Belajar Mencintaimu

Belajar Mencintaimu
Rekonsiliasi 1


__ADS_3

Terhalang perasaan hati, tentu tidak mudah dalam menentukan suatu keputusan. Tak urung pada pembenaran diri, ada kalanya logika tidak berjalan seperti semestinya. Tanggapan untuk mengutarakan semua perasaan, entah mengapa mulut ini terasa kelu untuk berucap.


“ Byana... kau belum memberikan tanggapanmu.”


Menikah?. Apa kau sadar saat ini sedang mengatakan apa?! kenapa mudah sekali untukmu berkata seperti itu?! Gumam Byana dalam hati, memalingkan wajahnya.


Kembali menghentikan langkah saat mencoba melarikan diri, sungguh kekanakan sekali. Tapi mengapa dalam diri melakukan pemberontakan yang semestinya tidak dilakukan oleh wanita pada umumnya, saat mendengar pria yang dicintai mengucapkan kedua kata indah itu.


" Tanggapan apa yang kau inginkan?. Aku bertanya padamu tentang haruskah kita melanjutkan hubungan kontrak ini, namun kau memberikan persyratan itu." Byana akhirnya menatap Aldrik dengan serius.


“ Byana, apa persyaratanku terlalu berat untukmu?” tanya Aldrik terus menarik tangan Byana hanya untuk menghentikan langkahnya.


“ Menikah bukan sesuatu yang dapat dikatakan dengan mudah.” Balas Byana yang akhirnya terdiam dan menatap Aldrik begitu serius.


“ Apa aku terlihat sedang bercanda saat ini?” tanya Aldrik begitu serius.


" Apa menurutmu aku tipe pria yang mudah mengumbar janji atau bersedia dengan wanita manapun untuk berada disampingku, terlebih sebagai pendamping hidupku?!" lanjut Aldrik yang kini terlihat sedikit kesal.


" Bukan itu maksudku. Kau tahu pernikahan bukan hal yang mudah untuk dibicarakan... atau, Aldrik apa kau seperti ini karena Om dan Tante Lesti sempat menyudutkanmu dulu bahkan memberikan kotak perhiasan?."


" Byana, apa kau sadar saat ini sedang menguji batas kesabaranku?!" Aldrik menarik tangan Byana agar semakin  mendekat, hingga tatapan Aldrik terasa begitu tajam.


" Aapppa... maksudmu?," ucap Byana begitu gugup.


Terhenti pada suatu percakapan dengan kehadiran Nathan secara tiba tiba, membuat Byana memalingkan pandangannya serta Aldrik yang langsung melepaskan genggaman tangannya. Tertunduk memejamkan kedua matanya, tatapan Nathan pada Aldrik yang terlihat begitu serius kearah Byana, akhirnya menyadari bahwa sedang ada percakapan serius antara keduanya.


Merasa tidak nyaman, Nathan pun langsung meminta persetujuan Aldrik untuk perpindahan naratama bagi Lia yang membuat suasana tegang sedikit mencari. Tak urung akan Pak Gio, Hana,serta Gestara yang datang pun terlihat begitu khawatir mempertanyakan kedatangan Nathan.


“ Tenang... aku kemari hanya meminta persetujuan Aldrik untuk perpindahan kelas VVIP Lia serta administrasi lain karena Lia sudah boleh dipindahkan ke ruang rawat inap.” Balas Nathan tersenyum mencoba menjelaskan.


“ Benarkah?, lalu apa observasinya sudah selesai?” tanya Pak Gio penuh khawatir.


“ Saya belum dapat memastikan. Tapi dengan ruang intensif sementara waktu jauh lebih baik untuk Lia. Saya kemari hanya ingin memastikan pada Aldrik jika Lia bisa langsung dipindahkan nantinya.” Balas Nathan kembali sembari menepuk pelan pundak Pak Gio.


“ Terima kasih...” balas Pak Gio.


Melihat Pak Gio, rasa bersalah tentunya masih membayangi Byana saat ini. Terlupakan akan percakapannya dengan Aldrik sesaat, Byana mendekati Pak Gio dan mencoba berbicara dari hati ke hati dengannya disaat Nathan sudah pergi berlalu.


Aldrik, Hana, dan Gestara memberikan waktu untuk Byana dan Pak Gio untuk berbincang. Tak urung akan Aldrik yang berdiri dari balik tembok jendela ruangan Lia, baginya yang melihat kondisi Byana semakin terlihat pucat, kekhawatiran pun hadir dalam dirinya.


“ Nona Byana, pulang dan beristirahatlah... biar saya yang menjaga Lia.” Ucap Pak Gio dengan menunduk sopan seperti biasa.


“ Pak... kata maaf sepertinya sudah tidak sanggup lagi untuk kukatakan. Karena itu, jika Pak Gio memberi kesempatan padaku untuk menebusnya, ijinkan aku yang menjaga Lia sampai dirinya membuka mata.” Balas Byana dengan menunduk penuh memohon.


“ Apa?... tapi, Nona Byana... permintaan itu sangat tidak bi---”


“ Pak Gio, aku mohon. Bisakah?.”


Pak Gio terdiam menatap pada Byana yang terlihat begitu menyiksa dirinya. Tersadar akan perkataan Hana dan Gestara sebelumnya akan Byana yang menekan emosi untuk menghilangkan traumanya, pasti begitu sulit untuk Byana saat ini.


Pak Gio yang cukup mengerti akhirnya mengijinkan Byana dan pulang meski terasa berat. Tak urung akan Byana yang terus menundukkan kepalanya, Pak Gio pun diantarkan oleh Gestara untuk kembali pulang ke kediaman Aldrik.


“ Kenapa kau... seolah mengusir pak Gio dari sini?” tanya Hana saat menghampiri Byana.


“ Kau tidak lihat tubuhnya begitu bergetar?. Pak Gio sudah begitu kelelahan dan tidak muda lagi. Bagaimana orang tua sepertinya dapat bertahan duduk dikursi ini seharian penuh.”


“ Byana... apa kau juga tidak lihat penampilanmu saat ini?. Kau sudah seperti mayat hidup!” balas Hana sedikit kesal.


“ Aku hanya terkena goresan peluru dan pecahan kaca. Tidak sebanding dengan yang Lia rasakan saat ini.” Balas Byana langsung memalingkan tubuhnya menatap pada Lia dari balik kaca.

__ADS_1


“ Kau... benar benar keras kepala! Jika sampai jatuh sakit, aku tidak akan menolong atau menjengukmu!” balas Hana yang akhirnya marah, berlalu pergi meninggalkan Byana.


Melihat Hana yang berjalan keluar ruangan, Aldrik mencuri pandang dari balik tembok menatap Byana yang masih berdiri dengan lemas menghembuskan nafas panjangnya beberapa kali.


Terlihat memejamkan kedua matanya sembari menyandarkan kepalanya pada kaca ruangan Lia dengan begitu letih dan lemas, Byana hanya menikmati keheningan dengan bunyi alat medis yang menempel pada tubuh Lia.


( DRRTTT DRRTTT DRRTT) Handphone Aldrik yang bergetar dari dalam saku jasnya.


“ Halo, katakan ada perkembangan apa.” Ucap Aldrik dengan nada begitu serius.


“ Baiklah. Aku akan menuju kesana sekarang.” Lanjut Aldrik kembali dengan berlalu pergi, terpaksa meninggalkan Byana seorang diri.


Terpanggil akan sebuah bukti baru yang didapatkan hasik dari kesaksian keempat karyawannya yang mulai membaik, Aldrik begitu tergesah menuju rumah sakit lainnya mengingat waktu besuk yang terbatas. Kembali berlari menuru ruangan rawat inap dengan beberapa penjaga yang begitu ketat menjaga keamanan, Aldrik masuk dengan sedikit merasa gugup.


“ PAK.” . “ Pak Aldrik...” . “ PAK.” Ucap ketiga karyawan yang langsung terduduk tegak, saat kondisi tubuh mereka sudah jauh lebih membaik.


“ Tidak perlu formal... kembalilah berbaring dan istirahatkan diri kalian.” Balas Aldrik sembari tersenyum.


“ Pak, terima kasih sudah memberikan fasiltas terbaik untuk kami selama berada disini... bahkan kami dengar, Bapak ikut memberikan bantuan kepada istri dan anak kami.”


“ Ya Pak... kami benar benar berterima kasih pada Bapak.”


Terdiam mendengar perkataan yang keluar dari mulut mereka, Aldrik menundukkan kepalanya karena berbagai perasaan tiba tiba datang menghampirinya. Mencoba untuk bersikap tegar, Aldrik mengambil sebuah bangku dan sengaja menaruhnya ditengah untuk dapat menatap keempat karyawannya.


“ Maafkan aku karena terlambat menemukan kalian semua sehingga harus mengalami hal ini.” Aldrik tiba tiba menundukkan kepalanya penuh sesal pada keempat karyawannya.


“ Kalian sudah berjuang mempertahankan kepercayaan dan juga untuk kepentingan perusahaan. Terima kasih banyak.” Lanjut Aldrik kembali dengan semakin menundukkan kepalanya.


“ Pak... jangan seperti ini... kami berada disini dan mendengar kabar bahwa keluarga kami baik baik saja, sudah merupakan puji syukur kami pada anda....”


“ Ya Pak Aldrik, kami mohon angkatlah kepala anda, agar kami merasa leluasa.”


“ Pak Aldrik, kami mohon... berhentilah menundukkan kepala.”


Terduduk disampingnya seorang kuasa hukum bernama Haris, yang sejak tadi memberikan kesempatan Aldrik untuk berbicara, Haris pun akhirnya membuka topik pembicaraan serius melihat pada kondisi Azka yang masih lemah dan belum sadarkan diri.


“ Hasil dari pemeriksaan Bu Azka sepertinya... mendapatkan perlakuan tidak benar.” Ucap Haris sembari memberikan rekam medis pada Aldrik.


“ Pak Aldrik... dari kami berempat... Azkalah yang paling sering disiksa.” Balas salah satu karyawan yang ikut menjelaskan.


“ Mereka meminta Azka untuk... memuaskan mereka. Dan Azka selalu melakukan perlawanan karena itu dia selalu mendapat pukulan keras.” Ucap karyawan lainnya.


“ APA?! Lalu, bagaimana kata dokter?” tanya Aldrik dengan menatap pada Haris.


“ Cedera pada punggung bagian belakangnya begitu serius mengingat tubuhnya yang juga kurus. Kudengar dia sudah bertunangan dan berencana melangsungkan pernikahan.” Haris mencoba memberikan penjelasan.


“ Siapa tunangannya?. Bukankah semua keluarga yang terkait dengan mereka berempat sudah pernah kita hubungi sebelumnya?. Kenapa hal ini sampai terlewat?” tanya Aldrik mengerutkan alisnya seolah merasa janggal.


“ Itulah Pak. Pria ini mengaku sebagai tunangannya dan memperlihatkan sebuah foto pertunangan mereka.” Balas Haris dengan memperlihatkan foto pertunangan Azka dari balik handphonenya.


Aldrik terdiam sejenak dengan menatap pada pria yang berasa dalam sebuah foto. Tak urung akan Azka yang juga merupakan teman Aldrik saat berkuliah dulu, yang Aldrik tahu bahwa sebelumnya Azka bercerita bahwa pertunangannya gagal.


Siapa pria ini?, kenapa dia masih berani mengakui dirinya sebagai tunangan Azka?. Gumam Aldrik dalam hati dengan raut wajah serius.


Haris pun akhirnya memperlihatkan beberapa foto lainnya mengenai pria itu yang akhirnya membuat Aldrik mengerti dan paham bahwa sebenarnya pria itu hanya ingin memanfaatkan Azka mengingat posisi Azka yang tinggi diperusahaan.


Tak urung akan pria itu yang juga ternyata bekerja pada salah satu perusahaan saingan bisnis Aldrik, sepertinya dengan hilangnya Azka yang diketahui membawa sebuah dokumen perusahaan, pria itu mencoba mencari keuntungan darinya mengingat informasi penting perusahaan ditangan Azka.


“ Selidiki pria ini dan berikan laporannya padaku.” Ucap Aldrik pada Haris.

__ADS_1


“ Serta, maafkan keegoisanku ini yang tidak melihat kondisi kalian. Namun, bisakah kalian memberikan keterangan lainnya padaku saat mereka membawa kalian?. Kemana dan apa saja yang Daniel serta anak buahnya lakukan.” Lanjut Aldrik begitu serius, menatap pada keempat karyawannya.


“ Sebelum kami berempat disekap diklub karaoke itu, kami bertemu dalam sebuah kontainer besar yang berada di dermaga pelabuhan, dan Bu Azkalah yang paling terakhir datang dengan tangan dan mulut yang terikat.”


“ Ya Pak. Kemudian kami berlayar dan dibawa kesebuah pulau.”


Aldrik seketika menadahkan kepalanya lurus kepada karyawan itu merasa penuh terkejut dengan kesaksian yang diberikannya. Teringat akan bukti lain yang Byana temukan sebelumnya mengenai pulau perhentian, Aldrik seperti mendapat titik cerah dalam hal ini.


Mendapat keterangan akan sebuah tempat besar dimana banyak orang tua atau anak muda yang berada didalamnya, keempat karyawan itu pun meyakini bahwa tempat itu merupakan sebuah panti sosial yang lagi lagi dijadikan topeng persembunyian bagi Daniel dan anak buahnya.


“ Apa saja yang kalian lihat disana?” tanya Aldik pada keempat karyawannya.


“ Banyak Pak. Dalam bangungan itu terdapat banyak sekali ruangan, penjagaan yang ketat dimana para penjaga membawa senjata, sama sekali bukan terlihat sebagai panti sosial. Serta penampilan mereka selalu berubah ubah.”


“ Berubah ubah?, maksudmu?” tanya Aldik kebingungan pada karyawannya.


“ Memang banyak para orang tua paruh baya disana, namun penampilan anak muda yang ikut membantu mengurus mereka begitu berbeda pada malam hari. Riasan wajah serta pakaian mereka begitu mengundang. Bahkan saya melihat mereka menari nari dengan tak senonoh”


“ Ya Pak. Mereka seperti itu sampai dini hari dan pada pagi hari tempat itu seperti disihir menjadi sebuah panti sosial kembali yang dipenuhi orang tua dan anak anak.”


Mendapat pengakuan lainnya dari kesaksian mereka, Aldrik pun dapat menyimpulkan bahwa sedang terjadi praktek prostitusi yang dilakukan Daniel dan anak buahnya. Entah mereka yang menawarkan diri akibat tertipu  janji manis Daniel, pilihan kedua Aldrik adalah mereka menculik dan melakukan perdagangan manusia.


Bagi Haris yang juga sudah terbiasa bekerja pada lingkup ini, dapat dengan mudah baginya memberikan penilaian. Menatap pada Aldrik yang juga menatapnya, tanpa perlu berkata Haris pergi untuk melanjutkan pekerjaannya agar dapat dengan cepat melaporkannya kembali pada Aldrik.


“ Baik, kembali beristirahat dan hubungi aku jika kalian membutuhkan sesuatu.” Aldrik tersenyum sembari menaruh kembali bangku pada tempatnya.


“ Terima kasih banyak Pak. Semoga anda menemukan hal yang anda cari, lalu membereskan masalah ini sampai tuntas.” Ucap salah satu karyawan itu dengan membalas senyuman Aldrik.


“ Tentu saja. Terima kasih.”


********


-Rumah sakit tengah kota-


Seketika saja keadaan rumah sakit kembali ramai dengan datangnya pasien baru. Byana yang tanpa sadar sempat tertidur sejenak pun terbangun dan mencoba untuk menyadarkan dirinya mengingat banyak sekali orang yang berlalu lalang.


Pukul 11 malam. Aaahhh... lapar. Kenapa tiba tiba aku merasa lapar dijam ini?. Gumam Byana dalam hati selepas melihat pada jam tangannya, mengusap ngusap perutnya yang kosong.


Melihat mesin penjual otomatis yang berada diseberangnya, Byana mencoba untuk berjalan dan membeli beberapa cemilan dan minuman. Dengan juga masih merasa lemas, langkah kaki Byana seolah tak terarah hingga beberapa kali bersenggolan dengan para orang orang yang melewatinya.


Ada apa denganku?! Kenapa aku tidak bisa berjalan lurus?! Gumam Byana kembali dalam hati merasa kesal selepas memohon maaf pada orang yang berbeda beda.


Byana kembali melangkah dengan perutnya yang bergemuruh mengeluarkan suara yang terdengar memalukan. Merasa risih, Byana memaksakan dirinya untuk berlari dan tiba tiba kakinya yang terluka seolah terkunci tidak dapat bergerak hingg membuat Byana terjatuh.


( GEDEBUKKK) Byana tertidur dilantai dengan lemas.


“ Ada apa?... kau tidak apa apa?.”  “ Kau terlihat begitu pucat, tunggu akan aku panggilkan---”


“ Tidak, tidak... tidak perlu terima kasih. Aku baik baik saja, terima kasih...” balas Byana pada sepasang suami istri yang mencoba menolongnya, dengan langsung terduduk.


“ Kau yakin tidak apa apa, Mba?” tanya istri tersebut pada Byana.


“ Tentu, terima kasih....”


Untuk meyakinkan mereka, Byana pun dengan cepat kembali berdiri dengan tegap dan tersenyum manis. Namun kali ini, tubuh Byana sudah tidak dapat lagi bekerja sama dengannya dimana Byana tidak dapat melangkahkan kakinya serat pandangannya mulai terlihat buram.


Terus mencoba untuk menyadarkan dirinya, Byana benar benar sudah tidak dapat lagi menahan dirinya disaat semua terlihat berputar dengan warna hitam pekat tak berujung. Hal terakhir yang Byana ingat adalah, dirinya yang mencoba untuk tetap terjaga berdiri tegap.


“ Suntikan obat itu padanya. Kau periksa tekanan darahnya.”

__ADS_1


“ Infus sudah terpasang, Dok. Tekanan darahnya begitu rendah.”


Samar samar terdengar kembali perkataan itu. Apa aku kini selemah ini?. seandainya saja ada mesin waktu, atau kesempatan kedua yang diberikan padaku... bisakah aku memilih untuk tidak berada dalam posisi ini?.


__ADS_2