
Meluangkan waktu hanya berdua, tidak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa hari ini mereka semua membiarkanku dan Aldrik untuk meluangkan waktu sehari penuh. Berkunjung pada sebuah taman hiburan kota, tiket pun sudah berada tepat diatas telapak tangan.
“ Kalian tahu Byana masih terluka bukan?” tanya Aldrik menatap sinis pada Hana dan Gestara.
“ Ayolah Aldrik, begitu banyak arena bermain disana... lagipula Bapak dan Bu Lesti sudah memberi ijin. Benar kan Bu, Pak?,” balas Gestara memblokir pintu masuk dengan memperlihatkan sedikit ruang kepada Tante dan Om Dhika yang menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.
“ Hana, apa kau yang memesan tiket ini?” tanya Byana sedikit kesal.
“ Bukan, Gestara yang pesan... sudah sana pergi.” ( BRRAAKK )
Pintu tertutup tanda sudah tidak perlu lagi adanya percakapan panjang lebar. Saling menatap bagai tersipu malu, kenapa aku merasa canggung sekarang?. Aneh sekali. Gumam Byana dalam hatinya.
“ Kita pergi atau...” Aldrik mencoba meminta pendapat Byana.
“ Aku tahu mereka melakukan ini juga untuk menyingkirkan opini publik atas berita yang tersebar mengenaiku...” Byana menundukkan kepalanya seraya menerima.
“ Ya, benar. Tapi aku tidak menyangka mereka menyuruh kita ke taman hiburan kota.” Balas Aldrik dengan mengayunkan dua tiket ditangannya.
“ Aldrik, selepas kita ke taman hiburan... bisakah kau mengantarkan aku menemui Lia?. Sudah beberapa hari aku tidak melihatnya.”
“ Baik, aku akan mengantarkanmu nanti. Jadi, kita pergi sekarang?” tanya Aldrik dengan mengulurkan salah satu tangannya.
Entah ini keputusan yang baik atau tidak, setidaknya untuk meredakan berita yang tersebar harus secepatnya ditangani dengan tepat. Berbeda dengan mereka yang sudah begitu menyiapkan rencana dari awal, dengan terlihatnya beberapa awak media yang bersembunyi pada sudut rumah, tangan ini pun menggapai uluran tangannya untuk berjalan bersama.
Entah Aldrik menyadari atau tidak, tapi sepertinya tidak mungkin dia tidak menyadari kalau sejak tadi ada yang mengikuti kami. Apa para awak media dan wartawan itu?. Gumam Byana dalam hati begitu sampai diparkiran mobil taman hiburan.
“ Ada apa Byana?” tanya Aldrik saat berjalan bersama menuju gerbang masuk taman hiburan.
“ Aldrik... kau tidak mungkin, tidak tahu kalau ada yang sedang me---”
“ Rambutmu berantakan... kau tidak membawa ikat rambut?,” Aldrik membelai lembut kepala Byana dan merapikan rambut panjangnya yang tertiup angin.
Baiklah, aku mengerti. Jadi Aldrik pun tahu sebenarnya bahwa ada awak media atau beberapa wartawan yang sedang mengikuti kami sejak tadi. Gumam Byana dalam hati sembari mengartikan tatapan Aldrik saat ini padanya.
Mencoba untuk bekerja sama, Byana tersenyum manis menyambut perhatian Aldrik dengan bersikap manja padanya. Tak urung akan Aldrik yang memberikan respon yang sama, sandiwara pun berjalan dengan sangat baik dihadapan kamera.
Kembali tersiar secara online melalui sebuah media sosial dari seseorang yang mengikuti Byana dan Aldrik, Gestara dan Hana yang begitu puas atas rencana mereka yang berhasil mengundang senyum bahagia di wajah Om dan Tante Lesti yang ikut menyaksikan.
Berbeda dengan pihak lain dimana Vlora dan Alex yang ikut menyaksikan siaran online tersebut, rasa kesal, amarah, dan api cemburu semakin merasuki diri mereka saat ini hingga tanpa sadar memecahkan atau merusak barang disekitarnya.
“ Ada apa ini?!” tanya sang ibu kepada Vlora setelah mendengar pecahan kaca.
“ Mom... Aldrik... dia...” Vlora tidak dapat berkata dengan hanya meneteskan airmatanya.
“ Hentikan. Bukankah nona Mutia dan tuan Arie berjanji akan mengumumkan pertunangan kalian besok hari saat acara jamuan ulang tahun perusahaan?!” balas sang ibu.
“ Tapi Mom... Aldrik pergi berdua dengan wanita itu. Mom tidak lihat?, dia begitu bahagia... Aldrik tidak pernah tersenyum seperti ini padaku...” Vlora menangis dengan tersedu.
“ Dengan pertunangan kau dan Aldrik nanti, maka wanita itu tidak akan memiliki kesempatan sama sekali. Apa lagi jika kalian sampai menikah, tentu kau yang memegang penuh Aldrik, bukan?... jadi untuk apa kau bersedih!” balas sang ibu kembali.
Merasa yang dikatakan sang ibu benar, tangisan itu pun terhenti dengan sendirinya. Entah perasaan apa yang timbul dalam dirinya saat ini, hanya ingin memiliki seutuhnya menjadi alasan untuknya bertahan walau tidak diterima seutuhnya.
Dilain sisi, pria yang juga memendam perasaannya ikut terbawa suasana dengan tanpa sadar membuat ruangan kamar tidurnya begitu hancur berantakan. Tak urung akan sang kakak yang juga ikut menentangnya, Alex pun diliputi berbagai perasaan yang membuatnya seperti hilang akal.
“ Boss, apa yang sedang kau lakukan?” tanya Gerry terkejut saat masuk kedalam kamar Alex karena mendengar suara gaduh.
“ Aku kesal. Kenapa aku tidak memiliki kesempatan bersama Byana?. Kenapa mereka semua menentangku!” ucap Alex yang kini terduduk diatas sebuah tumpukan kursi kayu yang patah.
“ Boss... apa kau, begitu menyukai wanita itu?. Bahkan saat aku memberikan sebuah pisau padamu saat acara lelang, kenapa tidak kau gunakan?” tanya Gerry mengerutkan kedua alisnya.
“ Aku... tidak bisa menyakitinya. Aldrik begitu dekat dengan Byana sepanjang acara itu, bagaimana jika Byana ikut terluka nanti?!” balas Alex.
__ADS_1
“ Boss... kau jelas tahu peringatan kakakmu, bukan?. Lagipula cobalah membuka hati pada wanita lain, jangan sampai kau merusak rencana lagi. Lihatlah akibatnya pada kakimu.” balas Gerry.
“ Diam. Kau berisik sekali!” balas Alex kesal.
Tahu akan keadaannya yang juga tidak bisa melakukan apa pun, Alex menunggu datangnya hari dimana Aldrik bertunangan dengan Vlora dan tidak dapat melakukan apa pun karenanya. Alex berjalan memutari kamarnya seraya berpikir,
Benar... jika mereka bertunangan, aku akan mengambil Byana sebagai milikku. Tidak perduli dengan rencana kakak, kali ini aku harus mendapatkan Byana!. Gumam Alex dalam hatinya.
********
-Taman hiburan tengah kota-
“ Tidak Byana... aku sudah... mau muntah...” Aldrik menahan dirinya dengan bersandar pada pagar besi sebuah arena bermain.
“ Hanya segini?. Tuan Mahendra... kau mengecewakan sekali...” Byana mengerutkan kedua alisnya.
“ Halilintar, Kora kora, Tornado masih kau menyebutku mengecewakan?. Byana, 2X kau menaiki masing masing wahana itu dan aku menemanimu!” balas Aldrik kesal.
“ Kau... benar benar... merasa mual?” tanya Byana mulai khawatir melihat wajah Aldrik yang mulai pucat dan berkeringat.
“ Lupakan. Wahana apa lagi yang kau inginkan?.”
Berjalan dibelakangnya, melihat sosok pria bertubuh besar dan tinggi dengan aroma wangi parfum yang tersibak angin terasa menenangkan seperti biasanya. Tahu bahwa Byana belum pernah datang ke taman hiburan sejak kecil, Aldrik memaksakan diri meski tubuhnya melakukan penolakan.
Genggaman tangan yang tiba tiba merangkul disalah satu lengannya seraya membantunya untuk berjalan, seolah terlupa akan hubungan kontrak mereka dengan saling tersenyum dan tertawa menghabisi waktu bersama.
“ Dari mana kau tahu, aku belum pernah ketempat ini?” tanya Byana saat beristirahat sejenak pada sebuah kios rumah makan didalam taman hiburan.
“ Bu Lesti berkata, mendiang orang tuamu sibuk sejak kecil dan selalu berpergian. Waktu mereka menemukanmu pun, berkata belum pernah membawamu untuk bermain karena kau harus fokus belajar mengejar ketinggalanmu.” Aldrik menjelaskan sembari memberikan sebuah ice cream.
“ Jadi kemari adalah idemu?” tanya Byana dengan tersenyum jahil.
“ Tapi aku sangat senang hari ini... terima kasih...” Byana tersenyum manis.
Angin kembali berhembus menyibak rambut hitamnya yang panjang. Terlihat begitu indah hingga mata tidak sanggup untuk berpaling hanya karena senyuman dan wajah kecil yang menggemaskan seolah ingin sekali untuk menyentuhnya.
Memalingkan wajah hanya untuk berpikir secara rasional, ternyata tidak semudah yang dikatakan disaat debaran jantung tiba tiba berdetak tak beraturan. Apa saat ini, dia bisa melihat rasa gugup yang aku coba sembunyikan?.
“ Aldrik... jika aku boleh berkata, aku lebih menyukai penampilanmu yang seperti ini. Dengan tidak memakai jas dan dasi serta sepatu kulit, kau terlihat jauh lebih tampan dengan model rambut ini...”
“ Aaahh.. jadi maksudmu, aku terlihat jelek saat berpakaian formal?” tanya Aldrik sembari mendekatkan wajahnya kearah Byana.
“ Tiii..tidak... maaamaksudku adalah, kau terlihat... berbeda saat me---”
Tertutup hanya pada sebuah buku menu makanan, sebuah ciuman diberikan Aldrik dengan lembut. Tak kuasa untuk melawan, menikmati beberapa detik ternyata mampu membuat wajah memerah dan terasa panas terlebih pada tempat umum dimana banyak orang yang dapat menatap.
Mengatup bibir, tatapan pun saling memandang tak kala nafasnya terasa begitu hangat berhembus mengenai wajah dengan masih terlihat bahwa dirinya sedang mencoba untuk menahan diri.
“ Byana... ada sesuatu yang harus aku sampaikan kepadamu.” Aldrik menurunkan buku daftar menu dan menatap Byana begitu serius.
“ Apa itu?” tanya Byana merasa penasaran.
“ Saat jamuan ulang tahun perusahaan nanti, aku harus bersama dengan Vlora.”
“ Aaappa?, Aldrik... apa yang kau... katakan barusan?” tanya Byana dengan raut wajah tercengang.
“ Byana dengar dan percayalah padaku. Aku terpaksa melakukan hal ini.” Aldrik menggenggam tangan Byana dengan erat.
“ Haruskah kau... merusak hari ini dengan memberikan... kabar ini?,” Byana mengerutkan wajahnya menatap pada Aldrik yang terlihat kebingungan dalam menjelaskan.
“ Aaahh... jadi kau membawaku kemari untuk membuatku merasa senang agar aku siap menerima kabar ini?. Aldrik, apa kau tidak keterlaluan?!” lanjut Byana kembali semakin terlihat emosi dengan melepaskan genggaman tangan Aldrik.
__ADS_1
“ Byana, dengarkan aku dulu karena ini sangat penting. Saat acara itu, akan ada pertunangan yang a---”
“ Pertunangan?. Kau dan... Vlora?.”
“ Byana... de---”
( BRRAAAKKK ) Byana menghentak kursinya hingga terdorong kebelakang.
Tidak lagi ingin mendengar perkataan Aldrik padanya, Byana bergegas berlari meninggalkannya. Ditengah keramaian Byana mengambil kesempatan dengan sedikit menundukkan tubuhnya agar tidak terlihat oleh Aldrik yang saat ini sedang mencarinya.
Menyadari awak media serta wartawan yang masih berada disekitar mereka, Aldrik terpaksa bersikap normal seolah Byana sedang menunggunya di plataran parkiran mobil sedangkan Byana membeli souvenir baju, topi, dan kaca mata untuk menyamar melalui pintu keluar.
Dari kejauhan Aldrik masih terdiam mengamati dari dalam mobilnya, namun bagi Byana yang merasa sudah cukup untuk mendapatkan kabar buruk lainnya, tak urung tetesan air mata menitik sudah tak tertahankan disaat Byana memutuskan meninggalkan Aldrik menuju rumah sakit untuk melihat kondisi Lia saat ini.
“ Nona... Byana?. Apa yang Nona lakukan disini, selarut ini?” tanya Pak Gio begitu terkejut.
“ Sssttt... jangan mengganggu tidur Lia. Apa kabar Pak Gio?, maafkan aku baru datang hari ini...” ucap Byana sembari tersenyum manis.
“ Bukankah Nona sendiri terluka, lalu untuk apa datang kemari?!” Pak Gio menundukkan tubuhnya seraya merasa khawatir.
“ Dibandingkan dengan Lia, sakitku ini tidak seberapa Pak. Harusnya akulah yang berada diatas tempat tidur ini dengan kondisi Lia saat ini.” Byana tersenyum lirih menggenggam tangan Lia dengan raut wajah penuh kesedihan.
“ Nona Byana jangan berkata seperti itu. Apa Nona tahu?, dua hari lalu Lia mulai menggerakkan salah satu jemarinya bahkan hari ini pun matanya mulai memberikan respon terhadap cahaya...”
“ Sungguh?... syukurlah... syukurlah Lia... apa ada perkembangan lainnya?.”
Mengusap tangisnya Byana pun mendengar cerita Pak Gio yang memberitahukan kondisi Lia selama dua pekan dirumah sakit. Semakin terlihat kemajuan dan perkembangan dalam tubuh Lia, Byana pun merasa lega akan kemampuan Lia untuk berjuang hidup.
Secara kebetulan bertemu dengan Nathan yang saat ini sedang melakukan pemeriksaan diakhir harinya sebelum pulang, ia pun menceritakan pada Byana akan kemajuan dan apa yang saja yang akan dia berikan disaat Lia tersadar nanti.
“ Syukurlah... terima kasih Nathan...” Byana tersenyum lirih padanya.
“ Aku hanya melakukan tugasku saja. Ngomong ngomong, kemana Aldrik?, apa kau datang sendiri kesini?” tanya Nathan kebingungan.
“ Kee..kebetulan Aldrik ada rapat penting, jadi aku datang kesini sendiri.” Byana memalingkan wajahnya tidak sanggup untuk berbohong.
“ Aaahh... oke, baiklah. Hati hati dalam perjalanan pulang nanti. Malam.”
“ Malam Nathan, terima kasih....”
Tidak dapat dibohongi, Nathan pun langsung menghubungi Aldrik saat dalam perjalanan pulang memberitahukan Byana yang datang seorang diri kerumah sakit. Tak menunggu waktu lama, Aldrik dengan bergegas melaju menuju rumah sakit untuk menjemput Byana.
Namun seperti mendapat nasib sial dan Byana yang tiba tiba terlihat menghindarinya, dengan tidak adanya Byana didalam ruangan membuat Pak Gio pun kebingungan saat melihat Aldrik yang tersenggah seolah telah berlari dalam jarak jauh.
“ Apa... Byana... baru saja, pergi?” tanya Aldrik dengan nafas tersenggah mengatur nafas.
“ Ya Tuan... sekitar 10 menit yang lalu nona Byana pulang....”
“ Apa dia memberitahumu akan kemana?” tanya Aldrik kembali.
“ Tidak Tuan... nona hanya berkata akan mengunjungi Lia kembali lain waktu.”
“ Baiklah, ada apa perkembangan atau kesulitan Lia dalam....”
“ Tidak Tuan. Tidak ada sama sekali. Terima kasih atas perhatian Tuan.” Pak Gio menundukkan tubuhnya penuh sopan.
“ Baiklah maaf mengganggu istirahatmu. Malam.”
Kembali berlari menuju parkiran mobilnya, Aldrik kembali melaju pulang menuju kediaman Om dan Tante Lesti dimana Byana sudah pulang lebih dahulu dengan memberi kesan yang membingungkan.
Tak urung akan mereka yang meminta penjelasan pada Aldrik, ia justru langsung berlari menuju kamar Byana yang dapat dipastikan bahwa pintu kamar itu tidak akan pernah terbuka hingga suasana hatinya mereda.
__ADS_1