Belajar Mencintaimu

Belajar Mencintaimu
NYAMAN


__ADS_3

Marcella terus menatap ke arah Steven yang sibuk di belakang kemudi. Sebenarnya setelah kejadian tangis-tangisan tadi suasana jadi sedikit lebih canggung. Bukan karena ada apa-apa yang terjadi, namun kali ini gadis itu lebih fokus pada genggaman tangan Steven yang entah sudah berapa lama tidak mengendur sama sekali. Bahkan sambil menyetir saja, sebelah tangannya masih bisa menggenggam erat tangan Marcella seerat ini.


Marcella sedikit mengerutkan keningnya, anehnya pria itu tidak merasa terganggu sama sekali, justru lebih tenang dari sebelumnya, nafasnya juga lebih teratur.


Pandangan Marcella berpindah ke wajah pria itu. Menelusuri setiap garis wajah Steven, mulai dari alisnya yang tebal, mata setajam elang namun tetap meneduhkan, rahang yang kokoh, hingga bibir yang... Aaakkkhhh apa-apaan ini?, dasar otak sinting, bisa-bisanya kau bekerja untuk mengagumi lawan jenis di saat seperti ini.


"Ada apa?" Marcella kaget saat Steven sebentar menatap kearahnya, lalu kembali fokus mengemudi.


"Memangnya ada apa?" tanya Marcella pura-pura bodoh.


"Kenapa melihatku seperti itu" Marcella berusaha menyembunyikan senyumnya, dengan berpaling ke arah jendela. Nada suara lembut dan perhatian milik pria itu memang selalu bisa membuatnya merasa hangat, sekaligus nyaman di waktu yang bersamaan.


"Itu... Tidak apa-apa" hanya kalimat bodoh itu yang keluar dari mulut Marcella. Rupanya memang sangat susah untuk sedikit jujur.


"Apa kau tidak nyaman?, baiklah" Steven mulai mengendurkan genggamannya.


Oh hell, reaksi tubuh macam apa itu? Marcella semakin menghadap ke arah jendela, berusaha menyembunyikan rasa malu atas apa yang baru saja dilakukannya. Bagaimana tidak, saat genggaman di tangannya terasa mengendur akan dilepaskan, secara cepat gadis itu menahannya dengan genggaman yang lebih erat dari sebelumnya. Wajahnya sontak memerah saat menangkap senyum Steven dari ekor matanya.

__ADS_1


"Hmmm bi biarkan saja dulu seperti itu sebentar, a aku masih kedinginan" Marcella mengutuk mulutnya sendiri saat berbicara tersendat-sendat. Pria itu kembali tersenyum. Perlahan jemari Steven masuk diantara jemari Marcella, menguncinya sangat rapat.


"Baiklah, kalau begitu mari seperti ini sebentar" ya ampun jantung Marcella serasa ingin loncat dari tempatnya.


...


Dengan keadaan basah kuyup, Marcella melangkah masuk ke dalam rumah utama. Gadis itu sedikit heran dengan keadaan dalam rumah yang bisa dikategorikan lebih hening dari biasanya. Mungkin saja karena sudah jauh malam, para pelayan juga sudah tidur semua.


"Dimana Pak Hans?" tanya Steven pada seorang pengawal yang menjaga di depan pintu.


"Pak Hans sedang menyusul Tuan Muda, Tuan" jelas penjaga itu.


"Tadi saat mengetahui Nona Muda hilang, Tuan Muda membuat keributan sambil terus mencari Non-"


"Dimana?" Steven dan pengawal itu pun menoleh ke arah suara.


"Terakhir saya dengar dari beberapa pengawal yang menemani Pak Hans, katanya Tuan Muda terlihat ke arah buki-"

__ADS_1


"Ditengah hujan begini?" Marcella kembali menyela pembicaraan.


"Iya Nona, katanya tadi Tuan Mud-" belum selesai pria itu menjelaskan, Marcella sudah berlari keluar menerobos hujan. Steven yang melihat itu pun berusaha untuk menghentikan gadis itu, namun tentu saja jangan katakan dia berdarah Bright jika tidak keras kepala. Marcella maupun Noah, mereka sama saja.


"Nona apa yang anda lakukan?! Sebaiknya anda ganti pakaian dulu, jika tidak anda akan sakit!" Marcella terus berlari, sesekali gadis itu mengusap cepat lengannya karena merasa kedinginan.


"Nona saya mohon, nanti anda akan sakit!" Steven terus berteriak di tengah hujan deras sambil berusaha mengejar Marcella.


"Kau wanita keras kepala aku bilang berhenti!!!" Steven meraih sebelah tangan Marcella lalu memutar tubuh gadis itu.


"Kau apa yang kau pikirkan sebenarnya hah?!" Marcella mati kutu, kali ini sangat jelas terlihat amarah yang hampir meledak dari mata pria itu. Kali ini gadis itu sepertinya harus menggeser kedudukan Noah yang menempati urutan pertama pria menyeramkan, karena pria didepannya sekarang jauh lebih menyeramkan. Malam ini dia sudah diteriaki berkali-kali oleh Steven.


"I itu aku mau-"


"Elle?!" Marcella dan Steven memalingkan wajah ke arah suara. Steven yang melihat Noah, segera melepaskan tangannya dari gadis itu.


"Ya Tuhan kau pulang sayang, kau pulang hiks hiks... Maafkan aku" Noah memeluk Marcella sangat erat, membenamkan wajah gadis itu di ceruk lehernya.

__ADS_1


"Maaf maaf hiks hiks... Maafkan aku" kata maaf terus dilontarkan Noah, sambil sesekali pria itu menempelkan keningnya dan kening Marcella. Pak Hans menghampiri Steven yang mematung di tempat. Pria paruh baya tersebut menepuk pundak Steven lalu segera mengajak pria itu untuk berlalu dari sana.


__ADS_2