
“ Pak, bisakah Bapak mengingat dimana melihat lukisan ini karena, ada hal penting yang tersembunyi didalam lukisan ini.”
“ Lebih baik tanyakan Lesti... seingatku dulu aku memang pernah melihat lukisan ini saat berkunjung terakhir kali ketika Byana masih kecil.”
“ Apa saat itu, mendiang kedua orang tua Byana sudah bekerja di intelijen?.”
“ Ya....”
Menunggu jawaban dari suatu kepastian, kedatangan Byana dan Hana yang sudah terbangun dan berjalan menuju lantai bawah pun ikut terkejut disaat melihat lukisan seharga 5 miliar berada dirumahnya.
Dengan langsung berlari menuju lantai bawah, Byana langsung menatap Aldrik yang memalingkan pandangannya dari Byana, seolah tidak ingin memulai perang yang pasti akan kalah telak jika berani melawan Byana.
“ Kau masih memakai baju semalam dan belum mandi... apa kau terjaga semalaman?” tanya Byana dengan pandangan menyudutkan.
“ Itu... Gestara dengan membawakanku setelan baju kerja.” Balas Aldrik mencoba mengalihkan pembicaraan.
“ Koper jelas berada didalam kamarmu... bukankah dalam koper itu sudah lengkap semua keperluanmu?. Aldrik, apa yang kau sembunyikan dariku?. Bagaimana bisa lukisan seharga 5 miliar ada disini?!” Byana menunjuk lukisan dengan kesalnya.
“ Tunggu Byana... 5 miliar?” tanya Om Dhika tercengang.
“ Bukan Pak... Byana hanya melebihkan. Harga lukisan ini tidak semahal itu.” Balas Aldrik mencoba mengelak kembali.
Om Dhika langsung menurunkan tangannya dari lukisan itu dan berjalan mundur seolah menjaga jarak. Langsung berlari menuju lantai atas dan masuk kedalam kamarnya, dengan cepatnya Tante Lesti yang masih belum selesai merias dirinya selepas membersihkan diri pun begitu terkejut melihat lukisan yang saat ini berada dihadapannya.
“ Luu...lukisan ini... ba, bagaimana bisa... disini?” tanya Tante Lesti begitu gagap.
“ Tante... tahu lukisan ini?” tanya Byana dengan mengangkat kedua alisnya.
Bukan membalas pertanyaan Byana, Tante Lesti justru mengitari lukisan berputar putar beberapa kali dengan tatapannya yang begitu gelisah. Tidak mengerti dengan apa yang terjadi, namun dengan Om Dhika yang mengangkat tangannya seolah memberi isyarat, mereka pun membiarkan Tante Lesti begitu saja.
Menatap penuh pertanyaan, setelah beberapa saat Tante Lesti pun terdiam dengan mulai meraba satu sudut kesudut lain lukisan. Tak urung akan Byana yang merasa takut lukisan itu kotor atau rusak, Aldrik justru menarik Byana untuk menghentikan niatnya.
“ Aku... melihat kakakku memegang cat warna ditangannya saat masuk kedalam ruang kerjanya...” ucap Tante Lesti dengan terus meraba lukisan dengan cat warna yang menonjol keluar.
“ Apa yang sebenarnya terjadi, Tan?” tanya Byana yang mulai gelisah.
“ Aku mendapat panggilan telephone dari kakak, yaitu ibumu dimalam hari dan meminta kami untuk datang sebelum kami pindah keluar kota saat itu. Saat itu Dhika berbicara dengan ayahmu, dan aku menyusul ibumu masuk kedalam ruangan kerjanya.”
“ Aku tidak mengerti dengan apa yang dia lakukan, tapi... dalam tangannya ada secarik kertas kecil yang dia tempelkan pada lukisan ini dan dia tutupi dengan cat warna... warna biru laut. Ya, aku ingat... biru laut seperti ini...” lanjut Tante Lesti kembali berbicara.
“ Secarik kertas?... Tante yakin, ibu me---”
__ADS_1
“ Ya. Ibumu kemudian berkata, lukisan ini indah. Jika... jika terjadi sesuatu... dia memintaku untuk membawa lukisan ini. Tapi kami terlambat menemukanmu dan hanya fokus mencarimu hingga melupakan amanat darinya.” Ungkap Tante Lesti dalam ingatannya.
“ Aku ingat... kondisi seluruh rumah saat itu berantakan ketika mereka membawa paksa ayah dan ibu. Tapi, aku tidak begitu ingat apa saja yang mereka bawa karena bersembunyi dalam lemari.” Ucap Byana mencoba untuk mengingat menatap pada Aldrik.
Suasana pun tiba tiba menjadi hening dengan saling menatap pada satu sama lain. Pintu rumah yang terbuka dengan Gestara yang berjalan masuk dengan sebuah kabar lainnya, seolah menjadi titik terang bagi mereka saat ini.
Mendapati kabar akan Daniel yang sebelumnya mencoba untuk melakukan penambangan diwilayah berbeda, terdengar kabar akan dirinya yang terlibat masalah dengan aparat kepolisian yang saat itu sedang berjaga diperbatasan negara.
Tersadar akan kedua negara yang berdampingan, Daniel yang melupakan lokasi pertambangan pada suatu wilayah yang dapat memicu perselisihan bahkan perang antar negara, ternyata dengan terlibatnya orang tua Byana didalamnya yang membuat Daniel menculik kedua orang tuanya.
“ Jika memang seperti itu, kenapa ayah dan ibuku dianggap sebagai pembelot negara?” tanya Byana kebingungan.
“ Karena saat itu mendiang ayah dan ibumu menyamar menjadi pemegang saham yang akan bekerja sama dengan Daniel. Mereka saat itu bekerja sebagai intel di perbatasan negara, karena itu mereka mencoba menemukan bukti untuk menjerat Daniel dan anak buahnya.”
“ Namun sepertinya Daniel bergerak lebih dulu tanpa orang tuamu sadari, hingga lukisan ini dicuri dan hilang. Tapi entah bagaimana, Daniel berhasil menemukan lukisan ini dan tahu bahwa ada sesuatu yang ibumu sembunyikan dilukisan ini.” Lanjut Gestara kembali.
“ Dari mana kau dapatkan informasi ini?” tanya Aldrik pada Gestara.
“ Entah bagaimana Haris berhasil merekam percakapan anak buah Daniel yang merasa kesal dan ketakutan karena salah mencuri lukisan. Sepertinya saat ini Daniel benar benar marah.” Gestara memberikan penjelasan sembari memutar rekaman suara yang Haris kirimkan padanya.
Semua pun begitu fokus mendengarkan rekaman itu dan kembali menatap satu sama lain. Byana yang mendengarkan dengan sejak tadi memperhatikan lukisan, tiba tiba melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Tante Lesti sebelumnya kemudian meraba dari ujung hingga ke ujung lukisan.
Tangan Byana kemudian terhenti pada sebuah sudut lukisan dimana benar seperti yang dikatakan oleh Tante Lesti, terasa cat minyak lebih menonjol pada gambar lautan yang berwarna kebiruan.
“ 3⁰ 43,5423’’S 104 33,644.5 E. Apa ini?” tanya Byana kebingungan dengan memperlihatkan secarik kertas itu pada Aldrik.
Semua pun merasa kebingungan dengan pesan yang ditinggalkan mendiang ibu Byana. Aldrik memutar otaknya dengan cepat dan Gestara yang tanggap segera kembali kedalam mobil untuk mengambil laptop Aldrik dan menyerahkannya.
Dengan teknologi yang canggih, hanya dalam hitungan detik mereka akhirnya mengetahui bahwa itu adalah sebuah titik kordinat suatu tempat yang dengan tangkapan satelite dari aplikasi Aldrik, terlihat begitu jelas bahwa itu adalah lokasi pertambangan.
Tertangkap sebuah lahan luas dimana jauh dari pemukiman warga pada suatu pulau, mereka pun akhirnya mengetahui akan bukti fakta lainnya dimana pulau perhentian merupakan tempat yang begitu dekat dengan titik lokasi pertambangan.
“ Kita harus segera kesana memeriksanya.” Ucap Gestara dengan antusias.
“ Jangan gegabah. Lokasi ini tepat diantara perbatasan dua negara. Jika kita salah bergerak, dampaknya akan sangat buruk.” Ucap Aldrik begitu serius.
“ Apa yang dilakukan ayah dan ibuku dipertambangan ini?. Apa yang sebenarnya Daniel inginkan?” tanya Byana dengan nada lirih.
“ Tenanglah. Byana, aku akan menemukan jawaban apa pun yang dapat membantumu.” Aldrik seketika memeluk Byana dan membelai lembut kepalanya.
Disaat Byana dan semua masih diselimuti pertanyaan besar, Daniel yang berada disisi lain pun sudah dapat jelas terlihat akan rasa marah penuh emosi yang lagi lagi gagal dalam rencana barunya. Tertunduk merasa malu, Gerry mendapat pukulan keras ditubuhnya yang tinggi dan kekar.
__ADS_1
Tidak puas dengan hanya memukul Gerry, Daniel dengan buta menghabisi nyawa salah satu anak buahnya yang telah salah saat memberikan informasi akan lokasi tujuan penyimpanan lukisan yang akan mereka curi.
“ DIMANA! DIMANA! DIMANA! LUKISAN ITU!!!” teriak Daniel begitu marahnya.
“ Boss... ada dua mobil box angkut yang membawa lukisan. Sepertinya satu mobil box lainnya mengarah ketimur kota.” Ucap Gerry menunduk penuh takut.
“ Apa?... sepertinya?... BUKANKAH SUDAH KUKATAKAN TIDAK ADA KATA SEPERTINYA JIKA INGIN BERURUSAN DENGAN ALDRIK MAHENDRA!!!” teriak Daniel kembali dengan marahnya.
“ Sebentar lagi PT. Linux akan berulang tahun. Sayang, sepertinya mereka akan menggantung lukisan itu di dinding samping pintu aula masuk utama.” ucap Sarah mencoba memberikan saran.
Daniel seketika terdiam mendengar perkataan istrinya yang kembali benar. Merasa ada kesempatan lainnya mengingat suatu kebiasaan keluarga Mahendra yang selalu memajang lukisan yang telah mereka beli, kini senyuman licik pun melengkung diwajahnya.
Daniel menghampiri sang istri dengan langsung menciumnya begitu intens dan panas seolah tidak ada siapa pun selain mereka berdua diruangan itu. Dengan Gerry, Alex, dan lainnya yang memalingkan wajah, akhirnya Daniel berhenti mencumbu sang istri dan kembali berkata serius.
“ Pastikan kalian mengamankanku serta lukisan itu saat acara jamuan perusahaan Linux nanti. Aku tidak ingin ada kesalahan lain. Mengerti?,” Daniel menatap dengan aura membunuh.
“ SIAP BOSS.” Ucap seluruh anak buahnya.
“ Lalu, Alex adikku sudah lama kau disini. Apa kau masih belum menemukan calon pendamping untuk diajak bersamamu diacara jamuan ulang tahun PT. Linux nanti?” tanya Daniel sembari menyalakan sepuntung cerutu.
“ Apa maksudmu?” tanya Alex kebingungan.
Dengan tidak berkata dan memberikan isyarat kepada Sarah sang istri, ia pun langsung memutar kembali rekaman video yang menyebar dimedia sosial prihal Vlora yang kini sedang bersembunyi setelah mendapat hujatan bukan hanya dari masyarakat namun juga para Pejabat pemerintah.
Dengan tidak lagi bertanya, Alex pun mengerti akan maksud dari sang Kakak dengan langsung mencoba menghubungi Vlora untuk berbicara dengannya.
“ Untuk apa kau menghubungiku?” tanya Vlora pada Alex melalui panggilan telephone.
“ Ayolah, meski kita baru bertemu pertama kali kemarin, aku merasa seperti memiliki hubungan spesial denganmu...” rayu Alex.
“ Hentikan. Sudah kukatakan bahwa aku akan menjadi nona Mahendra, dan itu pasti terjadi.” Balas Vlora bernada mengancam.
“ Oke baiklah, baiklah... jika kau berubah pikiran... hubungi aku. Oke?,” Alex langsung mematikan panggilan telephonenya.
Mendapati Vlora yang ternyata masih memiliki perasaan kepada Aldrik dan memastikan bahwa berita pertunangan mereka akan diumumkan saat acara perjamuan ulang tahun perusahaan, semakin membuat Daniel melengkungkan senyuman liciknya.
“ Acara akan semakin meriah...” ucap Daniel sembari menikmati hirupan cerutunya.
“ Ya sayang... kita lihat nanti bagaimana Aldrik akan menanggapi masalah ini... Byanakah... atau Vlora yang akan menjadi nona muda keluarga Mahendra kelak...” Sarah dengan manja merangkul pada sang suami.
“ Alex, jika tebakanku benar... maka bersiaplah.” Daniel menatap Alex begitu serius.
__ADS_1
“ Tentu saja.” Balas Alex dengan percaya diri.
Rencana licik lainnya sudah siap untuk dilancarkan. Tidak melihat kau perduli atau tidak, yang dia tahu hanya ambisi yang semakin menguasai hati yang beku. Mencari kesempatan ditengah keadaan, Aldrik... aku pasti sangat menantikan detik saat melihat raut wajahmu nanti.