Belajar Mencintaimu

Belajar Mencintaimu
Stabilitas Keyakinan 5


__ADS_3

Menunggu adalah hal yang membosankan. Tapi bagiku menunggu sesuatu hal tidak begitu buruk mengingat hasil yang akan diterima pada akhir hari. Mencoba sebaik mungkin, ternyata tidak terlalu buruk mengharapkan sesuatu walau sebatas seutas tali benang.


“ Papa, mama... doakan Byana.”


Ingin menitikkan air mata kembali namun merasa sudah cukup, hati tetap saja terasa sesak meski sudah ada sesosok pria yang menemani dan mendukung. Mengunjungi pemakaman yang tidak jelas berada dimana, kaki pun bergetar akan rintihan hati yang menjerit.


“ Byana....” tepukan pelan pada pundaknya penuh khawatir.


“ Aku tidak apa apa... hanya saja sudah kesekian kalinya aku kemari, tapi pemakaman ini tetap terasa asing. Sebenarnya tidak ada perbedaan aku datang kemari atau tidak.”


“ Apa kau mau pulang sekarang?” tanya Aldrik bernada lembut.


“ Sebentar lagi... biarkan aku melihat dibagian lain pemakaman. Mungkin kali ini aku dapat menemukan lokasi dimana mereka dimakamkan.” Byana mulai melangkah kembali.


“ Area pemakaman ini 3 hektar. Kau yakin ingin mencarinya seorang diri?. Biarkan aku membantumu, mungkin akan cepat di tem---”


“ Tidak terima kasih, Aldrik. Jika kau ingin membantuku, antarkan saja nanti aku ke kediaman Daniel...” balas Byana tersenyum sembari berjalan kembali memutari pemakaman.


Masih merasa ragu akan pertanyaan didalam hatinya akan kehilangan kedua orang tuanya. Pihak kepolisian yang menganggap mereka sebagai pembelot pun memvonis kematian kedua orang tua Byana dengan informasi tidak jelas.


Hanya tersebut sebuah makam, Byana tetap mencari apakah benar kedua orang tuanya dimakamkan disini atau disuatu tempat yang jauh. Tidak ingin ada penyesalan, setiap tahun Byana selalu melakukan ini dari pagi hingga tengah hari menyapa.


“ Byana cukup, sudah jam sebelas... apa kau jadi mengajar Sandra?” tanya Aldrik dengan memberikan tatapan iba.


“ Berhenti memandangku seperti itu. Ayo pulang, kau juga harus pergi bekerjakan...” Byana berjalan sembari menundukkan kepala penuh kecewa dan kesedihan.


Menatap langit biru yang cerah, Byana bersandar lemas bagai seluruh tenaganya menghilang termakan asa harapan yang kosong. Tak lagi dapat menangis, ternyata semakin membuat Byana merasa tertekan.


Tak sadar akan pintu gerbang yang terbuka, terlihat Alex sudah berdiri didepan pintu masuk seolah menunggu kedatangan Byana. Tersadar akan tatapan yang mulai terbawa emosi, kedua tangan yang mengepal itu pun terpaksa diluluhkan dengan sebuah ciuman lembut.


“ Byana?... apa yang kau lakukan?” tanya Aldrik terkejut pada Byana yang tiba tiba menciumnya saat turun dari mobil.


“ Bukankah seharusnya seperti ini?. Kau memintaku untuk menjaga jarak dengan Alex. Dia pasti saat ini akan bertanya padaku kemana aku pergi saat itu, meninggalkannya begitu saja.” Ucap Byana berbisik sembari memeluk erat Aldrik.


“ Katakan saja salah satu orang tua sahabatmu mengalami kecelakaan. Karena sangat dekat denganmu dan sudah dianggap keluarga, tentu kau harus menjenguk dan membantunya.” Balas Aldrik berbisik membalas pelukan Byana.


“ Baiklah... aku akan pulang menggunakan kendaraan online nanti.” Balas Byana saat melepaskan pelukannya dari Aldrik.


“ Tidak, pakai saja mobilku. Sebentar lagi Gestara sampai untuk menjemputku.” Balas Aldrik tersenyum sembari menyerahkan kunci mobilnya.


Memainkan sandiwara pasangan romantis, ternyata semakin menyulut api cemburu pada diri Alex yang jelas jelas menunggu Byana didepan pintu masuk untuk menyapa Byana. Kedua tangannya mengepal mencoba menahan emosi, namun tak dapat juga kunjung menghilang.


Beruntung Gestara datang tepat waktu menjemput Aldrik sehingga tidak perlu berhadapan langsung dengan Alex yang mencoba berjalan mendekati Byana. Kembali memberikan kecupan perpisahan, Aldrik mengusap lembut wajah Byana dan tersenyum sebelum memasuki mobil.


“ Kalian... romantis sekali.” Ucap Alex bernada dingin saat menghampiri Byana.


“ Bukankah kami kekasih?, tentu saja harus romantis...” balas Byana dengan tersenyum bahagia.


“ Byana, kau kemana saat itu?. Kenapa aku tidak bisa menghubungimu?!”


Dugaan yang menjadi kenyataan. Bersyukur menanyakan pada Aldrik sebelumnya, Byana pun memainkan perannya sebagai seorang sahabat bayangan. Melakukan sandiwara dengan sangat baik, Alex pun termakan raut wajah polos yang terlihat sedih itu.


“ Lalu, kapan aku bisa makan malam denganmu?” tanya Alex penuh harap.


Aakkhhh... ada apa dengan pria ini?. Apa isi kepalanya kosong?! jelas jelas Aldrik melarangku tepat dihadapannya dan aku pun secara halus menolaknya. Apa aku harus berkata kasar atau Aldrik yang memukulnya lagi agar dia mengerti!. Gumam Byana kesal dalam hati menatap pada Alex.

__ADS_1


“ Lain kali... semoga ada kesempatan lainnya. Maaf, aku harus segera masuk kedalam karena Sandra sedang menungguku.” Balas Byana tersenyum sopan dengan langsung berjalan masuk.


Alex terdiam menatap pada Byana. Tiba tiba keraguan hadir dalam dirinya namun tidak mampu untuk membuktikannya. Mencoba untuk mencari pembenaran diri atau alasan lainnya agar Byana mau meluangkan waktunya kembali, Alex dibuat kesal oleh Aldrik yang begitu terlihat menjaga wilayahnya terlebih pada apa yang dimilikinya begitu berharga.


“ Boss.” Ucap Gerry menghampiri Alex.


“ Jangan lakukan apa pun. Aku ingin melihat seberapa besar pengaruh Aldrik sampai Daniel pun memberikan peringatan keras padaku sebelumnya.” Balas Alex begitu serius.


“ Apa, aku harus menyelidiki Aldrik?” tanya Gerry sedikit berbisik pada Alex.


“ Melihat reaksi Daniel yang begitu hati hati bila menyangkut pria itu. Sebaiknya kita jangan bergerak. Aku tidak mau berurusan dengan Daniel juga. Kita lihat dulu perkembangannya.”


Untuk sesaat masalah terselesaikan. Byana kembali mengajari Sandra dan Alex terlihat mulai sedikit menjaga jarak dengannya. Merasa lega, Byana pun pulang tanpa terhadang oleh Alex yang selalu memintanya untuk meluangkan waktu bersamanya.


Sesampainya dirumah, Byana pun sudah melihat mobil dokter Hana yang terparkir. Segera berlari masuk kedalam rumah, Byana terlihat senang melihat kedatangan Hana dengan memeluk dan menyapa layaknya seorang adik yang dikunjungi oleh kakaknya.


“ Byana sebelum aku kemari, Gestara mengirimkanku gaun ini. Dia bilang harus aku kenakan, tapi apa tidak terlalu terbuka?” tanya Hana dengan membuka kancing mantelnya yang panjang.


“ WOW... HANA... kau benar benar terlihat berbeda...” balas Byana tertawa jahil.


“ Belahan dadaku terlihat begitu menonjolkan?! Gestara rubah tua sialan!. Serta bagian belakang, apa kau tidak lihat begitu ketat dan belahannya begitu panjang?!” ucap Hana kembali yang akhirnya membuka mantelnya begitu kesal.


“ Hana, bukankah sudah kubilang kita ini datang ke tempat yang... jadi tidak mungkin kau menggunakan sopan dan tertutup. Bukankah sudah ku jelaskan tempat seperti apa itu...” ucap Byana tersenyum lirih sembari menggenggam tangan Hana.


“ Baiklah, baiklah... ayo kita ke kamarmu, aku ingin lihat gaun seksi apa yang disiapkan Aldrik untukmu!” balas Hana dengan langsung menarik tangan Byana menaiki anak tangga.


Berbeda dengan Gestara yang membelikan Hana gaun berwarna emas, terlihat begitu dewasa. Aldrik lebih memilih gaun yang terkesan glamor mencuri perhatian. Gaun merah mewah berenda hitam tanpa lengan, berpotongan rendah yang mengekspos bentuk tubuh tanpa terlalu terbuka.


“ Hmm Aldrik ternyata memang punya selera yang bagus...” ucap Hana bernada jahil menatap pada Byana yang berekspresi datar, mengerutkan kedua alisnya.


( TOKK TOKK TOKK ) “ Nona Byana, boleh masuk?... penata rias sudah datang kemari.” Ucap Lia saat mengetuk pintu kamar.


Seperti biasa, penata rias pun begitu memperhatikan bentuk riasan wajah dengan warna yang benar benar sesuai tema acara. Bagi Byana dan Hana yang berhias penuh aura kedewasaan yang memikat pun akhirnya selesai tepat waktu dan menunggu Aldrik dan Gestara yang menjemputnya.


Berjalan menuruni anak tangga, Byana pun melihat Gestara yang tampil begitu menawan dengan tuxedo hitamnya. Tersenyum pada Byana dan tertegun seolah membatu melihat penampilan Hana yang seksi, Gestara menyadarkan diri dengan memalingkan pandangannya dan memberikan topeng untuk mereka gunakan nanti.


“ Apa Aldrik belum selesai berganti pakaian?” tanya Byana pada Gestara.


“ Menanyakanku?,” ucap Aldrik yang tiba tiba berdiri dibelakang Byana.


Tidak bisa berbohong dari tatapan Hana saat ini yang begitu terkagum melihat penampilan Aldrik, Byana lebih memilih untuk tidak melihatnya dan tetap membelakangi Aldrik. Mengambil sebuah topeng dari tangan Byana, Aldrik pun memasangkan pada Byana dari arah belakang.


“ Kau terlihat luar biasa.” Bisik Aldrik pada Byana.


Entah terlihat atau tidak, sepertinya wajah Byana memerah bagai warna gaun yang sedang dikenakannya. Tangan Aldrik yang meminta Byana untuk menyilangkan tangan pada lengannya, akhirnya membuat Byana menatap pada Aldrik yang membuatnya salah tingkah melihat pria yang terlihat sempurna berdiri tepat disebelahnya dan memilihnya sebagai pasangan.


Mengendarai mobil yang berbeda, Byana dan Aldrik pun pergi lebih dahulu mencoba mengatur jarak agar tidak menimbulkan kecurigaan. Gestara dan Hana yang sudah siap pun, segera mengambil posisi sempurna sebelum memasuki klub tersebut.


“ Tunggu Byana. Saat ini aku berperan sebagai Tuan Samuel Lais dan kau adalah Abigail. Mereka salah satu pasangan yang tidak bisa hadir malam ini.” Ucap Aldrik sebelum turun dari mobil.


“ Baiklah... apa Gestara dan Hana sudah menunggu di dalam?” tanya Byana bernada gugup.


“ Ya. Mereka tidak akan masuk dalam acara utama dan hanya sebagai tamu undangan biasa. Sedangkan kita nanti akan menjadi tamu VIP. Apa kau siap?” tanya Aldrik begitu serius menatap Byana.


“ Ya. Aku siap.” Balas Byana begitu lantang.

__ADS_1


Aldrik memasang topengnya dan berjalan keluar duluan untuk membukakan pintu mobil untuk Byana. Berjalan bagai pasangan elegant, Aldrik memberikan undangan dan memperlihatkan kartu anggota yang entah bagaimana bisa dia dapatkan. Kembali berjalan masuk, Byana mulai mengendalikan emosi didalam dirinya.


Kenangan akan tempat kelam yang penuh siksaan dan hinaan, membuat Byana mulai merasa sesak untuk bernafas, namun dia tetap memaksakan dirinya untuk berjalan masuk seolah tidak ada apa pun yang terjadi.


“ Di sana. Di ruangan itu.” Ucap Byana sedikit bernada getir.


Merasa tangan Byana sedikit bergetar, Aldrik langsung mendekap Byana dengan merubah posisinya. Tangan yang melingkar sempurna pada pinggang Byana dengan salah satu tangan lainnya yang menggenggam erat tangan Byana, membuat Byana merasa lebih tenang meski sekujur tubuhnya merasa dingin dan kaku.


“ Well... well... TUAN SAMUEL LAIS... How are you?, kudengar kau berlibur dan tidak bisa datang?” tanya Daniel yang menghampiri mencoba berjabat tangan dengan Aldrik.


“ Ya. Seperti kau tahu, istriku saat ini sedang hamil. Tiba tiba dia merasa tidak enak badan dan aku terpaksa membatalkan liburan kami.” Balas Aldrik tenang sembari tetap memeluk Byana di sampingnya.


“ Abigail, aku pun begitu ketika hamil Sandra... kau akan merasa baikan ketika masuk trisemester kedua...” ucap Sarah tersenyum pada Byana.


“ Tentu... terima kasih atas perhatiannya...” balas Byana tersenyum.


“ Baiklah, selamat menikmati acara dan jangan lupa, berikan penilaian kalian nanti.” Ucap Daniel seolah tertawa lepas.


“ Tentu.” Balas Aldrik dengan membawa Byana menuju meja bar panjang.


Langsung tersaji sebuah minuman, Aldrik menggantikan Byana untuk meminum itu dan hanya diam selepasnya. Melihat Byana masih mencoba untuk mengontrol dirinya, Aldrik kembali mendekatkan dirinya dan membiarkan Byana bersandar sejenak di dadanya yang bidang.


“ Atur nafasmu, cari titik fokus. Ingat pesan Hana.” Bisik Aldrik pada Byana dengan pura pura meminum minuman.


Masih bersandar lemas pada dada Aldrik, Byana mencoba melakukan yang dikatakan Aldrik dan mengingat semua hal yang dikatakan Hana padanya. Mencoba menyadarkan dirinya dan bangkit menngumpulkan keberanian kembali, Byana dan Aldrik dikejutkan dengan hal tidak terduga pada acara malam ini.


Memasuki ruangan khusus tamu VIP, tiba tiba terlihat beberapa wanita dan pria berpakaian seksi yang menyuguhkan tarian atau penampilan erotis yang memalukan. Aldrik langsung membalikkan tubuh Byana yang terlihat begitu terkejut agat tidak menarik perhatian seolah berpura pura menari bersama menikmati alunan lagu yang mengalun keras.


“ Apa saat ini... tunggu Aldrik, apa kau juga tahu bahwa tempat ini menjadi tempat prostitusi?” tanya Byana berbisik pada Aldrik.


“ Ya. Tasya sempat memberitahuku saat kau berhasil ditemukan dan dibawa pulang, Tasya yang kembali bekerja disini menemukan fakta baru. Karena itu dia sempat mengancammu bahwa dirinya dijual ke tempat prostitusi.” Balas Aldrik yang juga berbisik.


“ Ruangan itu. Disana jalan akses menuju kelantai atas, sayangnya tidak mungkin kita lewati karena banyak penjaga. Tapi ada satu ruangan alternatif yang bisa terhubung kesana, namun....”


Byana tiba tiba terdiam dengan tubuhnya yang kembali bergetar. Memutar kembali ingatannya pada ruangan dimana dirinya mendapat siksaan dan pukulan bahkan hinaan terbesar dalam hidupnya diusia yang masih belia. Aldrik yang menyadari itu pun semakin memeluk erat Byana dan membawa Byana untuk keluar ruangan sejenak.


“ Byana, lihat aku... kau tidak apa apa?. Byana?,” Aldrik menadah wajah Byana agar dapat melihat jelas padanya.


“ Aku tidak apa apa... tapi Aldrik, sepertinya aku... tidak bisa lebih lama disini. Apa kau bisa membawaku berlari?” tanya Byana dengan nafas yang mulai terasa berat karena merasa sesak.


“ Berlari?, kemana?” tanya Aldrik dengan langsung menggendong layaknya putri raja.


Byana langsung mengarahkan jalan serta ruangan yang ternyata dapat terhubung menuju ruangan rahasia dilantai atas. Tubuh Byana semakin terasa bergetar saat mereka memasuki sebuah ruangan yang dipenuhi dengan berbagai alat aneh. Aldrik menatap pada Byana yang menutup kedua matanya penuh ketakutan dan langsung membawa Byana kembali berlari menuju ruangan selanjutnya.


“ Aldrik, menggendongku... hanya akan menghambatmu. Turunkan saja aku disini dan... kau naiklah kelantai atas...” ucap Byana dengan nafas yang semakin terlihat sesak.


“ Baiklah. Aku akan segera kembali.” Ucap Aldrik mengecup kening Byana dengan langsung berlari menaiki anak tangga.


Langkah demi langkah Aldrik berjalan sehalus mungkin agar tidak menimbulkan suara. Terlihat sebuah ruangan berukuran besar yang sedikit terbuka dengan lampu yang menyala. Aldrik pun semakin berjalan menghampiri dengan membawa senjata yang Byana berikan ditangannya.


Terkejut dengan apa yang dilihatnya saat ini, ternyata keempat karyawannya yang diculik ditempatkan disini dengan terikat bagai hewan hina terduduk pada layar komputer. Tubuh mereka yang lusuh dan terlihat kurus, terlihat penyiksaan batin dan fisik yang mereka dapatkan.


Kurang ajar! tunggu pembalasanku!. Gumam Aldrik dalam hati sembari mengambil bukti rekaman dari balik handphonenya.


Kembali berjalan menuruni anak tangga, Aldrik kembali menggendong Byana menuju pintu keluar dimana Daniel dan Sarah yang menghampiri mereka pun bertanya. Beralasan akan sebuah kehamilan diawal semester, Sarah dan Daniel pun akhirnya tidak menaruh curiga dan membiarkan Byana dan Aldrik pulang.

__ADS_1


( BRRAAKK ) “ APA YANG TERJADI?!” ucap Hana dengan langsung menutup pintu mobil dan memeriksa kondisi Byana.


Menceritakan akan dirinya yang berjuang melawan dirinya sendiri. Tak kuasa melihatnya sesak untuk bernafas dengan kembali berkeringat dan sedikit demam. Byana, apa yang harus aku lakukan?.


__ADS_2