
Malam itu adalah malam yang panjang bagi setiap penghuni rumah utama, mulai dari para majikan sampai para pelayan semuanya sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Para pelayan yang setelah melakukan persiapan akhir pernikahan kembali berkumpul di rumah kaca untuk pembagian tugas di hari pernikahan besok, Marcella dan Tamara yang kembali menghabiskan waktu bercengkrama bersama di dalam kamar sembari Tamara bercerita mengenai pertemuannya dengan David serta para tuan rumah dan pak Hans yang masih berkumpul diruang keluarga. Diruang keluarga setelah drama panjang kejar-kejaran terjadi semuanya duduk berkumpul dengan serius.
"Kau katakan bagaimana petualanganmu selama meninggalkan rumah!" tanya Iron sambil menunjuk David.
"Aduh hosh... hosh... petualangan apa hah?" jawab David sambil masih berusaha mengatur nafasnya yang ngos-ngosan akibat aksi kejar-kejaran mereka berdua.
"Kau! apa kau ingin ku jitak lagi hah? jangan pura-pura tidak paham!" teriak Iron sambil menggertak David dengan tangannya. David yang digertak malah cekikan tertawa.
"Iya iya santai tenanglah dulu" David kembali terdiam beberapa saat.
"Sebenarnya saat aku melangkahkan kaki keluar dari rumah ini aku juga sangat sedih dengan keputusan yang ku ambil namun aku tidak punya pilihan lain selain meninggalkan rumah" David memulai ceritanya.
"Aduh maksudmu apa coba bicaralah dengan benar, kau sedih meninggalkan rumah tapi kau tetap meninggalkan rumah" Iron mulai merasa tidak sabaran.
"Kau mau dengar ceritaku atau tidak?" perkataan David langsung membuat semuanya kembali terpaku menanti penjelasan.
...
"Aku mencintai Tamara ayah!" David berkata sambil berlutut memohon pada sang ayah yang sedari tadi membuang mukanya dari sang anak.
"Sekali ayah bilang tidak tetap tidak David!" ketua berkata dengaan intonasi tinggi.
"Aku mohon ayah aku tidak bisa hidup tanpa Tamara, aku mohon" David terus memohon dengan kedua tangan yang dikatupkan didepan dada. Nyonya yang melihat semua adegan itu memegang kedua tangan suaminya sambil juga memasang wajah memohon agar ketua mempertimbangkan keinginan anaknya, namun sayang sang ayah tidak menggubris sama sekali.
"Kau bilang tadi kau tidak bisa hidup tanpa gadis itu kan? berarti kau bisa hidup tanpa kami" kata ketua.
"Sayang..." nyonya menatap suaminya, terkejut dengan perkataan barusan.
Deg...
__ADS_1
Perkataan ketua seperti tamparan keras bagi David, nyonya yang tidak kalah terkejut menatap dengan tatapan sedihnya.
"Kau pilihlah kalau kau tetap mau melihat ayah ibumu maka tinggalah dan uruslah anak perusahaan ayah, namun jika kau tetap bersikeras maka segera tinggalkan rumah ini dan jangan pernah kembali" David sangat bingung sekarang dia benar-benar tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya. Di satu sisi dia sangat mencintai Tamara dengan kebenaran yang masih disembunyikannya disisi lainnya dia juga sangat mencintai kedua orang tuanya dan umurnya juga masih sangat muda dan berasal dari keluarga yang memanjakannya dari kecil jadi akan sangat susah baginya untuk hidup diluar sana tanpa semua fasilitas yang selama ini dimilikinya. Ditatapnya wajah ibunya yang mulai sesegukan menangis.
"David sayang ibu mohon pertimbangkanlah dulu nak" David yang semakin tidak tega melihat wajah ibunya perpaksa hanya mengangguk kecil pertanda dia setuju untuk mempertimbangkan semuanya dahulu.
"Waktumu 48jam, jangan sia-siakan waktumu berpikirlah dengan jernih" setelah perkataan ketua David kembali melanjutkan langkahnya menaiki tangga ke arah kamar dan tanpa disadari ada satu pasang mata yang sedari tadi mendengar segala percakapan mereka.
Sesampainya di kamar David langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang miliknya dia mengusap wajahnya kasar dengan kedua tangannya. Tiba-tiba suara telefon membuatnya segara meraih benda pipih itu.
"Hallo" sapa wanita diseberang telefon namun David tidak berani menjawab sapaan itu.
"Hallo David sayang apakah kau disana?" David berusaha keras menahan air matanya.
"Iya sayang ada apa? apa ada yang kau inginkan?" David bangkit dan duduk di tepi ranjangnya.
"Tidak ada, aku hanya sangat ingin memelukmu aku merindukanmu apa kau baik-baik saja?"
"Memangnya kau tahu kalau dia Elle? siapa tahu dia Eli lagi pula aku bingung dari mana kau mengarang nama-nama itu untuk anak kita"
"Hehehe iya sayang, tetapi entah mengapa aku sangat menginginkan Elle" David sangat berharap jika Tamara melahirkan anak perempuan baginya.
"Oh iya sayang tadi ada seorang pria kemari" kata Tamara.
"Seorang pria? siapa?" tanya David.
"Aku juga tidak tahu aku lupa menanyakan namanya tapi dia bertubuh tinggi rambutnya rapi kebelakang kulitnya agak cokelat seperti kak Anton tapi entah mengapa aku merasa jika melihat matanya aku seperti melihat matamu. Hehehe aneh kan? mungkin karena terlalu merindukanmu jadi aku malah seperti melihatmu pada diri orang lain tapi aku rasa ada yang aneh" Tamara menjelaskan sambil terkekeh lucu namun berbeda dengan David yang langsung berdiri dari tempat tidurnya rupanya dia tahu persis siapa yang dimaksudkan Tamara.
"Apa apa yang dikatakannya padamu? apa dia macam-macam padamu atau bayi kita?" tanya David sedikit menekan tidak sabar dengan jawaban Tamara.
__ADS_1
"Tidak ada, tadi dia berkata dia hanya ingin mengumpulkan data penduduk kurang mampu agar mendapatkan bantuan dari pemerintah dia bahkan menanyakan usia kandunganku jadi kujawab saja sudah jalan 5 minggu, tapi tadi saat aku ke warung aku bertemu dengan pak RT jadi aku berterima kasih padanya karena memasukkanku dalam daftar penerima bantuan karena orang yang mendata warga kurang mampu untuk mendapat bantuan datang ke rumah, namun pak RT bilang tidak ada bahkan beliau tidak tahu menahu soal itu karena penerima bantuan terakhir adalah warga di RT seberang. Aneh bukan? aku rasa dia keliru karena rumahku kan berbatasan langsung dengan RT seberang" Tamara dengan sabar menjelaskan panjang lebar namun tidak dengan David yang dari tadi mondar-mandir karena panik.
"Sayang dengarkan aku baik-baik mulai besok jangan keluar rumah bahkan menerima tamu. Kemasi barang-barangmu besok sore aku akan membawamu pindah ke apartemenku" David segera mematikan ponselnya langsung menyambar kunci mobilnya menuju ke sebuah apartemen. Sesampainya di apartemen yang dituju dia segera membuka pintu apartemen itu lalu masuk tanpa permisi.
"Wow lebih cepat dari dugaanku" kata seorang pria yang sedang duduk di mini bar apartemen itu sambil terus meneguk minumannya.
"Apa maumu kak? kenapa kau menemui Tamara?" tanya .
"Whoa, hold on Vid apa kau tidak ingin menyapaku dulu? kau sudah masuk apartemenku tanpa permisi, jangan terburu-buru santailah sedikit" kata pria itu sambil bangkit dan berjalan ke arah David dengan gelas yang masih dipegangnya.
"Jangan banyak basa-basi kak langsung ke intinya saja" David meminta penjelasan.
"Baiklah aku menginginkan perusahaan itu" David bingung dengan penjelasan yang aneh menurutnya.
"Maksudmu apa? perusahaan apa?" tanya David sedikit menaikkan intonasi suaranya.
"Oooh come on Vid jangan pura-pura bodoh dengan warisanmu sendiri semua orang juga tahu perusahaan itu bukan hanya sekedar anak perusahaan saja, bahkan dia yang terbesar kedua setelah perusahaan ayah. Tunggu tunggu biar kupermudah bagaimana kalau kau menukar perusahaan itu dengan wanita ****** yang sedang mengandung anakmu itu" kata pria itu penuh ancaman.
Bukkk... satu tinju melayang ke wajah pria itu.
"Jaga omonganmu kak, jangan pernah kau mengatai Tamara didepanku dan biar ku tekankan sekali lagi jika kau berani macam-macam dengan Tamara dan calon bayi kami aku tidak akan tinggal diam" kata David sambil menunjuk wajah pria yang tersungkur didepannya. Pria itu mengusap bercak darah yang keluar di ujung bibirnya lalu kembali bangkit dan tersenyum jahat.
"Tenang saja aku tidak akan repot-repot untuk melakukannya" jawab pria itu santai.
"Apa maksudmu?" David kembali emosi.
"Apa menurutmu jika ayah tahu dia akan tinggal diam? tahu bahwa anak kebanggaannya ini sudah menghamili wanita yang jelas-jelas tidak direstui bahkan asal-usulnya pun tidak jelas? apa aku harus menceritakan padamu lagi bagaimana sebenarnya sifat ayah kita itu adikku sayang?".
Deg...
__ADS_1
David seketika tersadar dengan hal yang barusan didengarnya. Mengingat bagaimana dulu ayahnya menyuruh orang untuk mencoba mencelakai Vera pacar Alex gara-gara hubungan mereka yang tidak direstui karena Vera yang masih berstatus siswi SMA bahkan ayahnya tahu bahwa Vera tengah mengandung namun tidak sama sekali diingatnya cucu yang sedang dikandung wanita itu. Akibatnya Alex harus menerima keadaan yang pahit karena bayinya tidak dapat diselamatkan serta Vera yang memutuskan untuk meninggalkannya setelah tahu dalang dari semua itu tidak lain adalah ayah dari pria yang dicintainya. Tubuh David seketika membeku dia benar-benar tidak bisa membayangkan jika hal tersebut berlaku juga atas dirinya.