
"Anak-anak dimana pak Hans? mereka tidak kelihatan sejak semalam lalu tidak juga ikut sarapan" tanya David pada pria paruh baya itu saat mereka sudah berada di depan pintu rumah utama bersiap untuk menuju makam keluarga. Tamara yang juga merasa heran ikut menatap pak Hans menunggu jawaban.
"Tuan muda dan nona masih beristirahat tuan, mereka akan makan di kamar" jelas pria itu dengan tetap memasang wajah tenang.
"Biarkan saja sayang, mungkin Elle dan Noah masih lelah setelah hampir seharian acara diadakan. Kau lihat sendiri kan kemarin bahkan sepanjang pesta mereka hampir tidak pernah duduk" jelas Tamara sambil menggenggam erat tangan suaminya. David pun mengangguk sambil tersenyum kepada istrinya sebelum kemudian menoleh kembali pada pak Hans.
"Baiklah, tapi saya mohon lain kali ketika kami sudah tidak disini pak Hans jangan membiarkan mereka keseringan makan di kamar masing-masing ya. Saya tidak ingin mereka malah tidak akan pernah akrab mengingat mereka lebih terlihat seperti pemeran Tom & Jerry" perkataan David membuat Tamara dan pak Hans tertawa lepas.
"Benar kan? bagaimana tidak, hampir setiap saat aku melihat mereka berdua selalu saja bertengkar. Pokoknya kuserahkan mereka berdua padamu pak Hans jika mereka terus bertengkar kau hukum saja tidak apa-apa"
__ADS_1
"Hahahahaha baik tuan, dengan senang hati" jawaban pak Hans disusul tawa mereka bertiga.
Setelah bercanda tawa sebentar di rumah utama, pak Hans, David dan Tamara ditemani beberapa pengawal pun akhirnya berjalan beriringan menapaki jalanan yang sedikit melintasi bebukitan di timur rumah utama. David yang mengetahui tempat makam keluarga menuntun Tamara sambil menggandeng tangan istrinya itu lembut. Pak Hans dan beberapa pengawal berjalan di belakang tuan dan nyonya mereka. Sepanjang perjalan Tamara benar-benar takjub melihat sekeliling. Di kiri dan kanan dipenuhi dengan bebukitan yang ditumbuhi rumput dan sesekali tumbuh bunga-bunga liar. Setelah berjalan kurang lebih 30 menit mereka tiba di sebuah gerbang. David menghela nafas panjang saat langkah kakinya menapak masuk gerbang itu. Tidak banyak yang berubah, yang berubah hanyalah kalau dulu hanya terdapat 2 makam yang berdampingan maka sekarang sudah bertambah 4 makam lain.
"Hai ayah, aku pulang..." kalimat David terhenti sejenak. Tamara menggenggam erat tangan David serta mengelusnya saat suara tenang pria itu perlahan berubah menjadi isakan pilu.
"Aku selalu membayangkan jika aku pulang kau pasti akan mengejar untuk memukuliku sambil berteriak... dasar anak durhaka, keras kepala... sama seperti dulu ketika aku selalu membuatmu marah kau pasti akan mengataiku seperti itu..."
"Hai ibu aku pulang bu, aku menepati janjiku... maafkan putramu ini bu hiks hiks, aku bahkan tidak sempat berterima kasih karena telah melahirkan dan mencintaiku dengan sepenuh hatimu..."
__ADS_1
"Ini Tamara bu, gadis yang selalu kuceritakan padamu" jelas David sambil menatap dalam kedua mata istrinya saat mereka menghadap ke makam ibunya.
"Gadis yang sekarang sudah menjadi ibu dari anak-anakku, gadis yang menjadi istri sekaligus satu-satunya wanita yang sangat kucintai setelah ibu" David yang berbicara masih menatap dalam mata istrinya yang juga mulai mengeluarkan kristal bening.
"Maafkan aku karena baru menepati janjiku untuk mengenalkannya pada ibu" lanjut David.
"Aku Tamara bu, maaf karena baru mengenalkan diriku sekarang pada ibu. Sama seperti yang dikatakan David padamu, anakmu ini adalah satu-satunya pria yang kucintai, ayah yang hebat dari kedua anakku. Pria manja yang kukenal kini telah menjadi pria hebat yang sangat mencintai istri dan anak-anaknya" Tamara mengusap wajah pria tampan itu.
Cup
__ADS_1
Satu kecupan mendarat dengan sempurna di kening Tamara. David kemudian mengelus pipi istrinya sambil menempelkan kening mereka. Pak Hans yang melihat kedua majikannya itu kemudian mencuri waktu untuk mengusap air matanya. Takut-takut saja jika para pengawal melihat pria itu menangis bisa-bisa mereka akan mengejeknya. Pria paruh baya itu ingat betul bagaimana putra bungsu ketua itu ketika dirinya mengaku kepadanya bahwa telah menghamili gadis sebatang kara yang saat itu kebetulan menjadi pelayan bersih-bersih di sebuah club malam untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Entah bagaimana hingga benih cinta tumbuh di antara mereka berdua pak Hans juga tidak tahu. David yang saat itu tidak berani mengaku kepada kedua orang tuanya bahwa Tamara hamil hanya berani bercerita kepada pak Hans, Anton dan Alex. Tentu saja hal itu beralasan karena dirinya takut nyawa anaknya akan dalam bahaya kalau-kalau sang ayah mengetahui perbuatannya. Dirinya tetap mengatakan ingin menikahi gadis yang bernama Tamara namun menyembunyikan fakta bahwa gadis itu tengah mengandung anaknya. Bahkan pak Hans masih ingat bagaimana wajah ketua yang saat itu merah padam dengan rahang yang mengeras memukuli putra bungsunya itu karena berani berkata akan menikahi gadis yang tidak diketahui asal-usulnya. Satu hal yang pak Hans tahu bahwa perilaku keras ketua itu sangat jelas menurun pada cucu kesayangannya yaitu Noah.
Setelah selesai mengunjungi semua makam, David dan Tamara kemudian memutuskan untuk istirahat sejenak dibangku taman yang sengaja dibuat untuk peziarah. Tidak ada bangunan yang berdiri di lahan makam yang luas itu. Hanya beberapa bangku taman dan juga beberapa pohon oak besar yang berdiri kokoh seperti sengaja ditanam. Daerah makam itu adalah perbukitan luas yang dikelilingi oleh pagar besi berwarna perak senada dengan gerbangnya. Diluar pagar itu dikelilingi oleh rimbunnya pepohonan pinus yang menjulang tinggi dengan jumlah yang tidak dapat dihitung.