Belajar Mencintaimu

Belajar Mencintaimu
PERSIAPAN PERNIKAHAN Part 2


__ADS_3

Hamparan rumput lembut di halaman belakang terasa sangat nyaman untuk sepasang kaki indah yang sedari tadi berjalan tanpa alas kaki. Entah apa yang membuatnya sangat nyaman. Angin selatan yang bertiup membuat rambut indahnya jatuh dengan lembut terurai.


"Permisi nona saatnya kembali mencoba sepatunya" kata pak Hans yang sedari tadi mengekori Marcella dengan sepasang sepatu high heel indah berwarna putih ditangannya.


"Bisakah aku ke altar tanpa alas kaki pak?" tanya Marcella dengan tatapan memohon kepada pria paruh baya tersebut. Pak Hans yang kaget dengan permintaan gadis tersebut hanya membalas dengan senyuman hangatnya.


"Tidak boleh!" jawab seorang pria dengan tubuh tinggi dan wajah tampan yang sedari tadi melihat tingkah adiknya yang keras kepala bahkan hanya karena masalah sepatu.


"Kali ini saja kak kumohon aku sangat tersiksa dengan sepatu itu. Jari-jariku terasa akan patah semua jika aku memakainya untuk berjalan" jawab Marcella dengan kedua tangan memohon di depan dadanya dan mata yag dikedipkan beberapa kali. Noah pun menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju.


Heh apa kau kira aku akan terbuai dengan wajah menggemaskan itu?. Lagi pula mana ada pengantin perempuan berjalan ke altar tanpa alas kaki batin Noah.


"Sebaiknya anda memakainya nona!" teriak Steven yang sedang berjalan melewati mereka membantu beberapa pelayan mengangkat bunga untuk mempersiapkan pesta pernikahan yang akan dilaksanakan dua hari lagi. Marcella menatap pak Hans meminta dukungan namun pria tersebut juga menggelengkan kepala. Noah menatap Marcella dengan penuh kemenangan.


Ya ya ya dia bossnya tentu saja semua pasti memihak kepadanya batin Marcella kesal. Pak Hans yang sedari tadi berdiri memperhatikan keduanya melangkah mendekat ke arah Marcella.


"Apa yang ingin kau lakukan?" teriak Noah sambil memegang tangan pria paruh baya yang semakin mendekat ke arah Marcella. Wajahnya memerah menahan amarah. Steven yang sedang membantu beberapa pelayan untuk persiapan berusaha untuk menahan tawanya.


Berani-beraninya kau menyentuhnya batin Noah.


"Saya hanya ingin membantu nona untuk memakai sepatu tuan muda" jawab pria tersebut dengan senyum hangatnya. Noah yang menahan malu mulai perlahan melonggarkan kemudian melepaskan genggaman tangannya dari lengan pak Hans.


Wah... dasar singa bisa-bisanya dia galak kepada kepala pelayan. Pak Hans kan hanya membantuku. Lihat itu apa yang dilakukannya? wah benar-benar bisa gila aku gumam Marcella memperhatikan Noah yang celingak-celinguk bak pencuri untuk mengalihkan perhatian karena rasa malunya.


"Steven apa yang kau lakukan disana?! bukannya kau kusuruh untuk memeriksa laporan bulanan?!" teriak Noah kepada Steven yang dari tadi mondar-mandir mengurus segala persiapan.

__ADS_1


"Tapi...." belum sempat dilanjutkannya Noah menatap Steven sambil mengedipkan matanya memberi isyarat. Steven yang paham dengan keinginan tuannya tersebut langsung berjalan dibelakang Noah menuju rumah utama.


Apa-apaan ini? tadi dia menyuruhku untuk mengatur segala persiapan dan memastikanya beres tapi dia sendiri malah menyuruhku pergi. Tunggu dulu apa dia mencoba mengalihkan perhatian dari kejadian memalukan tadi? aaahh sudahlah... gumam Steven sambil berjalan dengan tetap menahan tawanya.


"Kau?... apa kau sedang menertawakanku?" tanya Noah yang tiba-tiba berhenti lalu berbalik menatap Steven dengan tatapan yang mengintimidasi.


"Tidak tuan muda" jawab Steven dengan kembali meluruskan tatapannya ke depan.


"Sudahlah kau pikir aku tidak tahu kau sedang menertawakanku tadi hah?!" teriak Noah. Steven yang mendengar teriakan itu hanya menelan kasar salivanya tidak berani menjawab. Setelah memasuki rumah utama mereka segera menuju ruang kerja Noah. Segera setelah mereka berdua memasuki ruang kerja Noah pun menyuruh Steven untuk menutup pintu.


"Apa kau sudah menghubungi paman David?" tanya Noah kepada Steven yang dari tadi berdiri disebelah kanan meja kerja Noah.


"Sudah tuan, tuan David dan nyonya Tamara akan naik pesawat keberangkatan besok subuh" jawab Steven.


"Baiklah, sebentar katakan kepada pak Hans untuk menyiapkan kamar paman dan bibi pastikan mereka merasa nyaman" perintah Noah.


"Katakan pada mereka kalau Elle ada disini. Oh ya tunggu dulu, apakah Elle tahu bahwa kedua orang tuanya akan datang besok?" lanjut Noah.


"Saya rasa belum tuan" jawab Steven. Steven sama sekali belum melihat reaksi Marcella yang menandakan bahwa gadis itu terlihat bahagia kemungkinan mendengar kedua orang tersayangnya itu akan tiba kecuali wajah kesal yang selalu ditunjukkannya apalagi jika berada dekat Noah. Noah yang mendengar jawaban Steven kemudian mengangguk dan menyuruh Steven untuk kembali mengatur persiapan pesta di taman.


"Eh paman! eh maksudku Steven, tuan Steven!". Steven yang baru saja memasuki area taman tempat akan berlangsungnya pesta pernikahan tuannya langsung berbalik dan menuju ke arah suara yang memanggilnya.


"Ada yang bisa saya bantu nona?" tanya Steven sopan kepada Marcella yang sedari tadi menahan keseimbangan tubuhnya akibat kakinya yang sedari tadi gemetar karena sepatu yang digunakannya. Tanpa menjawab pertanyaan Steven Marcella pun menarik lengan kekar pria tersebut membawa tubuh tegap Steven mendekat kearahnya. Tangan Marcella yang tadinya menarik lengan Steven berpindah memegang kedua tangannya hingga kini mereka saling berhadapan. Steven yang mendapat perlakuan Marcella yang menurutnya tidak sopan tersebut berusaha untuk melepaskan tangannya dari genggaman Marcella, namun gadis itu melototkan kedua matanya sambil menahan tangan Steven.


"Tunggu sebentar!" teriak Marcella yang langsung membuat Steven terdiam karena semua mata pelayan termasuk pak Hans melihat ke arah mereka berdua.

__ADS_1


"Nona apa-apaan ini? jangan membuat masalah. Jika tuan muda melihat ini maka saya aka..." belum sempat melanjutkan perkataannya Steven pun dibuat diam oleh Marcella.


"Masalah apa memangnya?,m aku hanya meminta tolong agar kau membantu melatihku memakai sepatu ini lagi pula bukannya tadi kau bertanya apakah aku butuh bantuan atau tidak kan!" jawab Marcella yang sedikit menaikkan intonasi suaranya.


"Lagi pula jangan berpikir macam-macam, anggap saja kau sedang membantu adikmu yang akan menikah agar dia tidak mempermalukan dirinya dan juga keluarganya karena terjatuh saat berjalan ke altar... Ah sudahlah jika tidak bersungguh-sugguh maka jangan menawarkan bantuan" lanjut Marcella menghempas kasar tangan Steven yang digenggamnya karena melihat Steven yang sedari tadi diam tanpa sepatah kata pun.


Pak Hans yang berjalan mendekat ke arah mereka berdua menatap Steven dengan senyuman khasnya perlahan mengangguk ke arah Steven untuk memberikan isyarat agar pria yang tak kalah tampan dari Noah tersebut menuruti kemauan nona muda mereka. Karena menurut pria paruh baya tersebut entah pernikahan ini akan terjadi atau tidak mereka tetap memiliki tanggung jawab untuk menuruti kemauan Marcella sebab sama seperti Noah Marcella juga adalah cucu dari ketua Bright Group yang tak lain adalah majikan mereka. Steven yang mengerti dengan maksud pak Hans pun kembali membalas anggukkan pria tersebut lalu kembali melihat ke arah Marcella yang sedari tadi sibuk melihat pergelangan kakinya yang mulai memerah akibat sepatu tinggi yang dipakainya tersebut. Steven perlahan kembali mengambil kedua tangan Marcella yang kemudian digenggamnya hingga mereka berdua kembali berhadapan, dan seperti biasa akibat rasa takutnya akan kemungkinan Noah yang akan murka melihat kejadian tersebut membuat Steven hanya membuang mukanya tidak berani menatap wajah Marcella.


"Apa yang kau lakukan?" teriak Marcella kesal.


"Katanya tadi mau latihan berjalan, ya sudah ayo! lagi pula saya tidak mau dipermalukan karena adik saya terjatuh saat berjalan menuju altar dan satu lagi jangan memanggil saya dengan sebutan tuan panggil apa saja terserah nona yang penting jangan tuan" kata Steven tetap dengan pandangan yang entah kemana. Mendengar perkataan Steven Marcella tersenyum senang karena ada yang bersedia membantunya latihan. Awalnya memang pak Hans yang membantunya namun pak Hans juga harus mengontrol pekerjaan pelayan yang lainnya. Marcella tak tega melihat para pelayan yang akan terkena amarah kakaknya apabila pekerjaan mereka tidak beres pun menyuruh pak Hans untuk kembali mengontrol para pelayan.


Ya Tuhan jangan sampai tuan Noah melihat ini jika tidak maka aku akan dipangganggnya hidup-hidup batin Steven menangis.


"Baiklah ayo!" Marcella pun segera berlatih dibantu Steven. Kakinya perlahan-lahan maju dengan sangat hati-hati. Steven mengikuti irama jalan Marcella dengan berjalan mundur.


"Nona kenapa anda berjalan seperti siput yang retak tulang?" tanya Steven yang sedari tadi berusaha sabar dengan irama jalan Marcella dengan kaki yang tetap saja gemetar.


"Apa kau pikir memakai sepatu tinggi itu gampang? kalau mau cepat-cepat kenapa tidak kau saja yang memakainya!" teriak Marcella dengan tatapan kesalnya dan bibir yang dimajukan 5cm kedepan.


"Saya kan pria nona memangnya anda pernah melihat pria menggunakkan sepatu seperti itu? kecuali..." perkataan Steven terhenti saat dirinya membayangkan dirinya seperti pria setengah wanita diluar sana yang bahkan menjual diri mereka untuk orang lain. Marcella yang melihat Steven menggeleng-gelengkan kepalanya jijik dengan pikirannya tersebut langsung tertawa terbahak-bahak mengerti dengan apa yang sedang dipikirkan pria didepannya. Steven yang melihat tawa Marcella untuk pertama kalinya terdiam. Ada sedikit kebahagian saat melihat Marcella tertawa tanpa dibuat-buat. Para pelayan termasuk pak Hans ikut tersenyum melihat Marcella yang tertawa lepas.


Tertawalah nona, tertawalah sesuka anda. Sering-seringlah bahagia seperti itu walaupun sebenarnya batinmu masih sulit menerima ini tapi setidaknya kau dapat sedikit melupakan masalahmu batin Steven sambil tersenyum melihat tawa lepas Marcella. Steven pun semakin mempererat genggamannya.


"Sudah sudah, ayo latihan lagi atau nanti..." belum sempat Steven melanjutkan kalimatnya Marcella langsung diam dan kembali memasang tatapan seriusnya, dia tidak bisa membayangkan jika dirinya akan jatuh saat berjalan ke altar.

__ADS_1


Aku harus latihan sungguh-sungguh jika tidak entah dimana aku akan menaruh mukaku saat aku terjatuh dan kakak pasti akan memarahiku habis-habisan jika aku sampai mempermalukannya. Baiklah semangat Elle! batin Marcella menyemangati dirinya.


__ADS_2