Belajar Mencintaimu

Belajar Mencintaimu
Komitmen 8


__ADS_3

Lagi lagi sifat keras kepala yang tidak hilang. Menyebalkan sekali melihat keras hati yang dimiliki dari seorang wanita yang selalu bertindak semudah pikiran dan hatinya meski dalam praktek lapangan begitu membahayakan nyawanya.


Tertuju pada kedua tatapan yang menyelinap keluar dari kamarnya melalui balcon atas samping garasi, Pak Gio yang sedang melakukan pemeriksaan sekitar kediaman pun akhirnya berhasil Byana lewati dengan mudah.


“ Maaf sedikit lama... barusan aku harus menyiapkan sesuatu.” Ucap Byana dengan nafas tergesah masuk kedalam mobil van.


“ Byana?, apa yang kau lakukan?. Kenapa memintaku untuk menunggu diluar pagar?. Lalu... penampilan apa ini?” tanya Hana begitu kebingungan.


“ Akan aku jelaskan nanti. Hana, aku ingin kau untuk membantuku.”


“ Tunggu... Byana... untuk apa kau, membawa senapan itu?” tanya Hana kembali dengan mulai menjaga jarak.


“ Kau hebat dalam mengendarai mobil. Karena itu tolonglah aku...” balas Byana kembali dengan raut wajah memohon.


Tidak mengerti dengan apa yang Byana inginkan, dengan sigap dan tidak ingin membuang waktunya Byana menyuruh Hana untuk duduk disamping bangku kemudi dan mengambil alih posisi Hana. Dengan menjelaskan rencana dan maksud hatinya, Byana dengan sangat detail bercerita pada Hana sembari mengemudikan mobil tersebut.


Kepanikan namun tidak dapat berbicara kini Hana lakukan dengan ketakutan yang begitu jelas terlihat. Tak urung akan dirinya yang juga tidak bisa meninggalkan Byana sendiri, merasa tidak ada pilihan lain bagi Hana kali ini yang sudah terlanjur menganggap Byana sebagai adik angkatnya, Hana memberanikan diri untuk mengambil keputusan.


“ Lalu, dimana aku harus menunggumu nanti?” tanya Hana dengan mulai berbicara dengan nada serius.


“ Aku akan memberhentikan mobil ini tepat didepan Cafe yang berada dua toko sebelum Klub karaoke itu. Jadi pastikan kau tidak menarik perhatian.” Balas Byana dengan masih mengendarai mobilnya.


“ Haruskah aku membantumu masuk kedalam untuk menyelamatkan mereka?” tanya Hana mencoba bernada tegar dengan tangannya yang bergetar.


“ Kau membantuku dengan bersedia menyetir saja sudah sangat membantuku... cukup aku saja yang masuk kedalam...” balas Byana sembari tersenyum manis.


“ Tapi... trauma... kau masih belum begitu...” Hana tergagap menjelaskan.


“ Karena itu aku memintamu membawakan obat itu. Suntikan saja padaku sebelum aku turun. Tenanglah, aku akan sangat berhati hati. Apa kau lupa aku ini seorang polisi?.”


Kembali melihat senyuman diwajah cantiknya, Hana memalingkan wajahnya karena tahu hal berbahaya yang sedang Byana coba lakukan terlebih dengan bertindak seorarang diri. Merasa akan memakan waktu dan lainnya jika menghubungi rekan kepolisiannya, Byana yang sudah mengenal tata letak ruangan pun memberanikan dirinya untuk maju dibarisan depan.


Dari samping secara sembunyi sembunyi, Hana mencoba menghubungi Gestara untuk mengabarinya. Namun keberuntungan tidak berpihak dengan Gestara yang juga sibuk membantu Aldrik dalam memeriksa aplikasi software yang bermasalah.


“ Aldrik... sepertinya mereka mengirimkan virus pada data ini.” Ucap Gestara.


“ Tidak bukan yang itu. Coba kau periksa data lainnya.” Balas Aldrik begitu sangat serius.


Belum selesai memeriksa kesalahan dan aplikasi rusak yang menyebar dalam jaringan komputernya, Gestara terkejut dengan penuh ketakutan. Tangannya bergetar serta bibirnya kelut untuk berkata. Menatap pada Aldrik yang terlihat kebingungan, Gestara pun terpaksa menampilkan video yang tiba tiba masuk kedalam surel email perusahaan.


# Jika ingin mereka semua selamat\, berhenti melakukan perlawanan. Berikan aplikasi inti pada kami serta permudah keamanan yang dapat dengan kami masuki dengan cepat. INGAT! Kami ingin data asli dan jangan pernah berani menghubungi pihak kepolisian. #


Meski menggunakan peredam suara serta muka yang ditutupi topeng, rekaman video berdurasi 15 detik cukup memperlihatkan kekejaman Daniel dan anak buahnya. Dengan terikatnya keempat karyawan Aldrik, terlihat jelas Alex dan Gerry yang menodongkan senjata kearah kepala mereka.


( AARRRGGHH ) ( BRAAKK BRAAKK) “ SIAL KAU DANIEL MOSSE!!”. Teriak Aldrik begitu marah dengan menghentak meja yang dipenuhi komputer.


Tersadar akan panggilan yang dilakukan oleh Hana beberapa kali padanya, Gestara pun merasa ada yang tidak benar mengingat sifat Hana yang begitu fleksibel. Gestara membalas mencoba menghubungi Hana beberapa kali namun sama sepertinya, saat ini Hana pun tidak bisa menjawab panggilan dari Gestara.


Gestara berjalan keluar ruangan sembari terus mencoba menghubungi Hana mengingat Aldrik yang begitu terbawa emosi saat ini. Tersadar akan aplikasi yang dibuat Aldrik yang terhubung pada handphone milik Byana, Gestara pun memasang aplikasi yang sama dimana Hana pun ikut menyetujuinya.


“ GESTARA!” teriak Aldrik dari dalam ruangan.

__ADS_1


“ Putus semua jaringan nirkabel diperusahaan. Ada yang harus kulakukan. Setelah aku memberi perintah, baru kau sambungkan kembali jaringannya.” Lanjut Aldrik memberi perintah saat Gestara berjalan masuk kedalam ruangan.


“ AL, jangan bilang kau berniat....”


“ Ya. Tidak ada pilihan lain. Tapi aku akan berusaha memblokir akun situs mereka saat mereka mulai mencoba meretas aplikasi itu.” Balas Aldrik sembari melepas dasi yang dikenakannya.


“ Kau... yakin?” tanya Gestara penuh kebimbangan.


“ Ya. Lakukanlah.”


Terlupa sejenak akan perintah darurat yang diberikan oleh Aldrik, Gestara melupakan bahwa aplikasi yang saat ini sudah terhubung pada handphone milik Hana menunjuk pada sebuah lokasi. Tertuju pada klub karaoke yang menjadi incaran mereka, Gestara tak menyadari saat ini Hana dan Byana berada diujung maut.


Sisi lain disaat mereka berdua terhenti pada tempar parkir mobil di depan Cafe yang sebelumnya Byana rencanakan, Hana terkejut dengan Byana yang sudah memakirkan satu mobil lainnya dimana terdapat berbagai senjata didalamnya.


“ Byana tunggu... apa nanti, kau tidak akan bersama kami pulangnya?” tanya Hana kebingungan.


“ Aku hanya mengambil inisiatif untuk menghadang mereka jika sesuatu terjadi. Hana, kau pergilah lebih dulu membawa mereka pergi.” Balas Byana dengan mengambil sebuah senjata lainnya dari balik bagasi mobilnya.


“ Dari mana kau... mendapatkan banyak senjata seperti ini?” tanya Hana kembali kebingungan.


“ Apa kau lupa mendiang ayah dan ibuku seorang intel?. Bagaimana bisa seorang intel tidak memiliki senjata...” balas Byana dengan tersenyum.


“ Byana... tidak bisakah kita berdiskusi dulu dengan Aldrik dan Gestara?... mungkin keadaan akan lebih baik jika mereka me---”


“ Akan terlambat. Aku yakin saat ini Daniel sudah mengirimkan ancaman kepada Aldrik.” Balas Byana dengan menyelipkan sebuah senjata pada sabuk dipunggung belakangnya.


“ Jadi, disaat mereka sedang sibuk mencoba meretas aplikasi perusahaan Aldrik, kau akan menyelinap masuk?” tanya Hana kembali.


“ Ya. Ruang komputer dan tempat dimana mereka disandera hanya terlewat satu ruangan. Jadi mereka tidak akan melihatku jika melewati jalan rahasia pintu belakang.” Balas Byana.


Byana kembali berlari menuju mobil van dan begitu terkejut mendapati Hana menarik tangan seorang gadis polos yang menyelinap masuk diam diam kedalam mobil. Tidak tahu sejak kapan Lia bersembunyi di kursi bagian belakang, baik Hana terlebih untuk Byana sama saja dengan masalah besar yang akan menggagalkan rencananya.


“ LIA?! APA YANG KAU LAKUKAN DISINI!” Byana tanpa sadar meninggikan suaranya karena merasa khawatir dan sedikit kesal pada Lia.


“ Noonona Byana, maafkan Lia... Lia tidak tahu bahwa saat ini Nona Byana berniat untuk---”


“ Dengarkan aku dan lakukan dengan baik. Kau, jangan pernah keluar meski apa pun yang terjadi. Tetap didalam mobil dan dengarkan perkataan Hana. Lia, apa kau mengerti?!”


Mengangguk penuh ketakutan pada Byana yang terlihat marah, bagi Lia yang masih baru berusia 18 tahun, sungguh tidak mungkin baginya untuk mengalami kejadian seperti ini mengingat kebiasaan sehari hari yang ia lakukan.


Hana mencoba menenangkan Byana dengan menarik Lia kebelakang tubuhnya dan memberikan isyarat untuk segera pergi, yang kambali tak urung Byana pun berlalu mengitari samping belakang klub karaoke tersebut.


Dengah tersambung alat walkie talkie, Hana mendengar setiap nafas dan hentakan kaki Byana yang berlari. Hana pun mendengar sedikit pembicaraan atau tertawa lantang dari pria yang Byana lewati begitu saja seolah terlihat mudah baginya.


“ Apa... Nona Byana... terbiasa melakukan pekerjaan seperti ini?” tanya Lia dengan mengerutkan alisnya pada Hana.


“ Sejauh yang kutahu, Byana bercita cita menjadi musisi. Namun karena suatu kondisi memaksanya menjadi seorang polisi. Sebelum ini dia juga pernah bertugas melakukan penggeledahan sebuah bandar narkoba...” balas Hana tersenyum sembari menjelaskan.


“ Bagaimana jika... tuan Aldrik sampai tahu hal ini?” tanya Lia kembali dengan beralih expresi wajah khawatirnya.


“ Aku hanya berharap, Byana berhasil dalam misinya kali ini sehingga meredakan kemarahan Aldrik yang akan sangat meledak.” Balas Hana mencoba membayangkan.

__ADS_1


( KRRIIEETTT) Bunyi sebuah pintu yang terbuka dari walkie talkie.


Suasana menjadi begitu hening saat ini sehingga Hana dapat menyimpulkan Byana sudah berhasil masuk melalui pintu belakang dan mulai menaiki anak tangga. Seketika terdengar suara ramai orang berbicara, Byana yang terkejut dengan menghembuskan nafasnya sembari mengumpat sebuah kata pelan, cukup membuat ketegangan bagi Hana dan Lia yang mendengarkan.


Seperti bersandar pada sebuah balik tembok, Byana mencoba memutar jalan kembali melewati beberapa ruangan yang kini suasana kembali menjadi hening dan hanya terdengar suara dentuman bass musik yang menggema dari kejauhan.


Keadaan semakin menegangkan disaat kembali terdengar beberapa orang berteriak, seperti sedang memaki kesal keadaan. Hana dan Lia pun saling menatap seolah bertanya, apa Byana mencoba mencari celah untuk menyerah Daniel secara langsung?. Apa dia sudah gila?.


( Sssttttt Ssssttt SSssttt) Suara desisan yang kembali terdengar dari walkie talkie.


“ Aku melempar obat bius tabung kepada mereka.” Ucap Byana berbisik setelah berhasil merekam video bukti baru percakapan Daniel, Alex, dan Gerry lalu dikirimkan kepada Hana.


Menunggu beberapa saat hingga akhirnya terdengar suara benda atau orang terjatuh, Byana pun terdengar membuka pintu dan memastikan apakah mereka sudah tidak sadarkan diri. Terdengar rencananya berhasil, Byana menutup pintunya dan kembali mendengar setiap nafas dan hentakan kaki Byana yang berlari.


Suara gaduh seketika menghilang saat para anak buah Daniel sudah mulai mabuk meminum minuman keras sesuai dengan apa yang diingat Byana pada jam jam tertentu. Merasa keberuntungan sudah berada dipihaknya, Byana berlari secepat mungkin dan masuk keruangan sandera dimana keempat karyawan Aldrik terikat dengan hina.


“ Dengarkan aku, kalian semua ikuti aku dari belakang dengan tidak menimbulkan suara sama sekali. Ada sebuah mobil van berwarna putih diluar menunggu kalian, masuk dan pergilah dari sini. Kalian mengerti?” tanya Byana berbisik saat melepaskan penutup wajahnya dan melepas ikatan yang mengikat menggunakan sebuah pisau berukuran sedang.


“ Siapa kau?, apa kau kenal dengan kami?” tanya salah satu karyawan Aldrik dengan berbisik.


“ Cukup mengenalku sebagai polisi sepertinya cukup... oke sudah. Bersiap mulai berlari, ingat jangan menimbulkan suara apa pun.” Balas Byana tersenyum dengan kembali menutupi wajahnya dan mengarahkan sebuah senapan ditangannya kearah depan untuk berjaga.


Hana dan Lia yang mendengarkan setidaknya sedikit merasa lega mendengar pembicaraan Byana yang berhasil menemukan keempat anak buah Aldrik dan mulai bergerak untuk menyelamatkan mereka. Keempat karyawan Aldrik pun mengikuti instruksi Byana dengan sangat baik dan bergerak dengan sangat hati hati.


Terturun pada sebuah tangga menurun, pergantian jam penjaga pun terlihat disaat beberapa pria mulai menaiki anak tangga yang menjadikan tanda bagi Byana saat ini untuk bergerak cepat keluar dari tempat membahayakan tersebut.


“ Cepat berlari, cepat berlari!” teriakan pelan Byana yang mengarahkan keempat anak buah Aldrik setelah membuka pintu suatu ruangan.


( BHRRUUKKK PRAANNGG) Salah satu karyawan Aldrik bernama Azka yang juga tidak lain tetangga Byana, terjatuh karena lemas hingga tak sengaja menubruk vas bunga tinggi hingga terpecah.


“ APA ITU?!” teriak salah satu anak buah Daniel yang masih berada dibawah anak tangga.


Tersadar hanya terhalang sebuah dinding yang menutupi mereka, Byana menopang Azka dibantu dengan salah satu pria karyawan Aldrik untuk membantunya kembali berlari. Berhasil keluar melalui pintu samping, Byana melihat kedua karyawan lainnya sudah berhasil masuk kedalam mobil.


Hana melambaikan tangannya untuk meminta Byana bergegas berlari dengan cepat mengdengar suara gaduh dari dalam klub karaoke yang akhirnya menyadari bahkan keempat sandera mereka kabur, terlebih dengan Daniel, Alex, dan Gerry yang tidak sadarkan diri.


“ BYANA CEPATLAH!” teriak Hana dengan berlari masuk kedalam mobil untuk mulai menancapkan gasnya dan mengambil alih kemudi.


“ PERGILAH DAN BAWA MEREKA KETEMPAT YANG KUKATAKAN!” teriak Byana membantu Azka menaiki mobil dan menutup pintunya.


( DOORR DOORR DOORR DOORR) Suara tembakan yang dilepaskan beberapa kali oleh anak buah Daniel kearah Byana.


“ PERGI SEKARANG JUGA!” ( DOORR DOORR DOORR) Suara tembakan balasan yang dilakukan Byana untuk menghalau anak buah Daniel disaat mobil Hana melewati mereka.


Sebuah baku hantam dengan saling menembak diarahkan satu sama lain. Merasa posisinya terancam dan isi peluru yang menipis, langkah Byana mundur mengarahkan dirinya untuk masuk kedalam mobil lainnya bersiap untuk pergi menancapkan mobilnya.


Dengan beberapa anak buah Daniel yang juga sudah berlari dan siap melepaskan tembakan kembali, Byana memantulkan lampu jarak jauh seraya membuat mereka silau dan mulai menancapkan gasnya mencoba melewati meski harus menabrak mereka. Namun tiba tiba,


“ AWAS NONA!” ( DOORRR DORRR) tembakan yang tepat diarahkan kepada kepala Byana menembus kaca depan mobil, dimana Lia melindunginya dengan merangkul Byana dari belakang.


Tidak sempat melihat kearah Lia yang langsung terkulai terduduk dengan darah yang mulai mengalir dari tubuhnya dibangku kursi belakang, Byana fokus untuk menancapkan gasnya hanya untuk segera melaju dengan sangat cepat menuju sebuah rumah sakit ditengah kota.

__ADS_1


“ Nona Byana....”


Rintihan suara menahan sakit disertai dengan senyuman piluA. Byana menatap lirih dari balik spion tengah mobil disaat Lia dengan lunglai terbaring sudah lagi tidak dapat terduduk. Yang dapat dilakukan hanya berkendara dengan sangat cepat ditengah malam yang bisu.


__ADS_2