
"Selamat pagi tuan David dan nyonya Tamara. Perkenalkan saya Steven asisten tuan Noah" perkenalan Steven pun disambut dengan senyum dan uluran tangan bergantian dari David dan Tamara.
"Selamat pagi juga tuan Steven, terima kasih sudah mau repot-repot menjemput kami" sapa David.
"Iya maaf mengganggu waktu kerjanya tuan sebenarnya kami bisa naik taksi saja" lanjut Tamara dengan senyumannya dan disambut dengan malu-malu oleh Steven.
Tuan dan nyonya sangat baik, tidak salah tuan Noah memilih nona Marcella yang tumbuh dibesarkan oleh kedua orang tua yang sudah pasti membesarkan nona dengan sangat baik batin Steven.
"Tidak apa-apa tuan dan nyonya jangan sungkan, ini sudah tugas saya sebagai pekerja di perusahaan keluarga tuan" jawab Steven masih dengan malu-malu.
"Oh iya baiklah terima kasih banyak tuan Steven" ucap David.
"Panggil Steven saja tuan, saya jadi tidak enak kalau tuan David memanggil saya dengan sebutan tuan juga" kata Steven yang merasa enggan dengan sebutan tuan dari David.
Setelah berkenalan Steven langsung menyuruh beberapa pria yang ikut dengannya serasi memakai jas berwarna hitam bertubuh tegap untuk mengangkat koper milik David dan Tamara. Setelah semua barang sudah masuk ke dalam bagasi mobil dan dirasa sudah tidak ada lagi yang ketinggalan, David dan Tamara pun dipersilahkan untuk masuk menaiki mobil yang dikendarai supir keluarga ditemani Steven yang duduk disamping kemudi. Mobil pun melaju menembus keramaian kota menuju ke rumah utama. David yang sangat merindukan suasana tempat yang ditinggalkannya setelah sekian lama tersebut pun menurunkan kaca jendela penumpang disebelah kanannya kemudian memejamkan mata menikmati tamparan lembut angin dan ketenangan serta kuatnya aroma pinus yang masih melekat dengan sempurna diingatannya. Tamara yang sedari tadi memperhatikan raut wajah David dengan kristal bening yang mulai menetes perlahan mengarahkan tangannya lalu pengusap lembut wajah suaminya dan menggenggam tangannya erat memberikan kekuatan. Steven yang turut merasakan kesedihan David disamping kemudi menarik nafasnya dalam.
"Oh iya nak Steven, bagaimana keadaan Marcella selama disini?" tanya Tamara memecah keheningan.
"Nona Marcella baik-baik saja nyonya. Tuan Noah menjaga putri anda dengan sangat baik" jawab Steven dengan ramah.
Tuan Noah menjanganya dengan sangat baik nyonya, sampai-sampai putri anda hanya ke dapur saja seluruh dunia dibuatnya gempar batin Steven mengingat kejadian yang diceritakan pak Hans beberapa hari lalu.
"Syukurlah" Tamara tersenyum senang gadis kecilnya baik-baik saja.
"Apa mereka sering bertengkar?" tanya David. Entah mengapa yang muncul dipikaran David adalah Marcella dan Noah yang akan sering bertengkar, mengingat bagaimana dulu dirinya dan kakaknya (ayah Noah) siring berselisih pahan bahkan hanya untuk hal-hal yang kecil.
Aduh mati aku bagaimana menjelaskannya ini? aduh nyonya kalau memberi pertanyaan yang gampang-gampang sedikit kek batin Steven berteriak panik.
Tamara yang mendengar pertanyaan suaminya kembali memusatkan perhatiannya menunggu jawaban dari Steven. Semenjak Marcella pergi dia tidak pernah mendengar suara putrinya yang sangat dirindukannya bahkan untuk saling bertanya kabar saja hanya melalui Steven via telefon.
"Eee itu tuan kalau itu sering tuan, mungkin karena kepribadian keduanya yang berbeda jauh. Nona yang secerah mentari dengan tuan Noah yang sedingin es dikutub utara. Tetapi saya bersyukur dengan hal itu tuan" jawab Steven gugup.
__ADS_1
Mati aku... aakkhhh entahlah biarkan saja yang penting aku sudah jujur batinnya kembali.
"Bersyukur bagaimana nak Steven?" tanya Tamara mengintrogasi.
Aduuuh... dasar mulut ember aku ini Steven kembali tegang.
"Sa saya bersukur karena pertengkaran itu juga membuat tuan Noah bisa berubah lebih baik akhir-akhir ini nyonya. Tuan Noah jadi sering tersenyum dan bahagia tidak seperti biasanya sejak kepergian sang ayah dan ketua, bahkan jika nona hilang dari pandangan tuan muda sebentar saja maka tuan akan sangat panik mencari nona" lanjut Steven. David yang masih dengan pandangannya keluar jendela pun tersenyum. Dia tahu betul sikap kakaknya yang selalu serius dan tidak mau dibantah.
Sudah pasti mewarisi sikap ayahnya batin David yang kembali membayangkan saat mereka masih muda. Dari penjelasan Steven David dapat membayangkan kedua anak itu bertengkar pasti akan kelihatan seperti dirinya dan kakaknya. David pun semakin melebarkan senyumannya.
Eeeh tuan tidak marah?, huuuftt terima kasih telah meyelamatkan hamba-Mu ini ya Tuhan batin Steven lega saat melihat reaksi David yang berbanding terbalik dari yang dibayangkannya.
"Syukurlah" ucap David. Tamara yang melihat senyum diwajah suaminya juga tersenyum. Berarti tidak ada yang perlu dikuatirkan batinnya.
...
Rumah Utama
"Aduh..." rintih Marcella sambil memegangi belakang kepalanya.
"Kakaaaaaakk!" teriaknya saat melihat ke arah Noah yang asyik cekikan berdiri menopang tubuhnya di pembatas balkon kamarnya dan kamar Marcella.
"Kenapa kakak suka sekali menggangguku hah!" teriak Marcella kesal dengan perilaku Noah yang baru saja mendaratkan batu kecil di belakang kepalanya.
"Ahahahhah... lagi pula kau sepertinya sangat serius. Apa yang kau lakukan dengan pot-pot itu hah?" tanya Noah sambil tertawa melirik ke arah pot-pot berisi tanah yang dari tadi diaduk aduk Marcella.
"Jangan bilang kau sedang membuat adonan kue dengan bahan dasar tanah kan? lalu menyuruh kami untuk memakannya agar kami keracunan kan kan?" tanya Noah penuh penekanan. Marcella yang tiba-tiba dituduh-tuduh pun menajamkan pandangannya ke arah Noah.
"Kok tahu? iya aku memang akan membuat kue dari bahan dasar tanah kemudian akan kusuruh kau memakannya tapi kutekankan bahwa dampaknya setelah makan kue itu bukan hanya keracunan tapi eekkhhh..." tekan Marcella dengan tangan yang dilayangkan didepan lehernya mengisyaratkan bahwa setelah kau makan kuenya kau akan langsung menghadap Yang Kuasa. Noah yang melihatnya bergidik ngeri sambil memegang lehernya.
Dasar wanita jahat, berani-beraninya dia bercanda dengan rencana untuk membunuhku di rumahku sendiri batin Noah.
__ADS_1
"Hei aku serius kau mau apakan pot-pot berisi tanah itu" tanya Noah kembali namun diacuhkan Marcella yang kembali mengaduk-aduk tanah di dalam pot. Merasa diacuhkan Noah pun kembali mengambil kerikil kecil dari satu-satunya pot besar di balkon kamarnya dan kembali
Buuukkkk...
"Heiiiii!!!" teriak Marcella kesal. Tanpa aba-aba Marcella pun mengambil segenggam kerikil dari pot besar dipojokkan balkonnya lalu membalas mendaratkan satu kerikil tepat di kepala Noah.
"Aaawww! kau...." tidak mau kalah Noah kembali berlari ke arah pot besar dan megambil segenggam besar kerikil ditangannya lalu mulai melempari Marcella. Maka terjadilah keributan dirumah utama.
Para pelayan yang sedari tadi lalu lalang kesana kemari memulai aktivitas pun hanya bisa tersenyum dengan perilaku keduanya tidak berani tertawa karena takut dengan tuan muda yang mungkin akan memecat mereka tanpa ampun. Pak Hans yang juga mendengar keributan dari halaman pun langsung menuju sumber suara. Ada senyum lebar di wajah pria paruh baya tersebut. Pak Hans merasakan suasana rumah yang kembali hidup setelah kedatangan Marcella. Sungguh gadis itu kembali membawa bahagia untuk rumah ini.
"Ada apa ini ribut-ribut pak Hans?" pak Hans sontak melihat kebelakang saat yang sama Steven berdiri tepat dibelakangnya. Pria itu kembali tersenyum lalu memalingkan wajah mengisyaratkan dimana asal suara tersebut. Steven yang melihatnya berusaha untuk menahan tawa dari pemandangan lucu didepannya namun tubuhnya kembali menegang teringat akan sesuatu, ya sesuatu tepat dibelakangnya.
Habislah sudah, mereka benar-benar kedapatan bertengkar.
"Adduuh!"
"Aaahhh!"
"Awww!"
"Sakit!"
"Heiii potnya!"
"Dasar kau!"
"Aaaaa!!!" teriak mereka bersahut-sahutan akibat perang kerikil yang terjadi di balkon. Sekarang keadaan keduanya benar-benar kacau apalagi balkon kamar yang ditempati Marcella benar-benar hancur. Tanah di pot-pot yang akan ditanaminya bunga sudah berserakan di lantai balkon akibat serangan Noah. Tiba-tiba...
"Hahahahhaahhahh..." tawa itu seketika membuat perang tersebut berakhir akibat suara yang menggema bahkan sampai ketelinga mereka berdua. Marcella yang merasa tidak asing dengan suara tersebut langsung mengarahkan pandangannya ke bawah tak terkecuali Noah.
"Ayah?!" teriak Marcella kaget saat matanya menangkap sumber suara.
__ADS_1