
Setelah kejadian hujan-hujanan, Marcella merasa dirinya seperti tahanan negara. Sepanjang memasuki rumah utama, Noah terus menggenggam tangan Marcella. Marcella yang mandi dan berganti pakaian bahkan ditunggui Noah di depan pintu kamarnya. Setelah selesai, Noah kembali menggenggam tangan adiknya itu menuju kamarnya. Di kamar Noah, Marcella diam seperti orang bodoh menunggui Noah mandi. 30 menit kemudian Noah keluar dari kamar mandi sudah berganti pakaian.
"Masih disini Kak..." kalimat yang barusan keluar dari mulut Marcella, menjawab tingkah Noah yang kelihatan setengah berlari keluar dari kamar mandi. Noah tersenyum ke arah Marcella yang duduk di pinggir ranjangnya. Perlahan Noah melangkah mendekat ke arah Marcella, pria itu kemudian berlutut di depan gadis itu. Kedua tangannya di kalungkan di pinggang Marcella. Awalnya gadis itu ingin menonjok wajah tampan didepannya, namun saat melihat mata si pemilik wajah yang sudah berkaca-kaca, Marcella akhirnya mengalah.
"Maaf" Noah berbicara sambil menunduk.
"Hmmm" Marcella menjawab sambil memutar bola matanya kesal. Bagaimana tidak, kata maaf kali ini entah sudah kata maaf yang ke 1000 dilontarkan Noah. Setelah menjawab, Marcella merasa tangan Noah dipinggangnya perlahan mengetat.
"Maaf" itu mulut tidak capek ya bilang maaf terus dari tadi, batin Marcella.
"Hmmm" Marcella kembali berdehem sebagai jawaban. Lingkaran tangan Noah semakin ketat memeluk pinggangnya.
"Maaf" ya ampun... Marcella mulai stres sendiri, akhirnya gadis itu memilih diam. Noah yang tidak mendengar apapun lagi keluar dari mulut Marcella semakin merasa bersalah. Nah diam kan, batin Marcella lega. Namun yang terjadi beberapa detik setelahnya mulai membuat kesabarannya habis. Noah memeluk erat pinggang Marcella dengan kepala yang dibenamkan di perut gadis itu. Marcella mulai merasakan cairan hangat membasahi piyamanya yang berbentuk daster itu. Apa-apaan ini? Apa dia menangis?
"Maafkan aku hiks hiks..."
"Ya ampun Kakak... Iya sudah aku maafkan, kan sudah dari tadi aku bilang sudah kumaafkan!" Noah perlahan mengangkat wajahnya menatap wajah Marcella. Marcella yang melihat mata Noah yang sembab dan hidung yang memerah perlahan mengalungkan kedua tangannya di leher Noah lalu tersenyum manis. Terpaksa nih ya... Biar yang mulia diam. Nah, apa lagi itu senyum-senyum begitu.
"Cius?"
"Eh?!" Marcella kaget dengan perkataan barusan. Seolah tidak peduli reaksi Marcella, Noah kembali bicara.
"Mi apa?" ini orang kerasukan arwah di bukit atau apa nih. Marcella mulai memicingkan mata curiga, sebelum akhirnya menghembuskan nafas kasar.
"Mi goreng ayam kremes telur ceplok"
"Hahahahahah" tawa Noah menggelegar, seiring kepalanya yang kembali di benamkan di perut Marcella. Marcella sendiri ikut tertawa bersama Kakaknya.
"Iiihhh Kakak, rambut Kakak basah, bajuku jadi basah juga" Marcella cemberut sambil mendorong dorong kepala Noah supaya menjauh.
"Eh iya, takut kamu hilang lagi Kakak sampai lupa keringkan rambut hehehe" Noah cengengesan sambil menekan-nekan pipi gembul Marcella.
"Ya sudah sini aku bantu keringkan"
"Cius? Mi ap-"
"Sekali lagi bilang mi apa aku tabo-"
__ADS_1
"Iya iyaaaa galak amat..." Noah segera berlari mengambil hair dryer miliknya lalu segera memberikannya pada Marcella. Setelahnya pria itu melompat dan duduk manis disofa, siap menerima service jarang-jarang dari adiknya itu. Marcella yang melihat tingkah Noah pun menatap sinis sebelum melangkah ke belakang sofa, mencolok hair dryer lalu mengaplikasikannya ke rambut Noah. Cielah author udah kayak kasih tutorial aja ahahahahahah. Oke skip, yang tadi anggap iklan. Marcella terus mengeringkan rambut Noah hingga terasa benar-benar kering dan halus.
"Sini gantian" belum sempat Marcella membantah, Noah sudah bangkit dari duduknya lalu menyuruh Marcella duduk, sementara pria itu berdiri dibelakang sofa dan mengambil alih hair dryer.
"Mulai besok tidak usah kerja ya" Noah berkata dengan nada halus namun tetap membuat Marcella kaget.
"Kok?" ini kok malah main-main pecat begini ya.
"Kamu dirumah saja sama Pak Hans"
"Iiisss Kakak aku bos-"
"Tidak ada bantahan, lagi pula siapa yang bilang kamu di rumah tidak ada kerjaan?"
"Eee?"
"Kamu tiap hari harus memasak buat Kakak, mulai dari sarapan, makan siang, sama makan malam jug-jangan gerak-gerak!" Noah menahan kepala Marcella saat gadis itu akan memutar kepala guna mengumandangkan protes.
"Loh bukannya ada koki yang masak ya?"
"Iya, tau, tapi aku bosan makan makanan yang mereka buat. Lagi pula aku kan sudah pernah mencicipi buatanmu sekali"
"Makanan buatanmu enak" sudut bibir Marcella tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman.
"I know" kata Marcella dengan nada yang sangat membanggakan.
"Mulai sombong dah tuh"
"Iiiiih Kakak! Siapa yang sombong sih?"
"Pak Hans"
"Lah kok Pak Hans? Perasaan dari tadi kita tidak sedang bicara tentang Pak Hans"
"Sudahlah, besok hujan" Noah menyerah dengan kebegoan gadis didepannya ini. Setelah selesai mengeringkan rambut Marcella, Noah segera mengusir gadis itu untuk keluar dari kamarnya, karena pria itu sangat mengantuk.
"Cik, tadi sudah kayak penjaga tahanan, sekarang malah diusir tahanannya. Memangnya ada tahanan yang diusir?" Marcella mengomel di depan pintu kamar Noah yang langsung ditutup saat gadis itu keluar. Noah yang sedikit mendengar ocehan gadis itu hanya terkekeh pelan di depan pintu. Setelah puas dengan kekehannya, Noah melangkah ke kamar mandi. Pria itu memperhatikan kembali kedua matanya yang sembab akibat kebanyakan menangis.
__ADS_1
"Tuh kan, wajah tamvannya hilang" gerutu Noah di depan cermin, sungguh jika Marcella ada disini sekarang, maka gadis itu akan menertawakannya sampai terjungkal-jungkal akibat tingkat keparnoannya itu.
Pagi pun tiba, Marcella yang mendengar suara alarm pun segera bangun dari tidurnya dan membersihkan diri lalu segera menuju ke rumah kaca. Di rumah kaca sudah ada beberapa pelayan juga koki yang akan membuat sarapan.
"Selamat pagi semua" Marcella menyapa dengan senyum manis dibibirnya. Sementara itu para pelayan juga koki membalas salam dengan sedikit tegang. Bukan tanpa alasan, hanya saja para pelayan juga koki heran, kenapa nyonya rumah bisa datang sepagi ini ke rumah kaca. Apakah mereka telah melakukan kesalahan?.
"Mulai hari ini, saya sendiri yang akan menyiapkan makanan Tuan Muda" perkataan Marcella yang halus sedikit membuat lega para pelayan, namun tidak untuk para koki. Apakah makanan yang mereka buat sudah tidak enak?, ataukah Tuan Muda akan segera memecat mereka karena tidak becus bekerja?.
"Ma maaf Nyonya, saya tahu saya sangat lancang, tapi apakah ada yang salah dengan makanan kami?" Marcella dapat melihat dengan jelas kepanikan juga rasa takut yang menyatu dari seorang koki yang bicara kepadanya. Marcella kembali tersenyum manis.
"Tidak ada yang salah, saya hanya akan menjalankan tugas saya sebagai seorang istri. Jadi mulai sekarang segala keperluan makanan untuk Tuan Muda, saya yang akan mengurusnya" para koki menghembuskan nafas lega.
"Tapi nyonya, jika seperti itu lalu kami memasak untuk siapa?"
"Kalian akan memasak untuk para pelayan juga petugas keamanan disini, karena mulai sekarang mereka tidak akan memasak makanan sendiri lagi" para pelayan yang mendengarnya bersorak kegirangan, pasalnya selama ini mereka memang bekerja seharian di kediaman keluarga itu lalu memasak makanan mereka sendiri. Namun, sekarang mereka sangat bersyukur karena makanan untuk para pekerja akan dimasak oleh para koki profesional. Para koki yang mendengar peraturan baru itu tidak satu pun yang melayangkan protes, karena mereka juga terkadang banyak waktu lowong, mengingat jumlah mereka yang banyak namun selama ini hanya memasak untuk satu orang sungguh sangat tidak adil, setidaknya dengan peraturan baru ini maka mereka bisa menyalurkan talenta mereka dengan baik karena semua dari mereka pasti akan bekerja untuk menyiapkan makan para pekerja di rumah Bright.
"Baiklah, kalau begitu mulai sekarang kalian bisa pindah ke dapur pelayan. Mulai hari ini dapur ini akan saya pakai" para pelayan menunduk hormat sebelum meninggalkan rumah kaca.
"Permisi Nona"
"Ah iya Pak Hans"
"Sesuai permintaan Nona, saya sudah memilih salah satu pelayan untuk membantu anda di rumah kaca" Marcella menatap seorang gadis yang lumayan familiar, berdiri menunduk di belakang Pak Hans.
"Baiklah, tapi sepertinya saya kenal" Marcella terus menerka-nerka siapa gerangan gadis ini.
"Iya Nona, dulu Lilis sempat membantu membopong tubuh Tuan Steven saat kejadian di sini"
"Ah iya! Aku ingat sekarang, baiklah Pak Hans, Pak Hans boleh meninggalkan kami"
"Baik, saya permisi Nona" selepas kepergian Pak Hans, Lilis terus menunduk. Gadis itu sejujurnya gugup karena mulai sekarang akan membantu Nona Muda, atau Nyonya rumah di rumah kaca. Marcella yang menyadari kegugupan gadis itu, tersenyum manis.
"A apa yang bisa saya bantu Nyonya?"
"Hahahahahah! Aduh aduh perutku ahahahah" Lilis kaget dengan suara tawa Marcella yang menggelegar di rumah kaca.
"Jangan terlalu gugup begitu, santai saja Lis. Oh iya, jangan panggil aku Nyonya jika hanya ada kita berdua. Panggil saja Elle"
__ADS_1
"Maaf Nyonya, tapi saya mana berani memanggil Nyonya dengan sangat lancang, jika Tuan Muda tahu maka saya akan dimarahi"
"Eeeh tidak usah kau dengarkan ongol-ongol busuk itu. Jika dia berani memarahimu katakan saja padaku, maka aku akan meninju wajahnya yang tampan itu jadi tidak berbentuk ahahahahah" mau tidak mau Lilis mengiyakan perintah Marcella, sejujurnya gadis itu sangat suka melihat wajah Marcella. Menurutnya Nyonya rumah sangat manis, bahkan sangat baik, jadi tidak ada salahnya jika berteman.