan Pak Gio berjalan keluar dari kamar Aldrik.
“ Ya Nona. Saya juga tidak mengerti kenapa tuan kembali minum minum seperti ini.”
“ Pak Gio mau kemana lagi dengan membawa botol itu?” tanya Byana kembali.
“ Tuan menghabiskan 1 botol ini sekaligus dan memintaku untuk membawa botol lainnya.”
“ APA?!”
Tertunduk dengan merasa berat untuk menceritakan lebih banyak pada Byana, Pak Gio pun berlalu meninggalkan Byana dan membawa sebotol minuman lagi untuk Aldrik. Sekali lagi, dan sekali lagi Pak Gio menaiki dan menuruni tangga hanya untuk membawa sebotol minuman.
Byana yang akhirnya merasa geram dengan kekesalan yang memuncak, langsung berlari menghadang pintu kamar Aldrik saat Pak Gio mencoba masuk untuk memberikan botol minuman untuk yang ketiga kalinya.
“ Cukup, serahkan saja Aldrik padaku... Pak Gio istirahatlah dan bawa kembali minuman itu.” Ucap Byana serius dengan masih mencoba tersenyum manis.
“ Baik Nona... selamat malam.” Balas Pak Gio dengan langsung berlalu pergi.
Byana pun masuk kedalam kamar Aldrik yang saat ini sudah dipenuhi dengan aroma bau alkohol yang begitu menyengat. Semua mati padam dengan hanya ditemani cahaya bulan dan bintang, Pak Gio sengaja menyalakan sebuah lilin aromatherapy yang diletakkan diatas meja tepat membelakangi Aldrik yang sedang bersandar lemas dibawahnya.
Terlihat kancing kemejanya terlepas berantakan serta rambut yang sudah tidak lagi tertata rapi. Bersandar pada sebuah kaki meja, terlihat salah satu tangannya memutar memegang sebuah gelas berisi wine terpadu embun es beku. Dengan salah satu kakinya yang juga terlipat keatas, aura gelap seolah terpancar dari dalam dirinya.
“ Pak Gio, kenapa lama sekali?! taruh disini minumannya.” ucap Aldrik bernada parau.
“ Mau berapa banyak kau minum?!”
“ Aaahhh... Byana rupanya. Sedang apa disini?, mau menemaniku minum?” ucap Aldrik tersenyum, sudah terpengaruh minuman alkohol.
“ Bangun dan kendalikan dirimu. Besok kau masih harus pergi bekerja.” ucap Byana bernada dingin, berdiri disamping Aldrik.
__ADS_1
“ Tentu saja. Kerja... kerja... dan kerja... hmm.” Balas Aldrik dengan kembali meneguk minumannya.
Semakin merasa kesal Byana mengambil paksa gelas wine itu dan menaruh diatas meja. Sudah tidak lagi melihat kondisi Aldrik saat ini, Byana menarik tangan Aldrik untuk berdiri dan membawanya ke kamar mandi yang akhirnya hanya terduduk lemas dilantai dengan wajah yang memerah.
Byana sengaja memutar kran yang mengalirkan air dingin, mengarahkan sebuah shower serta pancuran dari dinding atas kamar mandi, Aldrik pun bergetar menahan diri yang terkejut atas siraman deras yang dilakukan Byana pada wajahnya selama beberapa saat.
“ Apa kau sudah sadar?.”
Perkataan yang keluar dari mulut Byana membuat Aldrik akhirnya berdiri tegap dengan mematikan kran air yang menyala. Mengambil sebuah handuk yang tergantung, ia pun mencoba mengeringkan dirinya dan berlalu keluar dari kamar mandi meninggalkan Byana.
Byana mengikutinya dan kembali menarik tangan Aldrik seraya meminta penjelasan darinya atas sikap buruk apa yang sedang dia lakukan saat ini. Aldrik terdiam menatap pada Byana dengan masih memakai pakaian yang basah.
“ Maaf, bisa keluar dari kamarku sekarang juga. Serta Byana, besok jadwal kau mengajar Sandra kembali. Jika bisa, menjauhlah dari Alex.” Ucap Aldrik yang berjalan melalui Byana begitu saja menuju lemari pakaiannya.
“ Hanya itu yang ingin kau sampaikan padaku?” tanya Byana dari balik dinding tidak mendengar perintah Aldrik padanya.
“ Meski Alex sudah tahu keberadaan rumahmu, tapi aku berhasil meyakinkannya bahwa saat ini rumah itu adalah rumah sahabatmu. Dia juga menganggap bu lesti dan pak Dhika bukan orang tuamu melainkan orang tua sahabatmu.” Balas Aldrik saat berganti pakaian.
“ Terima kasih. Hanya itu?” tanya Byana kembali dengan nada menyudutkan.
“ Aku berencana menyamar masuk kedalam klub karaoke itu dengan memakai kartu anggota palsu. Kau tidak perlu ikut bersamaku.” Balas Aldrik kembali sembari menutup pintu lemarinya.
“ Kebetulan saat aku ke Polres, atasanku berpikiran sama denganmu dan berniat mengirimkan orang untuk menyamar kesana.” Balas Byana dengan masih berdiri dibelakang dinding ruangan.
“ Lalu?,” Aldrik menghentikan gerakannya dengan menatap kearah samping.
“ Tidak ada yang mengenal tempat itu dibandingkanku atau Tasya yang pernah bekerja disana. Selain banyak ruangan, tempat itu dipenuhi ruangan tersembunyi dan penjaga yang membawa senapan. Jadi, aku memutuskan untuk ikut me---”
“ Lupakan. Kau jangan terlibat. Dalam hal ini, kau mundurlah dulu.” Balas Aldrik merasa keberatan dengan langsung memotong pembicaraan Byana.
“ Jika aku tidak mau, apa yang akan kau lakukan?” tanya Byana kembali bernada mengancam.
Saling menatap satu sama lain, muka Aldrik semakin memerah mencoba menahan diri serta karena efek alkohol yang masih belum hilang. Kembali mencoba mengatur jarak dengan memalingkan tubuhnya, Aldrik pun berjalan menuju tempat tidurnya.
Byana masih terdiam menundukkan kepalanya seraya ingin mengatakan sesuatu atau menunggu Aldrik untuk berbicara lebih padanya. Ingin mengutarakan semua isi hatinya namun masih tidak dapat melakukannya, Byana pun akhirnya membuat keputusan.
“ Aku akan menyamar bersamamu. Seingatku dulu, klub itu selalu mengadakan acara khusus anggota dimana semua yang datang menggunakan topeng. Dari situ dapat dengan mudah mengetahui apa saja yang sebenarnya terjadi disana....”
“ Terlalu berbahaya. Kau tidak perlu ikut dalam hal ini.” Ucap Aldrik dengan membaringkan tubuhnya diatas kasur dengan salah satu tangan yang menutupi wajahnya.
“ Aldrik, dulu ada sebuah kamar rahasia yang berada dilantai tiga yang sama sekali tidak boleh kami datangi. Untuk masuk kedalam ruangan itu, selain penjaga, pemiliki klub itu membuat pintu lain berisi jebakan untuk mengecoh jika ada orang tak dikenal masuk ke dalam.”
“ Dari mana, kau tahu hal itu?.”
“ Karena luka diperutku ini, aku dapatkan saat mencoba masuk kedalam ruangan itu. Mereka berkata mungkin aku sakit dan lainnya, tapi sebenarnya aku tergores sebuah pisau. Jika saja saat itu aku tidak mengelak, mungkin pisau itu menancap tapat pada perutku....”
Aldrik bangun dari tempat tidurnya dan menatap pada Byana yang menundukkan kepalanya. Tahu akan kenangan buruk yang kembali dia coba dengan menahan emosi didalam dirinya, Aldrik kehabisan akal agar Byana merubah keputusannya mengingat sifat keras kepala yang dimilikinya.
“ Jika kau menyamar denganku, bagaimana dengan kondisimu?. Bukankah dokter Hana memintamu untuk tidak menahan emosi?. Apa kau bisa bertahan nanti?” tanya Aldrik bernada rendah.
“ Masalah pribadiku, biar aku yang urus. Setidaknya berdasarkan kontrak awal perjanjian kita, bukankah kita akan bekerja sama dalam hal ini?! dan juga, apa kau lupa bahwa aku ini sebenarnya adalah seorang polisi.”
Mendengar perkataan Byana yang memang sesuai fakta dan juga masuk akal, penolakan dalam diri Aldrik pun semakin memberontak namun tidak memiliki alasan untuk berkata tidak kepada Byana. Dengan kembali terdiam, Aldrik pun hanya dapat memandang lurus kearah depan.
“ Jika... sesuatu terjadi padaku... kau, akan... menolongku, kan?.”
Berucap dengan nada manja, baru kali ini Aldrik mendengar Byana berbicara dengan nada seperti ini kepadanya. Sedikit terkejut mendengar Byana seolah mengakui kemampuannya yang selalu melindungi Byana, perasaan berbunga bercampur aduk dengan rasa lainnya pun semakin membuat wajah Aldrik memerah mencoba menahan dirinya.
__ADS_1
“ Tidurlah sudah malam. Kita bahas lagi masalah ini besok.”
“ Baiklah....”
*********
Sarapan pagi bersama di ruangan makan yang luas. Entah mengapa merasa sunyi, sungguh tidak terbiasa diri untuk tidak memulai percakapan yang dapat meredakan kecanggungan ini. Sikap ceria dan hangat Byana pun akhirnya membuat kediaman Aldrik hidup tidak seperti dalam pemakaman.
Berbincang banyak hal dengan Lia dan beberapa assisten rumah tangga lainnya, merupakan kebiasaan yang tidak biasa untuk seorang Nona muda keluarga Mahendra. Namun cukup bagi Byana yang sudah tidak ingin lagi harga dirinya tersakiti karena mengikuti aturan dan perintah.
“ Byana jika kau sudah selesai sarapan, temui aku di ruangan baca.” Ucap Aldrik dengan langsung berlalu pergi.
Semua pun kembali terdiam merasa canggung akan sikap mereka yang takut menyinggung Tuan Aldrik. Tersenyum pada mereka semua, Byana pun memberikan penjelasan akan kondisi Aldrik yang sedang tidak baik dan sedikit beradu argumen sebelumnya.
( BRRAAKKK ) “ Tidak bisakah setidaknya kau tersenyum sedikit ketika sarapan atau saat ada mereka?” tanya Byana saat menutup pintu ruangan baca.
“ Untuk apa berpura pura?. Itu bukan diriku. Lagipula mereka bukan baru seminggu bekerja denganku, pasti sudah tahu sikapku seperti apa. Terlebih ada Pak Gio yang menjelaskan.”
“ Baiklah... apa yang ingin kau bicarakan denganku?”
(BRAAKKK) “ Maaf apa kami datang terlambat?,” ucap Gestara yang masuk membuka pintu dengan dokter Hana dibelakangnya.
“ Masuklah aku baru akan memulai pembicaraan dengan Byana.” Balas Aldrik dengan langsung terduduk di sofa bersama Byana.
Memandang dengan penuh kebingungan, Hana dan Gestara yang sebelumnya sudah dihubungi Aldrik pun hanya dapat terdiam tidak mengatakan apa pun pada Byana yang mencoba meminta penjelasan. Karena tahu akan berbahaya dan Byana menolak, Aldrik pun memilih untuk tidak mengatakan rencananya pada Byana.
“ Mereka... besok malam akan ikut bersama kita untuk menyamar.”
“ APA?! TIDAK ALDRIK, APA KAU KEHILANGAN AKAL SEHAT?! Oke bagi Gestara karena aku cukup yakin dia bisa ilmu bela diri sama sepertimu, tapi kenapa kau melibatkan Hana dalam hal ini?” tanya Byana sedikit kesal pada Aldrik.
“ Karena Aldrik khawatir traumamu akan kambuh. Dia masih tidak tahu harus berbuat apa, dan akan sangat berbahaya jika sampai itu terjadi. Byana, jangan salahkan Aldrik. Dia sama sekali tidak memaksaku! Akulah yang mengajukan diri.” Balas Hana memberikan penjelasan.
“ Hana... kau tidak terbiasa melakukan hal seperti ini. Apa kau me---”
“ Aku tidak menyamakan kondisi setiap pasienku. Byana, aku sudah menganggapmu sebagai adikku, bukan karena Bu Lesti adalah sahabat dekat kakakku. Tapi murni karena aku khawatir padamu.”
“ Tidak. Hana tidak boleh ikut!.” Ucap Byana sinis kepada Aldrik.
“ Aku akan ikut, suka atau tidak suka. Aku tahu kau keras kepala! jadi jangan salahkan aku jika mengeluarkan juga sifat asliku padamu!.” Balas Hana sedikit meninggikan suaranya.
Melihat emosi dalam diri Byana dan Hana yang bersitegang keras, juga dengan Aldrik yang hanya terduduk diam mencoba menahan diri memejamkan kedua matanya, Gestara mengambil alih memberikan penjelasan masuk akal untuk Byana dan Hana.
Merasa alasan yang diberikan Gestara sangat masuk akal, Byana dan Hana pun akhirnya terdiam mencoba mencermati keadaan dan juga menerima masukan yang diberikan. Melihat kondisi sudah sedikit tenang, Aldrik pun mengambil alih kembali.
“ Selama Gestara dan Hana menunggu diluar, aku dan Byana akan masuk kedalam. Kalian tunggu kabar dari kami dan sebisa mungkin jangan menimbulkan kecurigaan apa pun.”
“ Tentu Aldrik, kami sangat mengerti.”
“ Lalu Byana, bisa kau berikan sedikit gambaran tentang kondisi dan ruangan di klub itu?” tanya Aldrik dengan memberikan secarik kertas dan sebuah pulpen.
Byana terdiam sejenak mencoba untuk mengingat dengan lamunannya yang panjang. Seketika mengambil pulpen dan menggambarkan denah lokasi yang tidak mungkin melakukan renovasi mengingat fungsi setiap ruangan yang berbeda, Byana pun menjelaskan kemungkinan apa saja yang mungkin bisa terjadi.
“ Aldrik, sepertinya kau harus membawa satu senjata didalam jasmu nanti. Mengingat Byana menggunakan gaun, sangat tidak mungkin.” Ucap Gestara begitu serius.
“ Aldrik akan membawa senjata milikku.” Balas Byana dengan sigap menatap kepada Aldrik yang juga menatapnya begitu serius.
“ Baiklah sudah diputuskan. Lalu Byana, menurutmu apa lagi yang kita perlukan?.”
__ADS_1
Sebuah tim yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Rasa kekeluargaan yang kompak hadir tanpa memerlukan undangan. Ikatan darah sering kali tidak menjadi faktor utama. Saling bergenggaman tangan, apa akan menjamin hari esok masih ada?.