Belajar Mencintaimu

Belajar Mencintaimu
Rekonsiliasi 4


__ADS_3

“ Apa yang anda lakukan?! Lepaskan Byana!. ALDRIK KEMARI!... ALDRIK!.”


Sesak sungguh sulit untuk bernafas. Cengkraman tangan yang sebenarnya dapat dengan mudah tertangkis untuk melakukan perlawanan diri pun, tidak dapat bergerak mengingat sosok pria yang terhubung darah dengan orang terkasih.


Menghilanglah, itu arti dari tatapannya saat ini. Hadir hanya sebagai benalu, seharusnya kesadaran diri membantu untuk menyadari realita akan penolakan yang akan selalu dilakukannya.


“ Kau! Berani sekali mempermalukan keluarga ini!. Keluarga yang begitu kujaga harkat dan martabatnya, seketika semua hancur karenamu!.”


“ Paa..paa...k beri...kan... wakk..tu... un---” ( HEEUUKKK ) Byana semakin tidak dapat berbicara karena Arie semakin mencengkram erat lehernya.


“ Masih berani kau berbicara! WANITA TIDAK TAHU MALU!.” ( PLAAKKK)


“ BYANA...” teriak Hana langsung berlari menghampiri Byana.


Terhempas dengan mendapat sebuah tamparan keras pada wajah untuk kedua kalinya. Tidak lagi rasa sakit hati ini terlihat, hanya merasa sedih dan begitu sakit pada diri ini atas alasan apa hingga pantas mendapat perlakuan seperti ini.


Mencoba untuk berdiri dengan darah yang mulai menetes dari balik tangannya akibat selang infus yang terlepas, Byana dengan masih lemas berjalan dan dengan terus mencoba untuk tersadar, menundukkan kepalanya penuh hormat.


“ PUTUSKAN HUBUNGANMU DENGAN ALDRIK!.” Teriak Arie pada Byana.


 “ Dengarkan aku. Nama baik Aldrik dipertaruhkan disini! Jika kau masih mempunyai hati nurani, maka segeralah pergi dengan tidak meninggalkan jejak apa pun.” Lanjut Arie dengan begitu emosi.


Mendengar perkataan Arie, Byana terdiam dengan tidak membalas apa pun perkataannya. Satu sisi dalam dirinya memang tersadar untuk melarikan diri jika bisa. Namun Byana yang juga sudah terlanjur melangkah jauh bersama Aldrik, apakah bisa baginya untuk berjuang seorang diri.


Keraguan dalam diri Byana pun hadir dimana sebelumnya dirinya pun bertanya pada Aldrik, namun balasan yang diberikan Aldrik jauh diluar perkiraannya.


“ Pak Arie... apa anda tidak begitu kelewatan saat ini?! Seandainya anda tahu, Byana sangat berjasa bagi keluarga Mahendra. Dia bahkan dalam bahaya me---” Hana tiba tiba terdiam saat Byana menarik salah satu tangannya kearah belakang, seolah memohon untuk berhenti bicara.


“ Apa yang sudah wanita itu lakukan?. Dia hanya wanita tidak tahu diri yang hadir secara tiba tiba, memakai bagian dari nama Mahendra dan melakukan hal buruk!.” Arie menunjuk kearah Byana.


“ Apa maksud Bapak?, Byana melakukan hal buruk apa?” tanya Hana kebingungan.


“ Kupu kupu malam?. Kini kabar akan dirinya sudah tersebar kemana mana. BERAPA PRIA YANG SUDAH KAU LAYANI?!” 


Tersadar akan kabar yang semakin menyebar luas, berita akan Byana yang selalu pergi ketika Aldrik tidak ada dengan memakai fasilitas milik Aldrik membuat masyarakat umum yang tidak mengetahui kejadian sebenarnya menjadi salah sangka.


Foto Byana yang juga terlihat bersama dengan seorang pria tampan lainnya dimana Alex adalah pria itu, semakin membuat Byana tertunduk merasa kebingungan untuk mejelaskan karena dalam foto itu memang dirinya dan Alexlah saat Byana menyetujui usulan Alex untuk makan malam bersama.


“ Lihat?, wanita itu tidak berkata karena memang dia melakukan hal hal yang buruk!. Anakku begitu mempercayaimu, tapi seperti inikah balasannya?!” ucap Arie kembali semakin emosi.


“ Jelas kau wanita tidak benar tapi masih memiliki muka untuk berada disamping Aldrik?. Katakan padaku, berapa harga yang pinta?” tanya Arie merendahkan.


“ Apa?,” Byana terkejut dengan melangkah maju.


“ Katakan padaku. Sebenarnya berapa harga dirimu atau uang yang kau inginkan.”


Harga?... berapa harga diriku?. Haruskah aku menaruh harga pada diri sendiri?. Gumam Byana dalam hati, berdiri bagai patung tak bernyawa.


Melihat reaksi Byana yang terlihat begitu terkejut akan perkataannya, Arie berjalan memutari sebuah meja untuk dapat terduduk pada sebuah sofa. Mencoba menenangkan dirinya, Arie tetap merasa gelisah akan diamnya Byana saat ini.


Bagi Byana yang sejak kecil sudah kehilangan orang tua serta hidup yang keras, cukup teringat akan didikan kedua orang tuanya untuk berprilaku hormat pada orang yang lebih tua. Meski api dalam dirinya memberontak, Byana mencoba menahannya.


Arie mengeluarkan beberapa lembar cek dari sebuah bank dan ditaruhnya diatas meja. Menaruh sebuah pulpen disamping cek itu, Arie kembali menatap Byana dengan merendahkan..


“ Jika kau merasa malu untuk mengatakannya padaku, maka tulislah sendiri berapa jumlah uang yang kau inginkan.”


“ PAK ARIE! Anda sangat keterlaluan Pak.” Ucap Hana membentaknya.


“ Yang keterlaluan adalah temanmu yang tidak tahu diri itu. Cukup buang waktu percuma, sekarang cepat tulis berapa uang yang kau inginkan untuk membayarmu agar bersedia meninggalkan anakku.”

__ADS_1


Kedua tangan Byana kini terkepal erat, sungguh sulit baginya untuk menerima perkataan seorang ayah dari pria yang dicintainya. Namun, tetap merasa tidak akan mampu melawannya, Byana memalingkan wajahnya serata titik air mata pun mulai menetes yang terhentikan.


( BRRAAKKK) “ Kau tidak akan mampu membayar harga dirinya meski hartamu dan harta milikku digabungkan. Percayalah, harga Byana tidak akan sanggup kau bayar. Dan kapan aku pernah berkata bahwa aku ingin berpisah darinya?,” Aldrik dengan lantang berbicara saat membuka pintu.


“ Aldrik...” panggil Byana dengan lirih.


“ Maafkan aku sedikit lama. Barusan ada yang harus kubayar di bagian administrasi, jadi aku harus turun ke lobby bawah.” Aldrik menatap dengan menyentuh lembut wajah Byana.


Mendapat kabar akan Byana yang sudah dapat pulang hari ini, ia pun sempat melakukan perlawanan mengingat sifat keras kepalanya yang meminta ingin menemani Lia hingga tersadar.


Dengan datangnya Gestara yang begitu terkejut melihat ayah Aldrik yang terduduk tegap disofa ruangan kamar Byana, tatapannya langsung menjurus pada Hana yang memberikan kode agar Gestara dapat mengerti dengan apa yang sedang terjadi.


“ Maafkan mengganggu, aku hanya ingin mengatakan bahwa Byana sudah boleh pulang sekarang dan ini obat yang harus dia minum.” Ucap Gestara sembari memberikan obat itu pada Aldrik.


“ Lucu sekali... Gestara, apa kau juga mendukung wanita itu?” tanya Arie dengan senyuman miring.


“ Presdir... bagi saya jika Aldrik sudah menemukan seorang kekasih, maka dengan mutlak dan spontan aku akan menganggapnya sebagai adik ipar.” Balas Gestara tertunduk sopan.


“ Aku tidak mengerti dengan apa saja yang sudah dilakukan wanita itu hingga kalian berdua seperti ini padanya.” Ucap Arie dengan memasukkan lembaran ceknya kedalam saku jas.


Baik Aldrik, Gestara, dan Hana kini berdiri tepat dihadapan Byana seolah terlihat melindunginya. Arie yang menatap mereka saat ini pun akhirnya mengalah dan kembali bersiap siap untuk pulang.


Menatap pada sang anak, Aldrik dapat sangat jelas mengerti dengan apa yang ada dipikiran ayahnya saat ini. Dengan membalas tatapan sang Ayah dengan begitu serius, Arie pun akhirnya memalingkan wajahnya agar tidak menyulut api lain terhadap anaknya.


Pintu tertutup saat Arie berlalu pergi, dengan cepat Hana membereskan barang barang Byana serta menyiapkan baju setelan yang akan dikenakan Byana pulang saat ini. Terpanggil pada sebuah panggilan mendesak dari Haris, Aldrik menyisihkan dirinya sesaat dan berjanji akan menemui mereka di lobby rumah sakit.


“ Tunggu, aku ingin melihat Lia terlebih dahulu.” Ucap Byana menghentikan langkahnya.


“ Pak Gio bersama seorang assisten wanita lain sudah menemani dan menjaga Lia saat ini. Kau tenang saja karena pak Gio juga yang memintamu untuk pulang terlebih dahulu.” Gestara tersenyum menjelaskan dengan mulai melangkah pergi.


“ Ayo Byana... kita tunggu Aldrik di lobby saja.” Ucap Hana saat Byana mencoba menghentikan langkahnya kembali menatap Aldrik dari kejauhan.


“ Aldrik pasti menceritakan nanti. Ayo, aku harus keparkiran mobil dulu, kalian tunggu jangan kemana mana.” Ucap Gestara dengan menyuruh mereka berjalan cepat.


Hana dan Byana pun berjalan memasuki lift dan berpisah sesaat dengan Gestara yang masih berada dalam lift untuk turun ke basement parkiran mobil dilantai bawah. Dengan masih memapah Byana yang terlihat lemas untuk berjalan, mereka pun terduduk pada sebuah bangku dilobby luar.


“ Aku merasa haus... apa ada mesin penjual otomatis disini?” tanya Byana sembari menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri.


“ Ada, tapi didalam. Tunggu saja aku disini biar aku belikan.” Balas Hana dengan langsung berdiri dan  mengambil dompetnya.


“ Terima kasih....”


Byana menikmati hembusan angin pada siang menjelang sore hari dimana cuaca sudah tidak terlalu terik. Dengan beberapa awan putih yang menutupi cahaya matahari, cukup bagi Byana merasa hangat menghirup udara dengan memejamkan kedua matanya. Namun tiba tiba,


( PLLOOKKK PLOOKK PLOOKK ) Suara lemparan beberapa telur busuk dikepala, tubuh, dan wajah Byana.


“ RASAKAN, DASAR WANITA MURAHAN!.”


“ YA! BERANI SEKALI KAU MENDEKATI ALDRIK MAHENDRA!.”


( PLOOKK PLOOKK PLOOKK) Kembali Byana dilempari beberapa telur busuk.


Merasa sakit, Byana membungkukkan tubuhnya mengingat kepalanya yang juga sedang terluka terkena lemparan telur tersebut. Tak dapat melawan karena dikelilingi beberapa wanita dengan cahaya lampu kamera yang sengaja mengambil gambar atau video, Byana hanya dapat meliuk menutupi wajah dan tubuhnya.


“ KURANG AJAR! APA YANG KALIAN LAKUKAN!” teriak Hana dengan berlari cepat kearah Byana.


“ KEMARI KALIAN LAWAN AKU! BRENGS3K!” lanjut Hana mencaci, melihat para wanita itu berlari pergi dengan sebuah mobil yang sudah menunggu mereka.


Memberikan bantuan pada Byana, terlihat luka kepala Byana yang kembali terbuka dengan adanya darah yang terlihat. Hana menarik Byana untuk masuk kedalam rumah sakit, namun Byana menarik diri menolak usulan Hana.

__ADS_1


Tersadar akan aroma telur busuk dari dirinya, akan sangat mengganggu pasien lain terlebih unit gawat darurat merupakan tempat utama saat pertama kali melakukan perawatan medis. Tak urung akan Gestara yang masih juga belum datang, Byana memutuskan untuk memesan sebuah kendaraan online dan berlalu pergi meninggalkan Hana.


“ Hana.. mana Byana?” tanya Aldrik kebingungan.


Hana terdiam tak menjawab hanya terlihat kekesalan diraut wajahnya. Tak lama mobil Aldrik pun datang dengan Gestara yang terlihat terburu buru.


“ Kenapa kau lama sekali!” ucap kesal Hana pada Gestara.


“ Maafkan aku. Ada sebuah mobil yang tidak kuat menanjak ke lantai atas, entah karena alasan apa hingga menghalangi akses jalan. Mana Byana?” tanya Gestara yang juga terlihat kebingungan.


Hana pun menjelaskan apa yang terjadi pada Aldrik dan Gestara, juga dengan Byana yang sudah pulang duluan menggunakan kendaraan online menuju kediaman Om dan Tante Lesti.


Tidak perlu dijelaskan lagi bagaimana kemarahan Aldrik saat ini terlebih mendengar luka dikepala Byana yang kembali terlukan dan mengeluarkan darah.


“ Aku hanya sempat mengambil foto kendaraan mereka.” Ucap Hana sembari mengirimkan sebuah foto plat nomor mobil pada Aldrik dan Gestara.


Tanpa menunggu perintah bagai terbiasa bekerja sama, dengan sigap Gestara berlari masuk kedalam rumah sakit dengan cepatnya disertai Aldrik yang juga langsung menghubungi seseorang yang terdengar orang penting dirumah sakit ini.


Mengingat rumah sakit yang juga merupakan mitra kerja utama perusahan Aldrik, tak memerlukan waktu lama Gestara kembali berlari menuju Aldrik dan Hana dengan membawa sebuah flashdisk hitam disalah satu tangannya.


“ Sudah mendapatkan rekaman CCTV?” tanya Aldrik serius pada Gestara.


“ Tentu saja sudah.” Balas Gestara bangga.


“ Gestara kau dan Hana duduk dibelakang coba periksa rekaman CCTV itu dan biar aku yang mengemudi.”


Kembali bertindak cepat seolah begitu melengkapi satu sama lain, Hana yang belum terbiasa melihat Aldrik dan Gestara saat bekerja bersama pun merasa kagum pada keduanya.


Luar biasa, hanya dalam waktu kurang dari satu jam mereka sudah dapat menemukan dalang yang melakukan hal ini pada Byana. Gumam Hana dalam hati sembari melihat rekaman CCTV dari balik laptop didalam mobil.


Kemarahan Aldrik semakin menjadi disaat Gestara melaporkan akan Vlora yang berada dibalik semua ini. Juga dengan Haris yang menghubungi pada Aldrik melalui panggilan telephone yang terhubung pada mobilnya, Haris pun mengatakan hal serupa sama seperti Gestara saat ini.


“ Aldrik... bagaimana?. Apa harus bertindak langsung?” tanya Gestara begitu serius dari balik bangku kemudi belakang.


“ Jadi para wanita dan mobil yang menghalangimu itu, teman teman Vlora?. Dimana biasanya mereka berkumpul?” tanya Aldrik mencoba untuk mengontrol emosinya.


“ Fifth rooftop Bar. Malam ini mereka akan mengadakan perayaan ulang tahun salah satu temannya. Vlora pasti datang.” Balas Gestara setelah memesan update media sosial.


“ Gestara siapkan semua. Hana, ikutlah bersama kami malam ini.” Ucap Aldrik dengan menatap dari spion tengah saat mengemudi.


“ AAAAKKU?... tapi, apa yang harus aku la---”


“ Tentu saja kau akan menjadi pasangannya. Gestara pastikan Hana memainkan perannya dengan sangat baik.” Balas Aldrik menyeringai menatap pada Hana yang kebingungan.


“ Baiklah... Hana, berdandanlah sangat cantik malam ini. Oke?.”


Hana terdiam penuh kebingungan sepanjang perjalanan menuju rumah Om dan Tante Lesti. Dengan terbukanya pintu penuh sambutan hangat, selepas memberi salam sopan Aldrik langsung berlari menuju lantai atas untuk menghampiri Byana.


Melihat reaksi Aldrik yang begitu khawatir, mereka pun hanya dapat tersenyum satu sama lain dan membiarkan keduanya untuk meluangkan waktu bersama.


Tak urung akan Tante Lesti dan Om Dhika yang menyiapkan minuman dan cemilan kecil untuk bersantap, bell pintu rumah tiba tiba berbunyi dan mereka begitu terkejut melihat dua orang kurir yang mengantarkan paket dengan begitu banyak.


“ Tunggu Mas... apa kau yakin kotak kotak ini dikirim kemari?” tanya Tante Lesti memastikan.


“ Ya Bu... disini tertulis untuk tuan Aldrik dan nona Byana.” Balas kurir itu dengan menunduk sopan dan berlalu pergi.


“ Aaahh akhirnya datang juga... Hana, bersiap dan ganti dengan gaun ini. Sebentar lagi akan ada perias datang kemari untuk meriasmu dan Byana.”


“ APA?... Gestara, apa yang sebenarnya kau dan Aldrik rencanakan?” tanya Hana semakin kebingungan.

__ADS_1


Tidak perlu berkata disaat diri sudah mempersiapkan perlawanan yang akan membuat lawan tertekuk lutut. Lihat saja bagaimana sebuah kekuasaan akan status sosial yang sebenarnya akan terjadi. Kau pasti tidak akan pernah sanggup membayangkannya.


__ADS_2