
Pagi yang indah dengan suara burung-burung yang berkicau tak henti memamerkan suara merdunya. Matahari yang timbul di ufuk timur gagah tanpa malu-malu mengawali hari besar bagi semua orang dirumah utama pagi itu.
Sedari pagi-pagi buta para pelayan sudah sibuk mondar-mandir kesana kemari mempersiapkan segala sesuatunya. Ada yang sibuk dirumah kaca, yang sibuk dirumah utama bahkan yang sibuk dihalaman belakang tempat pernikahan berlangsung.
Pak Hans berjalan kesana-kemari memperhatikan sekaligus mengontrol para pelayan. Pria tua itu kadang harus berlarian karena beberapa pelayan yang salah membawa dan menaruh barang sehingga membuat pria paruh baya itu terpaksa harus langsung turun tangan sendiri. Steven yang sibuk menertibkan para pengawal dan petugas keamanan rumah utama sibuk menjelaskan segala sesuatu yang harus dan sangat harus dilaksanakan. Dimata para pengawal bahkan semua pelayan rumah utama Steven sudah seperti majikan kedua bagi mereka karena perintahnya sudah pasti perintah tuan rumah bahkan jika itu bukan perintah langsung tuan rumah mereka tetap akan melakukannya karena apa yang menurut Steven baik sudah pasti baik bagi tuan muda mereka. Tidak hanya kesibukan dirumah utama, namun dikediaman Iron pun semua orang harus menghadapi kegaduhan pagi-pagi.
"Ayaah! ayah lihat dimana kunci mobilku?" teriak gadis cantik yang telah siap dengan dress pink cantiknya dan rambut yang disanggul namun disisakan sedikit menggantung disamping telinga menambah aura cantiknya.
"Sayang jangan teriak-teriak begitu, gendang telinga ibu hampir pecah" sahut wanita yang berusia sekitar 39 tahun namun masih nampak cantik alami. Lusi lalu melanjutkan kembali kegiatannya bersama beberapa pelayan di dapur untuk menyiapkan sarapan.
"Ibu, ibu lihat kunci mobilku tidak?" Sita mondar-mandir mencari kunci mobilnya yang bahkan teriakannya dapat didengar sampai dikamar para pelayan. Sang ibu hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat sikap putrinya tersebut. Balum sang ibu menjawab tiba-tiba ada sahutan dari arah yang lain.
"Kunci mobilmu ada di mang Mamat, ayah tadi menyuruhnya untuk memanaskan mobilmu dan mobil ayah" Iron muncul masih dengan menggunakan kaos oblong putih miliknya, berbeda dengan Sita yang sudah siap dengan penampilan terbaiknya dari atas sampai bawah.
"Baiklah kalau begitu aku berangkat duluan ayah, ibu" teriak Sita sambil akan bergegas ke luar.
"Eh eh anak ayah mau kemana sayang?!" teriak Iron ketika sadar dengan penampilan heboh putrinya tersebut.
"Ke pemakaman, ya ke nikahan Elle dan kak Noah lah ayah" Sita berkata dengan semangatnya, namun tidak dengan ayah dan ibunya yang ternganga sambil melihat jam yang menggantung di dinding ruangan luas tersebut.
__ADS_1
"Sayang ini kan masih pukul enam pagi" jawab sang ibu.
"Iya aku tahu" Sita menyahut dengan santainya.
"Lalu?" lanjut Iron.
"Ya aku kan keluarga dekat jadi harus segera datang, aku juga mau membantu Elle dirias jadi harus segera berangkat. Oh iya ayah dan ibu kenapa belum bersiap-siap? acaranya sebentar lagi loh. Ya sudah aku berangkat duluan ya" teriak Sita melangkahkan kaki keluar rumah sambil terus merapikan rambutnya.
"Sayang tidak sarapan dulu?!" teriak Lusi yang melihat punggung mulus putrinya melangkahkan kaki menjauh dari pandangannya.
"Nanti sarapan disana saja bu!" teriak Sita dengan suara yang semakin mengecil seiring dengan langkah kakinya yang semakin menjauh.
"Entahlah dia keras kepala sama sepertimu" kata Lusi sambil mengoleskan selai nanas kesukaan suaminya di roti tawar untuk sarapan.
"Oooh sayangku ayolah, aku memang keras kepala tapi kamu sayang kan kan kan" goda Iron seraya berjalan langsung menghambur pelukan ke arah istrinya memeluknya dari belakang dengan kedua tangan yang dikalungkan erat di pinggang ramping istrinya dan kepala yang mencium bahu putih mulus itu.
"Hmmm entahlah tapi tidak lagi sayang tuh... lebih tepatnya cinta" jawaban Lusi disambung dengan Iron yang memeluknya semakin erat lalu menggigit lembut telinga istrinya yang kemudian mengerang geli.
"Sudah sudah jangan menggodaku terus, segeralah sarapan lalu mandi aku akan menyiapkan pakaianmu" kata Lusi sambil berusaha melepaskan diri dari rangkulan suaminya. Bukannya melepaskan rangkulannya Iron malah membalikkan tubuh istrinya sehingga mereka berhadap-hadapan masih dengan terus merapatkan pelukannya. Lusi pun meladeni Iron dengan mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya.
__ADS_1
"Sayangku kenapa harus buru-buru bukannya kita masih punya waktu empat jam untuuuuuk..." Iron menatap wajah istrinya dengan tatapan seperti singa yang ingin segera menerkam mangsanya. Menyadari hal itu Lusi langsung mencubit keras lengan Iron untuk melepaskan pelukannya lalu segera duduk di kursi meja makan untuk sarapan.
"Sayaaaaang" Iron merengek sambil menetap kesal ke arah istrinya.
"Sudah sudah ayo cepat sarapan apa kau tidak ingat perkataan anakmu tadi sebagai keluarga dari mempelai kita harus segera hadir" Iron berpikir sejenak lalu menarik kursi dan duduk langsung berhadapan dengan istrinya dan segera menikmati sarapan mereka. Dipikirnya benar juga dia harus segera hadir siapa tahu Steven dan David butuh bantuannya.
...
Pagi itu setelah menyiapkan baju David Tamara segera bergegas masuk ke kamar mandi setelah David selesai mandi. Setelahnya mereka bersiap-siap dengan baju mereka untuk pernikahan putri tercinta. Tamara dengan dress warna pitch menunjukkan aura cantiknya meski telah memiliki 2 orang anak. Tak kalah dengan Tamara David dengan setelan jas lengket berwarna hitam sangat cocok untuk tubuhnya yang tegap dan wajahnya yang masih tetap tampan.
"Sayangku kau terlihat sangat cantik, mirip sekali seperti ketika kita pertama bertemu" goda David berbisik di telinga istrinya yang berdiri di depan kaca besar memantulkan bayangan mereka berdua. David memeluk Tamara dari belakang sambil sesekali mengecup lembut kepala istrinya.
"Berarti selama ini aku tidak cantik ya iya?!" jawab Tamara sambil memasang tatapan sinis lewat pantulan cermin didepannya. David kemuadian terkekeh lucu melihat perilaku istrinya itu.
"Hehehe tidak sayangku, dari dulu sampai sekarang kau tetap cantik bak seorang ratu... ratu dihatiku yang telah memberikan putri yang cantik dan pengeran yang tampan melengkapi setiap detik hidupku"
"Dan sekarang kita akan melepas putri yang cantik itu" kata Tamara dengan raut wajah yang tiba-tiba berubah sendu. David yang melihat raut sedih di wajah istrinya kemudian membalikkan tubuh istrinya sehingga mereka berhadapan. Kedua tangaan David merangkul wajah cantik itu dan matanya menatap dalam mata itu.
"Semuanya akan baik-baik saja sayang, aku berjanji padamu" perkataan David disambut dengan pelukan hangat dari Tamara.
__ADS_1
"Sudah sudah lebih baik sekarang kau membantu putrimu aku sangat yakin dia sedang kalang kabut sekarang" perkataan David disambut dengan tawa Tamara sambil memukul lengan suaminya. Tamara dan David tahu betul Marcella dari segi penampilan memang bukan seperti kebanyakan gadis pada umumnya. Sifat Marcella yang cuek dan mandiri membuatnya tidak terlalu perduli dengan yang namanya penampilan. Jika bepergian pun dia kebanyakan memakai kameja kebesaran dipadukan dengan celana jeans dan sepatu kets andalannya.