Belajar Mencintaimu

Belajar Mencintaimu
Komitmen 9


__ADS_3

“ Aldrik... sepertinya kau... harus segera kemari.”


“ Ada apa Tara?.”


“ Datang keruanganku sekarang juga... cepatlah!.”


Pertanyaan aakan kecurigaan, ada apa hingga membuat Gestara begitu merasa khawatir. Tak urung akan pekerjaannya yang belum selesai, Aldrik terpaksa mengalihkan perhatiannya dengan berjalan menuju ruangan kerja Gestara yang disambut dengan memperlihatkan sebuah layar laptop lainnya pada Aldrik saat duduk diruangannya.


“ Aku mencoba menginstall aplikasi yang sama denganmu dan Byana, di handphone milik Hana dan melacak posisinya saat Hana mencoba menguhubungiku berkali kali namun tidak kujawab.” Gestara menjelaskan dengan begitu serius.


“ Lalu?, apa ada hal penting yang disampaikan oleh Hana?” tanya Aldrik dengan mengangkat kedua alisnya.


“ Bisakah kau buka aplikasi handphonemu dan mencari lokasi Byana 1 jam yang lalu?. Lihatlah apa mereka berada dilokasi yang sama karena, tidak mungkin Hana berada disana pada jam ini.”


Merasa kebingungan dan penasaran dengan apa maksud dari perkataan Gestara, Aldrik pun mengeluarkan handphone dari balik saku jasnya. Menyesuaikan waktu sesuai permintaan Gestara, kini giliran Aldriklah yang terkejut dengan mengerutkan alisnya.


Menatap pada Gestara dengan menggelengkan kepalanya dan menutupi wajah dengan kedua tangannya, kegundahan akan pikiran dan perasaan Aldrik pun semakin tidak jelas seolah bertambah berat baginya walau hanya untuk bernafas.


“ Maafkan aku... Byana, menanyakanmu dan... aku dengan bodoh menceritakan padanya kondisi saat ini.” Gestara menundukkan kepalanya begitu merasa bersalah.


“ Nasi sudah jadi bubur. Sekarang, apa yang dilakukan kedua wanita itu disana?!” Aldrik menyilangkan jemari tangan seraya menutupi wajahnya untuk berpikir.


“ Aku... merasa ada sesuatu yang terjadi. Karena tidak biasanya Hana tidak menjawab panggilanku jika sangat penting bahkan beberapa kali.”


“ Apa kau sudah mencoba menghubunginya kembali?” tanya Aldrik bernada berat dan parau.


Gestara langsung mengeluarkan handphonenya kembali dari dalam saku jasnya dan mencoba menghubungi Hana kembali. Deringan pertama dan kedua pun masih tidak ada jawaban, hingga pada deringan ketiga kabar yang mereka tunggu pun akhirnya terjawab sudah.


Expresi Gestara tiba tiba berubah. Tidak lagi dapat dia lukiskan bagaimana perasaan dan pemikirannya saat ini dimana Hana mengganti panggilan itu menjadi panggilan Video yang memperlihatkan keempat karyawan mereka yang sudah selamat dan mendapatkan pertolongan medis karena daya tuhan tubuh mereka yang melemah.


“ Aldrik...” ucap Gestara dengan nada gelisah.


“ Dimana Byana?” tanya Aldrik begitu serius pada Hana dengan nada berat dan parau.


“ Aku... tidak tahu. Terakhir yang kulihat Byana terlibat baku tembak dengan mereka, untuk membiarkan kami pergi.”


“ APA?!”


Tidak lagi menunggu kabar apa pun, bagi Aldrik yang sudah kehilangan akalnya dirinya kini sudah tidak perduli lagi dengan siapa dia akan berhadapan. Berjalan menuju keluar ruangan Gestara, terlihat Aldrik mengaktifkan aplikasi di handphonenya dan berlari begitu cepat menuju parkiran mobil.


Tak urung akan Gestara yang mengikutinya dari belakang menggunakan mobil yang berbeda, kecepatan Aldrik yang melaju begitu cepat sungguh tidak dapat terkejar oleh Gestara. Menyusulnya dengan jarak sedikit jauh, Gestara kembali dikejutkan dengan kabar lainnya.


 Panggilannya pada Hana yang masih terhubung pun semakin membuat Gestara kewalahan bahkan sama seperti Aldrik yang kehilangan akal sehat, mencoba untuk mencerna berita akan kabar Lia yang menyelinap masuk kedalam mobil dan berpindah mobil tanpa memberitahu Byana.


“ Apa yang kalian pikirkan.” Ucap Gestara sembari mengemudikan mobilnya.


“ Sungguh, baik aku dan Byana benar benar tidak tahu jika Lia masuk kedalam mobil van. Aku begitu fokus mendengar kabar Byana dari walkie talkie, hingga tidak tahu kapan Lia turun dan berpindah mobil dibelakangku.” Balas Hana dengan begitu panik dan gusar.


“ Aldrik sedang menuju tengah kota, sepertinya Byana sudah pergi dari klub itu.” Balas Gestara.


“ Aku khawatir Byana menuju rumah sakit terdekat, karena anak buah Daniel menembak seperti membabi buta. Tidak tahu kearah mana, mereka begitu brutal...” balas Hana memberikan penjelasan rekam kejadian.


“ Sepertinya aku harus menghubungi pak Gio... SIAL!” ( BHAAKKK) Gestara yang kesal menghentak stir kemudinya, langsung memutuskan panggilan Hana dengan terhubung pada Pak Gio.


Sudah tidak perlu dijelaskan kembali akan tanggapan serta tindakan yang dilakukan Pak Gio saat ini sebagai paman dan juga orang tua angkat Lia, dengannya yang langsung memesan kendaraan online pada tengah malam ini, Pak Gio tergesah penuh khawatir menuju rumah sakit ditengah kota.

__ADS_1


Tak urung akan Aldrik yang sampai lebih dahulu, bagai tak bernyawa melihatnya berdiri diam membatu. Terlihat Aldrik menahan diri saat melihat balutan perban dikepala dan tangannya. Tubuh bergetar penuh emosi, mengepalkan kedua tangan yang bergetar tak tertahankan.


Menatap pada pintu kaca lebar dimana lampu merah menyala diatasnya bertanda operasi sedang berlangsung. Seperti tidak bernafas dengan tatapannya yang kosong, Byana menahan diri meski pun ia juga merasakan sakit pada dirinya sendiri.


“ Byana...” Aldrik memanggil lembut dari arah belakang.


“ Bagaimana ini?. Karena aku, kepala Lia terkena tembakan.” Balas Byana dengan tidak memandang pada Aldrik, membelakanginya.


“ Aku yakin, Lia akan baik baik saja.” Aldrik mendekati dan berdiri tepat dibelakang Byana.


Seperti memberikan bunga terakhir, Byana akhirnya menutup kedua matanya dengan tertunduk lemas. Tak urung akan Aldrik yang memeluknya dari belakang, Byana hanya menangis menahan suaranya agar tak terdengar siapa pun dengan tubuh bergetarnya.


Pilu dan begitu menyakitkan bagai hati tercabik. Seperti itulah disaat melihat orang yang datang begitu berarti, tergeletak bersimpuh darah dan tidak dapat melakukan apa pun untuk menolongnya. Hanya merasa kotor penuh benci saat menatap baju yang dikenakannya saat ini, mengingat darah Lia yang menempel begitu banyak pada pakaian Byana.


“ Tenanglah... Lia akan baik baik saja. Aku akan mencarikan dokter dan penanganan terbaik untuknya.” Aldrik berbisik dengan terus memeluk Byana dari belakang mencoba menenangkannya.


“ Pecahan kaca serta... goresan peluru ini... tidak seberapa dengan... peluru yang bersarang dikepalanya... dan itu karena, aku.” Byana berkata dengan terisak tangis.


“ Kau tidak tahu Lia ikut secara diam diam... Byana, kejadian ini diluar dugaanmu.” Balas Aldrik bernada dalam dan lembut.


“ Saat peluru itu... itu... Lia tiba tiba... dia... me, me...” Byana sudah tidak dapat berbicara akibat tangisannya yang semakin menderai tak tertahan.


“ Aku tahu. Byana, aku tahu dan percaya padamu... tenang, Lia akan baik baik saja.” Aldrik membalikkan tubuh Byana dan kembali memeluk dengan mengusap lembut kepalanya.


Tubuh Byana semakin terlihat bergetar dipelukan Aldrik. Tetap menangis begitu pilu, namun tetap berusaha menahan diri untuk tidak bersuara hanya semakin membuat Byana terlihat begitu menyedihkan untuk menghukum dirinya sendiri.


Menit berlalu pak Gio pun datang dengan wajah pucatnya. Melihat penampilan Byana serta noda darah dipakaiannya, Pak Gio seolah kehilangan tenaganya untuk berdiri dimana Gestara dan Aldrik langsung menopangnya dan membantunya untuk terduduk.


Tatapan Pak Gio yang bergetar dengan kedua matanya yang terbuka lebar, mulutnya kalut untuk berbicara. Byana berjalan menghampiri dengan langsung berlutut menatap lurus pada Pak Gio yang menatapnya penuh pertanyaan.


“ Apa sekarang, masih dalam ruangan itu?” tanya Pak Gio dengan tangan bergetar menunjuk kearah pintu ruang operasi.


“ Ya... maafkan aku Pak Gio... hukumlah atau maki. Lakukan semua padaku, karena aku... pantas mendapatkannya.” Ucap Byana dengan semakin bersimpuh, menunduk kepala semakin dalam.


Pak Gio menyandarkan kepalanya pada dinding rumah sakit. Menatap pada Byana yang begitu sangat bersimpuh memohon maaf, serta dengan penampilan dan juga luka ditubuhnya yang sudah tidak Byana hiraukan, membuat Pak Gio hanya dapat terdiam menatapnya.


Aldrik menepuk pundak Pak Gio dengan pelan lalu membungkuk seraya memohon maaf padanya kembali atas nama Byana. Melihat tuan dan nona yang memohon penuh rasa bersalah, seolah tidak memperdulikan status sosial mereka pada seorang pesuruh semata.


Merasa tidak nyaman dan terkejut, Pak Gio langsung membalas dengan bersimpuh di samping Byana seraya memohon untuk menghentikan tindakan mereka yang dianggap tidak pantas. Byana berbalik terkejut dengan Aldrik yang juga langsung menarik tangan Pak Gio untuk segera berdiri.


“ Tuan... Nona... dengan anda yang bertanggung jawab pada Lia serta memberikan yang terbaik seperti ini untuknya, sudah jauh lebih dari cukup. Terlebih Tuan, saya mohon jangan membuat saya lebih tidak tahu malu pada anda.” Ucap Pak Gio bernada sedih dan memelas.


“ Nona Byana... saya tahu Lialah yang bersembunyi secara diam diam masuk kedalam mobil. Sayalah yang meminta maaf karena kecerobohan saya membuat rencana anda berantakan...” lanjut Pak Gio dengan menundukkan kepalanya pada Byana.


“ Pak Gio hentikan... akulah yang salah.” Byana menadahkan kepala Pak Gio dengan sopan.


“ Nona... Tuan... maafkan saya.” Lanjut Pak Gio kembali.


“ Pak Gio, saya akan mengupayakan sebaik mungkin untuk kesembuhan Lia. Jadi jangan khawatir.” Balas Aldrik dengan memberikan senyuman hangatnya.


“ Terima kasih Tuan... terima kasih...” balas Pak Gio dengan penuh haru.


Ditengah suasana duka dan haru yang sedang terjadi, Hana yang menghubungi Gestara untuk memberikan kabar kelanjutan pun tidak bermaksud untuk merusak suasana. Namun melihat kondisi keempat karyawan yang memburuk akibat luka pukul dan kekurangan asupan gizi, Hana kebingungan dalam mengambil suatu keputusan.


Gestara terpaksa menghampiri Aldrik dan memberitahukan kabar itu yang akhirnya membuat Aldrik kebingungan mengingat lokasi rumah sakit mereka yang berbeda dan masih dalam penanganan medis sehingga tidak bisa dipindahkan dalam satu rumah sakit yang sama.

__ADS_1


“ Pergilah... biar aku disini.” Ucap Byana yang akhirnya menghentikan tangisnya.


“ Ya Aldrik. Aku juga akan disini dan membantu Byana jika membutuhkan sesuatu. Saat ini keempat karyawan itu lebih membutuhkan kehadiranmu...” balas Gestara berwajah serius.


“ Baiklah. Terus kabari aku.” Balas Aldrik menatap pada Gestrara.


“ Tentu.” Gestara mengangguk.


“ Aku pergi dulu, kau tenanglah. Aku akan mengupayakan yang terbaik.” Ucap Aldrik berpamitan dengan mengecup kening Byana lembut.


Segera berlari, Aldrik pun langsung bertindak tegas. Mengambil handphone dari dalam saku jasnya, sepanjang perjalanan menuju rumah sakit lainnya Aldrik berbicara serius dengan kuasa hukum serta petugas keamanan perusahaannya.


 Tersampai dengan sudah terlihat beberapa penjaga bertubuh kekar yang menunggunya di pintu UGD rumah sakit, Aldrik kembali berlari bersama mereka dan menghampiri keempat karyawan itu dimana Hana terlihat begitu lelah dan letih menanganinya.


“ Hana, terima kasih. Biar aku ambil alih dari sini.” Ucap Aldrik saat menatap pada Hana.


“ Baik. Aldrik, wanita itu mengalami luka cukup serius... sepertinya akan sangat berpengaruh pada tubuhnya kelak.” Hana mencoba menjelaskan semabri menunjuk kearah Azka.


“ Aku mengerti.” Balas Aldrik tegas.


“ Baiklah, aku pergi dulu... aku akan menyusul ke Byana.” Hana tersenyum sembari melambaikan tangannya.


“ Terima kasih.”


Melihat Hana berlalu pergi, Aldrik langsung menemui beberapa dokter, perawat, atau petugas administrasi rumah sakit untuk mengurusnya secara langsung dan cepat. Tak urung akan anak buah Gestara yang juga datang untuk membantu Aldrik, saat ini Aldrik benar benar disibukkan dengan hal hal yang berada diluar kendalinya.


******


-Klub Karaoke-


Daniel, Alex, dan Gerry yang akhirnya tersadar pun menanggung malu amat hina mengingat mereka yang dengan mudah dijatuhkan. Seolah harga diri terinjak injak, mereka langsung melihat semua rekaman CCTV dan berbagai camera yang berada didalam atau diluar klub karaoke.


 Byana tambil sebaik mungkin seperti bayangan yang tidak terlihat meski saat melepaskan ikatan keempat karyawan itu, Byana sempat membuka penutup wajahnya. Bahkan rekaman CCTV didalam klub karaoke pun seperti tidak dapat menangkap pergerakkannya.


Plat nomor mobil yang sengaja dilepaskan serta kabel kamera yang sudah Byana putus disekitar klub karaoke membuat Daniel semakin naik pitam. Dengan Hana yang juga memakai penutup wajah dan jaket tebal seperti seorang pria, tidak menimbulkan kecuriagaan sama sekali.


* ( AARRGGGHHH ) “ SIAL! FUK YOU ALL!” ( BHAAKK PRAANGG PRANGG)** Teriak Daniel begitu kesal dengan memecahkan dan menghancurkan beberapa barang.


“ Boss tenanglah. Aku pasti akan mendapatkan kepar@t itu!.” Ucap Gerry juga dengan kesalnya.


“ Dilihat dari gerakannya, orang ini bukan orang biasa. Seperti seorang polisi terlatih.” Alex mencoba memberikan komentar sembari terus memperhatikan rekaman CCTV.


“ Bagaimana bisa kita tertidur?! Brengs#k! Akan aku bunuh dan siksa orang itu!” ucap Daniel dengan penuh kemarahan.


Alex semakin jeli dan teliti melihat detik demi detik hingga tersadar pada sebuah menit dimana terlihat seorang gadis berjalan keluar secara diam diam dan masuk kedalam mobil Byana yang dapat dipastika bahwa itu adalah Lia.


Alex mencoba memperjelas wajah Lia namun akibat gelap dan pohon berdaun lebat disekitar klub, Alex pun kesulitan untuk melihat wajah Lia. Mencoba memberitahukan penemuan besar ini pada Daniel, ia pun akhirnya dapat tersenyum puas.


“ Kerja bagus adikku... kau akhirnya berguna. Kalian lihat?, seperti ini! seperti dia yang aku butuhkan!. Disaat terdesak seperti ini dapat menemukan suatu bukti bagus. Alex, cari tahu siapa gadis itu dan mobil sedan hitam milik siapa itu.” Ucap Daniel begitu serius.


“ Tentu saja. Aku akan membuat orang itu tersiksa karena sudah berani mempermalukanku.” Balas Alex dengan senyum menyeringai.


“  AHAHAHAA... tentu saja adikku... kita akan sangat amat menikmati saat menyiksanya nanti.”


Saling tersenyum satu sama lain, entah apa yang ada dalam pikiran mereka saat ini. Hanya berumpat dan bertindak kasar, bagi mereka yang berhati pekat hitam penuh abu kebencian, bukan hanya seseorang namun dapat dengan hati dingin mereka menghilangkan nyawa belasan orang lainnya.

__ADS_1


__ADS_2